Jilid 1

Tahun 1040 M/962 Saka

1 tahun setelah Calon Arang terbunuh

Suara kokokan ayam menambah merdu pemandangan pagi yang sangat ramai. Tidak bagi wanita berbadan besar dengan gelang kalung dari perhiasan putih berkilau. Wanita tersebut menggebrakan pintu reot dari bambu. Ingin sekali menyeret penghuni rumah tua yang mendiami tepat tersebut. Disebutkan bahwa seorang gadis yang masih tertidur di dalamnya.

“Ratna! Bangun!” teriak wanita berulang. Tambahkan suara gedoran pintu yang begitu keras.

Orang-orang yang melihatnya hanya mampu menghela napas. Sudah terbiasa dengan kejadian pagi, mereka biasa saja, sudah menjadi kebiasaan menurut mereka. Sudah tidak lagi melerai perilaku wanita tersebut ataupun menenangkan amarahnya. Kebiasaan tidak akan berubah.

Wanita itu kembali mengebrak tanpa mengetahui pemilik rumah masih terbujur kaku. Mendengar saja tidak apalagi merespon. Gadis itu benar-benar terlelap. Mata tertutup, anehnya ada sesuatu yang amis tercium.

“Hei, Anak Penyihir! Jangan pura-pura mati kepadaku lagi!” serunya kemudian memerintahkan seorang pengawalnya membuka pintu secara paksa.

"Buka paksa!" perintahnya.

Seorang pria besar bersiap mendorong pintu usang tersebut. Berhasil, pintu yang tertutup tadi sudah menjadi puing. Wanita itu memberikan isyarat untuk memasuki rumah tua tersebut.

Mereka masuk ke dalam ruangan gelap. Sedikit cahaya yang bisa masuk padahal sisa air hujan malam saja masih bisa merembes.

Wanita itu tidak sabar membuka pintu kamar. Mata mereka melebar melihat gadis yang dipanggil-panggil ternyata...

“Tolong!” jerit wanita itu akhirnya. Dia berlari keluar memecahkan ketenangan, para warga pun segera mendekat. Tidak biasa melihat wanita berperingai buruk itu ketakutan.

“Ada apa Ndoro?” tanya salah seorang dari mereka. Tetapi wanita tersebut tidak berkata ataupun menjawab. Memberikan inisiatif sendiri pada warga yang penasaran. Mereka meresak masuk ke dalam rumah tua tersebut.

Betapa kagetnya mereka melihat gadis kurus itu mengeluarkan banyak darah di sekujur tubuhnya. Banyak luka yang terbuka selain kakinya yang telah dipasung. Salah seorang pria segera mendekat.

“Walah, cepat bawa dia ke tabib,” dengan cepat mereka membuka pasungan dan membawa gadis muda tersebut ke rumah pengobatan.


                                                                                    oOo

Gadis muda itu mengeluarkan aliran bening di matanya. Sangat banyak. Membasahi seluruh rambut di sisi kanan dan kiri. Beberapa kali kepalanya bergerak. Gadis itu tengah mendapatkan mimpi yang sangat buruk. Cepat matanya terbuka.

Dia segera bangkit. Tangan kecilnya memegang seluruh badan hingga kaki. Ini bukan tubuhnya, batin gadis muda berumur 17 tahun tersebut.

Sepasang bola mata bergulir pada tatanan kamar yang rapi. Sunyi, hanya dirinya sendiri. Dia tidak tahu di mana dia berada saat ini. Pemandangan pertama kali yang ia tangkap sangat asing.

Pintu berderak. Menampakkan Pria tua yang membawa dedaunan dan alu kayu.

“Ananda sudah baikan?” tanyanya.

Tangan keriput tersebut mengatur dan melumat daun-daun yang ia bawa. Dia sedang meracik obat atau memberi pengobatan, gadis itu hanya terdiam sebagai pengamat. Kembali pria itu tersenyum lebar memandang diri dari mata gadis tersebut.

Gadis itu bingung. Dia kembali memperhatikan balutan–kain yang menutupi tubuhnya. Ada sesuatu yang membuatnya bingung.

“Di mana ini?” tanya gadis itu bersuara serak.

Pria tua yang merupakan tabib itu segera mengulurkan segelas air pada si gadis. Langsung saja ia meminumnya hingga tandas. Begitu haus yang teramat. Belum pernah gadis itu merasakan sehaus itu.

“Kamu di rumah pengobatanku, kamu ingat namamu?” lagi orang tua tersebut bertanya.

Sebelum menjawab, Pria itu membuka balutan perban dan menggantinya. Dia masih memasang senyum sampai menutup mata abu-abunya. Pria tua tersebut berujar, “Ananda beruntung sekali bisa hidup lagi.”

“Aku hidup lagi?” tanya Gadis itu polos.

Pria tua itu mengangguk. Meski tangannya sibuk tetapi ucapannya tidak berhenti.

“Saat kemari, dirimu sudah tidak sadar. Luka Ananda juga sangatlah dalam, butuh sewindu lebih untuk menyembuhkannya,” jelasnya. Balutan kain bersih dililitkan pada kakinya. Masih ada luka lebar di kakinya. Bekas luka-pasung-.

Gadis itu mengangguk. Dia juga baru merasakan sakit setelah obat pemberian Pria tersebut mulai masuk ke lukanya. Mungkin karena sudah banyak sekali luka yang diterima membuatnya lupa dengan rasa sakit.

“Ajaibnya, luka Ananda cepat sembuh tidak sampai sebulan.” Takjub Sang Tabib yang menutup kembali luka.

