Gravitasi Antara Kita

Seperti kebanyakan orang introvert, aku tidak terlalu butuh banyak bicara maupun teman. Sekalipun aku juga punya satu dua orang yang menjadi teman nongkrong setia. Biasanya kami duduk-duduk merusak pemandangan kantin sambil merokok dan bergurau sendiri.

Ruri mengambil stereofoam dan menusukkan rokoknya hingga kubus putih itu menjadi bolong seketika, seperti es yang meleleh dalam sekejap mata. Aku tidak tahu bagaimana teman-temanku yang lain, tapi aku sendiri merasa ngeri membayangkan apa yang dilakukan asap rokok itu terhadap paru-paru bila organ penting itu selunak stereofoam. Tapi, seperti orang ndableg lainnya, kami tetap tidak berhenti merokok.

Bahkan Ardi yang telah menghabiskan batangan rokok terakhirnya pun permisi sebentar ke warung di seberang jalan untuk membeli satu bungkus lagi. Aku yang sudah hampir kehabisan stok pun menegurnya untuk menitip satu bungkus untuk diriku sendiri. Si gemuk itu menggerutu dan menyuruhku beli sendiri, tentunya karena dia tahu bahwa aku tidak akan mengganti uang yang dia keluarkan. Walau begitu aku dan Ruri hanya tertawa saja melihat lemak-lemak pinggangnya bergelambiran ketika ia berlari-lari kecil.

“Kadang gue ngerasa kita ini tunas bangsa yang gagal…” ucap Ruri suatu hari sambil menghembuskan asap dari paru-parunya. Aku tidak mau meledeknya karena kali ini ia mengatakannya dengan serius. Pasti Ruri yang cukup melankolis itu sedang merasa gundah.

“Sebenarnya kita ini ngapain sih? Dua belas tahun lebih gue belajar dan nilai jelek terus. Setiap berangkat ke kampus, yang gue lakuin cuma ngeliatin Stefani dari jauh. Satu-satunya hidup yang gue rasa cuma waktu kita nongkrong seperti gelandangan di depan kantin,” ucap Ruri dengan pelan.

Seorang mahasiswi yang cukup cantik dan necis menutup hidungnya dengan jijik saat melewati kami karena asap rokok mengepul seperti awan.

“Lo terlalu banyak mikir,” kata Ardi dengan wajah galaknya. Ia sedang menyalakan rokoknya dari api rokokku. “Udah nikmatin aja. Gak kerasa kita udah lulus dan sibuk ngelamar kerja. Diterima kerja di stasiun tv, dan akhirnya mapan. Cari cewek, pacaran, kawin, bikin anak, gedein anak … tau-tau udah tua, mati.”

Aku mentertawakan ucapan Ardi dengan santai sementara Ruri tetap menghisap rokoknya dalam-dalam sambil menerawang ke langit tanpa bersemangat.

Beberapa hari setelah itu, Ruri keluar dari kampus dan memutuskan untuk menjadi pemusik. Ia bergabung dengan band yang didirikan kakak dan teman-teman kakaknya, menjadi seorang basis. Aku baru bisa bertemu muka dengannya secara langsung setelah band nya sudah rutin manggung di sebuah kafe kecil di Jakarta. Kurasa sukses berawal dari pertanyaan itu; "kita ini ngapain sih?"

“Weh. Gak kerasa udah 3 taon,” Ruri dengan enteng mengayunkan tangannya menjabat tanganku dengan mantap. Ia terlihat semakin kurus dan bibirnya lebih kusam dari terakhir kali aku melihatnya. 

“Apa kabar, Kris?”

“Kabar biasa aja. Sibuk pusing ngerjain tugas akhir,” kataku, pamer pada si mahasiswa yang mendrop-out dirinya sendiri.

“Hehhh… elu sih … apalagi lu bermasalah sama si Erwin kan? Mati aja lo dikerjain dia gak lulus-lulus,” ejeknya ketika menyinggung kembali saat aku mulai kumat dan mencoba mencari masalah dengan mempermalukan dosen utamaku yang bernama Erwin di hadapan 30 mahasiswanya yang lain. Di hadapan satu kelas, aku bermain-main dengan materi yang dia ajarkan dan memutar balikkan logika. Saat itu aku merasa hebat, lebih pintar daripada dosen. Sekarang, aku menemukan bahwa akulah yang salah, suka bikin drama gak penting. 

“Mending kayak gue, cepet-cepet cari tau tujuan hidup dan kejer selagi muda.”

Aku hanya tersenyum dan tertawa renyah menanggapi sarannya. Kemudian Ruri menarik tangannya untuk menyalami Ardi yang kini sudah gondrong rambutnya. “Eh gendut udah macho sekarang.”

Ardi, masih dengan wajah galaknya, membalas sapaan Ruri, “bawel lu. Lu aja yang kaga ada perubahan. Rambut masih brekele, badan makin ceking. Di rumah ga ada yang ngurus sih.”

“Halah … lu sendiri ditolak cewek langsung masuk gym!" balas Ruri.

Kami bertiga kembali asik membicarakan sesuatu yang tidak jelas arahnya, yang penting seru. Ruri beberapa kali menceritakan pengalaman-pengalamannya selama ia manggung. Mulai dari diganggu setan hingga diberi salam oleh seorang pelanggan kafe yang cantik. Sementara Ardi selalu bersemangat memberi masukan tentang gizi, protein, cara mengembangkan otot dan tips-tips fitness yang sebenarnya tidak terlalu kami butuhkan sekarang.

Sedangkan aku? Seperti biasa aku hanya menjadi pendengar dan penambah suara tawa di antara kami bertiga, kadang komentator untuk memanaskan topik. Hingga akhirnya…

“Lo gimana, Kris? Jangan pelit-pelit lah.” Bujuk Ruri.

