0.5. Teriakan

11 tahun yang lalu.

Suatu ketika di sebuah desa, pada saat matahari terbenam, ada sekumpulan anak-anak yang sedang bermain di pinggir danau. Anak-anak itu berjumlah tujuh orang. Tiga anak laki-laki, dan empat anak perempuan.

Di umur mereka yang masih terlalu muda untuk mengerti arti dari ketakutan, mereka tertawa sambil berlarian di pesisir danau.

“Kena kau, Natsu!” Teriak seorang gadis sambil melempar sebuah batu kerikil hingga mengenai kepala nya.

“Ah! … Uuaaahh…!! Sakit…!” Anak laki-laki itu menangis.

Kemudian teman nya datang, lalu duduk di sebelahnya sambil mengusap kepala nya.

“Hentikanlah, Naomi. Hari ini sudah ketiga kalinya kau membuatnya menangis.”

“Huh… Dasar cengeng. Jika kau mudah menangis, berhentilah menjadi laki-laki.”

“Sudah, sudah, Natsu. Naomi memang seperti itu. Berhentilah menangis.”

Anak laki-laki yang bernama Natsuki itu mengusap air mata nya. “… Terima kasih, Yuuki.”

Pada saat yang bersamaan, matahari sudah benar-benar terbenam. Langit pun berwarna biru gelap yang diwarnai oleh ratusan bintang.

Seorang anak laki-laki berteriak. “Baiklah, sekarang saatnya!! Semuanya, cepat berkumpul!”

Keenam anak itu menuruti perkataannya. Mereka semua membuat lingkaran di tepi tanjung yang mengarah ke tengah danau.

“Musim panas adalah adalah waktu terbaik untuk mencari kunang-kunang. Malam ini, kita akan menangkapnya bersama!”

“Jadi karena itu kau menyuruh kami berkumpul di sini?” Kata anak perempuan bernama Naomi. “Ryouta, jika aku dimarahi oleh ibuku karena bermain di hutan, itu adalah salahmu, ya.”

“Kalau begitu, pulanglah. Aku tidak ingat pernah memaksamu untuk ikut. Tapi ingat, tidak ada yang mau mengantarmu pulang.”

“… Ugh…”

Laki-laki bernama Natsuki itu tertawa secara diam-diam.

“Hati-hati, Natsu.” Bisik Yuuki padanya. “Jika dia mendengarmu, aku tidak bisa membayangkan apa yang akan dia lakukan padamu.”

“Dengar!” Anak bernama Ryouta berteriak. “Aku membawa beberapa stik yang sudah kuwarnai di setiap ujungnya. Stik nya berjumlah delapan, tapi hanya ada tiga warna. Yaitu, merah, hijau, dan coklat.”

“Kenapa delapan? Kita kan hanya bertujuh.” Tanya Natsuki.

“Satu stik tidak kuberi warna. Yang mendapatkan stik itu, maka dia tidak perlu ikut mencari.”

“Eehh??”

“Sekarang, ayo mulai!”

Ryouta mengepal kumpulan stik itu pada bagian yang berwarna, lalu mengulurkannya ke depan. Mereka semua meraih masing-masing satu stik dengan dua jari mereka.

“Dalam hitungan ke tiga, kita tarik bersama-sama.”

“Tunggu dulu, Ryouta.” Naomi menyela. “Kau tidak berusaha untuk mendapatkan stik yang tidak berwarna itu, kan?”

“Tentu saja tidak. Aku ingin sekali mencari kunang-kunang. Baiklah, sekarang… satu… tiga!!”

“Eh!?”

Mereka semua menariknya secara bersamaan dengan terkejut.

“Eng… mengapa dari satu langsung ke tiga?” Tanya anak perempuan bernama Satomi.

“Karena tadi aku melihat Aki ingin mengganti stik yang tadi sudah dia pegang.”

“A-Aku!?”

“Natsu!!” Naomi meneriaki nama nya.

“Baiklah, sekarang tunjukkan padaku warna yang kalian pegang.”

Mereka menjulurkan stik yang mereka pegang secara bersamaan.

“Hmm… Merah, Aki dengan Naomi. Hijau, Yuuki dengan Seiko. Coklat, Aku, Satomi, dan Saki.”

“Me- Mengapa aku bersama Naomi!?” Keluh Natsu.

