I Love Myself

Kau pasti tahu bahwa setiap orang memiliki satu hari dalam satu tahun yang menjadi hari khususnya. Di hari itu, seseorang seharusnya bahagia, atau dibuat bahagia. Setiap orang di sekitarnya memberikan harapan pada yang seharusnya sedang bahagia itu, memberikan apresiasi berupa sesuatu yang disebut sebagai hadiah, diberikan surprise…dan di puncak acara, ia meniup lilin sambil mengucapkan sebuah keinginannya di tahun ini.

Ketika ayahku meniup lilin di hari spesialnya, ia ingin rekening bank nya menampilkan digit-digit yang bisa membuatnya tersenyum sepanjang tahun dan dia akan mengucapkan keinginan itu sekali lagi di tahun berikutnya. Ketika ibuku meniup lilin di hari spesialnya, ia ingin anak-anaknya menjadi anak-anak manis yang bisa membuatnya bangga dan kenaikan gaji sebagai ibu rumah tangga. Saat giliran kakakku meniup lilin di hari lain, aku tahu dia pasti berharap seseorang membelikannya Harley Davidson.

Darimana aku tahu semua keinginan mereka? Hei, aku ini hidup bersama mereka selama 18 tahun lamanya! Sudah pasti aku tahu apa yang ada dalam pikiran menjijikkan mereka. Menjijikkan karena mereka mengucapkan keinginan bagi mereka sendiri. Kenapa mereka tidak perduli pada keinginan dunia, sosial dan orang lain? Dan dalam keinginan mereka, mereka ingin orang lain berubah untuk mereka. Menjijikkan.

Pada hari ini, orang-orang munafik yang merasa diri mereka sebagai temanku, datang ke rumah dengan pakaian rapi. Mereka semua terlihat tampan dan cantik. Tubuh mereka beraroma parfum yang wanginya benar-benar menyengat. Ugh. Menjijikkan.

Ibuku dan tetangganya dengan senyum palsu membawakan kue dengan lilin berjumlah 18, menyanyikan lagu selamat ulang tahun dan memaksaku untuk melakukan ritual hari spesial yang menjijikkan ini. Aku tidak punya pililhan lain selain mengikuti keinginan mereka yang kekanak-kanakan.

Maksudku … ini semua begitu bodoh, bukan? Aku sudah 18 tahun! Lihatlah kue mahal ini. Pasti harganya ratusan ribu. Ditambah lagi rasanya tidak enak. Dan teman-temanku yang menyantapnya sibuk memuji-muji kenikmatan rasanya. Sekarang kau tahu kenapa kusebut mereka “munafik”, bukan?

Terlebih lagi kenalanku yang bernama Astrid. Lihatlah betapa munafiknya dia saat menjilat ibuku. Astrid orang miskin bahkan motorpun tidak punya. Ia mendapat nilai bagus karena mencontek. Aku tahu dia mencontek sekalipun aku belum pernah melihat dia mencontek. Hari gini gitu loch … siapa sih yang gak nyontek?

Sungguh menyedihkan generasi muda bangsa Indonesia ini harus dipimpin oleh para pencontek 10 tahun lagi. Hanya aku yang tidak mencontek dan bila nilaiku jelek, aku dimarahi guru karena nilaiku yang jelek itu. Tapi bila nilaiku bagus, aku dikira mencontek oleh guruku dan diawasi ketat pada ujian berikutnya. Sungguh hidup yang menyesakkan.

Di dunia ini, kau hanya akan bertahan bila kau berlaku licik, jahat, egois, dan sesat. Lihatlah orang-orang yang kaya karena korupsi. Mereka berbuat jahat, tapi lolos dari hukum. Mereka pun mampu mendapatkan apapun yang mereka mau.

Aku sama sekali tidak mengerti kenapa Tuhan menciptakan dunia ini. Kurasa ia hanya ingin membuang manusia saja agar semua orang masuk ke neraka. Namun ia tidak menyangka ada satu atau dua orang yang lolos dari perangkapnya dan akhirnya diberi penghargaan, masuk ke dalam surga. Tapi kalau boleh jujur, aku tidak percaya pada akhirat. Aku percaya bahwa manusia mati seperti tikus mati yang terlindas mobil di aspal.

Untuk apa kita hidup kalau akhirnya kita mati juga? Lebih baik dipercepat deh.

Kutiup lilin angka 18 yang menancap pada puncak kue ulangtahunku sambil mengucapkan keinginanku tahun ini; mati.

Dan ibuku tersenyum palsu di hadapan teman-temanku sambil mengecup kedua pipiku. “Selamat ulang tahun, Aisha…”

Lagi-lagi aku harus bangun tidur dan mempercepat gerakanku karena aku sudah sangat terlambat. Kuliah dimulai pukul sembilan pagi, dan sekarang sudah setengah sembilan. Aku harus berangkat menggunakan busway dan transit satu kali, lalu perjalanan panjang di busway itu kuteruskan menggunakan angkutan umum setelah itu masih harus jalan kaki selama kira-kira sepuluh menit. Semua itu tidak akan cukup hanya dengan waktu setengah jam saja. Aku butuh waktu satu jam, itupun kalau lalu lintas lancar dan semua mobil di Jakarta diledakkan.

Pada hari yang menyusahkan ini, ibuku malah mempersulitku dengan mencari-cari kesalahanku yang membuatku terlambat.

“Kamu sih kemarin nonton film terlalu malam.”

“Aku gak nonton film!”

“Main internet.”

“Enak saja!” aku tidak akan sudi memberitahukan orang yang telah mengutukku dengan cara memberikanku hidup ke dunia ini, jawaban yang benar. Aku insomnia.

