FILE #7: MURDER AT THE RAINBOW DASH - END

Adel dan Mika mengunjungi flat nomor 38 yang ditempati kapten Rainbow Dash yang satu lagi. Butuh dua kali menekan bel sebelum akhirnya terdengar suara langkah terburu-buru dari dalam.

Lensa kontak Mika langsung memindai sosok yang membuka pintu.

ARMANDO BARDEM
-Kapten Kapal Rainbow Dash-
ID: 223-901-8374
Usia: 36 tahun
Status: belum menikah
Rekam jejak perilaku baik secara umum: 83%

Tapi data itu hanya muncul sejenak karena sosok yang dipindai langsung menutup pintu kembali sambil berseru gelagapan meminta maaf dan berkata untuk menunggu sebentar.

Mika mendengus. “Harusnya ada larangan membuka pintu jika belum pakai celana.”

“Apa jadinya kalau suatu hari nanti kubawa kau ke tempat tinggal komunitas FKK?” Cengiran usil mengembang di wajah Adel.

“FKK?”

Freikörperkultur. Nudis.”

“Tidak perlu!”

Kapten Bardem muncul lagi. Ia berpakaian lengkap: kemeja lengan pendek, celana panjang, dan sandal. Rambutnya dibasahi dan disisir ke belakang.

“Ya? Siapa dan ada perlu apa?”

Adel mengeluarkan lencananya, diikuti oleh Mika. “Dari Orion Agency, Sir. Kalau Anda ingat, kita sudah sempat bertemu walaupun hanya sekilas, di depan kapal Rainbow Dash.”

“Oh ....” Sang kapten menggaruk kepalanya, kelihatannya masih belum ingat betul.

“Atasan kami meminta keterangan lebih lanjut dari saksi-saksi mata terkait insiden dengan Tn. Samosir,” jawab Adel. “Mereka tidak puas dengan laporan yang kami berikan, apalagi karena pekerjaan berakhir prematur.”

Kapten Bardem tidak segera menjawab. Ia kelihatan berpikir sejenak, baru kemudian mengangguk.

Mika mengubah Kale ke mode perekam.

Adel mengutarakan pertanyaan yang same dengan yang ia ajukan pada Kapten Jones: tentang siapa yang menghubungi kantor Monroe Corp., mengklarifikasi rute perjalanan, dan apakah di tempat-tempat transit sebelumnya Tn. Samosir juga meminta pengawalan ekstra.

“Tidak. Tn. Samosir tidak minta pengawalan apapun saat transit di Mars.”

Sejauh ini jawaban Kapten Bardem konsisten dengan jawaban Kapten Jones.

“Tapi, saya pikir kepala pelayan Tn. Samosir sangat kompeten untuk menjaga beliau. Untuk apa dia butuh pengawal tambahan?”

“Entahlah,” jawab Kapten Bardem.

“Selama Anda memegang kendali Rainbow Dash, apa Tn. Samosir menunjukkan gerak-gerik aneh? Gelisah tanpa penyebab yang jelas, misalnya?”

“Saya tidak seberapa memperhatikan.”

Kapten Bardem menjawab dengan nada setengah mengantuk, membuat Mika curiga orang ini sebenarnya masih agak mabuk.

“Menurut Anda, apa penyebab kematian Tn. Samosir?” tanya Adel, mengubah urutan pertanyaan.

“Dibunuh.”

“Meskipun di ruang tertutup di mana cuma ada korban seorang diri?”

“Pelakunya seseorang yang pintar dan licik, kurasa.”

Aku benar-benar berharap orang ini agak lebih ekspresif, batin Mika.

“Tn. Togar—pelayan Tn. Samosir yang menggunakan mata bionik—awalnya berusaha memasuki ruangan tempat Tn. Samosir ditemukan dengan memindai tangannya. Apakah seharusnya itu bisa dilakukan?”

“Bisa. Ada tiga orang yang punya akses masuk ke sana: Tn. Samosir, Tn. Togar itu, dan satu orang lagi.”

“Tauphan Briyanto?” tanya Mika. Nama orang-orang dari Republik Andalas ini sulit disebut, jadi Mika pikir dia bisa sedikit membantu.

“Ya, sepertinya dia.”

Mika mulai memuji kesabaran Adel menghadapi lawan bicaranya.