Aku pun mulai memikirkan, apa yang menarik dalam hidupku? Mereka mengenalku sebagai pembantai orang pintar. Siapapun yang merasa pintar, selalu membuatku geregetan untuk menumbangkan kesombongan mereka. Di internet pun kelakuanku seperti itu sehingga kadang aku dijuluki “Trollface”.

Tapi mereka benar…apa yang bisa dibanggakan dari hidupku?

Apa yang akan terjadi padaku lima tahun lagi? Saat itu, dimanakah aku berada?

Belakangan inipun aku menyadari bahwa orang yang selama ini terdiam karena serangan-serangan "logis"ku itu, sesungguhnya tidak salah. Aku hanya tidak bisa memahami sudut pandang mereka dan bersikeras dengan sudut pandangku sendiri. Malah bila aku mengingat-ingat semua itu kembali, aku malah mengakui bahwa pemenang dari argumen debat kusir sesungguhnya adalah mereka, karena mereka diam dan mengabaikan aku.

Aku bagai terjebak diantara Ruri yang terlalu memikirkan masa depan secara mendalam dengan penuh kecemasan terselubung, dan Ardi yang memilih untuk hidup apa adanya tanpa pusing memikirkan hal-hal yang rumit.

“Pacar pun lo kaga punya. Payah!” ucap Ardi tanpa memperhitungkan perasaanku. Tapi aku tidak tersinggung. Memang kenyataannya aku tidak punya pacar, mau bagaimana lagi?

“Wah lupa lo … si Krisna ini kan yang mutusin Lasmi, cewek yang nolak lo sampe lo terinspirasi jadi orc begini,” Ruri terkikik.

Ardi mendengus dengan ekspresi wajah penuh ironi. Sekalipun ia tidak mengakuinya, tapi kami tahu bahwa Ardi pasti masih mencintai Lasmi. Sekalipun sudah tiga tahun berlalu sejak Lasmi menolak cintanya. Dan Ruri benar, aku orang yang membuat Lasmi patah hati.

Lasmi, temanku sejak SMA, kami pacaran sejak SMA. Kami memiliki impian yang sama, membuat film bersama. Dia sempat memiliki impian nyeleneh; mengangkat kisah percintaan kita ke layar lebar. Karena tidak ingin mengecewakannya aku hanya tersenyum-senyum saja. Tapi ternyata dia bersungguh-sungguh dengan impiannya dan membujukku masuk ke kuliah filmatografi ini.

Ternyata hubungan kami tidak mulus. Gadis sederhana dengan impian manis dan perasaan lembut itu telah berubah menjadi gadis egois yang narsis dan banyak maunya. Setelah ia bergaul dengan Yuliana, Jenifer dan Gisela, bidadari pujaan hatiku itu menjadi angkuh dan royal. Saat aku dan dia berjalan-jalan di mall untuk bersantai, dia mulai minta dibelikan ini itu, padahal dia tahu sendiri bahwa isi dompetku sebenarnya adalah milik ayahku yang harusnya kugunakan untuk makan atau keperluan kuliah.

Maka akhirnya aku memutuskan hubungan dengannya. Kudengar sejak itu Lasmi membenciku sampai mendarah daging. Dalam hati aku mengutuki tiga orang temannya yang telah mengubah bidadariku menjadi makhluk egois penuh dendam.

Aku menggeleng pesimis, “yah … biarin aja deh, mengalir aja. Ntar tau-tau lulus, dapet kerjaan, cari istri, bikin anak, gedein jagoan, terus mati.”

Tawa kami meledak ketika aku menirukan gaya bicara yang sudah lama tidak diungkit oleh Ardi itu.

===========================================

If I can meet people in my previous incarnation now,
then I decided to believe that we could be friend in our next life.
Cuz I have this strong feeling ..
I wish to know you more

Bukan hanya ungkapan keju semata, bukan sembarang susunan kalimat sok puitis yang kususun untuk seseorang yang spesial. Kadang kala di sela-sela kesibukanku menjadi freelance script-writer atau seorang storyboard, aku membuka jejaring sosial di internet dan menyempatkan diri untuk memposting kalimat-kalimat norak untuk mengoleksi jempol dari teman-temanku.

Hingga suatu hari seseorang meminta untuk berteman, kulihat namanya, Jenifer Sugiono. 50 mutual friends.

Mana mungkin aku lupa orang itu?

Dia, salah satu dari tiga cewek setan yang meracuni bidadari cantikku. Dia, salah satu dari empat cewek yang membuatku muak karena merenggut bidadari manisku. Dia, cewek yang selalu tampil paling rapih dan sederhana, kontras dengan ketiga temannya yang lain. Dia, yang tidak menggunakan make up setebal tiga temannya yang lain.

Dia … yang pernah terpaku menatap mataku saja ketika aku sedang mengajaknya bicara ringan yang seharusnya tidak membutuhkan berpikir dalam menjawabnya. Dia …yang selalu buru-buru pergi dengan gugup ketika aku menghampirinya hingga terantuk meja yang jelas-jelas berada di depan matanya. Dia … yang ketika kusapa, malah menghampiri orang di sebelahku sambil bicara tidak nyambung sehingga tidak ada yang mengerti maksud ucapannya…

Kenapa aku tersenyum menatap profile picturenya sekarang?

Dan … kenapa aku menerima request friend nya?

Tentu saja aku berjalan-jalan di dalam halaman facebook nya, melihat-lihat foto-fotonya, apa saja yang telah ia lakukan setelah kami lulus 2 tahun yang lalu.

Tidak ada percakapan di antara kami. Tidak ada alasan bagiku untuk berbasa-basi dengannya. Jenifer tetap sederhana dan apa adanya, seperti terakhir aku melihatnya menggunakan pakaian toga, berfoto bersama kedua orangtuanya yang bangga. Baru kusadari sekarang bahwa keempat cewek sekawan itu sesungguhnya tidak sebrengsek yang kupikir. Diantara mereka ada kehangatan, persahabatan erat, dan mereka membiarkan Jenifer tampil apa adanya dia tanpa merubahnya seperti yang kukira mereka lakukan pada bidadariku.