Bukan karena aku membencinya sehingga aku tidak mau jujur pada ibu. Tapi karena ia tidak akan memahami bahwa aku sakit insomnia. Ia akan menganggapku gila dan berbohong, hanya karena ia tidak tahu apa itu insomnia. Orang bodoh yang menganggap orang lain yang tahu lebih banyak darinya sebagai orang gila dan terlalu banyak alasan. Aku muak dengannya!

Ayahku diam saja sambil menungguku di muka pintu rumah. Ia memberikanku sejumlah uang saku. Hanya dua puluh ribu rupiah saja untuk perjalanan jauh melelahkan dan memakan waktu seharian itu! Kalau ongkos transport saja sekitar dua belas ribu rupiah, maka ini berarti aku hanya dapat makan di sekitar kampus dengan menu yang harganya kurang dari delapan ribu rupiah? Orang tua apa sih yang tidak bisa membahagiakan anaknya?

Aku harus berjalan kaki jauh sekali hingga mencapai halte busway terdekat. Dan setelah melihat jembatan halte itu, aku mengeluh karena harus naik tangga. Dan yang lebih menyebalkan lagi, disekitar mulut tangga jembatan penyeberangan itu ada sekelompok pasukan ojek! Aku benci abang-abang ojek! Mereka semua kotor, bau dan kulitnya berminyak! Dan lagi mereka centil-centil dan sok kenal sok dekat.

Ketika akhirnya aku membeli tiket busway, di dalam halte aku semakin merasa bete. Jam sudah menunjukkan pukul sembilan kurang sepuluh menit. Dan aku masih terjebak di sini, entah kapan mobil busway yang akan membawaku ke halte transit itu tiba.

Aku benar-benar menunggu seperti orang bodoh! Kenapa bus itu lama sekali datangnya?! Begitu satu bus datang dalam keadaan kosong melompong, bus itu tidak berhenti dan terus lewat. Oh…! Dia pikir tidak ada yang berkepentingan mendesak?! Aku benar-benar stres dan kesal. Bayangan mengenai apa yang akan terjadi bila aku sampai tidak masuk hari ini menghantuiku. Aku sudah sering absen, dan bila aku absen sekali lagi, aku harus gugur semester ini dan mengulang lagi semuanya. Dan itu berarti akan lebih banyak lagi hari-hari dimana aku harus naik tangga dan melewati pangkalan ojek dan menunggu bus seperti pengangguran!

Aku begitu kesal dan ingin merusak sesuatu. Tapi kalau kulakukan di sini, sudah pasti satpam busway yang sedang berjaga di halte akan menegurku dan bisa-bisa aku dilaporkan ke kantor polisi atau ekstrimnya, rumah sakit jiwa.

Suasana terik dan panas pada hari ini semakin menambah rasa kesalku. Aku benar-benar kesal dan sedih, rasanya aku ingin mati saja! Kenapa aku tidak mati saja?!

Setelah aku tiba di kampus, kelas sudah selesai. Ini berarti aku sudah sangat terlambat untuk absen dan gugurlah sudah semester ini. Dosenku menegurku dengan halus.

“Kamu datang telat terus. Padahal kamu cukup cerdas. Aku hitung untuk mata kuliahku, kamu sudah bolos lewat dari yang seharusnya. Sebenarnya kamu ini kenapa? Kamu tidak bisa meremehkan satu pelajaranpun. Semua hal yang diberikan padamu itu penting, jangan sekali-kali kau remehkan. Aku harap kau bisa memperbaiki kekuranganmu, aku tidak mau tahu apa itu sehingga kau bisa lulus dari kampus ini dan membanggakan orangtuamu.”

Aku melirik ke arah lain. Kulihat teman-teman sekelasku, tertawa cerah dan gembira. Mereka bercanda dan bergurau, saling meledek dan bersenang-senang. Entah mengapa semua itu terlihat palsu dimataku.

Kini aku berada di puncak gedung kampus yang sepi. Kulihat ada awan hitam yang mengepul di kejauhan. Sebentar lagi akan turun hujan. Kukeluarkan sebatang rokokku dan mulai menyalakannya untuk menghisapnya.

Aku terbatuk, tercekat oleh asap rokok itu. Aku tidak terlalu sering merokok sekalipun kadang aku ingin sekali menjadi perokok. Aku membeli merk rokok yang sama dengan yang dipakai ayahku. Ayah yang tidak berguna. Satu-satunya hal yang ia ajarkan padaku hanyalah merokok. Ironisnya, ia mernah menamparku keras-keras karena melihatku merokok. Munafik. Menjijikkan.

Baru setengah kuhabiskan rokok itu, kepalaku sudah terasa pusing, aku merasa seperti akan mati. Bagus, kan kalau aku mati keracunan rokok?

Aku menyembunyikan apa yang terjadi padaku bahwa aku gagal di semester ini hanya karena absen dari orangtuaku. Aku tidak tahu harus berkata apa pada mereka, lagipula aku kenal mereka. Sudah pasti mereka akan mencaciku dan memarahiku. Mereka hanya tahu jadi, kemudian menuntut lebih. Aku muak dengan itu. Setiap hari aku tetap berangkat ke kampus dan hanya merokok di atap gedung kampus yang sepi.

“Ayo rokok, nikotin, bunuhlah aku. Bakar habis paru-paruku dan kontaminasilah darahku yang menjijikkan ini.” Gumamku ketika kepalaku kembali terasa pusing dan berat.

Mendadak seseorang menyodorkanku sekaleng obat nyamuk. Aku hanya terbengong saja atas interaksi dadakan itu dan menoleh ke wajahnya.

