11. Sekali Lagi

“Tidak perlu lama-lama, aku hanya memberimu waktu lima menit.”

“Dalam keadaan seperti ini, lima menit itu lama, tahu.”

“Kau masih saja mengeluh. Cepatlah, kau ingin agar ini segera berakhir, bukan?”

“Iya, baiklah!”

Aku pun masuk ke dalam pepohonan, pada malam hari yang gelap, tanpa satu pun lampu desa yang menyala, hanya berdua dengan senter yang sedang kugenggam.

“Jangan jauh-jauh, agar aku bisa mengawasimu!” Teriak Naomi dari tepi jalan.

“Aku tahu!”

Aku pun menemukan tempat bagus untuk duduk.

Sejujurnya, bukan hantu atau makhluk buas lah yang membuatku takut. Melainkan serangga kecil yang dapat menginfeksi.

“Naomi! Kau tidak meninggalkanku, kan?”

“Tentu saja tidak. Aku bahkan tidak bisa melihat jalan untuk pulang tanpa senter milikmu.”

Dua menit telah berlalu. Aku mulai merasa bosan.

“Hei, boleh aku keluar sekarang?”

Dalam jarak yang dekat, aku dapat mendengar suara telapak kaki yang menginjak dedaunan kering, semakin lama-semakin mendekat.

“Rewel sekali, kau ini.” Balasnya seiring dia mendekat padaku. “Aku akan menemanimu, jadi tenang saja.”

“… Bukan ini yang kuminta.”

“Cih… Berhenti mengeluh!” Dia menyentil keningku.

Kami hanya duduk bersebelahan sambil bersandar di sebuah pohon yang cukup besar, di dalam kegelapan ini. Kubiarkan senterku menyala sambil kuhadapkan ke depan kami.

Jika melihat ke atas, kami dapat melihat ratusan— tidak, jutaan bintang yang berkelip pada malam yang sunyi.

“Natsu, apa kau rindu pada desa ini?”

“Entahlah. Bagaimana mengatakannya, ya. Mungkin aku hanya rindu pada penduduk, suasana, kalian, dan keluarga. Tapi tidak dengan desa nya sendiri.”

“Kejam. Jika kepala desa mendengarmu, kau bisa diceramahi, loh.”

“Mana mungkin. Dia pasti lebih memilih untuk mengurus warganya, dibanding menceramahi anak cengeng sepertiku.”

“… Apa-apaan itu, menyedihkan sekali.”

Kemudian, Naomi mengambil senter yang kubiarkan menyala, lalu mematikannya.

“Hei, apa yang kau lakukan!?”

“Kenapa? Kau takut?”

“Bukan begitu! Kalau nanti kau menjatuhkannya, gawat, tahu!”

“Hahaha! Tenanglah, aku tidak akan macam-macam.”

Dia tidak mengatakan apa-apa lagi setelah itu.

Tanpa senterku, aku sama sekali tidak bisa melihat apa-apa selain bintang di atasku. Walau begitu, aku merasa kalau kau sedang ditatap dari jarak yang sangat dekat olehnya.

“Natsu.”

“A-Apa!?”

“… Setelah kau tiba di sini, ada satu hal yang belum sempat kukatakan padamu.”

“A-Apa itu?”

*BAM!*

Suara yang begitu keras, tiba-tiba terdengar dari kejauhan, bersamaan dengan kilatan cahaya yang sangat terang.

“Ah! Apa itu!?” Naomi berteriak melengking. “Eh!? Apa-apaan kau ini!?”

“Kau sendiri yang memelukku! Cepat, berikan senterku. Ayo keluar. Sepertinya hujan akan turun.”

Aku mengambil kembali senter milikku, menyalakannya, lalu mencari jalan keluar dari pepohonan yang rindang ini.

“Tunggu aku, Natsu!”

Aku sendiri tidak tahu, mengapa aku menyimpulkan suara tadi sebagai petir.