Gadis itu membentuk garis-garis tipis di dahinya. Di dalam hati, ia tengah berpikir keras. Luka dialami tubuh-ditempatinya- pasti sangat parah. Sekarang saja ia masih merasakan perih.

Tidak ada suara lagi. Sang Tabib masih meracik obat, Gadis itu masih memikirkan tentang keadaannya.

Suara pintu terbuka kembali terdengar. Seorang wanita muda membuka pintu kamar sangat lebar. Wajah bekas kesedihan itu melebarkan bibirnya. Dia segera memeluk tubuh Gadis muda yang duduk di ranjang. Tidak peduli bahwa gadis itu menatapnya bingung.

“Ratna, maafkan Mbak yu!” jeritnya menangis. Dekapannya semakin erat, seperti tidak ingin dipisahkan.

Gadis itu mengerjapkan mata sekali lagi. Bingung. Situasinya menjadi canggung baginya.

“Kamu ini kenapa gak bilang kalau Bibi selalu menyiksamu?” nada kesal terlontar dari mulut wanita tersebut. Semakin membuat si Gadis berpikir keras.

Bibi? Menyiksa? Dua kata tersebut mulai terangkai dari otaknya. Dia mulai mengerti mengapa tubuh-ditempati-nya bisa mendapatkan luka parah.

“Mbak Yu?”

“Iya ini mbak yu. Mbak yu berjanji setelah dirimu sembuh, aku akan membawamu ke istana.”

Mata gadis bernama Ratna itu membola. Seperti kaget mendengar kata Istana. Tangannya bergerak mendorong tubuh si Kakak.

“Kenapa?” tanya wanita itu sekali lagi. Adiknya seperti tidak merespon apa pun ucapannya.

Pandangannya beralih pada sosok tabib yang menyuruhnya untuk sabar. Ratih, Sang Kakak, duduk lemas memperhatikan adiknya. Mata Ratna berburu mencari sesuatu. Ia mencari cermin melihat sosok bayangan dirinya sendiri. Pantas dia bingung.

“Siapa aku?” tanya Ratna panik.

Seingatnya dia sedang berada di tempat tinggalnya dan sedang melawan musuh. Ingatannya begitu cepat saat kuda melompati tubuhnya. Lalu, ia merasakan lemparan tombak menembus tubuhnya.

“Aghhh” teriak gadis itu kesakitan.

Dia memegang kepalanya yang masih berbalut kain.

Tabib tua itu mendekat. Dia menyuruh kakak Ratna untuk menjauh. Ratih sendiri sangat cemas melihat wajah adiknya sangat kesakitan.

“Shh, tenanglah. Ananda tidak ingat nama Ananda sendiri?”

Gadis itu menggeleng kuat. Dia bukan tidak ingat. Tetapi dirinya bukan sosok yang dipanggil wanita tersebut. Dia bukan Ratna.

“Kamu benar-benar tidak ingat?” tanya Ratih tidak percaya.

Gadis itu memilih menggelengkan kepalanya. Reaksinya menjatuhkan tubuh Ratih yang terduduk lemas. Dia ingin bertanya kepada Sang Tabib, tetapi hanya sebuah gelengan pula.

Ratna memperhatikan tangan hingga wajahnya yang berbeda. Berbeda dari ingatan terakhirnya. Dia merasa bahwa ada alasan mengapa dirinya berada di tubuh seorang remaja.

Wanita itu, Ratih, kembali menangis terisak bergumam mengenai kemalangan Ratna. Dia mengutarakan cerita-cerita mengenai siapa sosok Ratna mulai asal hingga bagaimana dia terbuang dan dipasung oleh Bibinya. Hingga malam menjelang, akhirnya Ratna mengerti. Dia menemukan alasannya.

Tangan kecilnya mengelus kepala Ratih, ia tertidur setelah menceritakan semuanya. Ratna merasa iba. Dia merasa bersalah. Entah, dia merasa seperti tokoh jahat yang mengambil tubuh seorang gadis remaja.

Lalu tangannya berhenti bergerak. Dia membuka balutan luka yang sudah mengering. Napasnya keluar sangat berat. Lagi-lagi dia menatap sedih pada sosok Ratih. Lalu ia berkata, “maafkan aku. Aku bukanlah adikmu Ratna. Namaku Arvati, Sri Sangkharvati.”

Memilih terlelap, gadis yang mengaku adalah Arvati itu membenarkan posisi tidur Ratih. Dia berdoa supaya tuhan memberikan yang terbaik kepada keluarga Ratna.


                                                                                   oOo

Beberapa hari kemudian.

Tabib sudah mengatakan bahwa dirinya sudah sembuh. Dia mengatakan seperti itu karena Ratna tidak betah tinggal di rumah penuh bau obat-obatan. Padahal Sang Tabib tahu kalau Ratna tidak menyukai wajah cemas Ratih, kakaknya.

Sang Tabib tersenyum lebar. Pria itu memandang keakraban kakak-beradik yang lama dipisahkan. Walaupun beberapa hari lalu mereka mengalami masalah berat. Waktu berlalu memperbaiki hubungan mereka.

“Ratna,” gadis remaja tersebut menoleh mendengar namanya dipanggil. Ia sudah terbiasa dengan panggil-nama-nya dari wanita muda di depannya.

Ratih adalah seorang wanita berusia sekitar 20 atau 25 tahun yang bekerja di Istana Kahuripan.

“Aku akan membawamu di Istana. Kita akan berada di sana bersama-sama.”

Mata gadis itu terbelalak. Apa maksudnya Istana adalah kembali ke sana?

Belum ada komentar untuk chapter ini.

Jadi yang pertama?