“Anda kelihatannya baru saja melalui hari yang berat, Sir?” kata Adel. “Stres pekerjaan? Atau ... insiden ini?”

Kapten Bardem tiba-tiba saja terdengar lebih emosional. “Tentu saja insiden ini. Gila apa? Ada orang mati di kapal yang jadi tanggung jawabku. Aku tidak lihat ruangannya, tapi tetap saja—ada orang mati di sana! Kapten Jones sepakat denganku, harusnya ini bisa dicegah kalau sistem Rainbow Dash dan kapal-kapal lainnya tidak diubah-ubah oleh perusahaan.”

“Kapten, itu bukan salah Anda.” Adel menepuk lengan Kapten Bardem perlahan. “Hal-hal buruk terjadi di luar kendali kita. Kadang punya jimat keberuntungan pun tidak membantu. Ngomong-ngomong, apa Anda sempat kembali mengunjungi Rainbow Dash?”

“Ya. Jam sakuku ketinggalan. Itu jimat keberuntunganku, jadi, yeah, kau benar soal tidak selamanya jimat akan menolong.”

Ada apa dengan para kapten ini dan jimat-jimat mereka? Mika bertanya-tanya dalam hati. Kenapa mereka percaya takhayul?

“Jam saku,” desis Adel, nampak sangat tertarik. “Itu barang antik. Barang langka. Kakek saya kolektor. Boleh ... lihat?”

Kapten Bardem tersenyum dan mengangguk. “Tentu. Tunggu sebentar. Kuambilkan.”

Begitu sang kapten kembali ke kamarnya dan pintu tertutup di balik punggungnya, Adel mengedipkan satu mata pada Mika.

Kalau memang benar Kapten Bardem mengambil jam sakunya yang tertinggal, harusnya barang itu tidak ada padanya karena polisi yang berjaga akan menyitanya lebih dulu.

***

“Kita sepertinya masih butuh bukti yang lebih kuat.” Mika berlari kecil, menyusul Adel dan berjalan bersebelahan dengannya.

“Benar. Aku berpikir untuk meminta potongan rekaman kamera pengawas di daerah hanggar, yang menyorot bagian depan ruang mekanik Monroe Corp. untuk membuktikan bahwa kedua kapten itu pergi ke sana.”

Mika langsung teringat sosok menyebalkan yang ia temui saat bersama Detektif Van Besson. Orang itu bagian Keamanan Anjungan Pesawat.

“Setidaknya, kita sudah punya sedikit ‘berita bagus’ untuk dilaporkan pada klien,” lanjut Adel. “Monroe kemungkinan besar tidak bisa mengklaim asuransinya.”

“Oh? Kenapa?”

“Pernyataan kedua kapten tentang sistem pesawat yang dimodifikasi,” kata Adel. “Asuransi mereka hanya berlaku jika pesawat belum dimodifikasi, dalam hal ini modifikasi sistem adalah yang paling utama. Modifikasi badan dan interior masih diperbolehkan.”

Mika terbelalak, sama sekali tidak menyangka hal sekecil itu bisa menghanguskan klaim asuransi. “Jadi mereka tidak bisa mengklaim?”

“Yep, tidak bisa.” Adel mengulurkan tangan kanannya. “Tos dulu.”

***

Richard Yolke, anggota kepolisian bagian Keamanan Anjungan Pesawat, langsung pasang tampang tidak suka saat tahu dia harus menemani dua orang agen Orion mengecek rekaman dari kamera pengawas yang menyorot ke ruang mekanik Monroe Corp.. Mika yakin orang menyebalkan ini sengaja bicara cepat dan memilih kata-kata tidak jelas seperti “kira-kira begitu”, “gampang”, dan “sekilas lihat juga tahu” ketika menjelaskan cara menggunakan program yang terhubung dengan kamera pengawas.

Mika mendorong minggir Adel yang kebingungan dan duduk di depan komputer, menjalankan program. Saat pandangannya tertumbuk pada gambar-gambar ikon di bagian bawah komputer, Mika tidak tahan untuk tidak mengerjai Richard sedikit.

“Ini komputer Anda?” tanya Mika.

“Yeah. Kenapa memangnya?”