Begitu kami sampai di tepi jalan, di mana tepat di pinggir danau, kami melihat cahaya itu lagi. Cahaya itu tidak lagi terang seperti sebelumnya, meliankan seperti lampu tua yang sudah ingin mati. Yang membuatku terdiam adalah, tempat di mana cahaya itu berasal.

Asal dari cahaya itu adalah, menara itu.

Tidak hanya itu, menara itu juga menghasilkan suara gemuruh yang samar.

“… Apa yang terjadi?”

“Natsu, di dalam sana, tidak ada apapun, bukan?”

“…”

Aku terdiam, memperhatikan menara itu dari kejauhan.

Hanya dalam waktu singkat, cahaya itu pun hilang, dan tidak ada lagi suara yang terdengar.

Walaupun begitu, aku masih terdiam.

Lalu, ada mobil yang tiba-tiba berhenti di depan kami.

“Siapa di sana?” Kataku dengan waspada.

Orang yang membawa mobil itu pun menurunkan kaca nya. “Apa yang kau lakukan di sini?”

Ternyata itu ayahku. Kami pun diminta untuk masuk ke dalam.

“Jadi, sepertinya sudah waktunya kalian untuk menjelaskan.” Kata ayahku sambil memperhatikan jalan.

“Eng… kami—”

“Mencari serangga!” Naomi memotong omonganku. “Sekarang musim panas.”

“Hmm, kalau begitu aku paham, sih. Memangnya tidak bisa lain waktu jika listrik nya sudah kembali menyala?”

Aku menjawab. “Listrik nya belum mati ketika kami mulai mencari. Bukankah begitu, Naomi?”

“A-Ah, ya itu benar.”

“Baiklah, kalau begitu. Eng… Naomi-chan, ingin diantar sampai rumah?”

“Tidak, tidak perlu. Nanti biar Natsu saja yang mengantarku.”

“Kau benar. Laki-laki harus bertanggung jawab.”

(“… Eh? Mengapa jadi aku? … Oh iya.”) “Ayah, tadi kau melihatnya, kan? Mengenai menara itu.”

“Ya, aku melihatnya.”

“Apa seseorang sedang mengerjakan sesuatu di sana?”

“Entahlah. Sepertinya ayah harus memeriksanya. Tapi ingat, Natsu. Jangan coba-coba untuk pergi ke sana, sekalipun itu bersama dengan temanmu, mengerti?”

“Mengapa!? Ayah sendiri ingin pergi ke sana, mengapa aku tidak boleh!?”

“Karena berbahaya!” Ayahku membentak.

Aku tentu tidak bisa melawan. Tapi aku merasa, kalau dia menyembunyikan suatu kebenaran.

Kami pun sampai pada rumahku, lalu bersama-sama turun dari mobil.

“Baiklah, Natsu. Selamat bertanggung jawab.” Kata ayahku sambil membuka pintu untuk masuk ke dalam rumah.

“Jangan membuatnya terdengar aneh!”

“Tumben sekali ayahmu pulang malam begini.”

“Begitulah. Aku tidak pernah mengerti apa yang dia kerjakan. Ayo, kuantar kau ke rumah sebelum ibumu mencari.”

“Aku bukan anak-anak!”

Sambil menggunakan senter milikku untuk menerangi jalan, aku mengantarnya melewati jalan yang gelap ini.

Tanpa kusadari, kepalaku terus menoleh ke arah menara di sebrang danau.

“Tadi itu, memang benar-benar berasal dari menara itu, kan?” Tanya Naomi.

“Hmm.”

“… Apa kau masih penasaran?”

“Tentu saja! Guna nya saja tidak jelas, bagaimana aku tidak penasaran?”

“Jangan-jangan, kau ingin pergi ke sana lagi?”

“Ya, aku harus.”

“Walaupun ayahmu sudah memarahimu seperti itu?”

“… Aku rasa, aku tidak bisa mempercayai ayahku untuk yang satu ini. Jadi, aku tidak peduli dengan yang dikatakannya.”

“A-ah, baiklah.”

“Jika aku mengajakmu lagi untuk pergi ke sana, apa kau mau ikut?”

