FILE #3: WHAT DOES THE FOX SAY?

Entah awalnya memang ada janji rapat dengan para petinggi dari semua cabang Orion Agency atau dia berusaha menghindar dari kewajiban untuk pergi ke Kantor Pusat Kepolisian Thebes-01, Chief Eriksson melimpahkan tugas mengurus kelanjutan dari kasus Tn. Samosir pada Mika dan Adel.

“Memangnya,” Mika menyamakan langkah dengan partnernya, “kenapa Chief Eriksson tidak ingin berurusan dengan kepolisian?”

“Kau ingat ucapan Detektif Van Besson kemarin?” Adel melepas kacamata. Ia mendorong pintu utama Kantor Pusat Kepolisian. Suaranya sedikit memelan saat ia mengucapkan kalimat selanjutnya. “Kepolisian Thebes-01 tidak senang penghuni stasiun luar angkasa ini lebih percaya pada Orion Agency ketimbang mereka.”

Mika nyaris kelepasan menanyakan memangnya kinerja Kepolisian Thebes-01 seburuk apa, lupa bahwa saat ini ia berada di kantor pusatnya.

“Kau tahu apa yang harus kita lakukan?” tanya Mika. Adel berjalan dengan yakin, seolah ia sudah hafal dengan bagian dalam bangunan ini.

“Memasukkan surat resmi permohonan hasil otopsi dan juga laporan terkait detail kejadian serta pelaku.”

“Tidak dilakukan via surel?”

“Tidak.” Adel merengut. “Karena penanggung jawab kasus ini juga perlu menanyai kita terkait awal mula kita menerima pekerjaan ini.”

Yang berarti Chief Eriksson telah mengoper detail pekerjaan pada Adel. Mika lupa dia bisa mengaksesnya dari folder mereka di OrionCloud. Sekarang sudah terlambat kalau dia mau membacanya.

Mereka tiba di depan sebuah ruangan. Adel menekan panel di sisi pintu. Hologram kecil sesosok wanita berpakaian formal muncul di atas panel.

“Selamat siang,” kata sang avatar hologram. “Ada yang bisa kami bantu?”

“Adelynn Stark dan Mikaela Tambunan dari Orion Agency.” Adel menunjukkan lencana Orion. “Janji temu dengan Detektif Van Besson.”

“Mohon tunggu sebentar.”

Hologram si wanita menghilang, digantikan tulisan “SEDANG DIPROSES”.

Detektif Van Besson muncul tak lama kemudian.

“Kukira aku harusnya bertemu dengan bosmu?” tanya sang detektif.

“Dia ada rapat dengan pimpinan Orion lainnya.” Adel mengangkat bahu. “Ada peraturan kalau ini tidak boleh diwakilkan?”

“Tidak.” Detektif Van Besson mengernyit. “Sebentar … aku menjadwalkan interogasi juga hari ini. Ah, sial. Benar kan, jadwalnya bentrok.”

Apa semua orang punya jadwal bentrok hari ini? Mika bertanya-tanya dalam hati. Dia sedikit enggan jika disuruh menunggu.

“Kami bisa menunggumu selesai, Sir,” kata Adel.

Mika menghela napas.

“Kalian ikut saja ke ruang interogasi,” kata Detektif Van Besson. “Sebentar, kuambilkan tanda pengenal untuk tamu.”

Mika menoleh ke arah Adel, menunggu konfirmasi dari partnernya itu. Adel hanya memasukkan tangan ke saku dan mempersilakan Van Besson kembali ke dalam kantor.

“Memangnya tidak apa-apa kita ikut melihat interogasinya?” bisik Mika.

“Van Besson dan sejumlah detektif divisi ini agak … pembangkang soal kerjasama dengan Orion,” ujar Adel. “Asal kau tidak menyebarkannya di sosial media saja.”

“Aku tidak punya sosial media.”

“Serius?”

Mika mengangguk.

“Ya ….” Adel mengusap tengkuk. “Aku juga menutup Wikigram dan Linkbook-ku sih. Tinggal Quarker saja. Itu juga cuma untuk melihat berita.”

Detektif Van Besson keluar lagi sambil membawa sepasang tanda pengenal dan sebuah hoverboard kecil. Ia menyerahkan tanda pengenal pada Mika—kemungkinan besar atas pertimbangan selisih tinggi badan—kemudian menaiki hoverboard-nya.

“Tidak usah komentar,” gerutu sang detektif. “Aku tahu ini hoverboard bocah. Yang untuk dewasa terlalu besar.”

