Chapter 14 "Kegiatan Klub"

Akhirnya seminggu sudah berlalu, ujian semester satu sudah selesai, kami mendapatkan nilai yang cukup bagus dan saatnya di semester dua untuk memikirkan kegiatan klub kami, akupun tidak menyangka kenapa sampai satu semester kami belum mendapatkan kegiatan.

“Huahh! Akhirnya sudah masuk semester dua” ucap Tiara dengan kencang

“Hahh kenapa liburan semester satu hanya seminggu itu belum cukup untuk bersenang – senang di surga duniaku” ucapku sambil menutupi wajahku dengan telapak tanganku

“Eh? Si Nata kenapa?” Tanya Niko

“Yahh sepertinya dia tidak merasakan apa yang kita rasakan” ucap Tiara

“Eh? apa maksudmu?” Tanya Kevin

“Ehmm teman-teman bagaimana kita memikirkan kegiatan klub kita sekarang?” Tanya Tifa

“Ehmm baiklah lagipula aku bosan dikelas terus, yuk ke ruang klub” Ucap Niko

Kami berjalan ke ruang klub kami yang seminggu tidak kami hampiri dan didalamnya menjadi berdebu dan berantakan

“Huweekk uhuk uhuk” Tifa terbatuk

“Tifa kau tidak tahan debu ya?” Tanyaku

“Ehehe sepertinya iya” jawab Tifa

“Baiklah saatnya bersih-bersih” Ajak Tiara

Setelah beberapa menit kemudian akhirnya kami selesai membersihkan ruang klub kami

“Huwaahhh akhirnya selesai juga” Ucap Tiara yang kelelahan

“Baiklah aku akan membuatkan teh” Ucap Tifa

“Hoho terima kasih Tifa” Ucap Niko

“Baiklah sekarang bagaimana tentang kegiatan?” Tanya Kevin

“uhmmm apa yah sampai sekarang aku masih belum bisa memikirkannya” Ucap Tiara

“Aha! Aku punya ide” Ucap Kevin

“Apa itu?” Tanya Tiara

“Bagaimana kalau kita melakukan kegiatan perawatan lingkungan sekolah kita agar kita-“

“Ditolak!”

“Aku aku” Ucap Niko sambil mengangkat tangannya

“Baiklah kalau kau bagaimana?” Jawab Tiara

“Kalau aku bagaimana kalau kita bersenang – senang saja dan melakukan hal yang menyenangkan dan bersantai setelah sekolah”

“Nah kalau yang ini aku setuju” Ucapku

“Hehe tos dulu dong”

TOS!!!

“Aku memang suka bersenang – senang tapi tidak untuk kegiatan klub kita, ahh apakah tidak ada usulan kegiatan yang bagus”

Tifa datang menghampiri kami sambil membawa teko berisi air teh yang masih panas dan lima gelas dengan piring saji

“Baiklah bagaimana kalau kita meminum teh dulu?” Ajak Tifa

“Baiklah kalau begitu kita istirahat sejenak” Ucap Tiara

Setelah beberapa menit kami tidak berbicara sama sekali karena semuanya sibuk memikirkan kegiatan apa yang akan menjadi kegiatan rutin klub kost, kalau aku sih tidak memperdulikannya aku hanya membaca novel ringan yang biasa aku baca, namun tiba-tiba.

“Hey Nata apa yang kau baca itu?” Tanya Tiara

“Hm? Novel ringan kenapa?” Jawabku

“Aha! Bagaimana kalau kita membuat sebuah Novel ringan!”

“Terlalu sulit mungkin karena kita tidak banyak mengetahui tentang sastra” Ucap Kevin

“Hei katamu ada benarnya juga Tiara lagipula mencurahkan isi pikiran kita dan menjadikannya sebuah cerita adalah hal yang bagus bukan?” Ucap Niko

“Hm hm kamu betul Niko” Ucap Tifa sambil menganggukan kepalanya

“Hahh terserah kalian saja”

“Baiklah sudah ditentukan bahwa kegiatan klub kost adalah untuk membuat sebuah novel ringan!!” Ucap Tiara dengan semangat

“Ya! Kita akan membuat novel ringan yang bagus dan bisa membuat pembacanya terbawa oleh cerita kita!” Ucap Niko dengan semangat

“Ehmm tapi mulai darimana kita harus belajar tentang sastra?” tanya Kevin

“Uhmm dari yang pernah diajarkan dikelas kurasa itu cukup” Ucap Tiara

“Mana mungkin cukup!, kita harus mencari guru sastra”

“Hahh sebenarnya ini sungguh membosankan” ucapku

“Hummpp” Tatap Tiara ke arahku dengan tajam

“Uhmm baiklah,,, bagaimana kalau kita ke klub sastra dan kita meminta arahan dari pembinanya?”