“Sebenarnya, aku tidak mau karena ayahmu sudah berteriak seperti itu.”

“Begitu. Ya sudah.”

“Ta-Tapi, karena kau memaksa, a-aku akan mengikutimu.”

“Yah, sejak kapan aku memaksamu?”

Kami sampai hingga depan rumah Naomi. Hingga saat itu, listrik masih belum juga menyala.

“Aku tidak percaya kau benar-benar mengantarku sampai sini. Apakah kau segitunya merasa bersalah hingga seperti ini permohonan maafmu?”

“Minta maaf untuk apa?”

“Hehehe, aku hanya bercanda, kok. Sampai nanti, ya!”

“Tunggu! Pada saat di dalam pepohonan tadi, apa yang ingin kau katakan padaku?”

Naomi memutarkan kepalanya ke arahku, sambil tersenyum. “Selamat datang kembali.”

Kemudian, dia pun masuk ke dalam rumah.

“… Hanya itu?”

— —

Pada pagi hari nya, entah sejak kapan, listrik nya sudah kembali menyala.

Begitu turun dari lantai atas, hal pertama yang kulihat adalah ayahku yang sedang duduk di sofa, sambil menonton berita di televisi.

Kilatan cahaya di langit dengan warna aneh, beberapa kali terlilhat pada pukul dua dini hari. Beberapa warga setempat yang melihat, mengambil gambar dan merekam video, lalu mengunggahnya ke media. Tidak hanya di Shinjuku, fenomena ini juga…

“Shinjuku…?”

Aku pun kembali ke lantai atas untuk mengambil ponselku, lalu menelepon temanku yang tinggal di dekat Shinjuku.

“… Halo, Haniguchi?”

“Yo, Natsu. Tumben sekali kau meneleponku.”

“Yah, sebenarnya ada hal yang ingin kutanyakan. Apakah—”

“Eeh? Hanya itu? Kejam! Padahal dulu kita sering sekali melakukan sesuatu bersama, lalu sekarang kau meneleponku hanya karena ingin menanyakan sesuatu? Mengapa kau—”

“Ya, baiklah, baik! Akan kubelikan kau oleh-oleh saat pulang nanti. Bagaimana? Apa itu membuatmu puas?”

“Hore! Jadi, apa yang ingin kau tanyakan?”

(“Sial, aku lupa betapa menybalkannya dia.”) “Eng… Tadi aku lihat di berita mengenai fenomena aneh di langit, apa itu benar? Pelputnya tidak begitu menunjukkan rekamannya.”

“Benar, kok. Aku melihatnya langsung.”

“Ba-Bagaimana kelihatannya?”

“Hmm, bagaimana ya menjelaskannya… Mirip seperti kilat yang muncul di balik awan, hanya saja itu memiliki warna, dan berganti-ganti.”

“Begitu, ya. Terima kasih.”

“Ah, tunggu dulu! Maukah kau menyampaikan salamku kepada Saki-chan?”

“Diamlah!”

Aku menutup panggilannya, lalu pergi ke kamar mandi.

Setelah mandi, aku keluar dari rumah menuju rumah Yuuki. Selama berjalan, pandanganku tidak bisa lepas dari menara itu dengan tatapan curiga.

“Permisi! Yuuki!”

Begitu sampai di depan rumah nya, aku memanggil.

“Iya!” Balasnya dari dalam rumah, lalu dia pun keluar. “Ada apa, Natsu? Bagaimana kencanmu kemarin?”

“Kami tidak berkencan! Apa kau sedang membantu ayahmu?”

“Tidak, kok. Aku bebas hari ini.”

“… Kalau begitu, apa kau mau menemaniku?”

Setelah berhasil mengajaknya, kami menuju rumah Naomi.

“Oi, Naomi! Kau dengar aku, kan? Keluarlah!”

Dengan wajah yang kesal, dia membuka pintu.

“Pagi-pagi begini sudah berisik sekali kau ini.”

“Dulu juga kau seperti ini!”

“Jadi, ada perlu apa kau datang kemari?”

