FILE #6: PILOT JONES

Sepanjang pengetahuan Mika, normalnya seorang investigator yang disewa perusahaan asuransi akan bekerja diam-diam menguntit serta mengawasi orang yang mengklaim asuransi dan mencari bukti bahwa kerusakan atau cedera yang dialami adalah benar dan valid.

“Dalam kasus biasa, ya,” jawab Adel. “Tapi pengklaim asuransi kali ini adalah perusahaan dan benda yang diklaim rusak adalah sebuah pesawat antariksa yang merangkap TKP pembunuhan. Aku tidak yakin ada yang bisa dikuntit.”

MONROE BUILDING
- Restoran Meksiko Riviera lt.1
- Asrama Monroe Corporation lt. 2-3

Asrama karyawan milik Monroe Corp. adalah tempat tinggal sementara pengganti hotel untuk para kru dan staf perusahaan. Bau bumbu pedas menguar dari restoran di lantai dasar, membuat Mika bersin. Tidak ada lift di bangunan ini, yang ada adalah tangga yang berada di sisi gedung. Cat di pegangan tangganya terlihat sudah lama mengelupas dan bernoda.

Adel dan Mika berhenti di depan flat nomor 39. Adel membunyikan bel dan seorang pria membukakan pintu.

DAVID JONES JR.
-Kapten Pesawat Rainbow Dash-
ID: 330-271-0091
Usia: 37 tahun
Status: belum menikah
Rekam jejak perilaku baik secara umum: 92%

“Tn. Jones?” tanya Adel. “Tuan David Jones Jr.?”

“Yeah?” Sang kapten pesawat mengusap dagunya yang belum dicukur. Ia terdiam sejenak. “Kalian … orang-orang dari Orion Agency kalau tidak salah ….”

“Senang Anda masih mengingat kami.” Adel membungkukkan badan sedikit. “Saya Adelynn Stark, ini partner saya, Mikaela Tambunan.”

“Jadi … uh, ya, ada perlu apa?”

“Orion Agency membutuhkan lebih banyak detail terkait tugas terakhir kami, yang berkaitan dengan Rainbow Dash, karena … tugas tersebut berakhir prematur dengan hasil di luar dugaan. Atasan kami tidak puas dengan laporan dari sudut pandang kami dan meminta detail dari para saksi.”

Adel sudah memberi tahu Mika sebelumnya bahwa ia tak akan langsung bertanya soal apakah sang kapten kembali lagi ke kapal atau tidak. Dia berusaha menghindari balasan “memangnya kenapa”.

“Ah, bisa dimengerti.” Kapten Jones mengangkat bahu. “Aku juga tidak ada pekerjaan sampai perusahaan menyuruhku memimpin pesawat lain. Ini tidak melanggar hukum kan? Maksudku, aku masih berstatus saksi untuk kepolisian.”

“Sama sekali tidak melanggar hukum, Sir. Jangan khawatir.”

“Hmmh. Ngomong-ngomong, keberatan kalau kita bicara di luar? Ada tempat makan yang lumayan di dekat sini.”

“Tentu.”

“Segera kembali.”

Kapten Jones menutup pintu apartemennya dan lima menit kemudian muncul kembali dengan kemeja santai dan celana panjang. Dagunya bahkan sudah dicukur.

Tempat yang dimaksud Kapten Jones adalah sebuah kedai di sudut blok. Tempatnya kecil, hanya muat sekitar sepuluh orang. Mika merasa mejanya terlalu tinggi, tapi pinggang Adel terbentur tepian meja saat hendak duduk.

“Beberapa wartawan mendatangiku kemarin ini.” Kapten Jones menjelaskan. Jadi kurasa akan … merepotkan kalau ternyata mereka masih menunggu dan melihat kalian datang.”

“Katakan saja kami petugas asuransi yang mengurus klaim kesehatanmu, kalau mereka bertanya.”

“Ide bagus. Akan kulakukan.” Kapten Jones menghela napas. “Tapi mereka tidak seantusias dugaanku. Kalau di Republik Andalas pasti rumahku sudah ditongkrongi wartawan sepanjang hari.”

“Anda berasal dari Republik Andalas?”

“Lama tinggal di sana. Aslinya aku kelahiran Belanda.”

Pembicaraan mereka terpotong oleh pegawai kafe yang datang membawakan buku menu. Saat ini belum jam makan siang dan hanya mereka bertigalah pengunjung di kafe, jadi si pegawai tidak terburu-buru dan menunggu hingga mereka semua memesan.

“Baiklah,” Kapten Jones mendengus, “apa yang ingin kalian ketahui?”

Mika mengubah Kale ke mode perekam dan menyuruh droid itu naik ke bahunya.

