10. Aku dan Naomi

“Omong-omong, mengenai rasa takut, apa yang kakak takuti?”

“Kenapa? Jika aku memberitahumu, apa kau akan mencoba untuk menakutiku?”

“Tidak sampai segitunya juga, aku hanya ingin tahu.”

“… Hmm… mungkin, hantu?”

“Hantu? Memangnya kau anak-anak?”

“Biarkan saja! Ayolah, cepat nyalakan game nya.”

“Baik, baik…”

Tidak lama setelah game itu kunyalakan, listrik rumahku mati.

Aku pun keluar dari rumah, berjalan tanpa tujuan yang jelas. Biasanya sambil berjalan, aku dapat mendengar suara televisi orang lain dari luar. Kali ini, tidak ada satu pun yang terdengar. Bahkan mesin minuman juga tidak menyala.

Tidak salah lagi, seisi desa sedang mati listrik.

“Padahal tinggal sedikit lagi, mengapa selalu ada saja halangan?”

Tiba-tiba saja, instingku mengatakan, kalau aku harus segera menunduk. Aku pun melakukannya. Ternyata benar, ada sebuah batu yang akan mengenai kepalaku jika aku tidak melakukan itu. Lalu, ketika aku melihat ke belakang…

“… Berhentilah melakukan itu, Naomi. Kau sudah besar.” Kukatakan itu dengan wajah kesal.

“Cih… Ternyata kota benar-benar merubahmu, ya. Sekarang menjadi lebih membosankan.”

“Yah, tidak sepertimu, setidaknya aku bertambah dewasa.”

“Apa katamu!? Memangnya kau tidak bisa melihat perubahan yang terjadi padaku? Lihatlah, aku bertambah cantik, bukan?” Ucapnya sambil bergaya.

“… Perubahan apa yang kau…” (“Tunggu sebentar… Benar juga. Dada nya—”) “Ah, sakit!!”

Dia melempariku batu, tepat mengenai keningku.

“Ke arah mana kau melihat!?”

“Mau bagaimana lagi, aku kan laki-laki!”

“Laki-laki? Apakah kau pantas mengatakan itu kalau masuk ke dalam pepohonan gelap saja, kau ketakuan?”

“Itu dahulu. Sekarang aku sudah tidak lagi takut dengan apapun.”

“Heeh… benarkah itu?”

“Itu benar! Kalau mau, aku dapat membuktikannya padamu!”

“Baiklah, buktikan padaku!”

Kalau tidak salah, sekarang masih pukul satu siang. Apa yang dapat kubuktikan?

“Tapi, sekarang masih siang.” Kataku sambil melihat ke langit. “Sudah begitu, cerah sekali.”

“Hmm, kau benar. Yah, karena kau sudah repot-repot ingin sekali membuktikannya padaku, aku akan menunggu.”

“Aku tidak bilang ingin sekali.”

“Hmm? Jadi kau benar-benar takut?”

“Tidak! Baiklah, kita tunggu sampai malam!”

“Hehe, aku sangat menantikannya.”

Huhh… Kenapa dia ingin sekali sampai segitunya? Padahal, aku bisa saja berduan dengan kakakku di rumah… tidak. Hanya berduaan dengan seorang perempuan di kegelapan seperti itu, bukanlah hal yang bagus. Lagi pula, aku bisa gila karena kebosanan di sana.

“Omong-omong, Naomi, kenapa kau ada di luar?”

“Listrik sedang mati, memangnya apa yang bisa kulakukan?”

“Eh? Memangnya apa yang biasa kau lakukan di rumah?”

“Hei! Apakah tidak kau tahu kalau pertanyaan itu tidak sopan jika kau mengatakannya pada pada perempuan?”

“Memangnya kenapa?”

“Perempuan itu memiliki jumlah privasi yang tidak terhingga. Jadi, pertanyaan itu bisa menyinggung mereka.”

(“Orang ini sama sekali tidak mengerti mengenai privasi laki-laki, ya.”) Pikirku sambil kebingungan dengan yang dia bicarakan. “Yah, jika kau tidak mau menjawabnya, tidak apa-apa. Aku juga tidak begitu ingin tahu.”

Aku pun berjalan membelakanginya.

“Ah, tunggu! Te-Tentu saja aku hanya bercanda. Huh! Bagaimana sih kau ini.”

(“Jelas sekali dia ingin aku mengetahuinya. … Tidak boleh, aku harus menahan tawa ini.”)

