Epilogue

Sistem dokumentasi CSA dikerjakan di sebuah ruangan luas yang dikepalai oleh dua orang agen. Voyker dan Claire nama mereka, sepasang suami - istri pengguna sihir yang direkrut CSA lima tahun lalu karena kemampuan masing-masing yang terbilang langka.

Claire, nama sang istri adalah oneiromancer handal sekaligus pembaca dan pentransfer pikiran lewat sentuhan, sementara sang suami adalah seorang empath (pembaca perasaan) yang bisa membuat lukisan yang benar-benar mirip aslinya. Printer berjalan, begitu para anggota CSA menyebut Voyker, merujuk pada kesempurnaan lukisan yang ia buat yang hampir menyamai mesin printer besar di ruang data utama.

Eksraksi ingatan dan pengelihatan adalah spesialisasi utama mereka, dan prosedurnya terbilang sederhana. Klien akan diminta untuk berbaring di atas sebuah dipan dan diminta untuk rileks sementara Claire membaca dan mentransfer apa yang ingin ditunjukkan. Dengan satu sentuhan, ingatan dan pengelihatan itu kemudian di transfer ke Voyker yang akan segera membuatkan lukisan berdasarkan apa yang ia terima. Semua proses sampai lukisan selesai memakan waktu tidak sampai dua jam saja.

Tidak terbilang banyaknya intel dan bukti yang CSA kumpulkan berkat mereka berdua, dan meski bukti yang dihasilkan tidak terlalu memiliki integritas di luar organisasi mereka, apa yang Claire lihat dan apa yang Voyker lukis telah membantu CSA dalam mengambil keputusan penting. Setidaknya setiap laporan dan intel yang dilihat langsung oleh para agen dan informan dapat terbukti kebenarannya.

Dan di bulan ini, pasangan itu baru saja melewati fase yang paling sibuk dalam perjalanan karir mereka.

Puluhan agen telah datang kemari, dengan berbagai pengelihatan yang jumlahnya mencapai ratusan. Ini semua karena hasil akhir perang di Rahang Naga, dan ide pemimpin CSA untuk menyebarluaskan apa yang sebenarnya terjadi di sana pada khalayak luas. Sebuah ide yang merepotkan memang, tapi bertujuan mulia. Begitu piker Voyker, yang memang begitu antusias dengan visi utama organisasi mereka.

Kertas terakhir yang baru ia gambar menampilkan muka seorang pria paruh baya dengan hidung berdarah dan raut muka bodoh yang kelihatan menggelikan. Dia tidak tahu bagaimana persisnya bos mereka bisa melakukan hal lancang seperti ini kepada seorang raja, namun yang pasti raja itu akan rela membunuh agar gambar ini dimusnahkan. 

Sambil tersenyum menahan tawa, sang agen menatap kembali tumpukan dokumen yang baru saja ia selesai kerjakan. Jika pengetahuan dan informasi adalah kekuatan, maka sebuah bom atom dahsyat kini sedang bersemayam di atas meja kerjanya. 

                                                                                         ***

Di ruangannya, Jazdia tengah sibuk membaca sebuah buletin yang berisi berbagai berita dari negara-negara tetangga. Ditemani secangkir teh panas dan beberapa potong croissant, ia sibuk membalik-balik halaman, membaca dengan seksama isi artikel-artikel tersebut dan mencocokkannya dengan laporan internal CSA.

Tretagor dan Westernant  Sepakat Untuk Menghentikan Perang!

Begitu isi judul halaman utama lengkap dengan subtitle yang ditulis dengan nada hiperbolis; Pihak Tretagor mengumumkan bahwa perdamaian dan perbaikan ekonomi akan menjadi prioritas mereka. Apakah Edmus tengah kerasukan?’

Di bawah kolom berita tersebut, sebuah artikel yang lebih kecil berjudul ‘Veteran perang Rahang Naga Menceritakan pengalamannya! Interview ekslusif yang menggemparkan kita semua.’ Tampak begitu kecil dan kurang menarik.

Jazdia meniup tehnya sebelum menyeruput minuman itu dengan perlahan. Mata birunya yang jernih kini berpindah ke dokumen intel berstempel mawar kompas yang berisi dugaan pembentukan kelompok militan yang di dalangi oleh Jendral Moris Vernon.

Sambil menyalakan radio protabelnya Jazdia menggeleng pelan. Selalu saja ada yang memanfaatkan keadaan baik seperti ini.

“Halo, Andrei. Kau masih dalam misi recon di Tretagor? Ajak Sean dan Red, ini terkait laporan intel yang masuk ke mejaku kemarin. Ya yang itu… Dengar, aku ingin kau mengawasi Moris Vernon dan berikan laporan berkala selama seminggu ini. Dia memiliki markas di Ettengard yang disinyalir menjadi tempat pembentukan sebuah Laskar Tempur. Aku juga menerima berita tak menyenangkan dari para Ealdorman di sekitar benteng itu, katanya para anggota Laskar belakangan ini sering meminta paksa upeti pada para petani, dan aku takut ini menjadi semakin rumit. Ya! ada kemungkinan Edmus tahu hal ini tapi afiliasi kelompok itu masih belum jelas jadi kita tidak bisa menyimpulkan. Soal Raja itu, serahkan padaku, tugasmu hanya mengintai saja sekarang. Tergantung hasil akihrnya, minggu depan akan sudah membuat keputusan.”

Sambungan itu ia tutup.

Jazdia membuka laci meja kerjanya dan mengeluarkan sebuah foto polaroid dengan gambar wajah Edmus Ferdinant yang babak belur. Foto itu ia masukkan ke dalam sebuah amplop, dan segera ia membubuhkan sebuah stempel postage lengkap dengan alamat tujuan.

“Kenang kenangan untuk Edmus… dan peringatan pertama.” 

Belum ada komentar untuk chapter ini.

Jadi yang pertama?