Chapter 8 "Jawaban"


Setelah mendengar penawaran dari Tiara, tiba-tiba memalingkan wajahnya dengan memasang wajah yang sangat kebingungana, lalu Tiara bertanya “Apakah kamu mau?”, namun Niko masih saja terdiam dan seperti masih memikirkan sesuatu.

Tak lama kemudian Niko tiba-tiba menjawab “Yahh kalau untuk itu aku pikir-pikir dulu karena... aku juga ingin masuk ke klub sepak bola”

“Oh jadi begitu yah...” Jawab Tiara pelan

“yahh tapi, bukannya aku gak mau ikut klub kalian”

“ehehe, yahh tidak usah dipaksakan juga tidak apa-apa kok”

Setelah perbincangan tersebut Niko memutuskan untuk pulang lebih dulu dan akhirnya kami semuapun pulang kerumah masing-masing, namun dari sepengelihatanku tadi wajah tiara yang nampak seperti orang yang putus asa, sepertinya ada yang tidak baik.

Kemudian tanpa sadar aku tertidur terlalu lelap sampai pagi hari dimana ini adalah hari skorsing keduaku, dan akupun memulai hariku yang menyenangkan ini seperti biasanya, dan pada pukul 09.00 tepat dimana aku sedang membaca light novel kesukaanku aku ditelpon oleh seseorang, dan yang menelponku itu adalah Niko.

“Hey Nata bisa datang ke lapangan dekat sekolah kita”

“uhmm... tidak bisa jadi akan kututup langsung ya”

“HOI! Jangan ditutup dulu”

“hmm memangnya ada apa”

“yahh aku juga ingin sekalian membahas yang kemarin”

“ughh... baiklah aku akan kesana jam dua sore”

“yah bukannya itu terlalu lama”

“kau tidak mau?”

“yah aku mau, baiklah jam dua”

Dan akhirnya aku melanjutkan aktivitasku seperti biasa lagi. Sampai pada akhirnya jam sudah menunjukkan pukul 13.45 dan aku langsung bersiap-siap untuk bertemu dengan Niko. Dan sesampainya aku di lapangan sepak bola yang berada tidak jauh dari sekolahku aku melihat Niko yang sedang duduk terdiam seperti sedang memikirkan sesuatu,kemudian aku menghampirinya namun baru tiga langkah aku ingin mendekatinya dia sudah mengetahui keberadaanku, dan akhirnya kami berbincang soal penawaran klub yang diberikan oleh Tiara.

“Jadi bagaimana?, Kau jadi ikut tidak?”

“Yahh sebenarnya sih aku mau ikut, tapi aku ingin masuk ke klub sepak bola, namun disamping itu aku juga ingin bersama kalian juga”

“Hmm jadi begitu-“

“HAAHH!!!, ini semua membuat kepalaku makin pusing saja”

“Hoi tenang dulu...”

“Yahh baiklah”

“Sebenarnya kami juga tidak terlalu memaksakan kau untuk ikut ke klub kami, kalau kau memang memiliki klub yang diinginkan kami juga tidak memaksa, dan kalau kau memang ingin masuk ke klub kami, kami juga tidak menolak”

Setelah berbincang-bincang cukup lama hingga hampir menjelang malam, kami memutuskan untuk mengakhiri pembicaraan ini, walaupun kulihat raut wajah Niko masih kebingungan begitu, dan diperjalanan kami menuju jalan pulang kami berdua terkejut karena melihat Tifa dan Tiara yang sedang dihampiri oleh seorang lelaki, dan setelah kami menghampiri mereka ternyata lelaki itu adalah lelaki yang berurusan dengan kami disekolah dan dia juga terkena skorsing.

“Hoi kau pria badak!”

“Huh?, ohh kau rupanya”

“Nata, Niko!”

“Tenang saja Tiara Tifa, aku dan Nata akan menyelamatkanmu”

“Hah? kau ngomong begitu dengan seenaknya saja”

“Hehe maaf Nata soalnya aku harus punya teman kalau disaat keadaan begini”

“Aghh terserah”

“Hoi pria badak kenapa kau mau mengganggu mereka lagi apa kau tidak kapok sudah di skorsing”

“Aku tidak akan kapok sebelum aku mengalahkanmu”

“Cih ternyata kau memang badak yang keras kepala”

“Tifa dan Tiara Lari dari sini!”

“Ta-tapi Nata”

“Cepat lari saja”

“Uhm baiklah”

Setelah itupun perkelahian aku dan Niko melawan pria berbadan besar tersebut, dan ternyata kali ini Niko benar – benar serius berkelahi dengan pria ini.

“Baiklah Nata kau bisa digunakan untuk menjadi umpan”

“Apa!”

“Tenang saja kau akan menjadi umpan yang tidak akan bisa didapatkan oleh ikannya”

:”Aghh... terserah kau asalkan aku tidak mati saja”

“Baiklah sekarang!!!”