Ia adalah seorang lelaki muda, usianya mungkin antara dua puluh lima hingga tiga puluh tahun. Wajahnya sangat bersih dan penampilannya sangat rapi. Ia mengenakan kaus oblong berwarna putih polos dengan celana khaki yang juga berwarna putih. Sepatunya pun sepatu kets berwarna putih. Barangkali dia adalah seorang mahasiswa di sini.

Ada satu hal yang menarik darinya. Wajahnya sangat tampan dan tatapannya begitu lembut. Ia mengingatkanku dengan Gaston Castano, hanya saja ototnya lebih berisi sedikit. Ia menatapku dengan yakin dan lembut. Tatapan yang seharusnya bisa membuat siapapun merasa disanjung dan mereka yang berhati lemah akan jatuh cinta seketika.

Namun sesuatu yang terpancar darinya tidak mengarah kepada cinta yang seperti itu. Pembawaannya tidak seperti cowok-cowok playboy lain yang mengatakan secara tidak langsung: “Kau akan jatuh cinta padaku.”

Pembawaannya lebih kepada : “Aku mengasihimu, temanku.” Atau; “Aku sangat mengenalmu dan aku mengasihimu.”

“Siape luh?” tanyaku ketus, namun entah kenapa aku seakan tidak bisa menyemburkan kata-kata itu ke wajahnya seperti yang kulakukan pada orang lain yang sok kenal sok dekat seperti dia.

“Ini bisa membunuhmu lebih cepat daripada itu.” katanya.

“Ih, gila.” Kataku singkat. Aku tidak tahu lagi harus berkata apa padanya, dan suasana menjadi begitu aneh. Mahasiswa ini pasti mau mencari kesempatan. Aku tidak boleh terjebak dalam aura playboynya. Saat ini lebih baik kudiamkan saja dia agar dia pergi sendiri.

Lelaki itu meletakkan obat nyamuk tersebut di hadapanku dan ikut berjongkok. “Rokok tidak akan membunuhmu, tidak tahun ini. Tubuhmu cukup sehat untuk mati mendadak karena rokok.”

“Ih. Sotoy lu. Gue ngerokok karena gue suka. Bukan karena gue pingin mati!” dalam hati aku penasaran darimana dia tahu bahwa aku terlalu pengecut untuk menyayat pergelangan tanganku atau terjun bebas dari puncak gedung dan memilih mati perlahan dengan merokok.

“Bukan hanya kamu kok yang mau merokok biar bisa mati.” Katanya sambil tersenyum-senyum.

Aku mengamati wajahnya saja. Cara dia tersenyum tidak lebar seperti orang biasa. Senyum yang begitu tipis dan sejuk. Kelihatannya dia bukan orang yang mudah terpancing emosinya. Segulung asap rokok dari paru-paruku, kuhembuskan langsung ke wajahnya. “Mentang-mentang lu gak ada nyali buat ngerokok, jangan sok menasihati deh. Setiap orang itu muna, tau.”

“Muna?”

“Munafik.” Jawabku sedikit kesal karena orang ini begitu bodoh sampai ia tidak tahu arti muna. Orang ini pasti sangat kuper.

“Munafik bagaimana?”

“Yah…kau tahu. Setiap orang itu menjijikkan. Mereka tidak segan-segan memanfaatkan orang lain hanya demi kepentingan sendiri. Mereka sangat bodoh tapi menganggap diri paling pintar. Mereka bicara banyak namun sebenarnya mereka hanya sedang pamer diri saja. Ironisnya, tidak ada tempat bagi mereka yang tidak munafik di dunia ini. Dunia ini adalah sarang para serigala munafik untuk saling memangsa.” Kataku sambil tersenyum jijik saat mataku menerawang menembus awan.

“Apakah kau munafik?”

Entah mengapa aku merasa merinding mendengar pertanyaannya. Saat kuhisap asap rokokku, aku merasa hampa. Tanpa terasa rokok di tanganku sudah habis dan aku mematikannya. “Akhirnya…itu rokok terakhirku. Padahal aku masih ingin lagi.”

Kemudian ia merogoh kantung celana khakinya dan mengeluarkan sebungkus rokok yang belum pernah kulihat sama sekali. Bahkan tidak ada namanya. Ia menyodorkannya padaku.

“Hmph…kau melarangku merokok tapi menyimpan rokok juga. Itu bukti bahwa kau munafik.” Kataku sambil mengambil sebatang rokok. Ia hanya tersenyum lembut seperti biasa seakan ucapanku sama sekali tidak berpengaruh untuknya.

Rokok yang sedang kugenggam ini terlihat sangat unik. Baunya agak pahit dan menyesakkan. Namun aku tahu ini harum tembakau. Hanya saja aromanya berbeda dari tembakau biasanya.

“Rokok apa nih?”

“Namanya “Kesedihan”.” Jawabnya.

Aku tertawa keras. Sungguh, aku tertawa. Aku jarang tertawa, tapi aku ingin tertawa sekarang. “Ngawur lu.”

Lagi-lagi ia tidak terlihat tersinggung dan aku tidak mendapati ekspresi lembutnya yang bersahabat itu berubah menjadi kelam atau marah.

Sebelum aku meraih pematikku, ia sudah lebih cepat menyalakan api di hadapanku. Ketika aku hendak menyalakan rokokku, ia menariknya menjauh.

“Kau yakin?” tanyanya.

Tentu saja aku menjadi kesal. “Hei, tadi kau beri aku rokok kesedihanmu, sekarang aku mau menyulutnya dan kau malah menariknya kembali.”

“Menyulut kesedihan akan membunuhmu perlahan, seperti rokok.” Katanya.

“Gak usah sok puitis deh. Gue bisa nyalain sendiri kok.” Kataku sambil menyalakan pematikku sendiri dan rokoknya yang ia namakan kesedihan itu mulai menyala.

