FILE #2: ENIGMATIC FEELINGS

Mika selama ini optimis bahwa dia bisa melihat korban pembunuhan tanpa merasa bersalah, mual, dan sejenisnya.

Dia tidak mual, dia tidak merasa bersalah (meskipun ia diam-diam menyalahkan Hillary dari Ruang Mekanik Monroe Corp), tapi ada sesuatu yang membuatnya jadi lebih reaktif dan was-was.

Aku tidak sekuat itu, batinnya. Payah ….

Adel sendiri kelihatan jadi lebih pendiam dan serius.

“Ini bukan pertama kalinya aku melihat orang tewas,” kata Adel. Ia dan Mika sudah selesai ditanyai polisi dan saat ini masih menunggu di sekitar Rainbow Dash. “Makanya mungkin aku agak … mati rasa,” lanjutnya, meringis.

“Bukannya bagus? Kalau kau tidak merasakan apa-apa, kau tidak perlu khawatir emosi mengacaukan pekerjaanmu.”

“Itu sudut pandang yang positif untuk sesuatu yang tidak bagus-bagus amat.”

Mika mengerjap. “Menurutmu lebih baik tetap merasakan sesuatu setelah melihat orang mati?”

“Begitulah.”

“Ngomong-ngomong, kalau jadi begini, bagaimana pekerjaan kita?” Mika mengernyit. “Orang yang harusnya kita kawal sudah keburu diserang hingga tewas.”

“Sigurd yang akan mengurus.” Adel berdiri, meregangkan badan, dan mendekati detektif kepolisian yang baru saja meninggalkan Rainbow Dash.

Satu ciri fisik yang tak mungkin dilewatkan dari Detektif Van Besson adalah ia cebol, seseorang dengan dwarfisme. Tinggi badannya kurang dari satu meter dan langkah-langkahnya terlihat limbung karena kakinya pendek. Bagaimana tepatnya sang detektif bisa diterima masuk Kepolisian dengan kekurangan fisik seperti itu adalah tanda tanya besar untuk Mika.

Adel kenal Detektif Van Besson dan demikian juga sebaliknya.

“Kalian berdua bersih dan bisa pulang kalau mau,” kata sang detektif. Suaranya kedengaran seperti tertahan di dada. “Aku baru lihat rekaman kejadian di dalam ruangan—nanti buat izin tertulis dengan tanda tangan bosmu kalau butuh rekaman itu. Status rekaman tersebut barang bukti. Tim forensik masih bekerja.”

Detektif Van Besson menjauhi Rainbow Dash. Petugas Kepolisian yang mengikutinya terlihat ingin sekali membopong pria pendek itu ke tujuannya.

“Aku paling benci kasus begini.” Sang detektif mengeluarkan sebatang rokok. “Ini bukan daerah bebas rokok kan?”

“Bukan, Sir.”

Adel tiba-tiba membuat gerakan aneh. Ia sedikit terlonjak dan menjauhi Detektif Van Besson saat sang detektif menyalakan rokoknya dengan pemantik.

“Aku mungkin butuh laporan forensik juga,” kata Adel.

“Yang itu mungkin baru 48 jam lagi.” Detektif Van Besson menghembuskan asap rokok. “Bicara baik-baik dengan klienmu saja supaya mereka mau menunggu.”

Adel menghela napas.

“Baiklah kalau begitu. Kami duluan, Van Besson. Kalau butuh bantuan kami, kau tahu siapa yang bisa dikontak.”

“Mudah-mudahan saja aku tidak butuh, Stark. Bos mulai kelihatan tidak senang orang-orang lebih percaya kalian ketimbang kami.” Sang detektif mengepulkan asap lagi.

***

Sisa hari itu berjalan tanpa ada kejadian menghebohkan lainnya. Tapi kasus pembunuhan tersebut mengusik rasa penasaran Mika dan berakhir membuatnya mencari tentang dua hal: Benhard Joy Samosir, sang korban, dan Monroe Corporation, perusahaan persewaan pesawat antariksa.

Benhard Joy Samosir lahir dan besar di Bumi. Ia mengklaim diri sebagai keturunan raja-raja lama Republik Andalas, terlepas tidak ada cukup bukti dan nama keluarganya, Samosir, tidak tercatat di marga-marga sah raja-raja Republik Andalas. Ada kabar angin tentang ia adalah anak haram salah satu keluarga kaya, tapi itu juga tidak terbukti.