Naomi berteriak padanya. “Diamlah!”

“Eh? Mengapa ada tiga warna coklat?” Tanya Saki.

Sambil melepas tas bawaannya, Ryouta menjawab. “Karena kita berjumlah ganjil. Baiklah, kalau begitu, warna merah mencari di bagian barat, hijau di bagian timur, lalu coklat akan mencari di sekitar bukit.”

Karena penasaran pada tas itu, anak perempuan bernama Seiko bertanya. “Apa yang kau bawa itu?”

Ryouta pun membuka tas itu, lalu mengeluarkan isi nya.

“Jaring untuk menangkap kunang-kunang. Aku hanya memiliki empat. Karena itu, yang memegang haruslah yang lincah.”

“Itu berarti, sudah pasti aku yang memegang, bukan?” Kata Naomi dengan sombongnya.

“Tidak. Khusus untukmu, Aki lah yang akan memegang.”

“Hah!?”

Dengan suara yang bergetar, Natsuki mencoba untuk bicara. “Ta-Tapi itu berarti, aku yang harus memimpin jalan, bukan? Sudah begitu, kita akan masuk ke dalam pepohonan di waktu gelap seperti ini… Aaaah!! Aku tidak mungkin sanggup!”

Natsuki menutup kedua mata dengan tangannya, lalu berjongkok.

Naomi yang kesal melihat itu, menarik rambutnya agar dia berdiri.

“Sadarlah! Kau itu laki-laki atau bukan!? Jika kau terus cengeng seperti ini, siapa yang akan menikahimu di masa depan nanti!?”

“Ta-Tapi—”

“Diamlah!”

“Baiklah, dengarkan aku.” Ryouta kembali menjelaskan. “Menara telepon di bukit itu, biasanya akan menyala sekitar jam tujuh malam. Begitu lampu nya menyala, kita kembali berkumpul di sini. Apa ada pertanyaan?”

Natsuki mengangkat tangannya. “Eng… Apa boleh, aku tidak ikut?”

Naomi memukul kepala nya.

“Baiklah, kalau begitu, pencarian kunang-kunang ini kita mulai, sekarang!” Teriak Ryouta sambil mengangkat jaringnya.

{“Baik!”}

Untuk membangkitkan semangat, mereka bersorak bersama sebelum memulai. Mereka pun berpencar ke setiap tempat yang telah diarahkan oleh Ryouta tadi.

Pada kelompok warna coklat yaitu Ryouta, Saki dan Seiko, mereka baru saja menaiki bukit.

Saki bertanya pada Ryouta. “Mengapa tiba-tiba kau ingin melakukan hal ini? Kukira kau itu pemalas.”

“Tidak sopan!” Balasnya dengan keras. “Hanya karena aku malas mengerjakan PR, bukan berarti aku juga malas untuk bergerak.”

“Tetapi, sesuatu seperti ini tidak buruk juga, bukan?” Kata Satomi. “Lagi pula, setiap musim panas, kita hanya melakukan kegiatan di siang hari. Tidakkah keluar di malam hari itu membuatmu dewasa?”

“Hmm, benar juga.” Balas Saki. “Omong-omong, dalam kegelapan seperti ini, apa Natsu baik-baik saja?”

“Dia bersama Naomi, aku yakin dia baik-baik saja.”

Sementara itu, di sisi timur.

“Natsu, cepatlah! Aku tidak ingin kalah dari yang lain!”

“Tidak! Di sana terlalu gelap!” Balasnya yang sedang berdiri di bawah tiang lampu jalan.

“Kalau begitu, berikan jaring itu padaku!”

“Ti-Tidak! Jika kau memegangya, kau akan masuk ke sana sendirian, dan meninggalkanku!”

“Mengapa sih, kau tidak bisa bersikap seperti laki-laki?”

“Kau sendiri, mengapa tidak bisa bersikap seperti perempuan?”

“Geh… Te-Terserah diriku! Lagipula, pe-perempuan yang seperti laki-laki itu sudah wajar. Laki-laki yang seperti perempuan itu, adalah kelainan!”

“Mengapa bisa seperti itu? Bukankah itu tidak adil? Apakah itu cara dunia ini bekerja? Jika iya, maka aku tidak ingin menetap di dunia ini!”

“… Grrghh…!! Aaah, berisik!”