Aku menghisapnya perlahan dan menghembuskan asapnya. Kini di antara kami hanya ada kebisuan. Ia mengamatiku merokok, dan aku tidak ingin bicara apapun saat ini. Rokoknya sangat cocok denganku. Aku tidak terbatuk atau pusing seperti saat aku merokok biasanya. Masih tetap menyesakkan, tapi aku sangat akrab dengan rasa sesak ini.

Ketika kedua mataku mengamati asap-asap rokok yang mengepul di udara itu, muncul sebuah penglihatan. Sesuatu yang pernah terjadi namun aku tidak sempat melihatnya.

Kulihat ibuku, di rumah tetanggaku. Sedang membuat cake. Bodoh sekali. Dia kan tidak bisa membuat cake. Hei, bukankah yang ada di atas meja itu angka 18? Itu … kue ulang tahunku?

Ibu terlihat lelah dan senang saat membuatnya. Membuat cake tidak semudah yang terlihat di televisi. Kadang ibuku lupa waktu sehingga cakenya hangus, ia harus mengulangi lagi, menyangrai tepung dan gula halus. Debu dari tepung dan gula halus itu beterbangan menempel pada permukaan kulitnya yang berkeringat karena panas. Namun ia dan temannya masih tersenyum dan bercanda.

“Sudah beli saja. Seratus ribu juga dapat.”

“Gak apa-apa. Sekali-kali aku pingin buatkan sendiri untuk Aisha.”

Ketika sudah jadi, kue itu ditinggal sebentar karena kedatangan teman mereka yang lain. Ada kucing garong yang terkenal sangat kurang ajar di lingkungan tempat tinggal kami. Ia naik ke atas meja makan yang sedang tidak dijaga seorangpun dan memakan kue itu.

Menyadari itu, ibuku jadi lemas. Mereka kehabisan bahan dan harus belanja lagi. Teman ibuku sudah sangat lelah dan wajahnya kelihatan menyerah. Tapi ibuku tetap bersikeras ingin membuatkan kue itu dengan tangannya sendiri.

Kemudian aku kembali teringat akan kejadian persis satu tahun lalu…di hari ulangtahunku yang ke tujuh belas.

Satu keluarga sudah berkumpul di meja makan. Ayah, ibu dan kakakku. Ada kue ulang tahun terhidang di tengahnya. Mereka menungguku pulang hingga pukul sembilan malam dan belum makan malam karena menungguku.

“Aisha, sini tiup lilinnya.” Kata ayahku dengan ramah.

Aku sudah sangat lelah dan malah bergumam kesal. “Apa sih? Aku cape ah!”

“Ayo sini lah. Udah ditungguin seharian. Laper nih. Gue dimarahin kalau makan duluan.” Kata abangku dengan wajah kusut.

Sungguh merepotkan! Aku terpaksa duduk di meja makan dengan wajah manyun. Mereka menyanyikan lagu selamat ulang tahun dan memaksaku meniup lilin, membuatku merasa seperti anak kecil. Orangtua, kapankah kau sadar anakmu sudah dewasa? Katanya 17 tahun berarti dewasa. Tapi aku masih diperlakukan seperti anak-anak begini, manusia memang munafik dan tidak tahu apa yang sedang mereka lakukan. Menjijikkan.

Aku meniup lilin dan mereka bertepuk tangan sambil berbahagia.

Aku benci melihat senyum mereka.

“Ayo dimakan kuenya.” Kata ibuku sambil menghidangkan cake itu padaku.

Aku merasa sangat muak dengan kepura-puraan mereka! Sejak kapan keluargaku bisa lembut? Ayah dan kakak seringkali bertengkar sehingga harus dilerai kami. Ibu sejak kecil selalu marah. Kakak pun hanya lulusan SMA, tidak diterima universitas manapun. Mereka tidak punya alasan untuk tertawa!

Selera makanku hilang dan aku beranjak pergi dari meja makan sebelum menghabiskan makananku.

“Aisha kok ga dihabisin kuenya? Ini mahal loh belinya. Dua ratus ribu.” Bujuk ibuku.

Ayahku juga ikut membujuk. “Ini sengaja beli buat kamu. Bukannya kamu suka black forest?”

“Aku tidak minta dibelikan. Bahkan untuk ulangtahun pun, penggembiranya dibuatkan oleh orang lain.” gerutuku sambil masuk ke kamar dan mengurung diri dari keluarga.

Kini kulihat apa yang terjadi di ruang makan yang tidak sempat kulihat saat itu. Ibuku menangis tanpa suara. Ia bukan tipe orang yang menangis di muka umum, ini berarti kesedihannya tidak tertahan lagi.

Ayah menghampiri ibu dan merangkulnya. “Cuma omongan saja kok. Gak usah dimasukin ke hati.”

“Aku menangis bukan karena omongannya. Aku merasa bersalah pada Aisha, sejak kecil selalu disiplin mendidiknya untuk terus belajar agar tidak bodoh seperti aku dan tidak susah cari kerja seperti kamu. Tapi ternyata keinginanku malah membuatnya tidak bahagia. Andai aku bisa mengulang waktu, aku ingin dia bisa bermain seperti anak lain dan bahagia.” Katanya sambil menangis semakin pedih.

Ayah dan kakakku hanya bisa menghibur ibuku tanpa bisa berkata apapun.

Aku mengusap wajahku yang basah oleh air mata. Lelaki di sebelahku tidak mengatakan apapun, membiarkanku menikmati waktuku sendiri.

Kemudian muncul kenangan lain. Saat aku masih kecil. Aku sedang berusaha untuk tidur karena besok akan sekolah. Tapi kedua orangtuaku malah bertengkar hebat. Suara ayah menggelegar seperti ingin menyambar gendang telinga siapapun yang menangkap suaranya.