“Sebagai kapten Rainbow Dash, apakah Anda yang menghubungi kantor Monroe Corp. terkait permintaan pengawalan dari Orion Agency?”

“Benar.”

“Siapa yang meminta Anda? Tn. Samosir sendiri?”

“Si … Mata Teropong. Kepala pelayannya. Argh, siapa namanya?”

“Dinaryan Togar,” jawab Mika. “Tn. Togar.”

“Benar. Dia.”

“Anda kenal semua pelayan Tn. Samosir?” tanya Adel.

“Tidak semuanya.” Kapten Jones menggaruk pipinya dengan salah tingkah. “Aku menyebut mereka dengan nama julukan kalau bicara dengan kru lain.”

Adel tertawa. “Memberi nama julukan juga termasuk salah satu cara mengingat.”

“Ah, ya.” Kapten Jones berusaha menyembunyikan senyum.

Adel menempelkan ujung jempol dengan ujung telunjuk, membentuk sebuah persegi panjang. Proyeksi hologram muncul dengan jari Adel sebagai bingkai. Ia menarik tangannya menjauh, memperbesar tampilan hologram yang rupanya adalah brosur beranimasi.

“Berdasarkan brosur ini, rute perjalanan Tn. Samosir adalah program pesiar antariksa dengan transit di koloni Bulan, koloni Mars, dan berakhir di Thebes-01, lalu kembali lagi menuju ke Bumi,” kata Adel. “Dengan waktu transit di setiap lokasi antara 36 hingga 48 jam.”

“Yap.”

Pegawai kafe datang mengantar pesanan mereka. Mika menyenggol bongkahan es krim yang mengapung di gelasnya. Es krim itu keras dan kopi di bawahnya terasa agak hangat saat Mika memegang gelasnya.

“Apa Tn. Samosir juga meminta disediakan pengawal saat transit di Bulan dan di Mars?” tanya Adel. Ia mematikan tampilan hologram dengan menyentuhkan ujung jempol dan telunjuk, membuat bentuk “o” di masing-masing tangan.

Kapten Jones terlihat mengingat-ingat. “Di Bulan seingatku tidak. Tapi di Mars, aku tidak tahu. Saat itu giliran Kapten Bardem yang mengurusi pesawat. Aku dan sebagian kru di tabung stasis sampai lepas orbit Mars.”

Orion Agency bukan satu-satunya agensi keamanan di Mars, pikir Mika. Mungkin dia mengontak agensi lain.

“Tapi,” Adel menyangga dagu dengan tangan, “si kepala pelayan itu lebih dari cukup melindungi Tn. Samosir. Badannya besar seperti atlit bela diri. Tn. Samosir juga tidak punya musuh. Untuk apa dia menyewa pengawal tambahan?”

“Tidak punya musuh?” Kapten Jones terkekeh. Ia menghirup teh susunya dan mendesis kepanasan. “Tn. Samosir itu di Andalas termasuk orang yang paling banyak digunjingkan media.”

“Benarkah?” pancing Adel, seolah-olah dia belum mendengar desas-desus itu sama sekali. “Anda ternyata cukup mengikuti beritanya.”

“Sebenarnya pacarku.” Wajah Kapten Jones merona merah. “Dia orang asli Andalas dan mengikuti berita tentang Tn. Samosir. Dia lumayan emosi kalau membahas berita tentang Tn. Samosir bersamaku.”

“Aku penasaran. Kalau Anda tidak keberatan menceritakan ada apa dengan Tn. Samosir?”

“Hmm, ya.” Kapten Jones kembali menggaruk dagunya meskipun ia sudah bercukur. “Masalah keluarga dan masalah bisnis.”

“Apa kedua masalah itu sampai membuat Tn. Samosir diancam pihak-pihak tertentu?”

“Dikecam, ya, tapi bukan diancam, setahuku. Tn. Samosir itu figur yang masih lumayan dihormati dan punya sejumlah fans loyal. Mereka jenis yang berani berinisiatif melaporkan orang yang melontarkan ancaman ke kepolisian.”

Mika tidak kaget. Dia sudah melihat artikel tentang Tn. Samosir di Instapedia yang begitu meninggikan dan memuji-muji prestasinya.

“Selama Anda memegang kendali Rainbow Dash, Anda sempat menyadari ada sesuatu yang aneh dengan Tn. Samosir?” lanjut Adel. “Dia tiba-tiba nampak panik tanpa alasan jelas atau marah karena satu dan lain hal?”

Kapten Jones melipat lengan. Keningnya berkerut. “Memang ada monitor di ruang kendali utama, tapi aku tidak selalu memperhatikannya. Sepanjang pengamatanku, dia tidak menunjukkan gelagat mencurigakan.”