“Eng… jika aku mengatakannya, apa kau berjanji tidak akan tertawa?”

“Iya.”

Lagi pula, memangnya apa yang dapat kutertawakan? Mungkin saja dia suka bermain game, lalu dia malu karena itu adalah kebiasaan laki-laki. Sejujurnya, aku justru senang jika begitu, karena ada orang yang dapat aku ajak bermain selain kakakku.

“Seharusnya sekitar jam segini, acara TV favoritku sedang tayang.”

“Hmm. Acara apa itu?”

“Eng… A-Anime.”

“Anime itu ada banyak jenisnya. Bercerita tentang apa anime yang kau maksud itu?”

“… Eng… komedi romantik.”

“…”

Tanpa kusadari, aku tersenyum sendiri. Bukan senyum karena senang, tetapi seperti senyum meledek.

“Hei! Kau bilang kau tidak akan tertawa!”

“Aku tidak tertawa, kok.”

“Bohong! Lalu apa maksudmu tersenyum begitu!?”

“Tersenyum itu bukan tertawa, asal kau tahu saja.”

“Sudahlah, hentikan itu! Aku malu, tahu!”

Yah, mau bagaimanapun juga, dia itu memang perempuan.

“Iya, iya, baik. Tetapi, tumben sekali kau tidak bersama Saki. Ke mana dia?”

“Teman ekskulnya memanggil untuk berlatih bersama. Dalam waktu dekat ini, dia akan mengikuti lomba renang.”

“Hmm, begitu ya.”

“… Kau tidak sedang membayangkannya memakai baju renang, kan?”

“Bicara apa kau ini, aku bahkan tidak tertarik dengan perempuan atletis.” (“Tapi itu tidak berarti kalau aku tidak menyukai perempuan yang memakai baju renang, sih.”)

“… Ya sudah.”

Aku pun mulai berjalan membelakanginya. Lagi.

“Hei, mau ke mana kau?”

“Tanjung. Sudah lama sekali aku tidak ke sana.”

Mungkin aku hanya dapat bermain air, atau menangkap ikan, atau mungkin memperhatikan pemandangan yang ada di sebrang danau. Setidaknya itu lebih baik dari pada tidak melakukan apa-apa di rumah.

“Tunggu, aku ikut!”

Di bawah terik matahari yang menyengat, kami berdua berjalan menuju tanjung, tempat biasa kami bermain saat kecil.

Paling tidak, hanya ada satu atau dua kendaraan yang melintas setiap delapan menit.

“Panas sekali, ya.” Kataku. “Dengan pakaian seperti itu, apa kau tidak takut menjadi hitam?”

Kalau diingat-ingat, dia selalu saja memakai baju tanpa lengan setiap musim panas.

“Tidak. Lagi pula mengapa harus takut?”

“Yah, tidak apa-apa, sih.”

“… Hmm? Jangan-jangan, kau takut aku menjadi hitam?”

“Tidak. Bukan itu maksudku!”

“Eehh…? Lalu apa maksudmu?”

Lagi-lagi dia membuatku kesal. Jika sudah seperti ini, lebih baik kukerjai saja sekalian.

“Ya, sebenarnya itu benar.”

“… Apa? Kenapa?”

Seketika aku langsung menyesal. Tetapi, tidak ada jalan kembali. Jika aku mengatakan tidak jadi, dia pasti menertawaiku.

(“Tenanglah. Tarik nafas, dan katakan.”) “Karena, aku menyukaimu.”

“… … E-Eh!?”

(“Sial! Kenapa jadi seperti ini!? Tenang. Aku tidak boleh terlihat malu di depannya.”)

“Ka-Ka-Kau bercanda, kan!?”

“Ya, aku hanya bercanda.”

Raut wajahnya, tiba-tiba berubah menjadi datar. Dia melihatku dengan tatapan kosong. Apakah ini akhir dari hidupku?

Berhubung melewati rumah Ryouta, aku mampir untuk mengajaknya. Seperti biasa, setelah pintu rumahnya diketuk, dia tidak langsung keluar.

Sekalinya dia keluar, dia terlihat seperti baru saja terbangun dari hibernasi.

“Kali ini ada apa, Aki? Jangan membuatku berharap agar kau kembali ke kota.” Katanya sambil menggaruk kepala.

“Kejam sekali, kau. Aku dan Naomi ingin ke tanjung. Barangkali, kau juga ingin ikut.”