Dimana abang? Kenapa dia tidak menolong ibu?

Akupun khawatir pada ibuku, takut ia dipukul ayah. Aku membuka pintu sedikit untuk mengintip keluar. Mereka sedang bertengkar di ruang tamu. Wajah ibu melotot seperti kodok, wajah ayah tidak kalah jelek, seperti monster.

Dan abang…

Abang duduk santai di depan televisi, mentertawakan film aksi yang sedang diputar di televisi. Seakan tidak ada yang bertengkar hebat di belakangnya.

Aku menjadi geram padan abang. Anak macam apa itu?! Bahkan ketika suara-suara pertengkaran semakin keras, abang tetap tidak perduli.

Hingga akhirnya ibu mengambil kunci motor dan pergi meninggalkan rumah, aku mulai menangis. Aku menangis sejelek-jeleknya, aku tidak perduli. Sambil berurai air mata, aku dengan kaki kecilku berlari-lari keluar kamar menyusul ibuku sambil merengek memanggilnya. Aku menangis sejadinya, khawatir kemana ia akan pergi, merasa ia takkan kembali lagi.

“Diam!!” bentak ayah padaku.

Aku terkejut dan terdiam seketika. Ayah masuk ke dalam kamar sambil membanting pintu. Bantingan pintunya serasa membanting batinku. Berdebam begitu keras.

Aku menghampiri abang dan menarik-narik lengannya sambil menangis. “Bang, ibu kemana? Abang, cari ibu yuk…”

Aku merasa begitu tak berdaya dan hanya bisa menangis agar abang kasihan padaku. Abang menatapku nanar dalam bisu. Kemudian ia masuk ke dalam kamarnya dan mengambil jaket. Setelah itu ia mengambil sepedanya. Aku cepat-cepat menyusulnya. “Abang, aku ikut. Aku takut sama ayah.”

Karena sepeda abang tidak ada tempat untuk orang kedua dan aku terus memaksa ikut, ia hanya menggandengku sambil berkeliling kompleks mencari tanpa arah kemana ibu pergi. Di sebuah jalan, kami berpapasan dengan teman abang. Mereka mengobrol sebentar, abang sama sekali tidak mengatakan bahwa kami mencari ibu kami yang pergi meninggalkan rumah.

Mendadak sekelompok orang datang menghampiri kami. Mereka terlihat menyeramkan, menghisap rokok dan membawa pentungan. Aku tidak mengerti apa yang terjadi, namun abang menitipkanku pada temannya. “Sha, pulang deh. Ibu sudah pulang tuh.”

Aku menatap sekelompok orang itu dan merasakan bahaya. Aku tidak bisa berkata apapun dan hanya menatap abangku. Wajahnya terlihat tegang sepintas, namun kemudian ia tersenyum ringan. “Aku mau jajan dulu, mumpung lagi keluar malem. Dah kamu ikut Joni pulang. Jon, titip yah.”

Bang Joni terlihat ketakutan. “I, iya.”

Bang Joni mengantarkanku pulang sampai ke rumah dan abang benar, ibu sudah pulang. Aku memeluk ibu sambil menangis, berharap ia tidak pergi lagi. Aku sudah tertidur saat abang pulang. Aku terbangun karena suara ayah yang marah dan suara ibu yang panik. Abang memang selalu seenaknya. Rasakan dia dimarahi.

Kemudian asap-asap rokok yang mengepul itu menunjukkan lagi padaku apa yang tidak sempat kulihat.

Aku dan abang sedang berjalan-jalan tanpa arah mencari ibu dan motor Bang Joni menghampiri kami.

“Parah si Ipul.” Kata Bang Joni dengan wajah tegang dan gugup.

“Kenapa lagi tuh cumi?” tanya abangku dengan cuek.

“Kemaren dikeroyok gara-gara nyolong jajan di warungnya Juju, sekarang dah sembuh dia nusuk adiknya Yahya.” Kata Bang Joni.

“Parah…trus gimana dia?”

“Dicariin lah sama si Yahya. Ipulnya kabur ga tau kemana. Hati-hati lo temennya Ipul, bisa digebukin.” Kata Bang Joni.

Pada saat itulah Yahya bersama teman-temannya menghampiri kami karena mengenali abang dari jauh. “Gua mau kabur dulu. Lo ikut ga?”

“Gila lo ya? Kalo gue kabur sekarang, mereka bakal gedor-gedor pintu rumah gue. Kayak lo ga tau siapa Yahya aja. Gue titip adek gue aja deh.” abang menaikkanku ke atas motor Bang Joni.

“Hah? Bego lu! Bisa mati lo! Bawa parang mereka!”

Abang tidak menggubris ucapan Bang Joni, ia berkata padaku. “Sha, pulang deh. Ibu sudah pulang tuh.”

Setelah motor Bang Joni meluncur pergi membawaku pulang, abang mencoba mengajak Yahya berbicara. Mencoba bernegosiasi karena sungguh konyol hanya karena mencuri jajan di warung sampai harus membunuh orang. Tapi mereka tidak mau mendengarkannya. Mereka memukuli abang sebagai pelampiasan terhadap Ipul. Abang babak belur, namun dendam antara mereka dengan Ipul sudah lunas.

“Bila kau perhatikan dengan teliti…” ucap pemuda di sebelahku. “…Sesungguhnya bintang-bintang dan bulan tidak pernah hilang. Mereka tetap ada di langit, hanya cahayanya kalah dengan matahari.”

“Aku sudah tahu, itu kan pelajaran SD.” Kataku.

“Sama seperti hal positif dan negatif yang kau saksikan.” Pemuda itu membantuku berdiri. Kemudian kami sama-sama melongok kebawah, banyak orang lalu lalang. Aku bisa memperhatikan gerak-gerik mereka dari atas sini.