“Anda satu-satunya yang bisa mengubah sistem keamanan pada Rainbow Dash, kan?”

“Jika merujuk pada password yang kupegang, ya. Tapi dengan kunci darurat, kau bisa melewati bagian password dan langsung mengatur sistem keamanannya. Uh, kecuali kunci ruangan tempat kejadian, sebenarnya …. Kunci ruang tempat kejadian tidak bisa diubah dengan password. Harus menggunakan kunci.”

Tn. Togar gagal membuka ruangan tempat Tn. Samosir berada, pikir Mika. Dari caranya langsung menempelkan tangan di panel, Tn. Togar tadinya bisa masuk ke dalam ruangan. Anggaplah bukan salah satu dari kedua kapten yang mengubahnya, lalu siapa dan bagaimana?

Mika menyenggol Adel pelan dan membisikkan sebuah pertanyaan.

“Ah, ya.” Adel berpaling kembali pada Kapten Jones. “Kapten, siapa saja yang bisa masuk ke ruangan tempat Tn. Samosir terbunuh?”

“Uh … si Mata Teropong dan satu orang pelayannya yang alisnya tebal itu.”

“Tauphan Briyanto,” kata Mika, kebetulan ingat ciri khas alis tebal tersebut.

“Ah, ya, kurasa dia.”

“Hanya dua orang?” tanya Adel lagi.

“Tn. Samosir juga bisa.”

Mika kembali terpikirkan sesuatu dan membisiki Adel lagi.

“Kenapa sih kau tidak mau tanya sendiri?” goda Adel. Tapi ia tetap menyampaikan pertanyaan Mika pada Kapten Jones. “Apa Tn. Samosir bisa mengubah siapa-siapa saja yang boleh masuk ke dalam ruangannya?”

“Oh, bisa. Ada panel kendali untuk melakukan fungsi itu di dalam ruangan. Kau juga bisa memasang timer jika tidak ingin diganggu.”

“Sistem yang sangat menghargai privasi.”

Kapten Jones menghela napas. “Itu desain dari Monroe Corp., bukan desain sistem asli pesawatnya.”

“Oh?” Mata Adel nampak berkilat. “Bukan sistem asli pesawatnya?”

“Ya. Monroe Corp. mengubah beberapa fungsinya untuk menyesuaikan dengan kebutuhan penumpang.” Kapten Jones mengangkat bahu. “Itu tidak mengganggu pekerjaan kami, tapi sejujurnya ada beberapa regulasi keamanan yang jadi … dipertanyakan dengan sistem seperti itu. Insiden ini harusnya bisa dicegah kalau kapten kapal punya akses mengubah kunci seluruh ruangan tanpa kecuali.”

“Saya mengerti.” Adel menoleh lagi pada Mika. “Ada pertanyaan lain?”

Mika menggeleng.

“Apakah Anda kembali ke kapal setelah kapal ditetapkan sebagai TKP dan dijaga oleh polisi?” Adel lanjut bertanya.

Kapten Jones mengangguk dengan mantap. “Ya. Aku tidak sengaja meninggalkan figur Astrovarian di ruang kendali utama. Itu jimat keberuntunganku, makanya aku kembali ke kapal untuk mengambilnya kembali.”

“Anda langsung mendapatkannya?”

Kapten Jones menghela napas panjang. Bahunya merosot. “Tidak. Polisi menyitanya. Mereka janji akan mengembalikannya begitu kasus ini selesai. Mudah-mudahan saja begitu.”

“Tidak ada yang bisa mereka lakukan meskipun mereka ingin membantu Anda. Itu tuntutan tugas.” Adel memasang tampang simpatik. “Pertanyaan terakhir, kalau begitu, Kapten. Menurut Anda, apa yang terjadi pada Tn. Samosir?”

Kapten Jones mengetuk-ngetukkan jari di meja. “Pembunuhan. Aku tidak melihat persisnya kejadian dan ruangan tempat ia tewas, tapi itulah yang kupikirkan.”

“Meskipun di ruang tertutup di mana cuma ada korban seorang diri?”

Kapten Jones mengangguk mantap. “Kita hidup di abad ke-31. Apa yang tidak mungkin?”

Bertemu entitas astral berkekuatan dewa di luar angkasa. Mika gagal mencegah dirinya memikirkan hal absurd tersebut.

“Baiklah.” Adel mengangguk. Ia mengulurkan tangan pada Kapten Jones. “Terima kasih banyak atas bantuan Anda.”

“Yeah.” Kapten Jones menyambut tangan Adel. “Senang bisa membantu.”

Mika mematikan rekaman dan setelah Adel membayar pesanan mereka, keduanya meninggalkan kedai kopi mungil itu.

Belum ada komentar untuk chapter ini.

Jadi yang pertama?