Dia terdiam sesaat, memperhatikan pipi kiriku. “… Ada apa dengan luka memar itu?”

“Eng… Ini…”

“Maaf, tapi berkat mati listrik ini, seisi rumahku menjadi hening. Karena itu, aku tidak mau melewatkan kesempatan ini.”

“Mengapa kau cinta sekali dengan rumahmu, sih? Dasar pemalas.”

“Lagi pula, aku tidak mau mengganggu pasangan yang sedang berkencan. Kalian bersenang-senanglah.”

{“Kami tidak seperti itu!”}

Dia pun kembali ke dalam, dan menutup pintu nya.

Sepertinya hanya aku berdua dengannya.

Kami pun sampai pada tanjung danau yang terasa seperti pantai kecil. Dengan terik matahari seperti ini, tidak mungkin kami akan duduk di pasir. Untungnya, ada pohon besar yang cukup besar yang dapat kami gunakan untuk berteduh, dan kami pun duduk di situ.

“Tidak kusangka pohon ini masih berdiri tegak. Sejujurnya, aku sempat tidak bisa tidur karena memikirkan pohon ini pada saat di kota.”

“Kudengar, pohon ini memang direncanakan untuk ditebang tidak lama setelah kau pindah. Tetapi, aku, Saki, dan Seiko bersusah payah untuk mencegah para orang tua agar tidak menebangnya.”

“Eh!? Saat itu desa sedang terkena radiasi, bukan? Mengapa kau masih di sini?”

“Kami belum menemukan tempat tinggal alternatif pada saat itu. Jadi kami harus menunggu sedikit lebih lama.”

“Begitu, ya. Tapi, apa kalian tidak apa-apa?”

“Beberapa petugas dari industri yang bertanggung jawab, memberikan kami masker gratis. Jadi, kami aman saja. Walaupun dalam keadaan seperti itu, mereka bersikeras untuk melarang kami menebang pohon ini.”

“Uuaah, hebat. Aku bahkan tidak sanggup untuk berdebat dengan orang tua.”

“Ya-Yah, sebenarnya bukan aku yang banyak bicara, tapi Saki. Walaupun mencegah itu adalah rencanaku, tetapi aku terlalu malu untuk menghadapi mereka.

“Hmm. Setidaknya kau sudah berusaha.”

“… Iya.”

“Kalau dipikir-pikir, jika pada saat itu Satomi masih di sini, pasti dia lah yang lebih keras kepala untuk melarang para orang tua itu, bukan? Lalu, pasti di sekitar pohon ini sudah dipenuhi dengan bunga yang disukainya.”

“Haha, benar juga. Kalau perlu, mungkin dia akan mengancam mereka dengan segala hal.”

Pada saat Naomi mengatakan itu, aku melihat kedipan cahaya yang sangat terang, jauh dari sebrang danau.

(“Apa itu tadi?”)

“Oh iya. Mungkin cukup terlambat untuk menanyakan ini, tapi, bagaimana kehidupanmu di kota?”

“… Ah, eng… Jika bukan karena peraturan sekolah yang sangat ketat, sebenarnya menyenangkan sekali. Naomi, jika kau berada di luar rumah pada malam hari sambil mengenakan seragam sekolah, apa itu diperbolehkan?”

“Boleh saja.”

“Sekolahku tidak. Jika ada yang ditemukan dalam keadaan seperti itu, besoknya mereka akan dipanggil ke sekolah, sekalipun itu hari libur. Ya ampun, kenapa ayah mendaftarkanku ke sana!?”

Saking kesalnya, aku melempar batu kecil hingga ke danau.

“Memang sih, itu sangat menyebalkan. Tapi, tidak mungkin ayahmu mendaftarkanmu ke sana tanpa alasan, bukan?”

“Mungkin kau ada benarnya. Tetap saja, aku bukan anak yang nakal hingga harus didaftari ke sekolah seperti itu, kan?”

“Kau lemah, penakut, mudah menangis, ceroboh, tidak bertanggung jawab. Mungkin itulah alasannya.”

Ingin sekali aku menyangkal ucapannya. Tapi itu semua adalah kebenaran tentang diriku yang dulu, jadi aku harus menerimanya.

“Yah setidaknya, kau yang sekarang ini, dapat sedikit diandalkan.”

Dia tersenyum, memandangku dengan cara yang belum pernah kulihat sebelumnya.