“Temui Saki, dan ajak dia ke tanjung bersamamu. Aku dan Yuuki akan menemui Ryouta, jadi tolonglah.”

“Tunggu dulu, mengapa tiba-tiba? Apakah ucapanku semalam membuatmu gila?”

“Eh!?” Yuuki terkejut. “Memangnya apa yang dia katakan padamu!?”

“Tidak!” Aku menyela. “Intinya, ini adalah urusan penting. Aku memohon padamu, tolong lakukanlah yang kuminta.”

Walau terdengar malas, Naomi menuruti permintaanku, entah bagaimana.

Lalu seperti yang kukatakan tadi, kami berjalan menuju rumah Ryouta.

“Ada apa, Natsu?” Tanya Yuuki dengan heran. “Tidak biasanya kau seperti ini.”

“… Tidak seru rasanya jika langsung kuberitahu. Tapi, kalau kukatakan “ini soal semalam”, kau pasti langsung mengerti, kan?”

“Ah, begitu.” Balasnya sambil tersenyum.

Kami pun melewati warung milik nenek yang biasa kami kunjungi.

“Natsu, itu Ryouta.”

“Kau benar.”

Karena melihat Ryouta yang sepertinya sedang membeli sesuatu di sana, kami datang menghampirinya.

“Oi!” Sapaku. “Jarang sekali melihatmu berada di luar rumah.”

“Kalau bukan karena adikku yang banyak omong itu, aku tidak akan berada di sini.” Dia membalas dengan suara yang kesal.

“Adik, ya. Ternyata kau juga punya ketertarikan yang seperti itu.”

Dia pun menghadapku.

“Apa mulutmu ingin kuselipkan dengan barang belanjaanku?”

“Te-Tentu saja aku hanya bercanda! … Ryouta, maukah kau ikut denganku ke tanjung?”

“Kali ini ada apa?”

“Ikut saja. Nanti di sana juga, kau akan mengetahuinya.”

“… Baiklah. Aku sedang kesal dengan adikku, jadi aku tidak ingin berada di rumah.”

“Eh? Benarkah?”

“Kau tidak mempercayaiku?”

“A-Ah, baiklah, baik. Kalau begitu, kutunggu kau di sana, ya.”

Kami langsung menuju tanjung begitu selesai mengajak Ryouta. Begitu sampai di sana, sudah ada Naomi dan Saki yang sedang menunggu.

“Ah, Natsu!” Saki menyapaku sambil berteriak dan berlari menghampiriku. “Aku sudah dengar, loh. Kemarin kalian berkencan, ya.”

“Dari mana kau mendengarnya!? Lagi pula, kami tidak berkencan!!”

“Hei, Saki!” Naomi menyusul. “Mengapa kau selalu melebih-lebihkan apa yang dibicarakan orang!?” Sambil menarik pipi Saki.

“Hehehe. Ayolah, jangan seperti itu. Kalian itu cocok, loh. Bukankah begitu, Yuuki?”

“Benar juga.” Balasnya. “Maaf ya, Natsu. Tapi kali ini aku harus setuju dengan Saki.”

“… Kalian ini, hentikanlah!!!”

“Tanpaku saja kalian sudah sangat berisik, ya. Apa aku benar-benar dibutuhkan?” Ryouta datang dengan kedua tangannya yang berada di saku celana.

“Tidak, bukan begitu. Kami—”

“Ryouta!” Saki memotong omonganku. “Apa kau sudah tahu?”

“Ya, aku sudah dengar. Tapi tidak perlu dibahas lagi, karena nanti dia akan melupakan tujuannya mengajak kita ke sini.”

“Ah, benar juga. Hehehe, maaf ya, Natsu.”

(“Terima kasih, Ryouta. Kau benar-benar menyelamatkanku.”)

“Jadi, apa tujuanmu mengumpulkan kami semua?” Tanya Naomi dengan sebelah tangannya di pinggang. “… Tunggu, jangan-jangan…?”

“… Benar. Sekali lagi, kita akan pergi ke menara itu.”

Belum ada komentar untuk chapter ini.

Jadi yang pertama?