Dan mungkin … mungkin saja, sesungguhnya seburuk itulah sifat asli bidadariku.

Saat aku sedang tidak memiliki sesuatu untuk dilakukan atau beristirahat dari kepenatanku, aku selalu menengok foto-foto Jenifer sambil membayangkan ia di sisiku dan berbicara denganku.

Aku tidak mengerti rumus jatuh cinta, aku juga bukan seorang yang digolongkan romantis. Tapi aku tahu saat aku membayangkan sedang bepergian bersamanya, membayangkan dia duduk di sebelahku, membayangkan kami menonton tv bersama, makan bersama, dia selalu ada dalam imajinasiku … aku tahu, aku telah jatuh cinta padanya.

Ia jarang mengup-date status facebook atau twitternya, barangkali karena dia sibuk. Yang kutahu, ia sekarang bekerja di sebuah perusahaan bernama Rainbow production. Kadang aku berandai-andai bila aku mencari perusahaan itu dan melamar kerja di sana. Sayangnya, aku belum pernah mendengar nama perusahaan itu, aku juga tidak tahu mereka bergerak di bidang apa. Tapi kuharap dia baik-baik saja di sana.

Pagi ini, aku sedang sarapan di sebuah warung tidak jauh dari tempat kos ku ketika ternyata seluruh meja di warteg itu penuh dan terpaksa aku duduk di depan seorang lelaki aneh.

Wajahnya cukup ganteng. Karena aku seorang penggemar bola, aku mengatakan yang paling mendekati wajahnya adalah Cesc Fabregas yang baru saja bercukur rapi. Selain itu dia tampak paling menonjol diantara orang-orang lain di ruangan ini karena kontak mata yang dia lakukan sangat kuat. Seakan "pemalu" sama sekali tidak ada dalam kamusnya.

Ia mengenakan pakaian berwarna putih dan sepatu berwarna putih. Rambutnya hitam dipotong pendek dan tersisir sangat rapi. Namun yang mengherankan bagiku, tampaknya tidak ada yang menyadari kehadiran lelaki yang cukup menonjol auranya ini.

Tunggu dulu, bukan berarti aku tertarik padanya. Siapa sih yang tidak tertarik melihat seseorang dengan karisma yang kuat seperti ini?

“Maaf. Mejanya penuh, boleh aku bergabung?” tanyaku saat ia sedang asik mengaduk-aduk makanannya.

Lelaki itu menatapku seakan sudah tahu apa yang akan kulakukan dan segera mempersilahkanku duduk. Ia makan sambil mengajakku berbincang-bincang sebentar. Kami mengobrolkan hal ringan dengan santai. Ternyata bule ini cukup asik diajak bicara dan bahasa Indonesianya sangat fasih seakan ia lahir di Indonesia.

Sebelum aku bertanya apa yang ia lakukan makan di warteg kecil ini, ia mendahuluiku bertanya; “Bila kau akan mengajukan satu permintaan saja yang harus terkabul. Apa yang akan kau ucapkan?”

Dalam keadaan biasa, aku akan menutupi jawabanku yang sesungguhnya. Namun tampaknya ada yang aneh dengan orang ini sehingga aku bagaikan tersihir, mengungkapkan isi hatiku dengan jujur, apa adanya. “Ada seseorang … dia terlepas dari genggamanku. Padahal aku ingin mengenalnya lebih dekat.”

Seperti mengatahui siapa yang kupikirkan, ia merespon, “sungguh misterius bagaimana cinta bekerja, bukan? Lihatlah tatapanmu saat membicarakan gadis itu. Aku bahkan dapat menggambarkan betapa cantiknya dia bagimu hanya dengan melihat sorot matamu.”

Kata-kata orang asing ini mungkin terdengar aneh dan agak tidak wajar, namun mungkin juga dia benar. Aku tidak bisa berhenti menyingkirkan Jenifer dari pikiranku, sekalipun aku tidak pernah benar-benar dekat dengannya. Dia seperti meteor besar yang jatuh menghantam Bumi; begitu cepat berlalu, namun jejaknya membekas dalam. Bagaimana mungkin kenangan tentangnya tetap hidup selama lima tahun lebih? Bagaimana mungkin orang yang bahkan tidak pernah mengobrol denganku lebih dari dua percakapan bisa membuatku jatuh cinta hanya karena khayalan dan impianku?

Aku merasa seperti pecundang dengan impian muluk.

“Jangan meredup, Krisna,” kata orang asing itu. “Kau lupa akan Ardi dan Ruri? Claus dan Ryker?”

Claus? Ryker?

“Ardi adalah musuhmu di kehidupan sebelumnya. Kalian saling membunuh karena terjebak dalam pertikaian antar keluarga. Sebelum kalian mati, kalian sempat mengobrol dan berandai bila kalian bisa menjadi sahabat,” kata bule nyasar ini dengan wajar dan mantap.

“Sedangkan Ruri… dulu dia adalah seorang pegawai VOC di kehidupanmu yang lain. Ia merengut keluargamu karena kau seorang pejuang kemerdekaan yang membuatnya gemas. Namun dalam hati sesungguhnya kalian berdua saling mengagumi. Ryker kagum pada semangat dan kegigihanmu secara pribadi, sedangkan kau mengagumi ketegasan dan kecerdasan Ryker sekalipun tidak kau ungkapkan. Kalian sama-sama berandai bila kalian lahir dalam keadaan yang berbeda, apakah kalian bisa menjadi teman akrab?”

Ucapannya semakin membuatku merasa aneh di pagi hari yang wajar ini.