“Aku lebih merekomendasikan situs My Avatar Forge untuk kustomisasi asisten digital Anda daripada Perfekt Waifu. Secara kualitas dan variasi, My Avatar Forge menang jauh. Isinya tidak hanya model wanita yang bedanya cuma abjad ukuran dadanya.”

Mika tidak menoleh untuk melihat reaksi Richard. Dia langsung menyibukkan diri mencari kamera yang berada di posisi tepat, lalu mundur ke tanggal perkiraan kedua kapten mendatangi ruang mekanik dan memeriksa rekaman. Di belakangnya, Mika sempat mendengar Adel berkata pada Richard bahwa dia sama sekali tidak tahu kedua situs yang disebutkan Mika, lalu bertanya tentang situs Perfekt Waifu.

Entah Adel hanya berakting atau dia benar-benar tidak tahu, pemilihan topik itu bukannya menghibur malah membakar Richard sampai ke ubun-ubun. Yang bersangkutan tidak mengucapkan apa-apa waktu memotong dan menempelkan watermark kepolisian ke rekaman yang Mika spesifikasikan. Masih ada sisa warna merah di pipinya, seperti habis kena tampar.

Richard hanya bergumam tidak jelas saat Adel mengucapkan terima kasih padanya.

Adel dan Mika berpapasan dengan Detektif Lawyard di dekat pintu utama kantor pusat.

“Apa Van Besson sedang sibuk?” tanya Adel. “Ada satu dua hal yang ingin kami tanyakan.”

“Dia sedang membuat laporan dan perintah penangkapan.” Detektif Lawyard menimbang-nimbang sejenak. “Oke, kalau benar-benar satu-dua hal, mungkin bisa kubantu?”

“Kau dengar soal ada yang masuk ke Rainbow Dash dan merusak sistemnya? Apa itu masih termasuk di bawah wewenang kalian?”

“Tentu saja.” Detektif Lawyard mengerang. “Itu merusak TKP! Meskipun tidak lantas membuat kami gagal menangkap pelaku, perusak TKP tetap harus ditangkap.”

“Sudah ada perkembangan di penyelidikan pelaku perusak TKP?”

“Sayangnya belum.”

“Akan kuceritakan hasil penemuanku, sebagai gantinya, ceritakan pada kami perkembangan kasus Tn. Samosir.” Adel tersenyum. “Bagaimana?”

Detektif Lawyard meringis. “Wow. Oke. Ini tidak ‘satu-dua hal’ seperti katamu tadi. Sebentar. Aku ambil bekalku dulu. Kita bicarakan di kantin.”

Yang disebut “kantin” di kantor pusat Kepolisian Thebes-01 adalah sejumlah meja yang masing-masing dikelilingi empat kursi plastik dan deretan mesin otomat di salah satu dinding. Makanan yang dijual di mesin otomat adalah varian sandwich, makanan ringan, dan paket-paket makanan yang tinggal dipanaskan dalam microwave atau diseduh air panas.

Saat Detektif Lawyard kembali dan membuka wadah bekalnya, Mika langsung menebak bahwa kemungkinan besar istri Detektif Lawyard adalah orang Jepang atau keturunan Jepang. Bekal makan siang itu ditata dan dihias dengan apik.

Adel menepati tawarannya dan menceritakan semua yang ia dapatkan dari menanyai kedua kapten Rainbow Dash. Ia mengakhiri penjabarannya dengan bertanya apakah kedua polisi yang ditugasi menjaga TKP menyita sesuatu dari Kapten Jones atau tidak.

“Barang nomor 11, kasus Rainbow Dash.” Detektif Lawyard mengangguk setelah mengecek via ponselnya. “Prosedurnya sama kalau kau mau minta foto barang ini. Ajukan surat resmi permohonan barang bukti—ya, tetap harus dilakukan biarpun hanya foto, maaf.”

“Tidak masalah.” Adel melipat bungkusan sandwich menjadi persegi kecil. “Jadi kalian sudah menangkap pelakunya?”

Detektif Lawyard mengangguk. “Tauphan Briyanto. Besok pagi, begitu orang-orang Kepolisian Republik Andalas datang, kami akan langsung menyerahkan pelaku.”

“Soal keempat tersangka menjawab ‘bunuh diri’ ketika diinterogasi?” tanya Mika penasaran.

