Chapter 9 " Anggota baru dan orang pintar "

Aku, Tifa, dan Tiara langsung menatap serius wajah Niko yang tampak ingin memberikan jawabannya, kepada kami semua yang ada di lapangan sepak bola ini, kemudian Niko menjawab.

“AKU AKAN IKUT KLUB KOST!”

Sejenak kami semua terdiam dan wajah kami bertiga tiba-tiba tersenyum gembira mendengar jawaban Niko tersebut dan yang paling gembira kurasa adalah Tiara, karena dia setelah mendengar jawaban tersebut langsung lompat ke arah Niko dan memeluk Niko saking senangnya.

“Terima kasih Niko!” ucap Tiara dengan senangnya sambil memeluk Niko

“Yahh syukurlah kau senang”

“Aku senang sekali loh... Hehe”

“Yah syukurlah”

Lalu Niko meminta maaf kepada klub bola, dan klub bola menerimanya dengan senang hati.

“Hey Nata”

“Hm?”

“Jaga Niko baik-baik, sebenarnya dia adalah andalan kami apabila dia berada di klub bola, tapi karena dia berada di klub kalian kuharap dia bisa menjadi andalan di klub kalian” sambil tersenyum Riki mengatakannya kepadaku.

Kemudian kamipun langsung meninggalkan klub bola dan beranjak keruang klub kami, sesampainya di klub kost kami langsung memperkenalkan ruangan yang masih agak berantakan disana-sini. Setelah memperkenalkan klub kami mengobrol tanpa henti seperti tidak ingat waktu, waktu telah berlalu dan kamipun akhirnya lelah mengobrol.

“Hmm jadi begini yah klub kalian”

“Yahh begitulah” Jawab Tiara

“Hmm... ngomong-ngomong kegiatan klub ini apa?”

Setelah mendengar perkataan tersebut aku, Tiara, dan Tifa menunduk tak bersuara.

“Yah ternyata belum yah, hmm baiklah bagaimana kalau kita mencarai referensi?”

“Hmm referensi? Buat apa?”

“tentu saja untuk mendapatkan petunjuk agar kita dapat menentukan pilihan kegiatan kita”

“Yahh menurutku itu cukup membantu”

“Yah aku sih tidak mau keliling sekolah hanya untuk mencari petunjuk yang bodoh”

“Aku sih terserah saja”

“Yahh kenapa kalian menjadi berbeda-beda begini”

Kemudian kami bertiga dimintai oleh Niko untuk berada di tiga titik, aku berada di daerah lorong dari kelas 1-A sampai ruang klub Ilmu pengetahuan, yahh akupun cukup setuju karena jarak antara kelas 1-A sampai ruang klub ilmu pengetahuan hanya perlu melewati empat kelas saja, kemudian Tifa dan Tiara akan mencari referensi di taman sekolah, dan Niko akan mencari referensi di dekat perpustakaan.

“Baiklah semuanya ayoo!!!”

Aku langsung berpisah dengan mereka dan langsung berjalan ke arah Kelas 1-A, aku tidak menemukan apa yang menarik sepanjang aku berjalan, dan sampai pada akhirnya aku sampai di akhir tujuanku yaitu ruang klub ilmu pengetahuan, aku istirahat sebentar tepat di kursi depan ruangan tersebut, namun pada saat aku sedang nyamannya beristirahat aku mendengar ada suara orang berteriak dari dalam ruangan, akupun penasaran dengan suara tersebut dan mengintip lewat jendela yang ada tepat diatas kepalaku, aku memunculkan kepalaku sampai mataku dapat melihat kedalam ruangan tersebut, setelah aku melihat kedalam ruangan tersebut aku langsung terkejut pasalnya ruangan klub ilmu pengetahuan tersebut bukan seperti klub ilmu pengetahuan yang kubayangkan, pasalnya aku melihat seorang pria yang sedang dibully dan dipukuli habis-habisan, akupun langsung menunduk dan berpikir bagaimana menolong pria tersebut agar tidak pukuli terus, lalu aku mendapatkan ide yang tiba-tiba masuk ke kepalaku.

“Baiklah aku akan melempari mereka sebuah petasan, namun pertama-tama aku harus ke klub festival terlebih dahulu” ucapku dalam hati

Aku ingat ruangan klub festival berada di dekat perpustakaan, aku langsung menelpon Niko, dan menyuruhnya untuk membawa petasan asap dan membawanya kemari. Dia bingung mengapa dia harus membawa itu dan aku menjawab.

“Ini penting kalau kau tidak tepat kau akan menghilangkan satu nyawa seseorang di sekolah kita”

“APAA!!! Ba-baiklah aku akan langsung kesana”

Dan benar saja dalam beberapa menit aku melihat Niko yang ter engah-engah berlari menuju kearahku, setelah dia menghampiriku Niko bertanya kepadaku “untuk apa aku membawa benda ini?”, lalu aku menjawab apa yang sedang terjadi di ruangan klub ilmu pengetahuan.

“Yah setidaknya kejadian ini tidak sampai menghilangkan nyawa kan” sambil memasang wajah yang cemberut Niko mengatakannya

“Yahh kalau tidak begitu kau tidak akan datang lebih cepatkan?”