“Tu, tunggu, aku tidak mengerti kenapa mendadak anda mengatakan it…” mendadak semua bayangan-bayangan itu muncul kembali. Semua kenangan tentang Claus dan Ryker yang telah terkubur saat aku dilahirkan kembali, muncul menghampiriku. Semua perasaanku terhadap mereka, semua pengalamanku bersama mereka, kembali padaku.

Saat aku menembak Claus di bar itu … saat Ryker mengoyak lambungku dengan pedangnya…

Aku ingat kembali dan bersyukur bahwa aku kini telah menjadi teman mereka. Aku bersyukur kami bertiga menjadi gelandangan yang mengotori teras kantin kampus tercinta kami. Aku bersyukur kami bertemu di tempat dan waktu yang sama, sekalipun kebersamaan kami cukup singkat.

“Sudah ingat?” tanyanya.

“K…” aku tercekat. “Kenapa kau ungkap padaku itu semua? Bukankah harusnya itu adalah rahasia Yang Kuasa? Dan darimana kau tahu namaku, tentang Ardi, Ruri … Siapa kau?”

Ia hanya menjawab satu pertanyaanku saja dengan santai, “mengungkap apa?”

Mendadak aku lupa lagi tentang kenangan-kenangan masa laluku bersama masa lalu Ardi dan Ruri. Yang tersisa hanyalah kesan.

“Aku hanya ingin membuatmu percaya bahwa harapan bisa menjadi nyata. Bila kau menginginkan sesuatu, jangan ragu,” katanya.

Dia terlalu misterius untuk menjadi manusia biasa, dan kini aku memiliki keyakinan kuat bahwa orang ini adalah sosok mistik yang mengambil wujud seorang manusia. “Siapa anda?”

Si Cesc Fabregas nyasar ini tersenyum lembut padaku sambil menjawab. “Mereka menyebutku Sang Perantara.”

“Kenapa anda menemuiku?”

“Aku tidak menemuimu," dia tertawa kecil seperti sedang menertawakanku. 

"Aku hanya sedang makan siang dan kebetulan kau melihatku. Kita mengobrol dan kau ragu. Maka aku berharap kau bisa berbesar hati sekarang,” katanya sambil berdiri dari tempat duduknya dan pergi meninggalkanku. Tetap … tidak ada yang menyadari kehadirannya. Bahkan ketika aku menatap kembali ke atas meja, aku tidak melihat piring yang tadi digunakannya untuk makan.

Sejak hari itu, aku terus merenung sendiri. Aku tidak mungkin menceritakannya pada Ruri dan Ardi. Aku bisa dikatai orang gila oleh mereka atau mengada-ada saja. Tapi kenyataan mengenai reinkarnasi yang kualami pagi itu benar-benar membekas.

Dan lagi, saat aku kembali melihat-lihat halaman facebook Jenifer yang miskin update, aku tersenyum sendiri. Ya, aku pasti bisa memulai hubunganku dengan Jenifer. Bila aku bisa bertemu lagi dengan … ah siapa nama mereka di kehidupan lalu? Kenapa aku tidak bisa bertemu lagi dengan Jenifer di kehidupan berikutnya?

Tampaknya yang akan kulakukan sekarang adalah percaya. Percaya bahwa kelak aku pasti akan memiliki kesempatan untuk dekat dengan Jenifer dan melihat, apakah kami cocok untuk hidup bersama hingga akhir hayat. Tapi aku tidak boleh terlalu terpaku pada harapan seperti itu, apalagi hanya memandangi halaman facebook seseorang tanpa menyapanya sama sekali. Itu namanya mengerikan. Lama kelamaan aku berhenti menguntit Jenifer dan kembali kepada kesibukan yang lain. Aku move on!

Hidup penuh harapan membuatku bersemangat, percaya bahwa apa yang kuinginkan lambat laun akan bergerak mendekatiku itu merupakan perasaan yang sangat luar biasa, seperti menantikan kedatangan paket yang sudah kubeli dari situs online. 

Lambat laun yang ada di pikiranku hanya satu hal : membuat cerita yang bagus. Aku ingin orang yang membaca ceritaku jadi memiliki harapan, atau minimal percaya kepada hidup. Maksudku, percaya bahwa hidup ini tidak akan membiarkan kita terpuruk. 

Kualitas hidupku membaik, seperti iklan di tv. Kerja kerasku berbuah, uang berdatangan. Aku menulis untuk blog, cerpen untuk majalah, dan kadang menulis skrenario untuk film kecil di youtube bersama Ardi dan Ruri. Rupanya ada yang tertarik dengan cerita yang kutulis menjadi film di youtube. Baru kemarin aku dihubungi oleh seseorang bernama Tedi dari sebuah production house yang membutuhkan seorang storyboard artist. Aku sudah berpakaian rapi, siap menarik motorku untuk mengunjungi kafe starbucks tempat kami akan membicarakan kontrak kerja.

***

“Ayolah, Rini, kenapa kau selalu suka dengan kisah tentang remaja perempuan yang imut dan manis tapi bodoh dan terima-terima saja ditindas ibu tiri? Aku yang membuatnya saja sudah bosan sekali,” keluh Audrey sambil mengetuk-ngetukan pulpen hitam di antara jari tengah dan jari manisnya dengan cepat. Ekspresi wajahnya seperti sedang meminta tolong diselamatkan dari situasi yang ia benci.

“Tapi cerita yang begituan itu yang paling laku, Rey,” kata Arini sambil mempertahankan sebuah proposal skrenario di tangannya.

Audrey menggeleng-gelengkan kepalanya sambil mengeluh, “aku ingin sebuah cerita yang benar-benar baru dan fresh! Sudah saatnya kita membuat genre baru yang sebenarnya asik, dan masyarakat harus tahu itu.”

Kedengarannya menarik. Aku pun menyeletuk, “seperti…?”