“… Bukankah tadi kau bilang, aku tambah membosankan?”

“A-Ah, itu beda lagi!”

Aku berdiri.

“Mengobrol denganmu benar-benar membuat tenggorokanku kering. Aku akan membeli minuman di toko nenek. Apa kau mau ikut?”

“Mengapa itu terdengar seolah seperti salahku? … Tidak, aku tidak ikut. Belikan aku jus jeruk.”

“… Baik.”

Ketika aku berbalik badan, aku melihat seseorang yang berdiri tegak, memandangku dan Naomi dengan ketakutan.

“… Ha-Hanya kutinggal sehari saja, kalian sudah berpacaran?”

Itu adalah Yuuki.

{“Bukan begitu!”}

Mau tidak mau, aku harus mengajaknya untuk ikut denganku ke warung, sekaligus aku memberikan penjelasan.

“Hmm, memang sih, berdiam diri di rumah ketika mati listrik itu sangat membosankan.”

“Lalu, aku tidak sengaja membuatnya menantangku, untuk membuktikan kalau aku sudah tidak takut lagi dengan kegelapan.”

“Hahaha! Seperti itulah Naomi. Makanya, kau jangan asal bicara dengannya.”

“Nghh… Aku tahu! Mau bagaimana lagi, aku kesal sekali terhadapnya.”

“Baik, baik. Lalu, apa yang akan kau lakukan untuk membuktikan keberanianmu itu?”

“Dia memintaku untuk masuk ke dalam pepohonan, malam nanti.”

“Begitu, ya.”

“… Hei, kau juga ikut, dong.”

“Kenapa? Bukankah kau ingin memanfaatkan kesempatan itu untuk berduaan dengannya?”

“Sudah kubilang tidak seperti itu!!”

Nenek penjaga toko, kembali sambil membawa pesanan yang kami minta.

“Hei, tidak perlu berteriak. Selagi kau masih muda, lakukanlah apa yang kau bisa. Apa lagi, jika kita membicarakan tentang seorang gadis muda.”

“Nenek juga jangan ikut-ikutan!”

“Ah, haha!” Dia tertawa dengan suaranya yang serak. “Tidak apa jika kau tidak ingin menuruti. Tapi, nenek beri sedikit nasihat. Kesempatan itu, tidak datang tiga kali. Jadi, pilihlah jalan yang menurutmu benar.”

Setelah membayar, kami pun berjalan kembali menuju tanjung.

“Yuuki, ikutlah!” Dengan suara yang memanja, aku memohon padanya.

“Kau yakin? Nenek itu bilang, kesempatan tidak datang tiga kali, loh.”

“Duh, sejak kapan kau menjadi orang yang pandai menggoda seperti ini?”

“Haha, maaf. Karena kau sudah mengajakku, aku ingin sekali ikut. Tapi karena mati listrik seperti ini, ayahku kerepotan untuk mengurus tanamannya. Karena itulah, dia membutuhkanku untuk membantunya.”

“Ah, baiklah. Aku tidak akan memaksa.”

“Untuk sekarang, tanaman itu akan baik-baik saja. Namun jika hingga malam nanti listrik belum juga menyala, maka aku harus pulang untuk membantu ayahku. Itu artinya, aku bisa saja menemani kalian menunggu waktu hingga malam. … Yah, itu pun kalau kau tidak keberatan.”

“Tentu saja tidak!”

Yuuki pun menemaniku dengan Naomi, menunggu waktu hingga malam. Kami melakukan beberapa permainan kecil seperti bermain dengan Kendama.

“Begini!”

“Ah, kau curang!”

Matahari pun mulai terbenam. Seperti yang diduga oleh Yuuki, listrik belum juga menyala.

“Hmm, gawat juga, ya.” Keluhnya. “Kalau begitu, sampai di sini saja, ya.”

“Terima kasih, Yuuki. Sejujurnya, aku ingin sekali kau ikut agar aku tidak diganggu oleh orang ini.”

“Siapa yang kau sebut orang ini!?” Teriak Naomi pada telingaku.

“Tidak, tidak. Aku tidak ingin mengganggu kemesraan kalian berdua.”

{“Sudah kubilang, tidak seperti itu!”}

“Kalau begitu, aku pulang dulu. Daah.”

Yuuki pergi sambil melambaikan tangan nya pada kami.

“Ya, sampai nanti.”

Di tanjung ini pun hanya ada aku dengan Naomi.