Aku berlari kearah kanan si pria itu dan tentu saja si pria itu terpancing oleh gerakanku, aku berusaha menghindar dari serangannya namun ternyata aku memang tidak berbakat menghindari serangan seorang lelaki yang berbadan besar dan akhirnya aku terjatuh, namun Niko langsung menghampiri lelaki besar itu dan menghajar si pria itu, dan anehnya si pria itu langsung terkapar hampir tidak berdaya, setelah kulihat tangan Niko ternyata dia menyuruhku untuk memancing pria itu untuk mempersiapkan sesuatu dan itu adalah sebuah Batu yang cukup besar yang berada di tangannya.

Setelah beberapa saat pria itupun langsung terbangun kembali dan ingin menghajar Niko, melihat Niko yang sedikit kepanikan begitu akupun entah kenapa tiba – tiba refleks dan menghajar si pria itu.

“JANGAN GANGGU KAMI LAGI!!!” ucapku dengan keras

“Nata...”

“Huft...”

“Whoaa kau hebat juga ternyata kau bisa berkelahi juga ya”

“Yah ini sebenarnya-“

“Yahh seorang lelaki memang harus pandai melindungi diri”

“Yah terserah kau saja”

“Hmm... tapi ngomong – ngomong akan kita apakan pria ini”

“Entahlah aku juga tidak tahu”

Aku dan Niko merebahkan pria itu ke pinggir gang karena kami masih merasa kasihan, dan kami juga meninggalkan surat yang isinya sebuah peringatan untuk tidak mengganggu kami lagi.

Akhirnya kami kembali keluar daerah yang sepi tersebut dan kami beristirahat di taman dekat pos kesehatan tadi, dan akhirnya Tifa dan Tiara datang menghampiri kami.

“Nata, Niko maafkan aku!!!... hiks”

“Hoi - hoi tenang dulu”

“Aku sudah merepotkan kalian berdua terus”

“Yahh itu juga niat kami untuk membantu sesama teman, betul begitukan Nata”

“Uhmm iya”

“Benarkah?”

“Iya, jadi tidak usah dipikirkan lagi”

“Uhmm, baiklah”

“Aduduh shh”

“Hm?, ada apa Nata?”

“Yahh hanya luka kecil saja Tifa, bukan apa – apa”

“Untungnya aku membawa plaster dari pos kesehatan dekat sini jadi mungkin ini bisa berguna”

Tifa mengobatiku dengan membersihkan lukaku dengan menggunakan air kemudian menempelkan plaster kedaerah lukaku yang berada di siku lengan sebelah kananku. Tidak lama kemudian kami berpisah dan Niko mengatakan bahwa dia ingin menjawab pilihan klubnya di lapangan sepak bola berada.

Pagi telah tiba, aku bergegas bangun dari kamar tidurku lalu pergi mandi, makan, dan sarapan, kemudian aku langsung mengenakan pakaianku dan beranjak ke pintu keluarku untuk memasang sepatu dan berangkat ke sekolah. Namun aku terkejut lantaran kedua gadis berambut ungu dan berambut pirang berada tepat di depan pintuku, yup Tiara dan Tifa menunggu didepan pintu kostanku dan anehnya Tiara memasangkan wajah yang agak kesal kepadaku.

“Lama sekali”

“Kaunya saja yang terlalu cepat datang kekostanku”

“Hah!, aku?”

“Yah terserah kau saja, sekarang ayo kita berangkat”

[ Ditengah perjalanan]

“Hei Nata...”

“hmm? Ada apa Tiara?”

“Soal yang kemarin, maaf ya”

“Ughh sudah kukatan aku tidak apa – apa”

“Hmm syukurlah, ngomong – ngomong, hari ini Niko akan memberikan jawabannya kan?”

“Ehm, kau benar”

Setelah banyak mengobrol tidak sadar kami sudah berada di depan gerbang sekolah. Kami langsung pergi ke kelas untuk mengikuti pelajaran dikelas, kami memang bertemu Niko namun dia bersikap seperti biasa – biasa saja. Akhirnya bel lonceng istirahatpun berbunyi aku, Tifa, dan Tiara langsung beranjak menuju lapangan sepak bola berada, sesampainya kami dilapangan sepak bola kami bertiga melihat Niko yang sudah menunggu kami di lapangan tersebut. Dan aku juga melihat Riki yang berdiri dibelakang sebelah kanannya.

“Hey kalian semua selamat datang di lapangan akan aku perkenalkan ini adalah anggota dari klub sepak bola”

“Uhm iya salam kenal”

“Baiklah saatnya memberitahukan keputusanku”

Aku melihat wajah Tiara seperti orang yang tidak percaya diri.

“Tiara kamu kenapa?”

“Uhm apa kau yakin Dia akan memilih klub kita Nata?”

“Entahlah tapi yang pasti apapun pilihan Niko kita harus mendukungnya”

“Iya itu benar apapun pilihan Niko itu adalah pilihan terbaik baginya”

“Hm kalian berdua benar”

Kemudian Niko berjalan kearah antara kami dan orang – orang dari klub sepak bola, Niko menarik nafasnya dalam – dalam lalu menghembuskannya dengan kencang lalu.

“Baiklah aku akan memilih...”

Belum ada komentar untuk chapter ini.

Jadi yang pertama?