Audrey tersenyum sambil melirik ke langit-langit seakan disana ada contekan yang ingin dibacanya, “hmm … serial kriminal, pasca kiamat, super hero …”

“Tidak, tidak, jangan super-hero, plis!” Arini dan aku mentertawakan ide Audrey.

“Bukan super-hero parodi! Maksudku .. apakah kalian tidak melihat pasaran buku di toko-toko buku baru-baru ini? Aku melihat semakin banyak genre pop dan fiksi yang semakin imajinatif. Atau kita membuat seperti CSI, kurasa bakal seru juga,” kata Audrey.

Aku tersenyum ragu. Setuju dengan idenya, tapi takut dengan kenyataan, “hmm.. begini … aku suka CSI, tapi masyarakat kita belum siap untuk itu.”

Audrey menyandarkan punggungnya di kursi yang sedang didudukinya, “orang bisa salah paham dengan acara itu. Mereka bisa mengira bahwa acara itu ada untuk menghasut orang berbuat jahat. Aku tidak bisa mengambil resiko bahwa kita bisa saja di demonstrasi bila kelak ada kasus kejahatan yang mirip, terjadi sungguhan di dunia nyata.”

Arini langsung menimpali, “setuju. Setuju. Dan jangan lupa, … risetnya! Pusiing…pusiing…”

Audrey terlihat kecewa dan tidak bisa berkata apapun lagi. Sebagai gantinya, Arini kini berbicara panjang lebar penuh semangat untuk mempromosikan skrenario yang disukainya. Ia beberapa kali mengulangi betapa hebatnya bila sinetron yang kurasa bakal menampilkan banyak adegan menangis, berteriak-teriak, dan marah-marah itu. Sungguh sangat klise dan membosankan. Akan tetapi fakta memang menunjukkan bahwa genre sinetron slice of life itulah yang paling laris di kalangan masyarakat.

Hingga akhirnya, Tedi yang sedari tadi diam saja sambil mengamati kami berbicara, mengajukan sebuah proposal skrenario, “maaf, Rini. Aku masih punya kartu.”

Arini pun terdiam dan memberikan Tedi kesempatan bicara. Tedi berdiri dari bangkunya sambil memegangi sebuah manuskrip berkover hijau, “kita semua yang ada di ruangan ini, berapa usia kita? Yang pasti kita belum berusia lebih dari 30, kan? Saat kita kecil, apa yang kita tonton? Kau duluan, Drey.”

“Hmm… Lion King,” jawab Audrey.

“Dan kau, Rin?”

Keliatannya Arini sangat suka dengan pertanyaan itu. Ia memberikan daftar panjang tontonannya sewaktu kecil. Cukup terkejut juga mengetahui tontonannya yang variatif mulai dari film serial China misalnya Judge Bao, Return of the Condor Heroes, telenovela seperti Marimar, Esmeralda, Esperanza, kemudian film animasi dua dimensi yang sebagian besar buatan Disney.

Tedi kemudian menjawab untuk dirinya sendiri, “kalau tontonanku seperti Dragon Ball, Hokuto no Ken, dan aku masih mengikuti serial Naruto, One Piece, Bleach, dan lainnya. Bagaimana denganmu, Jen?”

Aku sudah tahu dia akan memberikanku giliran terakhir. Ia selalu seperti itu. Dan saat ia menatapku, senyumnya berbeda dari senyum yang ia tunjukkan pada orang lainnya. Aku mengambil waktu sebentar untuk memikirkan apa yang paling berkesan untukku. Tentu saja aku banyak menonton film sejak kecil. Tapi menyebut satu saja cukup, “Sailormoon.”

Tedi merentangkan kedua tangannya, “tidakkah kalian sadar? Sejak kecil kita menonton film animasi! Dan ada berapa orangkah yang menonton animasi sewaktu kecil seperti kita?”

“Oh, jadi kau ingin mengangkat film animasi sekarang, Ted?”

“Tepat sekali. Mungkin memang beresiko untuk mengangkat genre yang langka bagi perfilman di tanah air ini. Tapi kalau kita memiliki cerita yang kuat, digarap dengan sungguh-sungguh, aku yakin genre ini bakal menjadi hit! Kita bisa jadi pelopor tren baru di dunia perfilman Indonesia!” kata Tedi berapi-api.

“Ehem ... kau tahu tidak berapa biaya yang dibutuhkan untuk menggarap animasi berdurasi lima menit?” kataku, mencoba untuk membujuk Tedi agar mundur dengan halus.

“Kalau kita selalu berpikir dalam lingkup money oriented, kapan bangsa ini bisa maju??”

“Kecuali kau punya sampel kualitas animasi, contoh cerita yang akan diangkat…”

Tedi mengetuk-ngetukkan jarinya pada kursi yang sedang dicengkramnya. Kemudian ia berkata, “beri aku waktu dua hari. Aku akan mempresentasikan proyekku ini.”

“Semoga berhasil,” kataku sambil mengembangkan senyum formal padanya.

Seusai rapat, aku buru-buru berlalu pergi dari kantor Rainbow production house milik ayahku. Aku harus jujur, jabatanku sebagai produser ini memang agak berbau nepotisme karena aku anak kesayangan ayah dan kebetulan lulus sebagai mahasiswi terbaik filmatografi kampus Tunas Bangsa Indonesia.

Mendapatkan pangkat enak ini dalam waktu dua tahun membuatku merasa senang sekaligus terbebani. Masalahnya, aku merasa terkadang rekan-rekan kerjaku mencibirku di belakang. Barangkali mereka membicarakan betapa enaknya aku meraih posisi tinggi di tempat ini tanpa harus bekerja keras seperti mereka. Mereka selalu tersenyum ramah padaku, namun entah mengapa senyum mereka terasa janggal.