Tn. Samosir masuk ke daftar sepuluh orang terkaya di Republik Andalas setelah tanahnya di Bulan dibeli dengan harga sangat tinggi oleh Elon Stellar Mining.

Mika membaca kelanjutannya sambil memijit kening. Biografi Tn. Samosir terasa glamor dan berlebihan. Karena Mika membacanya di Instapedia yang kontennya bisa diubah oleh siapapun, ada kemungkinan penulis biografi itu adalah fans berat Tn. Samosir.

Tn. Samosir selain sangat kaya, sangat religius, juga sangat visioner—setidaknya itu yang tertulis. Ia mempelopori pabrik prostetik dan implan pertama di Republik Andalas. Beliau—lagi, menurut yang tertulis—juga merupakan “Duta Prostetik dan Implan Republik Andalas” berkat banyaknya prostetik dan implan yang ada di tubuhnya.

Sampai di sini, Mika menutup jendela perambannya. Batasan antara kebenaran dan sarkasmenya mulai bias.

Lalu Monroe Corporation.

Tidak ada yang menarik dari perusahaan tersebut selain awalnya mereka adalah maskapai penerbangan murah yang melayani perjalanan antara Bumi dan Bulan.

Usaha mereka kemudian berkembang ke pengantaran barang, tapi usaha ini hanya berlangsung sekitar tujuh tahun karena barang yang mereka kirimkan seringkali mengalami kerusakan dan puncaknya adalah salah satu pesawat pengangkut mereka mengalami kerusakan fatal yang mengakibatkan seluruh kru tewas.

“Ada apa dengan Monroe Corp.?” tanya Adel seraya menaruh panci berisi risotto di meja makan. Mika membaca tentang Monroe Corporation di apartemen, sambil menunggu makan malam.

“Cuma penasaran.” Mika menutup jendela perambannya.

“Mereka punya usaha-usaha sampingan.” Adel duduk. “Sewa mobil, bengkel, taksi, persewaan bus, maskapai pesawat terbang, semua yang berkaitan dengan transportasi. Dan semuanya berbiaya murah.”

“Setelahnya baru mereka membuka persewaan pesawat antariksa?”

“Ya. Mereka menarget konsumen seperti Tn. Samosir supaya bisa mematok harga lumayan tinggi.”

Mika tiba-tiba teringat Hillary dari Ruang Mekanik. “Karyawan mereka perlu pelatihan ekstra,” celetuknya.

Adel tertawa miris. “Wajar sih kalau kau masih kesal dengan si Hillary itu. Kupikir juga mereka harusnya lebih perhatian soal pelatihan karyawan. Ayahku cuma dites fisik dan latihan bekerja di ruang tanpa gravitasi sebelum diterima di Monroe.”

Mika mengerjap. “Ayahmu bekerja di Monroe?”

“Dulu. Dia meninggal karena kecelakaan. Tidak, bukan yang seluruh kru meninggal itu. Kecelakaan lain.” Ekspresi Adel menggelap. “Kecelakaan minor kata mereka.”

“Kecelakaan yang memakan korban jiwa sama sekali tidak minor!” Mika terbelalak. “Apa-apaan mereka?”

Adel mendengus.

“Maaf. Sudahlah. Itu bertahun-tahun lalu dan sudah selesai.”

Setelahnya, Adel terlihat canggung karena merusak suasana dan mencoba mengganti topik dengan bertanya soal rasa masakannya.

Saat mereka selesai, sambil mengucurkan air di bak cuci, Mika bergumam pelan:

“Ayahku juga sudah tidak ada. Meninggal waktu umurku dua belas.”

Hening sejenak.

“Aku turut berduka cita,” kata Adel pelan.

“Aku juga. Soal ayahmu.”

Adel menepuk pelan bahu Mika.

Itu sesuatu yang tak pernah Mika dapatkan waktu ia mendengar kabar tentang kematian ayahnya. Tidak seorangpun menghiburnya. Bahkan ibunya sendiri pun tidak.

Dan Mika tidak menghadiri pemakaman ayahnya.

Belum ada komentar untuk chapter ini.

Jadi yang pertama?