Kukira malam hari tanpa listrik itu akan menjadi malam yang biasa saja. Karena kupikir, cahaya bulan sudah cukup untuk menerangi malam. Tapi ternyata, itu hanya terjadi di dalam film dan anime.

“Gawat, ini terlalu gelap.” Keluhku dengan mata yang dipelototkan. “Jika seperti ini, melilhat jalan saja sudah mustahil.”

“Hmm, kau benar. Apa kau memiliki alat penerang di rumahmu? Seperti senter atau lentera.”

“Punya, sih. Memangnya masih mau dilanjut juga?”

“Tentu saja! Kau sudah bilang kalau kau ingin membuktikannya, jadi kau tidak bisa mundur. Kecuali, jika kau mengakui kalau kau memang takut pada kegelapan.”

“Sekarang seluruh desa ini, tidak ada satu pun lampu yang menyala, loh! Apa masih belum cukup juga?”

“Tidak sampai kau masuk ke dalam pepohonan. Karena di sana lah dulu kau merengek ketakutan.”

Bisa-bisanya dengan mudah dia mengatakan itu. Ingin sekali aku menyentil keningnya, atau menarik pipinya dengan sangat keras.

Aku menghela nafas dengan berat. “Heuhh… Baiklah.”

Dia pun ikut denganku ke rumah, untuk mengambil alat penerang.

“Tunggu saja di sini, aku akan segera kembali.”

Kusuruh dia untuk menunggu di depan rumah, karena di dalam rumah itu lebih jauh lebih gelap.

Setelah di dalam, cara yang paling mudah untuk naik ke atas adalah dengan insting. Aku menganggap diriku adalah orang buta yang dapat melihat sekitar melalui getaran suara. Nyatanya, aku tersandung beberapa kali.

Aku pun sampai pada kamarku, lalu mengambil ponselku yang kuletakkan di samping tempat tidur, dan menyalakan aplikasi flashlight.

“Sebenarnya bisa saja aku menggunakan ini sebagai senter, tapi aku tidak ingin menghabiskan baterai.”

Kemudian aku membuka lemari pakaian. Di bawahnya terdapat laci yang cukup besar. Aku menarik laci itu, dan mulai mencari sambil diterangi dengan cahaya dari ponselku.

“Kalau tidak salah, aku punya senter yang pernah kugunakan ketika kegiatan SMP lalu. Semoga saja masih ada di sini.”

Tidak sampai satu menit, aku menemukan senter itu.

“Ada! Sudah begitu, masih bisa menyala.”

Kututup kembali laci, dan lemari pakaianku. Ketika hendak keluar dari kamarku, ada orang yang berdiri tepat di depanku.

“AAhh!!”

Orang itu menertawaiku. “Hahaha! Baru seperti ini saja, kau sudah ketakutan?”

“Itu terkejut, bukan takut! Lagi pula, sudah kubilang untuk menunggu di bawah, kan!?”

“Kakakmu menyuruhku masuk. Tidak enak jika aku menolaknya.”

“Bukan berarti kau juga harus naik ke atas sini. Ayolah, aku sudah dapat senternya. Aku ingin agar ini cepat berakhir.”

Selama aku berbicara, aku melihat pintu kamarku yang perlahan menutup. Dengan cepat, aku berlari pada pintu itu, untuk menariknya kembali.

“… Kau pikir, apa yang kau lakukan?” Tanyaku pada orang yang melakukan itu.

“Ah, hehehe… Gagal, ya.”

Rupanya itu kakakku yang mencoba untuk membuat kami terkunci di dalam.

“Apa yang kau lakukan? Jika kau benar-benar berniat untuk mengunci pintunya, aku marah sungguhan.”

“Tentu saja tidak, aku hanya ingin menutupnya secara diam-diam agar kau tidak terganggu.”

Alasan polos itu diucapkannya sambil tersenyum dan menggaruk kepala.

“… Haahh, sudahlah. Ibu di mana?”

“Sekitar satu jam yang lalu, dia memberitahuku kalau dia diajak pergi ke toko swalayan, bersama dengan temannya. Setelah itu, dia belum meneleponku lagi.”

“Hmm. Kalau begitu, jika ibu sudah pulang, katakan padanya kalau aku bermain di luar.”

“Ke mana? Di luar kan gelap sekali.”

“Pepohonan dekat bukit yang ada di belakang tanjung. Orang ini memaksaku untuk ke sana.”