“Melihat senyum mereka, kau bisa mengira mereka sungguh bahagia, atau hanya berpura-pura. Seseorang yang berbuat baik padamu, bisa kau artikan memiliki udang dibalik batu atau memang orang itu pemurah. Bila seseorang memberimu kritik, kau bisa merasa tersinggung, atau menganggap mereka peduli.” lanjutnya dengan lembut, “Sama seperti bulan dan bintang di siang hari. Cahaya mana yang ingin kau lihat?”

Aku tertawa lagi. “Mana mungkin cahaya bulan dan bintang bisa mengalahkan cahaya matahari?”

Pemuda itu menunjuk ke langit. Aku mengikuti tangannya dan melihat sesuatu yang sangat fenomenal.

Aku tidak pernah melihat ada bulan dan bintang yang begitu banyak di siang hari. Mereka bertaburan seperti titik-titik awan yang kecil. Hamparan Bima Sakti dengan warna warni yang indah terbentang di langit biru yang cerah.

Aku melongo menatap pemuda itu. “Kok bisa?”

“Bahkan bila kau percaya, kau bisa melihat semakin banyak yang tidak bisa dilihat orang pada umumnya.” Pada saat bersamaan, aku melihat bidadari tertawa dan menari-nari secara beriringan melompat di awan-awan. Mereka bermain kejar-kejaran seperti anak-anak kecil yang manis. Ada burung-burung indah beterbangan di angkasa sambil menebar jejak mereka yang menyerupai pelangi.

“S, siapa kau?” tanyaku dengan gemetar sambil menatap pemuda aneh ini.

“Kau bisa memanggilku “Sang Perantara”.” Jawabnya sambil mengulurkan tangannya. Bagai tersihir, aku menuruti kemauannya, memberikan tanganku untuk digandengnya.

Entah bagaimana caranya, pemuda ini membawaku berkeliling dunia dan aku mulai melihat hal-hal yang terjadi di belahan bumi lain.

Seorang lelaki yang menyapa seorang wanita dengan ramah di Eropa. Dan bunga-bunga pun bermekaran. Sekelompok anak-anak kecil berlarian di padang rumput. Dan kupu-kupu pun lahir, terbang menghiasi taman bunga.

Seorang anak timur tengah, gadis kecil yang baru berusia 4 tahun. Ia berlari-lari kecil membawa bunga liar di tangannya. Gadis itu memberikannya pada seorang tentara kekar yang sedang menenteng senjata. Tentara itu tersenyum dan menerima bunga itu. Dan angin pun bersenandung riang.

Para lelaki memancing di lautan lepas, mereka bersorak sorai ketika berhasil mendapatkan ikan laut yang sangat besar. Setelah berfoto dengan ikan itu, mereka melepasnya lagi ke laut. Dan lumba-lumba masih bisa berlompatan menghiasi senja.

Kilauan cahaya matahari yang terpantul dari permukaan air, bagaikan kilauan emas, hadiah dari alam pada dunia. Aku berdiri di ketinggian beberapa kaki dari permukaan air laut kepulauan seribu, mereka terlihat seperti hamparan batu zamrud yang dilemparkan secara cuma-cuma oleh Yang Kuasa.

Kami mengamati daerah Jepang yang terkena bencana alam baru-baru ini. Ketika gempa bumi sebesar 8,9 SR menghantam lautan Pasifik dan Jepang menjadi korban utamanya. Pun begitu, masyarakat masih tetap tertib. Kesedihan mereka tidak membuat mereka putus asa, relawan datang dan membantu mereka yang tertimpa bencana.

Senyum.

Batinku serasa bergetar hangat, dan aku kembali menangis. Sebuah tangisan kalem yang tidak kuketahui darimana asalnya.

“Mata memang tercipta sebagai organ yang melihat segala sesuatu dengan jujur. Namun selanjutnya, pikiranlah yang mendeskripsikan apa yang kau lihat. Maka dari itu, kadang seseorang hanya melihat apa yang ingin dia lihat saja dan menolak melihat apa yang tidak ingin mereka lihat.” Katanya saat ia mengembalikanku ke dunia nyata.

Aku dan dia saling bertatapan. Aku terpaku tak mampu bergerak, masih merasa takjub akan apa saja yang baru kusaksikan.

“Bila dunia ini buruk dan munafik, maka itu berarti pikiranmu hanya ingin melihat keburukan dan kemunafikan. Padahal bila kau melihat lebih jauh lagi, masih ada banyak sekali cinta bertebaran di dunia ini.” Katanya.

Aku menegak air liur di tenggorokanku yang terasa kering. “Aku…”

Kurasakan ada sesuatu dalam hatiku. Sesuatu yang asing, perlahan mulai bangkit. Sesuatu yang selama ini kubenci, sesuatu itu disebut … cinta.

Apakah aku sudah terlalu terbiasa dengan kebencian sehingga aku ingin muntah saat merasakan cinta? Apakah aku sudah menjadi sedemikian sesatnya?

Kenapa orang ini datang untuk membuatku merasa tidak nyaman?!

“Pergi kau dari hadapanku!!” aku mendorongnya dengan segenap perasaan muak yang kurasakan. Aku sudah merasa nyaman dengan diriku sendiri, aku tidak mau berubah atau menjadi sesuatu yang lain yang bukan diriku. Lalu kenapa bila aku adalah kebencian? Lalu kenapa bila jalanku kelam? Inilah jalanku, aku ditakdirkan menjadi seperti ini!

Setelah mendorongnya, aku berlari pergi meninggalkan Sang Perantara, menuruni gedung kampus.

Kembali sesuatu yang aneh kusaksikan.