Aku bergegas memacu mobilku sampai di sebuah mall, dimana aku akan makan siang bersama Tomi, kekasihku yang sekarang. Siang hari yang terik, aku terjebak macet total di tengah kota, dan ponselku beberapakali berbunyi karena sms masuk menampilkan pesan singkat dari Tomi.

“Dimana sekarang?” pertanyaan itu ditanyakannya lima menit sekali dan membuatku penat.

Kadang aku merasa begitu sumpek dan stress menghadapi ini semua. Terlebih masalah kantor dimana perusahaanku sedang mengalami penurunan. Bila kita tidak segera membuat film yang sukses, maka kita akan segera bangkrut, dan sudah tentu aku akan merasa sangat bersalah sekali kepada ayahku, karena akulah yang memutuskan film apa yang akan kami buat.

Kembali teringat olehku saat aku tidak sengaja mendengar percakapan Herman dan Arini di dapur kantor.

“Aku sedang melamar kerja di Redstar, kelihatannya di sana sedang naik daun.” Kata Herman.

“Yah .. kenapa kau keluar? Kita sedang drop.”

“Justru karena itu. Kau pikir fresh graduate bisa menjalankan bisnis ini? Yang benar saja … hanya karena dia anak pimpinan perusahaan, lantas dia langsung jadi head-producer? Aku tidak mau bunuh diri, aku punya anak dan istri yang harus kuberi makan.”

“Iya juga sih … sejak dia jadi kepala produser, PH kita langsung jatuh…”

“Lebih baik kamu ikutan juga deh. Daripada terlambat.”

Aku terbangun dari lamunanku ketika Tomi tidak lagi mengirim sms, ia menghubungiku.

“Ya, say?”

“Kamu dimana, sayang?” tanya Tomi dengan suara jenaka yang jenuh.

“Ini lagi macet, say. Tunggu yah. Mall nya udah keliatan kok,” kataku, berbohong.

“Ya udah, aku pesen makan duluan yah,” Tomi mengeluh dan memutuskan hubungan telepon di antara kita.

Aku menghembuskan nafas kesal dan meletakkan ponselku begitu saja di kursi sebelah. Jalanan masih macet dan kelihatannya tidak akan sebentar. Aku terjebak dalam kemacetan, dan aku tahu nanti Tomi pasti mengomel sampai dia mendengar kata maaf keluar dari mulutku untuk ke sekian puluh kali. Kadang aku bertanya-tanya, kemana rasa itu hilang?

Dulu rasanya oke saja untuk menerima ajakan pacaran dari seseorang yang memperhatikanku. Mungkin aku bisa belajar mencintainya sambil jalan. Tapi setelah kujalani selama beberapa bulan ini, rasanya aku lebih suka melajang.

Akhirnya aku sampai juga di tempat janjian makan siangku dengan Tomi. Beberapa piring sudah kosong tergeletak di hadapannya.

“Halo sayang,” aku mengecup pipinya dengan mesra dan saat aku sudah duduk dihadapannya, seorang pelayan menghampiriku untuk menanyakan pesanan makananku.

Aku memesan beberapa makanan dan menawari Tomi juga, “kamu mau pesan apa, say?”

Tomi menyandarkan punggungnya sambil mengusap perutnya dan menghela nafas. Ia sudah kenyang dan tidak sanggup makan apapun lagi.

Setelah pelayan itu pergi, aku kembali minta maaf, “maaf, aku terlambat. Kamu sudah kenyang ya?”

Tomi menghela nafas dengan rasa jenuh yang terlihat jelas di wajahnya, “gak pa-pa, sayang. Orang hidup kan punya prioritas.”

Aduh dia menyindirku! "Iya, karena kamu prioritas utamaku, macet pun aku jalani. Kamu tahu kan betapa nyebelinnya macet Jakarta itu? Maaf ya?"

"Iya sih. Jakarta kalau macet gak kira-kira. Tadi saja aku terjebak macet, untung masih bisa sampai tepat waktu," sindirnya sekali lagi.

Pesanan pun datang dan aku makan sendirian, mendengarkan Tomi yang jelas masih kesal karena keterlambatanku. Pada intinya dia menganggap bentuk keterlambatanku ini sebagai bukti bahwa dirinya bukan lagi prioritas utama dalam hidupku, bahwa tentang kita tidak lagi penting buatku. 

Aku jadi kehilangan selera makan, kuletakkan sendok dan garpu di atas piring lalu memintanya diam sebentar untuk mendengarku bicara, "Tom, kurasa kamu benar. Kurasa aku ga bisa meneruskan hubungan ini.”

Tomi langsung melotot dan mencondongkan tubuhnya mendekat seakan hendak menodongku, "loh! Kok begitu?" 

“Aku sedang berada dalam banyak problematika, dan kurasa kamu kasihan kalau bersamaku di saat-saat seperti ini. Aku tidak mau menelantarkanmu,” kataku, mencoba untuk terdengar bahwa seakan ini semua demi dia. 

Kesunyian merangkul kami berdua, hanya terdengar sesayup musik yang diperdengarkan oleh restoran ini. Kulihat Tomi menggertakkan rahangnya dengan kuat, menahan amarah. Aku cukup mengenalnya untuk mengerti bahwa dia lagi-lagi menyalahkanku karena mencampakkannya. Kurasa alasan apapun yang kuberikan untuknya tidak akan bisa dia terima. Dia hanya ingin dituruti, tak ada kompromi. Aku tidak bisa bersama dengan orang seperti itu.

“Terima kasih atas 7 bulan yang sia-sia, semoga kau puas,” katanya sambil beranjak pergi membawa kemarahannya.

Sia-sia? Ya, benar. Tapi, aku puas? Aku tidak tahu. Karena air mataku menetes melepas kepergiannya, menyadari bahwa kita memang punya momen indah bersama sekalipun aku gagal untuk jatuh cinta padanya. Untung aku duduk di tepi jendela sehingga tidak akan ada yang memperhatikanku menangis. 

