FILE #5: CONFUSION

Adel dan Mika meninggalkan Kantor Pusat Kepolisian Thebes-01 sekitar pukul setengah lima sore. Jam kantor Orion Agency berakhir pukul enam dan perjalanan dari Kantor Kepolisian kembali ke kantor Agency makan waktu sekitar setengah jam, tapi Adel dan Mika tetap harus kembali untuk menemui Chief Eriksson.

“Apa pekerjaan bermasalah seperti ini sering terjadi?” tanya Mika.

“Aku cuma ingat satu atau dua kali dapat yang bermasalah,” gumam Adel. “Sigurd memeriksa permintaan yang masuk dengan hati-hati, bahkan yang mendesak untuk segera diterima seperti tugas kita.”

Adel memindai gelang elektroniknya dan membuka pintu kantor. Seruan Tobias langsung menyambut mereka.

“Stark!” Tobias berputar di kursinya. “Bantu aku membereskan laporanku! Ini sudah seratusan halaman dan masih belum selesai!”

“Pekerjaanku juga belum selesai, Tn. Dale,” sahut Adel.

“Ini harus dikirim besok!”

“Apanya yang harus dikirim besok?”

Berdiri di ambang pintu, Mary-Robin dengan sekotak donat di tangan terlihat berbinar-binar. “Laporan, Tobias? Aku bisa bantu. Tentu saja dengan satu-dua kesepakatan.”

Jamal membalas pernyataan Mary-Robin dengan serangkaian gestur bahasa isyarat.

“Tidak!” jerit Tobias. “Jangan minta dia jadi proofreader!”

Tapi protes itu diabaikan oleh Mary-Robin yang mengangguk-angguk dan Jamal yang meneruskan bahasa isyaratnya.

“Jamal menjanjikan traktiran kebab setiap pagi selama seminggu untuk Mary-Robin,” Adel menerjemahkan. Ia mengetuk kacamatanya. “Ada penerjemah bahasa isyarat.”

“Dan itu maksudnya pakai uangku!” seru Tobias.

“Heh,” Mary-Robin berkacak pinggang, “diam saja, Toby. Jangan berani-beraninya kau minta bantuan Adel juga setelah kau menjampi pekerjaannya jadi pembunuhan ruang tertutup.”

“Kok aku belum dengar soal itu?” Adel menaikkan suaranya. “Kau menebak-nebak pekerjaanku selanjutnya sebagai ‘pembunuhan di ruang tertutup’?”

“Itu cuma kebetulan!”

“Kalau terjadinya sepuluh dari sepuluh, ya, tidak kebetulan lagi namanya,” kata Mary-Robin.

“Oh,” Mika akhirnya paham arah pembicaraan ini, “dia memang bilang begitu padaku. Lalu pekerjaan mengawal Tn. Samosir masuk.”

Adel menuding Tobias, lalu menggerakkan jari melintasi leher. Tobias membalasnya dengan acungan jari tengah.

Mereka kekanak-kanakan sekali sih …, batin Mika.

Memasuki ruangan Chief Eriksson, yang pertama menyambut mereka adalah Bjarkan, si droid ubur-ubur. Hologram wajah si droid langsung berubah dari awalnya ramah menjadi jengkel begitu ia melihat Adel.

“Bjarkan, kembali ke pocimu,” gerung Chief Eriksson.

“Yarrr~” Si droid ubur-ubur melayang menuju pocinya di meja di sudut ruangan.

“Aku sudah menemui Detektif Van Besson dan menyerahkan berkas-berkasnya,” lapor Adel. “Dia akan mengabari lagi terkait perilisan hasil otopsi dan perizinan akses barang bukti.

“Van Besson itu ….” Chief Eriksson memposisikan tangannya seolah mengukur tinggi seseorang yang jauh di bawah pinggangnya.

“Iya, dia.”

“Wah ….” Si pria Norwegia memanggil Adel dan Mika agar mendekat. “Aku terpaksa memberinya kabar buruk lagi sepertinya.” Ia membuka sebuah jendela hologram. “Ada permintaan masuk dari perusahaan asuransi untuk investigasi klaim asuransi. Lihat.”

Beberapa foto muncul. Adel menggesernya agar semuanya terlihat jelas tidak saling tumpuk.

“Itu … Rainbow Dash, kan?” ujar Mika. “Bagian dalamnya.”