Aku menyadari bahwa kampusku sudah sepi. Tidak ada penghuni sama sekali. Seakan semua orang pergi meninggalkan gedung ini beserta isinya. Hanya ada aku, dinding, kaca, pintu, tangga dan lantai.

Lampu pun sudah menghilang sehingga aku merasa terjebak dalam situasi film horor dimana hantu mulai menampakkan wujudnya dan memburu mangsanya satu persatu.

Dengan perasaan berdebar-debar, aku menuruni tangga karena eskalator dan lift sudah padam. Entah mengapa semakin turun ke lantai dasar, aku semakin merasa ngeri dan perasaan ingin dibunuh semakin menguasaiku. Setiap langkah yang kuambil, membuatku merasa seperti ada beberapa langkah-langkah lain yang mengikutiku dengan tenang dan tak sabar untuk menyeretku ke neraka.

Aku sudah sampai ke pintu keluar, namun terkunci rapat. Aku turun ke basement, tempat parkiran kampus dan tempat ini pun semakin gelap gulita. Terdengar lolongan angin yang menelusuri lorong parkiran yang hampa, membuat rambut-rambut halus pada permukaan kulitku berdiri merinding.

Srek!

Apa itu?

Aku menajamkan pendengaranku untuk mencari tahu suara apa itu.

Beberapa kali suara tersebut terdengar secara konstan, semakin jelas dan semakin nyata. Seperti seseorang sedang berjalan ke arahku.

Dan aku melihatnya…

Seorang perempuan membawa pisau di tangannya, menghampiriku dengan cepat. Tatapannya sangat tajam dan hendak membunuhku. Keringat dingin merembes dari tengkuk hingga pinggang, membuatku semakin berdebar-debar. Dengan cepat aku berlari ke atas basement untuk menghindarinya.

Aku menutup pintu basement dan meninggalkan tempat itu penuh rasa takut.

Di tengah aula kampus yang luas, aku benar-benar merasa sendirian. Bukankah ini baru pukul tiga sore? Kenapa? Apa yang terjadi?

“Halo?” jeritku pada kebekuan.

“Ada orangkah di sana??” seruku kuat-kuat.

“Toloooooong……!!” untuk pertama kalinya, aku mengucapkan kata itu, dibarengi air mata keputus asaan. “Tolong…aku terjebak di sini…”

“Dan aku sendirian…” Aku berlutut di atas lantai dalam bingung.

Kemudian seseorang menghampiriku. Langkahnya sangat lembut, dan kurasakan dia kembali muncul dihadapanku.

Sang Perantara berlutut dihadapanku dan mengusap air mataku dengan ibu jarinya. Aku merasa seperti seorang anak kecil yang dihibur oleh ayahnya. “Permainan apa lagi sekarang? Aku lapar dan letih, aku ingin pulang.”

“Tentu saja kau lapar dan letih.” Ucapnya sambil mengangkatku berdiri dengan lembut.

“Keluarkan aku dari sini.” Pintaku.

Sang Perantara hanya menatapku lurus-lurus dengan sepasang matanya yang lembut.

“Aku ingin pulang.” aku memelas. Berharap ia kasihan padaku dan membantuku keluar dari sini.

Sang Perantara membalikkan tubuhnya dan berjalan ke suatu tempat.

Jangan! Jangan tinggalkan aku!

Aku cepat-cepat berlari menyusulnya dan ikut kemanapun ia melangkah. Ia kembali masuk ke dalam basement.

“Jangan ke sana. Ada hantu yang mau membunuhku.” Kataku. Namun ia tidak mendengarkanku dan tetap membuka pintu basement lalu melangkah turun.

“Kau lihat betapa suramnya tempat ini?” tanyanya. “Sementara gedungnya sendiri terlihat kosong dan hampa tanpa kehidupan.”

Karena sejak tadi ia menunjukkan padaku dunia abstrak, aku jadi bisa mengira-ngira arah pembicaraannya. “Ini…inikah…inikah hatiku?”

Sang Perantara tidak menjawab. Ia terus berjalan sampai ke sebuah pintu elevator dan menungguku masuk bersamanya. Setelah aku mengikutinya dan masuk ke dalam elevator, aku terkejut melihat tambahan tombol menuju underground. Di kampusku, basement hanya ada satu yang berfungsi sebagai tempat parkir.

“Kau bawa aku masuk ke dalam hatiku sendiri?” tanyaku sekali lagi.

Ia masih terdiam. Ketika kami sudah berada di basement 3, elevator terbuka dan memberikanku sebuah pemandangan kelam. Ia melangkah keluar dan kami berada di dalam sebuah tempat yang mirip dengan laboratorium yang sudah terbengkalai karena dirusak seseorang…atau sesuatu.

Ketika kami berdiri di depan sebuah pintu, Sang Perantara menatapku dan bicara padaku. “Apa yang kau lihat di balik pintu ini, … mungkin menyeramkan. Tapi inilah kenyataan.”

“Tidak, aku sudah cukup ketakutan hari ini, aku tidak butuh film horor lagi seumur hidupku dan aku tidak mau melihat apapun lagi.” kataku.

“Kapanpun kau siap keluar dari sini, kau bisa menemuiku di sini. Silahkan berjalan-jalan untuk menenangkan diri.” katanya sambil tersenyum lembut.

Oh bagus. Jadi untuk keluar dari sini aku harus melihat adegan horor lagi? Sehoror inikah hatiku?

“Apakah ada monster? Hantu? Setan? Iblis? Neraka?” tanyaku untuk mempersiapkan diri.

Sang Perantara tidak bergeming, enggan memberikan jawaban. Perutku merasa lapar dan aku ingin sekali tidur secepatnya.