“Van Besson langsung curiga bahwa mereka tahu satu sama lain siapa pelakunya dan berusaha melindungi yang bersangkutan.”

“Apa mereka bersekongkol sejak awal?” tanya Adel.

Detektif Lawyard menggeleng. “Pelaku aslinya hanya Tn. Briyanto. Motifnya balas dendam. Tauphan Briyanto itu ternyata anak tiri Tn. Samosir. Ibu kandung Tn. Briyanto adalah istri keempat Tn. Samosir, janda dari pendiri salah satu perusahaan yang dibeli Tn. Samosir.”

“Tidak kedengaran ada alasan balas dendam ....” Adel mengerutkan kening. Mika mengangguk mengiyakan.

“Dari pengakuannya, Tn. Briyanto menganggap Tn. Samosir adalah penyebab ayahnya bunuh diri setelah perusahaannya dibeli. Perusahaan itu sendiri dijual tanpa seizin ayah Tn. Briyanto yang memang sudah pensiun dan hanya memegang sebagian kecil saham. Orang yang menjual perusahaan itu adalah paman Tn. Briyanto, adik ayahnya.”

“Bukannya harusnya dia balas dendam pada pamannya?”

Detektif Lawyard menghela napas. “Orang itu sudah meninggal. Katanya masalah jantung, tapi karena ada kasus ini, kemungkinan besar Kepolisian Republik Andalas akan melakukan otopsi padanya.”

Adel terdiam, nampak merenungi kasus ini dalam-dalam.

“Bagaimana cara Tn. Briyanto membunuh Tn. Samosir?” tanya Mika.

“Program berbasis perintah suara yang dimasukkan ke implan di kepala Tn. Samosir. Ini juga ... ironis. Tn. Briyanto dipercaya membantu maintenance rutin implan dan prostetik Tn. Samosir karena dia ahli di bidang itu. Tn. Briyanto sama sekali tidak kesulitan menyisipkan program berbahaya itu di salah satu sesi maintenance. Aku pribadi bahkan menduga sudah sejak lama ia memasukkannya, tapi ... kenapa baru dijalankan sekarang?”

“Dari keterangan para kapten,” kata Adel, “yang bisa masuk ke ruangan tempat Tn. Samosir berada hanya Tn. Samosir, Tn. Togar, dan Tn. Briyanto. Kenapa Tn. Togar tidak bisa masuk kalau begitu? Kalian yakin dia tidak bersekongkol dari awal?”

“Oh, soal itu,” ujar Mika cepat. “Kapten Jones bilang kalau Tn. Samosir bisa mengubah siapa yang ia izinkan masuk ke sana atau bisa juga memasang timer kalau tidak ingin diganggu. Kalau aku jadi Tn. Samosir dan berusaha mengamankan diri, aku akan memasang timer supaya tidak ada yang bisa masuk.”

“Ah, benar juga,” seru Adel. “Aku tidak terpikir sampai sana!”

“Aku perlu memberitahukan itu pada Van Be—ya ampun, dia meneleponku. Dia punya indera keenam atau apa? Maaf, aku duluan. Terima kasih banyak.”

“Yep. Sama-sama.” Adel menyalami sang detektif.

Detektif Lawyard membereskan kotak bekalnya, beranjak dari tempat duduknya, kemudian berjalan pergi terburu-buru sambil menjawab panggilan masuk di ponselnya.

Aku sedikit banyak paham perasaan Tauphan Briyanto, pikir Mika. Aku juga punya orang untuk disalahkan atas kematian Papa. Mungkin satu-satunya yang membuat kami berbeda adalah aku tidak berani menghilangkan nyawa seseorang.

“Mika.” Panggilan Adel membuyarkan lamunan Mika. Adel mengedik ke arah makan siang Mika: lasagna dalam kotak aluminium foil dari salah satu mesin otomat. “Lain kali kubuatkan lasagna yang lebih pantas. Yang kau makan itu kelihatan seperti ampas sisa dari museum patung lilin.”

Mika terlalu kagum pada pemilihan perumpamaan Adel, sampai dia tidak sempat kehilangan selera makan. Bahkan emosi gelap, yang sempat merambati benak Mika, sirna begitu saja.

Belum ada komentar untuk chapter ini.

Jadi yang pertama?