“Ada yang merusak sistemnya. Monroe Corp. mengklaim uang asuransi, tapi si perusahaan asuransi curiga pada klaim ini dan ingin kita menyelidikinya.”

“Tapi ini TKP pembunuhan.”

Mika menggeser salah satu foto dan memperbesarnya. Itu foto ruang kendali utama.

“Kenapa kunci daruratnya masih ada di sana?” Ia menunjuk. “Bukannya diambil kepolisian sebagai barang bukti?”

“Dan TKP harusnya masih dijaga polisi,” Adel menambahkan. “Bagaimana perusaknya melewati mereka?”

***

Ada banyak orang yang bisa dicurigai terkait pengrusakan sistem Rainbow Dash dan rasanya tidak mungkin memeriksa serta menguntit para tersangka satu persatu, bahkan dengan bantuan dari Reno bersaudara.

Sayangnya lagi, kedua Reno mendapat tugas mengawal seorang direktur bank swasta sampai kira-kira seminggu ke depan. Tobias dan Jamal masih berkutat dengan laporan mereka yang sudah mencapai dua ratus halaman dan waktu tenggat yang tinggal beberapa jam lagi—Mika tidak tahu apa gerangan tugas terakhir mereka sampai laporannya setebal itu. Sementara dua agen lainnya yang seharusnya menempati meja di sebelah Adel ….

“Oh, Hogan Dominique dan Ebert Lionheart.” Adel menjawab pertanyaan Mika. “Mereka berdua diminta ke cabang Tex-Karibia untuk pelatihan—atau pemilihan agen baru, aku lupa. Mungkin baru akan kembali bulan depan.”

“Jadi kita berdua lagi yang mendapat tugas asuransi ini?”

“Ya … apa boleh buat?” Adel menunjuk ke ruangan Chief Eriksson. “Aku dan Sigurd ada janji teleconference dengan Van Besson. Bisa tolong cari tahu lebih dulu soal pesawat yang digunakan Monroe Corp.?”

“Siap.”

Mencari tentang pesawat itu tidak terlalu sulit. Selain di situs resminya tersedia spesifikasi pesawat yang bisa di-download, ada juga model 3D hingga ke interior pesawat. Beberapa hal lain yang Mika temukan dan masukkan ke catatan adalah pembahasan insiden kecil yang melibatkan pesawat jenis sama. Jumlahnya sedikit dan setengahnya akibat human error.

Saat Mika selesai memasukkan data-data dan catatan ke folder OrionCloud, Adel belum keluar dari ruangan Chief Eriksson. Mika memutar-mutar model 3D interior pesawat, mengingat-ingat kembali saat ia dan Adel datang, kemudian masuk ke dalam sana dan saat ia masuk untuk kedua kalinya dan langsung pergi ke ruang kendali.

Dari mana program yang mengacaukan sistem Tn. Samosir masuk? pikir Mika. Kalau berpikir bahwa pengrusakan sistem Rainbow Dash adalah usaha si pelaku untuk menutupi jejak, rasanya justru aneh kalau pelakunya adalah pelayan Tn. Samosir. Mereka kan tidak semudah itu mengakses sistem Rainbow Dash. Memasukkan program asing ke dalam sistem juga bisa membahayakan seluruh penumpang, tidak hanya satu orang.

Mika mengetuk-ngetuk papan ketiknya sebelum akhirnya ia mengetikkan “Benhard Joy Samosir” ke dalam mesin pencari. Dia penasaran bagaimana kematian Tn. Samosir diberitakan.

Portal berita serius kebanyakan fokus membahas pada kasus, diikuti dengan tautan ke artikel lain yang membahas serangan program berbahaya pada pengguna implan dan prostetik. Portal berita selebriti pun ikut membahas kasus ini, tapi bedanya adalah ….

PENGACARA BENHARD JOY SAMOSIR: “SOAL WARISAN, SUDAH JELAS SIAPA-SIAPANYA.”

Mika mengklik tautan. Jurnalisme yang membahas soal warisan di masa duka perlu ditanyai ulang soal kode etik yang dipegang wartawannya, tapi mengingat masalah internal di keluarga Tn. Samosir, mungkin ada sesuatu dari berita ini.

Mungkin.

Beritanya sendiri singkat, tidak menjawab pertanyaan, dan jelas judulnya cuma umpan agar orang mengklik tautan beritanya. Mika beralih pada nama si penulis berita. Sedikit penelusuran membuatnya yakin si jurnalis bukan orang awam berprofesi sebagai kontributor, tapi seorang jurnalis berpengalaman.