Ada gambar karakter dinosaurus kartun di permukaan hoverboard Van Besson. Mika mengenalinya sebagai kartun yang tayang setiap hari Minggu pagi.

Dengan menggunakan hoverboard, Van Besson melaju dengan kecepatan jalan orang normal, membuat Adel dan Mika tidak perlu merasa canggung karena mendahului sang detektif.

“Sudah ada dugaan siapa pelakunya?” tanya Adel.

“Aku masih curiga dengan si kepala pelayan,” kata Detektif Van Besson. “Tapi hasil otopsi belum keluar dan masih ada laporan dari kalian untuk kupertimbangkan, jadi anggap saja aku hanya tidak senang melihat mata teropong si kepala pelayan.”

“Mata prostetiknya memang terlihat agak menyeramkan, jujur saja ….” Adel meringis. “Siapa yang akan kau tanyai sekarang?”

“Para pelayan Tn. Samosir.” Detektif Van Besson berbelok dan berhenti di depan sebuah pintu. Ia memindai lencana kepolisiannya di panel pengaman dan, diiringi sambutan suara elektronik, pintu terbuka.

Ruangan itu bersebelahan persis dengan ruang interogasi. Dari sana mereka bisa melihat ruangan sebelah melalui kaca satu arah. Belum ada siapa-siapa di ruang interogasi. Sebuah meja dan sepasang kursi terlihat diletakkan di tengah-tengah ruangan. Standar.

“Mau pakai pendeteksi kebohongan juga?” tanya Adel, menunjuk ke panel di sisi kaca satu arah.

“Hmm, boleh.” Van Besson sedikit cemberut, membuat tampangnya semakin mirip anjing bulldog. “Tinggi sekali sih panel-panel ini ….”

Adel mengalihkan pandangan ketika Detektif Van Besson memasukkan password.

“Duduk dan tunggu saja di sini.” Van Besson menyorongkan kursi asal-asalan. “Partnerku akan ikut menyimak bersama kalian, jangan khawatirkan dia.”

“Siap.”

Begitu Detektif Van Besson pergi, Adel berpaling pada Mika, mempersilakannya duduk di satu-satunya kursi yang ada di sana. Mika bergeming, merasa sebaiknya menyisakan kursi itu untuk rekan sang detektif.

Kotak-kotak berisi profil singkat mereka yang akan diinterogasi hari ini bermunculan di bagian bawah kaca satu arah:

DINARYAN TOGAR
-kepala pelayan Tn. Samosir-
ID: 108-009-2289
JHON KALIGRAFI YUKI
-pelayan pribadi Tn. Samosir-
ID: 111-527-0031
TAUPHAN BRIYANTO
-pelayan pribadi Tn. Samosir-
ID: 108-907-0192
ARIONE SITUMORANG
-pelayan pribadi Tn. Samosir-
ID: 117-429-5871

Mika mengenali nama “Situmorang” sebagai marga kuno Andalas, sama seperti nama belakang Mika, “Tambunan”.

“Menurutmu, siapa pelakunya?” tanya Adel. “Staf Rainbow Dash atau pelayan Tn. Samosir?”

“Sulit ditentukan.” Mika melipat tangan di dada. “Tapi kupikir pelayan lebih mungkin karena mereka tahu kebiasaan Tn. Samosir dan berada di sekitarnya lebih sering daripada staf Rainbow Dash.”

Adel mengangguk, menyetujui.

“Tapi … rasanya Tn. Samosir sudah tahu dia berada dalam bahaya,” lanjut Mika. “Dia tidak mau turun dari pesawat sebelum kita tiba, kan?”

“Benar.”

Partner kerja Detektif Van Besson memasuki ruangan bersama seorang petugas. Di ruang interogasi, Van Besson terlihat memanjat—memanjat, ini sungguhan—kursi. Saksi yang hendak ditanyai belum tiba.

“Selamat siang, Sir.” Adel menyapa partner sang detektif terlebih dahulu.

Mika mundur ke belakang Adel. Ini, gerakan yang tanpa sadar sudah menjadi kesepakatan antara keduanya: Adel menangani semua urusan yang butuh bicara, Mika menangani urusan yang butuh hal teknis melibatkan data dan komputer.

“Selamat siang,” balas partner Van Besson. Pria muda itu terlihat tidak menyetujui keberadaan Adel dan Mika di ruangan ini.

“Adelynn Stark dan ini rekan kerja saya, Mikaela Tambunan.”

(Adel melatih dirinya mengucapkan nama belakang Mika hingga membuat si pemilik nama jengah, tapi hasil akhirnya memuaskan.)