Hei, aku tidak bilang memaksa!” Bisik Naomi padaku.

Kami pun menuruni tangga. Sebelum membuka pintu untuk keluar, kakakku menghentikanku.

“Hei, Natsu.” Dari caranya memanggilku, dia terdengar kecewa. “Padahal kau memiliki kamar yang rapih, kenapa di hutan?”

“Hah? Aku tidak mengerti dengan yang kau ucapkan.”

“Dengar ya, kau sedang memegang kesempatan yang besar sekali di tanganmu. Kenapa harus ke sana?”

“Sudah kubilang, aku tidak mengerti apa yang kau ucapkan!”

“Kenapa kau harus mengajak Naomi melakukan itu di hutan!?”

Kakakku memang yang terburuk. Aku ingin sekali memarahinya, tapi aku tidak ingin menunjukannya di depan Naomi.

“Kembalilah ke atas, aku juga tidak akan menggang—”

“BERISIK!! PERBAIKI KEPALAMU!!”

Aku keluar dari rumah dengan membanting pintu rumahku.

“Jadi, eng… yang dimaksud kakakmu itu…”

Wajah Naomi memerah, juga sambil memainkan jari.

“Kumohon, lupakan. Aku sungguh minta maaf karena kakakku yang seperti itu.”

“Ah, haha… Tidak apa-apa, tidak usah dipikirkan. Tapi, jika yang dia maksud memang seperti itu… … aku… sama sekali tidak keberatan.”

Untuk sesaat, aku tidak dapat berpikir. Aku terdiam sambil memandang matanya yang berbinar menatapku.

“… Kau bercanda, kan?”

“… Te-Tentu saja, bodoh! Cepatlah, ibuku akan mulai cemas jika aku pulang terlambat.”

Ya sudahlah. Lagi pula aku tidak tertarik.

Walaupun Naomi itu jauh lebih baik, mengapa aku masih saja tertarik dengan kakakku? Yah, setidaknya untuk saat ini, aku sedang tidak ingin berduaan dengannya, apalagi dalam kegelapan seperti ini.

… Eh? Bukankah itu sama saja?

“Eng… Naomi.”

“Ah! Kenapa!?”

“… Bagaimana jika kita batalkan saja?”

“Hah? Padahal tinggal sedikit lagi, mengapa kau berubah pikiran?”

“Yah, menurutku… pergi ke dalam pepohonan saat gelap itu memang bukan ide yang bagus.”

“Jangan-jangan, kau bohong ketika kau bilang berani?”

“Tentu saja tidak! Ayolah, apa kau tidak bisa mempercayaiku?”

“Aku percaya, kok. Tetap saja, kau harus membuktikannya.”

Gadis ini benar-benar tidak mau menyerah. Sejak dulu, aku selalu kalah darinya, aku tidak ingin kalah lagi. Tidak ada cara lain, aku harus melakukannya.

“Iya, iya, baiklah! Ayo kita ke sana sekarang.”

Aku mengenggam tangan Naomi, lalu menariknya sambil berjalan dengan kecepatan yang sedikit lebih cepat dari biasanya.

“Hei, lepaskan, Natsu. Aku bisa jalan sendiri!”

“Tidak. Jalanmu lama sekali, jika tidak begini, kita tidak akan cepat sampai di sana.”

“Tunggu dulu. Hei, kubilang tunggu!” Dia menarikku dengan kuat untuk membuatku berhenti. “… Jangan-jangan, kau marah?”

Untuk sesaat aku terdiam sambil berpikir. Belakangan ini, rasanya aku memang menjadi sedikit lebih kasar. Sepertinya hal itu telah membuat pikiranku kacau.

“Maaf. Aku terlalu memikirkan sesuatu.”

“Apa yang mengganggumu? Eng… ka-kalau kau mau, kau bisa menceritakannya padaku.”

Untuk pertama kalinya, aku melihat Naomi sangat perhatian terhadapku.

“Kau ini Naomi, kan?”

“Tentu saja! Kau ini kenapa, sih?”

“… Aku tidak apa-apa.”

“Benarkah? Aku benar-benar akan mendengarkanmu, loh. Ceritakan saja.”

… Ya ampun. Jika sifatnya terus seperti ini, lama-lama aku bisa menyukainya.

“Aku akan menceritakannya… ketika kita semua berkumpul.”

Belum ada komentar untuk chapter ini.

Jadi yang pertama?