Dengan emosi yang begitu meluap, Naomi berjalan cepat menghampiri Natsuki.

“A-Apa yang ingin kau lakukan…? Hentikan!”

Naomi pun mengambil dan menggenggam tangan Natsuki dengan sangat erat.

“Jika memang itu keinginanmu, maka masuklah ke dalam pepohonan. Siapa tahu, kita akan menemukan portal untuk ke dunia lain di sana.”

“… Eh? Tapi, itu hanya ada di dalam film dan anime, bukan?”

“Sudahlah, cepat!”

Pada sisi barat, Yuuki dengan Seiko sudah masuk ke dalam pepohonan, dan sedang mencari di sana. Tidak seperti kelompok yang lain, percakapan mereka sangat menenangkan.

“Seiko, apa kau sama sekali tidak takut?”

“Tentu tidak. Selama aku dapat melihat bintang, aku tidak akan takut dengan apapun.” Balasnya sambil tersenyum.

“Begitu, ya. Kau hebat, ya. Andai saja aku dapat seperti dirimu.”

“Hm? Memangnya kau takut?”

“… Yah… aku tidak takut dengan hantu atau semacamnya. Hanya saja, ketika di dalam kegelapan seperti ini, aku selalu terpikirkan oleh makhluk buas yang dapat menerkamku kapan saja.”

“Hehehe, kau lucu sekali ya, Yuuki. Jika di dalam kegelapan seperti ini, bagaimana makhluk itu dapat melihatmu? Andaikan saja makhluk itu adalah beruang, mungkin dia lebih memilih untuk tidur daripada memakanmu.”

“Hmm, kau benar juga. Hahaha!”

Kelompok coklat telah menyimpan dua kunang-kunang di dalam jaring Ryouta.

“Walaupun hanya dua, tapi sudah sangat terang, ya.” Ucap Saki. “Ryouta, apa kita masih akan terus mencarinya?”

“Tentu saja! Dua bahkan belum bisa disebut sebagai banyak. Jika kita sudah mendapat sepuluh, kau baru boleh bertanya seperti itu.”

“Hei, yang benar saja. Memangnya kita ingin mencari hingga tengah malam?”

Pada saat itu, hidung Satomi merasakan sesuatu.

“… Bau apa ini? Apa kalian juga menciumnya?”

“… Mungkin hanya bangkai binatang.” Kata Ryouta. “Wajar saja jika ada hewan mati di dalam pepohonan, bukan?”

Mereka terus menaiki bukit, dan pepohonan pun semakin merindang. Bau yang dikatakan oleh Satomi sebelumnya, terasa semakin menyengat.

Saki pun mengeluh. “Hei, bukankah di sini semakin bau? Jika terus seperti ini, aku tidak akan tahan.”

“Kalau saja kita menemukan bunga, atau tanaman apapun yang menghasilkan wangi, aku dapat membuatnya sebagai pengharum.” Kata Satomi.

“Ah! Kalau tidak salah, sebelum kita menaiki bukit, aku melihat semacam bunga melati.”

“Benarkah? Apa kau ingat letaknya?”

“Hmm, aku yakin sekali, tepat di pinggir jalan.”

“Aku akan mengambilnya!”

Satomi pun berlari menuruni bukit untuk mengambil bunga yang dimaksud. Begitu keluar dari pepohonan, dia melihat sekeliling jalanan untuk mencari.

“Saki bilang ada di pinggir jalan, tapi aku sama sekali tidak melihatnya… Ah, ada!” Satomi menunduk pada bunga itu. “Lumayan banyak, ya. Mengapa bunga sebagus ini bisa tumbuh di tempat seperti ini? Sudah begitu, harum sekali! Sebaiknya aku tidak mengambil banyak-banyak.”

Dari tujuh bunga yang dia lihat, hanya tiga buah yang dia petik.

“Baiklah, ini pasti cukup. … Hmm? Apa itu?”

Ketika hendak kembali menaiki bukit, dia melihat sebuah kilatan cahaya dari sebrang danau.

“Cahaya? Apakah itu lampu dari menara telepon yang dimaksud Ryouta?”

Dia terus memperhatikan lampu itu dari kejauhan. Kemudian, kedua matanya melebar dengan cepat.