Mika mengangguk pada rekan Detektif Van Besson dan pada polisi yang mendampinginya. Wajah si polisi kaku.

“Anak-anak Orion yang dibilang Jean.” Si rekan menghela napas, mengangkat bahu, tapi kemudian membalas uluran tangan Adel. “Detektif Lawyard.”

“Senang berkenalan dengan Anda.” Adel tersenyum. “Dasi Anda itu The Royal Pinstripe?”

“Oh?” Detektif Lawyard menyentuh dasinya yang berwarna biru gelap. “Bukan, bukan. Itu terlalu mahal.”

Adel mengangkat alis. “Selera Anda bagus, Sir. Kami sering bertemu klien dengan selera fashion buruk. Mereka lupa merek mahal juga bisa jadi bencana kalau salah perpaduan. Seandainya mereka berteman dengan Anda, mereka pasti belajar satu-dua hal soal berpakaian rapi.”

Detektif Lawyard tertawa. “Terima kasih.”

Apa yang akan Adel bicarakan seandainya detektif ini tidak berpakaian serapi ini? Mika bertanya-tanya dalam hati. Pujian adalah salah satu pendekatan pertama yang Adel lakukan, jadi hampir pasti dia akan mencari hal lain untuk dipuji dari sang detektif.

Setiap orang senang dipuji. Itu membuka komunikasi. Apalagi jika kau memuji hal kecil yang mereka pikir tidak penting.

Saksi pertama memasuki ruang interogasi.

Kotak biodata singkat bertuliskan nama “Jhon Kaligrafi Yuki” berpendar dan membesar memenuhi sebagian layar.

Tidak seperti tampilan yang biasa muncul di lensa kontak Mika, ada lebih banyak informasi yang ditampilkan di layar kaca satu arah. Tiga yang terbesar adalah nama, pekerjaan, dan nomor identitas. Sisanya berukuran lebih kecil dan dari tempatnya berdiri sekarang Mika tak bisa membacanya dengan jelas. Apalagi si polisi nampak melirik ke arahnya dan sepertinya sengaja melangkah maju menghalangi pandangan Mika.

Suara Detektif Van Besson terdengar via speaker di tengah-tengah cermin satu arah.

“Selamat siang, Tn. Yuki.”

“Saya sudah menjawab semua pertanyaan Anda kemarin,” ujar Tn. Yuki. “Kenapa saya—dan yang lain—masih dipanggil lagi kemari?”

“Karena saya punya lebih banyak pertanyaan untuk Anda sekalian,” jawab Detektif Van Besson. “Saya tidak akan berlama-lama.

“Pertama, apa relasi Anda dengan korban?”

Pertanyaan-pertanyaan sang detektif berkisar seputar pekerjaan Tn. Yuki (apa pekerjaan hariannya, sudah berapa lama bekerja pada Tn. Samosir, shift kerja dalam kondisi biasa dan saat dalam perjalanan), kemudian mengarah ke pertanyaan tentang pandangan Tn. Yuki akan sang korban.

Mungkin hanya perasaannya saja, tapi Mika merasa Tn. Yuki enggan membicarakan keluarga Tn. Samosir. Detektif Van Besson berhasil menggiringnya bercerita tentang kondisi keluarga Tn. Samosir.

“Istri kedua dan ketiga adalah yang paling menyebalkan,” gumam Tn. Yuki. “Mereka saling sindir setiap kali bertemu dan saya dengar dari pelayan lain mereka cuma akur kalau sedang menggosipkan istri keempat.”

“Oh.” Wajah mirip-bulldog Detektif Van Besson kelihatan tak terkesan. “Bagaimana dengan istri pertama dan istri keempatnya?”

“Istri pertama memusuhi semuanya, tapi setidaknya dia tidak terus-terusan bicara buruk. Istri keempat orangnya pasrah.” Tn. Yuki menggoyangkan kaki. “Tapi kami pikir tidak mungkin dia bakal terus-terusan pasrah.”

Kalau situasi di keluarganya seperti itu, bukan tidak mungkin pelakunya adalah suruhan dari keluarga Tn. Samosir sendiri, pikir Mika. Daftar tersangkanya jadi bertambah.

“Menurut Anda,” Detektif Van Besson mengungkapkan pertanyaan terakhirnya, “apa yang terjadi pada Tn. Samosir?”

Tn. Yuki menjawab dengan sedikit keheranan, seakan ia ditanya sesuatu yang sejelas jarak dari Bumi ke Mars:

“Bunuh diri.”

Belum ada komentar untuk chapter ini.

Jadi yang pertama?