“yahh terserah kau saaja”

Kemudian aku langsung menjelaskan rencanaku dan Niko mau melakukan hal tersebut untuk membantu pria tersebut.

Kemudian aku membawa dua buah petasan asap dan Niko membawa tiga petasan asap, kemudian dengan kekuatan tenrjangan dari Niko pintu itupun berhasil di dobrak, yahh walaupun sebenarnya pintu itu tidak dikunci. Aku langsung melempar dua petasan itu kelantai dan mengarah ke mereka dan tak kusangka hanya dua petasan saja bisa membuat satu ruangan klub itu terkepung asap, aku dan Niko langsung menarik pria itu dan membawanya lari sampai ke belakang taman sekolah kami bersembunyi di situ.

“Huft huft...”

“Hahh untung saja kita tidak dapat dikejar oleh mereka, Nata bagaimana keadaanmu apa kau merasa lelah?”

“Yahh lumayan untuk orang yang tidak pernah olahraga sama sekali”

“Jadi bagaimana dengan-“

Kami berdua kaget setelah melihat Pria itu lemas tak berdaya dan terkapar di tanah

“HAH!! Hoi bertahanlah, Nata ini bagaimana?”

“Huh? Entahlah aku tidak tahu”

“Kenapa kau memiliki jawaban yang tidak bermanfaat!”

“Kau juga salah mengajaknya untuk berlari sekencang pemain bola internasional”

“Apakah kita membunuhnya karena ini?”

“Tentu saja tidak!”

“Jadi bagaimana?”

“Ughmm...”

Kemudian pria itupun terbangun namun anehnya dia melihat kami dengan wajah yang ketakutan.

“HAHH!!! Kalian ingin membunuhku!!!”

“HOII! Tenangkan dirimu kami tidak mau membunuhmu”

“Jadi?”

“Jadi terangkanlah Nata”

Kemudian aku menjelaskan apa yang kulihat dan kenapa kami melempar petasan kedalam ruangan klub ilmu pengetahuan.

“Ohh jadi begitu..”

“Sudah tenang?”

“Yahh sudah sedikit tenang”

“Aghh syukurlah”

“Tapi ngomong-ngomong kenapa kamu masih membawa tiga petasan ditanganmu itu?”

“Yakk ini untuk cadangan”

“Bilang saja kalau kau lupa menghidupkannya”

“DIAMLAH!”

“Hahahaaha” aku dan pria itu tertawa karena tingkah Niko

Kemudian kamu menanyai kenapa dia sampai dibully, lalu dia menjawab “Karena dia selalu mendapatkan nilai yang bagus pada saat kegiatan praktik.

“Ohh jadi begitu ya”

“Bukan berarti aku menyombongkan diri ya”

“Yahh kami juga tidak terlalu tertarik dengan ilmu pengetahuan atau penelitian apalah itu”

“Niko itu terlalu menusuk didadanya”

“AH maaf yah hehe”

“Yahh tidak apa-apa”

Setelah kami sudah mendapatkan informasi kenapa dia mendapatkan bullyan tersebut kami langsung menelpon Tifa dan Tiara untuk datang menghampiri kami , tak lama kemudian Tifa dan Tiara datang dan menanyakan apa yang terjadi, kemudian kami menjelaskan apa yang sedang terjadi.

“Ohh jadi begitu yah”

“Standar sekali responmu” Ucap Niko

“Baiklah kita akan menolongnya”

“Huh?”

“Hei kau pria ilmu pengetahuan, uhmm panjang juga yah, siapa namamu?”

“Namaku Kevin”

“Baiklah Kevin kami akan membantumu”

“Dengan cara apa kau akan menolongnya?” Tanyaku

“Yahh kalau itu sih masih belum terpikirkan”

“Dasar otak udang” Ucap Niko

“Apa katamu!!”

“Hahaha” kami semua tertawa

“Baiklah kami akan memperkenalkan diri”

“Namaku adalah Tiara Senang berkenalan denganmu”

“Hallo namaku Tifa senang bertemu denganmu”

“Namaku Nata”

“YOO namaku Niko senang berkenalan denganmu”

“ehm senang berkenalan dengan kalian semua”

“Dan kami dari klub Kost!!”

“PFFT”

“Huh? Dia kenapa masuk angin?”

“Kurasa dia tertawa”

“yahh reaksinya sama seperti pertama kali aku mendengarnya”

“Heehh? Jangan kau tertawakan Klub kami!!”

“Yahh maaf-maaf hanya saja itu agak lucu saja ditelingaku”

“Yahh umm terserah kau saja”

“Jangan marahlah hahaha”

“kami semua tersenyum melihat Kevin yang tadi seperti ketakuan dan bingung akhirnya bisa merasa “Heehh? Jangan kau tertawakan Klub kami!!”

“Yahh maaf-maaf hanya saja itu agak lucu saja ditelingaku”

“Yahh umm terserah kau saja”

“Jangan marah lah hahaha”

“kami semua tersenyum melihat Kevin yang tadi seperti ketakuan dan bingung akhirnya bisa merasa membaik setelah bercanda dengan kami. Tak lama kemudian kami membuat rencana untuk membantu Kevin dari permasalahan ini.

“Baiklah rencananya adalah...”

Belum ada komentar untuk chapter ini.

Jadi yang pertama?