“hmm kau benar juga, baiklah saatnya ke ruang klub sastra!” Ajak Tiara dengan semangat

Sesampainya di ruang klub sastra

“Permisi” Ucap Kevin

“Ohh iya ada apa?” Ucap seorang yang sudah tua dan sepertinya itu adalah guru pembinanya

“Uhmm bapak pembina klub ini?” Tanya Tiara

“hm iya apa ada yang bisa saya bantu?”

Setelah menjelaskan apa maksud kami menemui pembina klub sastra, kami diberikan banyak buku mengenai sastra dan novel ringan.

“Ya ampun kita harus membaca dan memahami semua yang tertulis di buku ini?” Tanya Niko

“Haha kalau memang niat membuat novel ringan memang harus niat membaca”

“ngomong –ngomong anggota klub sastra kemana?” Tanya Tiara

“Yahh” wajah bapak pembina klub sastra itu tampak sedikit murung

“Ah maaf sepertinya kami menanyakan hal yang salah ya?”

“Ah tidak apa-apa mereka hanya ku kasih libur hari ini” ucap bapak itu sambil tersenyum

“Oh iya maaf tidak menanyakan nama dan kami tidak memperkenalkan diri”

“Ahh tidak apa-apa perkenalkan nama bapak Husen lalu nama kalian siapa?”

Setelah kami memperkenalkan diri dan kami memperkenalkan klub, kami berniat untuk pamit.

“Baiklah semoga kalian bisa membuat novel ringan yang bagus dan juga bisa menginspirasi serta menghibur para pembaca”

“Baik pak” Ucap kami semua

“Kalau ada yang ingin ditanyakan tanyakan saja ke bapak, bapak akan selalu siap membantu kalian”

“Baik pak terima kasih, kami pamit dulu”

Diperjalanan menuju ruang klub

“Hei bapak Husen itu baik juga yah” Ucap Tiara

“Kau benar” Ucap Tifa

“Hei bagaimana kalau kita melapor kepada ibu siska bahwa kita sudah memiliki kegiatan” Tanya Niko

“Hei boleh juga” Ucap Tiara

Sesampainya didepan ruangan ibu siska

“Ehmm Tiara” Ucap Tifa

“Hmm? Ada apa?”

“Jangan kau suruh aku teriak seperti waktu itu lagi ya” ucap Tifa sambl menundukan wajahnya karena malu

“Eh?! hehe tenang saja kali ini aku yang akan teriak”

“IBU SISKA!!!” Teriak Tiara dari luar ruangannya

Ibu siska membuka pintunya

“Heh? ada apa kalian teriak-teriak seperti itu?”

“Hehe kami sudah mendapatkan kegiatan klub ibu siska!”

“Wahh benarkah syukurlah”

Setelah kami menjelaskan tentang kegiatan klub kami, kami langsung kembali ke ruangan klub.

Sesampainya di ruangan klub

Ting Tong!!!

“Akhirnya jam istirahat, aku ke kantin duluan yah soalnya sudah lapar nih” Ucap Niko

“Hey Niko aku ikut” Ucap Kevin

“hmm ya kalian ke kantin saja duluan” Ucap Tiara

“Eh? kau tidak ikut Tiara” Tanya Niko

“Hehe tidak kok aku hari ini bawa bekal”

“Oh begitu yah baiklah aku duluan ya”

“Ehm iya”

Aku tidak membawa bekal jadinya aku hanya melihati mereka berdua makan sambil membaca novel ringanku

“Hmm Nata gak makan?”

“Tidak apa-apa”

“Bagaimana kalau aku membagikan makananku ke kamu, mau?”

“Beneran tidak apa-apa?”

“Beneran” Ucap Tifa

“Ba-baiklah aku minta sedikit ya”

“Hou hoo romantis sekali keadaannya di sini” Ucap Tiara yang mencoba membuat suasana jadi canggung

“Hah!? ini tidak seperti yang-“ ucap kami berdua

“Heh kenapa jadi canggung begini dan kenapa dadaku terasa berdegup kencang? Apakah ini? Ahh tidak tidak tidak tidak mungkin” Ucapku dalam hati

“Hahaha, kalau melihat kalian seperti ini aku ingin memberitahu kalian suatu hal” Wajah Tiara berubah seketika menjadi serius

“Hm? Ada apa?”

“Sebenarnya aku sedang menyukai seseorang” Ucap Tiara sambil mengalihkan wajahnya karena malu

“EHH!??” Ucap kami berdua

“Lalu siapa pria yang kau sukai itu?” Tanyaku

Lalu dia menjawab

“Niko”

Belum ada komentar untuk chapter ini.

Jadi yang pertama?