Dari tempat Ryouta dan Saki berada, mereka mendengar suara seperti sesuatu yang terjatuh.

“Apa itu!?” Saki terkejut.

“Asalnya dari bawah. Saki, cepat!”

“Eh!? Tunggu, pelan-pelan!”

Dengan bergegas, mereka berdua turun dengan cepat.

“Satomi!”

“Satomi!”

Ryouta dan Saki meneriaki nama nya.

“Jangan-jangan, dia pulang?”

“Tidak. Dia bukanlah penakut seperti Aki—”

Di tengah ucapannya, Ryouta menginjak sesuatu. Sesuatu yang encer dan kental. Ketika melihat ke bawah, kaki nya menjadi berwarna merah. Lalu di depannya, terdapat Satomi yang tergeletak tengkurap di tengah jalan, di atas gumpalan darah yang dimuntahkan dari mulutnya.

“… Aa… a… aaa… AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAHHHHHHHHH!!!”

Teriakan Ryouta, terdengar hingga ke tempat Natsuki dan Yuuki berada. Kedua kelompok itu langsung berlari dengan cepat ke arah sumber suara.

“Ada apa!?” Yuuki bertanya begitu sampai.

“Eh!? Apa yang terjadi pada Satomi!?” Suara Natsuki bergetar.

“Aku tidak tahu!” Jawab Saki. “Ryouta berlari sangat cepat. Ketika aku sampai, dia sudah seperti ini!”

“MAAFKAN AKU, MAAFKAN AKU, MAAFKAN AKU, MAAFKAN AKU, MAAFKAN AKU, MAAFKAN AKU, MAAFKAN AKU!” Ryouta terus berteriak mengulang-ulang kata yang sama.

“Mengapa kalian hanya diam saja!?” Natsuki berteriak. “Ayo cepat kita angkat dia!”

“Eng… Bawa dia ke rumahku!” Kata Yuuki. “Rumahnya sangat jauh dari sini. Lebih cepat jika dia dibawa ke rumahku, lalu kita telepon ambulan!”

Natsuki kemudian langsung merangkul Satomi yang tergeletak.

“Naomi, bantu aku!”

“Ba-Baiklah!”

“Tunggu dulu, Natsu!” Yuuki memanggilnya. “Setelah kau sampai, panggil saja ayahku!”

Dengan sangat hati-hati dan bergegas, Natsuki dan Naomi merangkul Satomi yang berlumuran darah menuju rumah Yuuki, sedangkan sisanya, mengikuti dari belakang.

Yang tertinggal hanyalah Ryouta dan Yuuki. Hingga saat itu, Ryouta masih terus menjerit.

Begitu mereka sampai di rumah Yuuki, Satomi direbahkan di kursi panjang yang ada di depan rumah.

“Bapak Shimada! Bapak Shimada!”

Saki dan Seiko berteriak memanggil ayah Yuuki. Hanya dalam hitungan detik, dia pun keluar.

“Ada apa?”

“Telepon ambulan sekarang juga! Satomi… Aku tidak tahu apa yang terjadi, tapi dia terluka!” Kata Saki dengan suara keras.

“Astaga! Ba-Baiklah, tunggu sebentar!”

Ayah Yuuki langsung berlari ke dalam tanpa menutup kembali pintunya.

Nafas Satomi pada saat itu, sangat berat hingga menghasilkan suara.

“Satomi, apa kau dengar aku? Hei, apa yang terjadi padamu?” Seiko menanyainya.

“Hentikan, Seiko!” Saki meneriakinya. “Apa yang kau lakukan?”

“Habisnya, kita tidak tahu apa penyebab dari luka nya!”

“Itu bukan berarti kau harus bertanya padanya! Dia bilang, dia ingin mengambil bunga di pinggir jalan, karena itu pasti dia tersandung ketika menuruni bukit.”

Natsuki menyela. “… Tidak, kurasa kau salah, Saki.”

“Eh? Mengapa?”

“Sekarang bukan waktunya untuk sok tahu, Natsu!”

“Gunakan otakmu, Naomi!” Natsuki membentaknya hingga dia terdiam. “Jika dia memang tersandung saat menuruni bukit, seharusnya dia memiliki luka gores di sekujur tubuhnya, dan juga pakaian nya menjadi kotor. Tetapi, lihatlah!”