Alasan lain kenapa aku menangis adalah karena aku tidak tahu apakah keputusanku ini salah atau benar. Bagaimanapun saat ini aku sedang banyak pikiran dan stres sedikit, aku butuh seseorang untuk berbagi kebahagiaan; sosok seorang kekasih. Tapi aku malah mengusirnya pergi. Aku benar-benar bingung.

Seorang pelayan datang memberikanku sebuah mangkuk berisi es krim sundae coklat dengan buah strawberry di atasnya.

Perhatianku pun teralihkan, “maaf, aku tidak memesan ini.”

Saat kutatap pelayan itu, aku tertegun. Baru kali ini kulihat lelaki yang begitu bersih dan rapi tanpa mengesankan bahwa ia seorang gay. Wajahnya sangat tampan mirip dengan aktor Hollywood; Zachary Quinto.

“Semangkuk Sundae, gratis karena anda pemesan ke seratus hari ini,” katanya sambil tersenyum penuh kasih.

Kemudian ia memberikanku sehelai tisu baru dari nampannya. Aku menerimanya dan menyeka air mataku. Untuk sebuah alasan yang tidak bisa kujelaskan, aku berhenti menangis dan rasanya beban yang sejak kemarin menghantuiku menghilang perlahan-lahan.

“Silahkan dinikmati sundaenya,” katanya sambil tersenyum.

Aku pun mencoba sepotong es krim sundae coklat itu.

Teksturnya sangat lembut, harum coklat yang kuat tercium dari sana, dan di dalam mulut, potongan sundae itu meleleh menggetarkan indera perasaku seketika. Entah mengapa, aku merasa sangat bahagia. Sungguh bahagia hingga rasanya aku ingin menangis karena perasaan yang meluap dari batinku.

“Enak sekali … aku baru kali ini makan sundae seenak ini. Apa namanya?”

Lelaki itu mengembangkan senyum tipis pada bibirnya yang kemerahan, “tebaklah.”

Oke, ia sepertinya hendak melakukan permainan sederhana denganku. “Hmm…Sundae coklat strawberry?”

Lelaki itu hanya tersenyum sambil menggeleng. Memintaku untuk menebak lagi.

Aku menyebutkan beberapa nama mulai dari yang sederhana hingga yang nyeleneh. Tapi ia selalu tersenyum dan menggeleng.

“Aku akan memberimu waktu untuk menebaknya. Siapa tahu kau mengetahuinya setelah semuanya habis,” katanya sambil permisi dari hadapanku.

Aku menyuap satu sendok lagi. Rasa sundae itu semakin nikmat. Saat aku melirik ke luar jendela dan menerawang, aku kembali teringat padanya.

Dia, seorang pemuda dari masa lalu. Orang yang menjadi alasanku tidak bisa mencintai pemuda lain selama aku berkuliah. Orang yang kehadirannya selalu membuatku gugup setengah mati sehingga tidak bisa berlaku wajar di sekitarnya.

Aku mengenalnya sebagai kekasih teman kuliahku, Lasmi. Awalnya aku tidak tahu namanya, aku bahkan tidak menyadari kehadirannya hingga saat itu, ia berani mendebat teori dosen kami yang galak dan kolot, Erwin Muchtar.

Pak Erwin mengatakan bahwa untuk membuat film yang bagus, yang terpenting adalah inti dari cerita dan moral yang akan disampaikan. Dan pemuda itu, pemuda yang selalu tidur setiap kali dosen mengajar padahal ia selalu duduk di bangku terdepan. Pemuda yang nilainya sangat rata-rata dan selalu dipanggil dosen pembimbing. Pemuda yang selalu merokok seperti pengangguran masa depan suram di depan kantin kampus bersama dua orang temannya yang terlihat seperti preman….

Siapa sangka pemuda itu ternyata bisa mendebat ucapan Dosen tergahar di fakultas dengan debatan yang begitu … entahlah … tajam, angkuh, manipulatif, … namun juga membuktikan betapa kritis dan cerdasnya dia. Sekalipun sedikit drama juga, sih.

Untuk sebuah alasan, ia berhasil meyakinkanku bahwa film yang baik bukanlah film sarat moral baik dan pesan kebijaksaan yang selama ini kupikir harus ada. Ia berhasil meyakinkanku bahwa film yang baik adalah film yang disukai oleh banyak orang. Ia tidak terpaku pada pesan moral, menurutnya tidak masalah bila membuat film setan sekalipun asalkan orang-orang bisa mengambil manfaat dari film itu, entah manfaat emosional maupun psikologis.

Barangkali orang menganggapnya sombong atau tidak berilmu setelah perdebatan sengit itu, dimana Pak Edwin akhirnya menjadi naik pitam dan tidak lagi mau mengajar di kelas kami. Seluruh kelas membencinya … tapi aku selalu memperhatikan dia sejak itu.

Aku menyuap sepotong sundae lagi, dan aku terus ingat hal-hal kecil yang terjadi diantara kami. Saat aku merasa gugup ketika ia menghampiriku untuk menanyakan ..

“Hai, sudah makan siang?”

Bukannya menjawab bahwa aku belum makan siang, aku malah menjawab, “oh, hehehe…aku baik-baik saja.” Lalu memanggil Rudi yang kebetulan lewat dengan menyebutnya "Anwar", dan menghampirinya dengan gugup hingga kakiku terantuk meja.

Aku tersenyum sendiri. Aku pasti terlihat sangat bodoh saat itu.

Apalagi ketika dia baru bercukur dan terlihat rapi. Ia terlihat semakin manis dan membuatku semakin tidak bisa memalingkan perhatianku.

Entah mengapa pada suatu saat kemudian Lasmi menggosipkan tentang dia.

