Aku dan Sang Perantara

Aku masih ingat dulu saat masih sangat muda dan meratap. Saat itu rasanya ada batu besar yang harus kupikul seorang diri dan itu membuatku sedih. Dalam kamarku yang gelap dan dingin, kudengar suara ketukan pada jendela kamar. Tentu saja awalnya aku merasa takut, siapa yang mengetuk kaca jendelaku malam-malam begini? Ketukan itu terus berbunyi di hari berikutnya setiap kali aku merasa tertekan dan tidak sanggup lagi menahan air mataku. Akhirnya aku memutuskan untuk menghadapi rasa takutku dan menyambut ketukan lembut itu. 

Rupanya dia adalah seorang lelaki yang memiliki wajah yang tampan. Hei, jangan berpikir ke arah romantisme dulu, saat itu aku masih terlalu muda untuk memahami makna cinta antara pria dan wanita. Walau begitu bukan berarti aku tidak dapat mengenali wajah tampan.

Ngomong-ngomong, bukan karena dia tampan maka aku membuka pintu jendela kamarku. Adalah hawa yang dia bawa bersamanya yang membuatku merasa bahwa dia orang yang aman. Aku baru pertama kali bertemu dengannya, namun rasanya aku sudah mengenalnya sejak lama. Senyumnya hangat, lebih damai daripada ayah kandungku. Suaranya rendah dan teduh, seperti suara rintik hujan yang biasanya mengantarku ke alam mimpi.

Aku membuka jendela kamarku dan dia mulai bercerita kepadaku sebuah kisah yang menyenangkan setiap malam. Aku tidak pernah mengingat kisahnya, seakan setelah aku tidur, kisah itu terhapuskan dari benakku. Namun apa yang kurasakan setelah mendengar kisah-kisahnya tidak terlupakan sampai aku dewasa.

Cukup dewasa untuk melepaskan tanganku dari tuntunannya dan mulai berjalan dengan kekuatanku sendiri. Kekuatan yang berasal dari kisah-kisahnya. Kisah-kisah yang membuatku berhenti menangis, bukan karena ada banyak orang yang lebih menderita daripadaku; tapi karena aku telah menemukan kekuatan dalam diri yang selama ini kuabaikan. Aku tidak lagi pasrah dan mengikuti dengan patuh untuk menjadi apa yang orang lain inginkan dariku; aku belajar untuk mencintai diriku sendiri apa adanya.

Aku belajar untuk berkata kepada dunia, "hai, ini aku. Baik atau buruk, inilah diriku dan aku bahagia seperti ini tanpa kurang atau lebih. Maaf bila kau kecewa, namun aku tahu bahwa sejatinya aku adalah orang yang baik dengan niat baik."

Suatu hari kekasihku bertanya padaku; "Bagaimana kau bisa tetap setia pada yang benar sekalipun orang-orang di sekitarmu telah berubah menjadi serigala?"

Dan aku pun menceritakan pada kekasihku tentang seorang malaikat yang memberiku kekuatan dan kebijaksanaan sejak aku kecil. Cerita-ceritanya selalu menguap cepat. Seperti sisa-sisa air yang telah mengering, yang tersisa hanyalah kesan dan sihirnya.

Sihir yang membuatku kuat melawan kemunafikan dunia.

Sayangnya sejak aku beranjak remaja, orang itu tidak datang lagi mengunjungiku. Yang kuingat, ia memperkenalkan dirinya sendiri sebagai Sang Perantara.

Belum ada komentar untuk chapter ini.

Jadi yang pertama?