Mika mencari lagi berita-berita sejenis.

Hidup keluarga Tn. Samosir terdengar seperti panggung drama serial televisi berbudget rendah.

Istri-istri dan anak-anak Tn. Samosir—baik anak kandung maupun anak tiri—sepertinya berseteru di antara mereka sendiri. Bisnis Tn. Samosir digoyang isu bahwa ia sengaja mencaplok usaha-usaha kecil untuk kemudian dimatikan. Di bagian keagamaan—topik yang enggan Mika dalami—ada yang menuduh Tn. Samosir orang munafik yang bersembunyi di balik pencitraan ibadah bersama yang rutin diadakan di rumahnya.

Mika memijit kening, agak menyesal kenapa dia mencari-cari soal Tn. Samosir ini.

Ia menggerakkan kursor ke sudut peramban, berniat menutupnya, saat tanda panah mungil itu melewati judul tautan lain.

DI BALIK BUNUH DIRI MICHAEL ARSONIAS, PENGUSAHA KOMPONEN DROID DARI BELANDA

Mika merasa perutnya diremas dari dalam.

Ia beranjak dari tempat duduknya dan keluar menuju pantry, mengambil kopi. Kopi di Orion Agency terhitung “apa adanya” jika dibandingkan kopi di PrimeTime, tapi tidak ada yang mengeluh. Mika bahkan curiga hanya dia yang minum kopi di sini.

Adel sudah duduk di kursinya, menggeliat seperti kucing, saat Mika kembali ke dalam ruangan.

“Bagaimana?” Mereka bertanya berbarengan.

“Aku dulu kalau begitu.” Adel melipat lengan di belakang kepala dan bersandar. “Orang yang memfoto adalah orang dari asuransi, tapi dia didampingi petugas kepolisian saat memfoto. Van Besson sudah menanyai mereka, tapi sayangnya mereka meluputkan soal kunci darurat itu dan tidak ingat apakah saat si orang asuransi memfoto kunci itu sudah ada atau belum.

“Tim forensik digital ternyata sudah memeriksa sistem Rainbow Dash di hari yang sama karena kecurigaan pertama mereka adalah malfungsi prostetik Tn. Samosir diakibatkan oleh program berbahaya atau virus yang memasuki implannya. Tim forensik menyatakan sistem Rainbow Dash bersih dari virus.”

“Berarti pengrusakannya bukan untuk menghilangkan barang bukti ...,” gumam Mika. “Lebih mungkin Monroe Corp. yang melakukannya untuk mengklaim asuransi.”

“Ada satu kemungkinan lain.” Adel tersenyum dan mengacungkan telunjuk di depan bibirnya. “Pelaku pengrusakan ini adalah seseorang yang salah mengira cara pelaku memasukkan program berbahaya ke dalam sistem Tn. Samosir.”

Mika terdiam sejenak, memikirkan kemungkinan yang satu itu.

“Kapten kapal,” kata Mika akhirnya. “Mereka satu-satunya yang punya akses ke kunci darurat.” Ia membuka catatan. “Dan salah satu pengamanan pesawat Leviathan-511 adalah jika ada kunci darurat dengan kriptografi tidak cocok dimasukkan ke slot, sistem akan terkunci setelah lewat beberapa waktu, dan akan rusak jika terus berlanjut. Sistem pengamanan ini dianggap cacat dan diubah sejak produksi Leviathan-511b.”

“Jadi sebenarnya pelaku cukup mengambil kunci darurat apapun dan memasukkannya ke slot lalu meninggalkannya?”

“Ya.”

Adel mengangguk-angguk. “Van Besson juga bilang pada kami bahwa kedua polisi yang berjaga didatangi oleh kedua kapten yang minta diizinkan masuk karena ada barang mereka yang tertinggal.”

“Dan mereka mengizinkan kedua kapten itu masuk?” Mika meringis. “Mereka bakalan turun pangkat.”

“Itu sudah terjadi sepertinya.”Adel meringis. “Dan sebelum kau bertanya, Van Besson menolak mentah-mentah memberitahu hasil kecocokan sidik jari di kunci—kalaupun ada.”

Mika menghela napas. “Kita akan mengunjungi para kapten kalau begitu?”

“Tepat.”

Belum ada komentar untuk chapter ini.

Jadi yang pertama?