“Ugh dia pelit banget. Pacaran sama dia cuma makan ati, tauk! Udah ga punya kendaraan, kemana-mana pake angkot, dia ga pernah traktir gue. Padahal kakak gue kalau punya cewek pasti dibeliin macem-macem mulai dari tas sampe baju bagus. Ini perhiasan aja gue harus minta dulu. Udah gitu hari ulang taun gue juga dia sering lupa, baru ngucapin dua hari setelah basi,” kata Lasmi dengan penuh kebencian.

Tampaknya teman-temanku yang lain juga terbawa. Yuliana terlihat mencibir jijik. “Gue ngeliat dia ngerokok bareng Ruri sama Ardi aja udah sumpek! Untung lo cepet-cepet putus sama dia, Mi.”

Tidak hanya dari teman-teman terdekatku saja testimoni jelek itu kudengar. Tapi juga dari orang lain. Banyak sekali kabar miring tentang dia, mulai dari pengguna narkoba, terlibat kekerasan antar geng, dan lainnya. Dengan sedih aku memutuskan untuk melupakan perasaanku padanya.

Aku menyuap satu sendok lagi dan menikmati sundae coklat ini. Rasanya semakin enak sehingga aku ingin lagi dan lagi. Setiap suap terasa begitu menggetarkan dan saat kutelan, rasa dinginnya yang sejuk mententramkan batinku. Tanpa terasa, sundae tersebut sudah habis.

“Enak sekali … terima kasih. Seharusnya restoran ini bisa laku hanya dengan menjual sundae ini saja,” kataku ketika pelayan itu kembali lagi untuk mengambil piring-piring kosong di atas meja makanku.

Pelayan tampan itu kini mulai berbicara, “Kau tidak pernah melupakan dia, bukan?”

Oke, itu sangat mengejutkan. Darimana dia tahu apa yang kupikirkan?

Sejak aku melihat mantan Lasmi terakhir kalinya di acara wisuda kami, aku tidak pernah bisa melupakan dia. Semakin aku berusaha melupakan dia, semakin aku merasa sedih seperti hendak mengamputasi bagian tubuhku sendiri. Semakin aku memelihara perasaanku, aku semakin tersiksa karena jarak diantara kami yang begitu jauh. Tampaknya aku takkan bisa bersamanya. Tidak ada kesempatan dan ketika ku add dia di jejaring sosial, aku tahu bahwa dunia kami semakin menjauh.

Ketika aku mengikuti perkembangan statusnya di facebook, beberapa kali ia memposting shoutout bertema cinta dan rindu. Tampaknya ia sudah memiliki pacar sekarang. Aku begitu patah hati pada seseorang yang bahkan tidak pernah mengobrol lebih dari dua percakapan. Bagaimana ini bisa terjadi? Sedemikian konyol dan berlebihannyakah cinta itu? Inikah cinta?

“Kau masih ingat teori hukum gravitasi?”

“Tarik menarik?”

“Manusia adalah makhluk emosi. Mereka menarik apapun yang mereka cintai dan mereka benci. Apakah kau percaya dengan hukum itu?” kini pelayan tampan itu mengkerutkan kedua alisnya, bertanya padaku dengan ekspresi setengah tidak percaya.

“Manusia sebagai pusat gravitasi…”

“Bila satu saja keinginan terbesarmu di dunia ini akan dikabulkan, apa yang akan kau mohonkan?” tanyanya dengan tenang.

Aku tersenyum. Aku ingin menyebut nama pemuda itu, tapi … rasanya aku tidak terlalu yakin… “Aku ingin terus menikmati sundae ini.”

Lelaki itu tersenyum lembut padaku, “nama sundae yang barusan kau nikmati itu adalah “cinta”.”

Aku hanya terpaku dalam hening ketika pelayan itu dengan ramah pamit padaku dan pergi ke dapur restoran dan tidak pernah muncul lagi.

Aku memang tidak pernah lagi menikmati sundae itu secara langsung, namun rasa nikmat yang kurasakan ketika menyantapnya tetap terasa di lidahku dan dihatiku. Aku tidak bisa berhenti tersenyum dan seakan lupa sama sekali dengan semua kecemasan dan kekhawatiranku akan dunia ini.

Dan untuk sebuah alasan, aku selalu mengingat Krisna setiap menit, bahkan saat aku tertidur. Dan setiap kali aku mengingatnya, aku merasa ia begitu dekat denganku, ada di ruangan sama denganku. Dan itu membuatku senang.

Dua hari setelah pertemuanku dengan lelaki misterius itu, aku yang biasanya menolak segala sesuatu yang beresiko besar, kini menerima proposal Tedi. Dalam waktu dekat, kita akan membuat film animasi tentang kehidupan damai sebuah desa yang berjuang untuk memajukan tempat tinggal mereka agar tidak digusur oleh pengusaha setempat dan mendapat perhatian pemerintah. Target audiencenya adalah anak-anak.

Kami membutuhkan storyboard artist, editor, animator, dan scriptwriter yang handal. Kami akan bersungguh-sungguh menciptakan karya ini, aku tidak khawatir lagi akan salah memutuskan.

“Aku sudah menyeleksi calon-calon kru proyek ini, tinggal menunggu keputusanmu saja, kapan kita akan mendiskusikan proyek ini bersama mereka,” kata Tedi dengan bersemangat.

“Hmm…baiklah. Aku ingin membicarakannya dengan santai sambil minum kopi atau sundae,” kataku.

“Starbucks saja.”

“Boleh.”

“Kapan?”

“Besok?”

“Sempurna!” Tedi menyeringai. Ia segera menghubungi orang-orang yang telah ia pilih untuk berkumpul di Starbucks besok siang.

Malam ini, aku kembali bermimpi. Dan di mimpiku, aku menikmati es krim sundae coklat dengan toping strawberry. Rasanya sangat lezat.

Belum ada komentar untuk chapter ini.

Jadi yang pertama?