“… Ca… …” Dengan mulutnya yang berlumuran darah, Satomi mencoba untuk berbicara.

“Satomi!?”

“Bertahanlah sedikit lagi, Satomi. Sebentar lagi, ambulan akan datang!”

“… Ca… h… ha… … ah…” Tangan kanannya mulai mengangkat, seperti ingin meraih sesuatu.

“Jangan bergerak, Satomi!” Teriak Naomi.

Ayah Yuuki kembali keluar.

“Saat ini, mereka tidak memiliki satupun ambulan tersedia. Apa dia sudah sadarkan diri?”

“Dari tadi dia mencoba untuk mengatakan sesuatu.” Jawab Naomi.

Ayah Yuuki pun mendekat pada Satomi.

“Kau dengar aku? Aku akan membawamu ke rumah sakit menggunakan mobilku. Kau harus bisa bertahan. Anak-anak, jika bisa, tolong jaga rumah ini sebentar saja.”

Dia kemudian mengangkat Satomi hingga ke samping rumah, lalu memasukannya ke dalam mobil. Setelah mobil itu menyala, dia menjalankannya dengan kecepatan yang cukup tinggi.

“Mengapa Yuuki dengan Ryouta belum juga kembali?” Tanya Saki.

Tiba-tiba saja, Natsuki langsung berlari ke arah tempat mereka berada sebelumnya.

“Natsu? Bagaimana?” Yuuki bertanya.

“Ayahmu sedang mengantarnya ke rumah sakit. Katanya, rumah sakit itu sedang kehabisan mobil.”

“Begitu, ya.”

Dari yang dilihat oleh Natsuki, Yuuki dan Ryouta sedang berdiri dengan jarak yang berjauhan.

“… Ada apa?” Natsuki bertanya heran.

“Tidak apa-apa. Ayo kembali.”

“Aku akan pulang.” Kata Ryouta dengan suara bisik yang dikeraskan. Kemudian, dia berbalik badan.

“Eh? Kau akan melewati jalan kecil? Sekarang gelap—”

“BIARKAN AKU SENDIRI!!!”

“… Baiklah. Hati-hati, ya!” Yuuki melambai. “Ayo, Natsu.”

Mereka berdua jalan bersebelahan, kembali menuju rumah Yuuki.

Dari dekat, Natsuki dapat melihat luka memar yang terdapat pada pipi kiri Yuuki, tapi dia tidak mengatakan apa-apa.


14 Jam kemudian.

Pada pagi hari yang cerah, Natsuki berlari dari rumahnya, menuju rumah Yuuki. Di tengah perjalanan, dia bertemu dengan Naomi yang sedang berjalan ke arah yang sama.

“Naomi!” Natsuki memanggilnya. “Apa kau juga ingin ke rumah Yuuki?”

“… Iya.” Naomi menjawab sambil menundukkan kepala.

“Kalau begitu, ayo pergi bersama.”

Ketika Natsuki hendak melangkah, Naomi menarik lengan bajunya.

“Tapi… aku takut.”

“… Aku juga takut, loh.” Natsuki memegang tangan Naomi. “Ayo. Satomi pasti baik-baik saja.” Katanya sambil tersenyum.

Begitu tiba di sana, juga ada Seiko dan Saki. Tapi tidak dengan Ryouta.

Mereka semua berkumpul di depan rumah, dengan Yuuki dan ayahnya yang berdiri bersebelahan. Mereka berdua sama sekali tidak tersenyum.

“Satomi… … Maaf, dia tidak selamat.”

Tidak ada satupun anak-anak yang bereaksi setelah ayah Yuuki mengatakan itu.

“Begitu sampai di ruang UGD, aku langsung menghubungi ayahnya tentang apa yang terjadi. Dia pun langsung bergegas untuk menyusul menggunakan taksi. Dua jam setelah Satomi ditangani, dia… …  menghembuskan nafas untuk yang terakhir kalinya. Tetapi beberapa menit sebelum itu terjadi, dia berpesan kepada kalian. Yuuki, katakan pada mereka.”

Yuuki maju satu langkah sambil menundukkan kepala.

“… Dia bilang… tidak peduli keadaan apapun yang menimpa kita, dia ingin kita untuk terus bermain, dan tertawa bersama.”

Belum ada komentar untuk chapter ini.

Jadi yang pertama?