“Kenapa kau lakukan ini padaku? Kenapa kau tidak membiarkanku menjalankan rutinitasku? Kenapa kau ganggu aku?” tanyaku pada Sang Perantara.

“Kembalikan aku! Kau … malaikat atau setan, utusan mana aku tidak tahu, mendadak muncul dihadapanku dan mengacaukan segalanya!” Sang Perantara membiarkanku memukuli dan mencakarnya. Ia begitu sabar dan kuat, tidak membalas sedikitpun sehingga membuatku cepat menyerah.

Setelah aku menjadi sedikit lebih tenang, ia menghela nafas dengan sedih. “Ada seseorang yang selalu berdoa pada Tuhanku setiap malam…ia tidak tahu ingin apa darimu. Awalnya ia hanya mengucapkan permohonan, ingin kau menjadi orang berhasil, sukses dan kaya raya. Siang hari ia mengawasimu. Kadang bila kau sedang tidak ada di rumah, ia masuk ke dalam kamarmu dan memandangi foto-fotomu sejak bayi hingga sekarang. Ia sadar dan sangat terluka bahwa cita-citanya malah membuatmu menjauh darinya. Lama kelamaan permohonannya berganti menjadi lebih sederhana; ia ingin kau bahagia.”

Dadaku terasa sesak sehingga aku menghirup nafas lebih dalam lagi. Aku tahu siapa yang dia maksud.

“Namun belakangan ini, ia tidak lagi memohon. Sebagai gantinya, Tuhanku banyak menerima paket kiriman dari ibumu.” Lanjutnya.

“Paket? Gak usah ngelucu deh. Jayus lo!” Kataku, bosan dengan perumpamaan-perumpamaan yang dari tadi terus ia lontarkan.

Sang Perantara menghela nafas sekali lagi, ia tidak bermaksud bergurau. “Ketika kami membuka paket itu, Tuhanku menangis melihat kesedihan ibumu saat kau mengatainya “Bangsat”, menyebutnya “Setan” dan saat kau mendorongnya hingga terjatuh di lantai.”

Kali ini, ucapan Sang Perantara yang tetap tenang itu, menampar wajahku dengan telak. Aku masih ingat kejadian itu. Aku kesal mendengarnya mengomel, aku sangat benci pada ibuku, dan aku tidak ragu lagi mengatainya “bangsat” atau “setan”. Kini kusadari dan kusesali betapa jahatnya aku.

Walau aku masih ingat saat ibu memukuliku dengan raket listrik karena nilaiku jelek. Aku masih ingat ibuku dengan mudahnya menampar mulutku setiap kali aku melawan. Saat itu aku masih kecil, aku sama sekali tidak boleh protes dan harus mengikuti kemauannya. Ia hanya mau aku mendapat nilai bagus dan ranking satu. Namun semakin aku bertumbuh besar, aku semakin kuat, dia semakin menua. Saatnya membalas apa yang ia berikan padaku.

Namun ibuku … kini aku merasa begitu berdosa padanya. Dan kusadari, ternyata cinta ibu dan anak, tidak sesederhana mentari yang menyinari Bumi. Lebih dari itu, mereka terikat oleh ikatan batin yang tidak terlukiskan kata-kata. Setiap anak ingin diterima dan disayang orangtuanya. Kebencian hanyalah kedok dari kemarahan sesaat.

“Ibu…” penyesalan yang begitu besar meliputiku seketika, terutama saat Sang Perantara memberikanku gambaran-gambaran saat ibuku membuatkanku makanan waktu aku bergadang menyelesaikan tugas kuliah. Saat ibuku terharu melihatku sukses lulus SMA dengan nilai terbaik. Ketika aku kecil, ibu senantiasa duduk di tepi ranjang sambil mengipasiku, dan tangan-tangannya melindungiku dari gigitan nyamuk.

Lebih dari itu, ibu menangis saat aku menangis, tersenyum saat aku bahagia. Kini kulihat sorot mata ibu yang sesungguhnya. Ia menganggapku sebagai harta karunnya yang ia simpan baik-baik dalam hatinya. Tatapan itu tidak hanya sewaktu-waktu saja, namun setiap saat.

Kulihat ia bergitu merindukanku yang semakin hari semakin jauh darinya. Kulihat dia berusaha menggapaiku dan berlaku seperti ibu dan anak yang sewajarnya. Banyak hal yang harusnya kami lalui bersama, tapi kami lewatkan. Hal-hal sederhana seperti creambath di salon berdua, belanja pakaian di mall, atau hanya sekadar mengobrol santai. Setiap kali ia menegurku baik-baik, aku selalu membentaknya dengan galak.

Bagaimana mungkin aku sebodoh itu menterjemahkan semua tindakan baik ibuku sebagai tindakan palsu? Betapa bodohnya aku!

“Di dalam sini, ada sesuatu yang membuatmu melakukan hal-hal tersebut pada ibumu, dan jawaban mengenai kenapa kau ingin mati saja. Sesuatu yang paling mendasar dari dalam dirimu.” Katanya sambil menunjuk pintu lab terbengkalai itu.

Aku menghela nafas sambil memejamkan mata. Saat aku siap untuk menghadapi apapun yang ada di balik pintu itu, aku membuka mataku dan berkata “Aku mungkin tidak kuat…kau akan menemaniku masuk?”

Sang Perantara mengangguk.

Ia membuka pintu tersebut dan kami berdua masuk ke dalamnya.

Apa yang kulihat di dalam sana benar-benar pemandangan tidak mengenakkan. Tadinya aku mengira, aku akan melihat neraka. Mengingat aku begitu kejam pada ibuku, aku merasa sudah pasti aku masuk ke dalam neraka.

Tapi aku hanya melihat sebuah kamar kaca. Kamar yang digunakan untuk mengawasi sesuatu dalam ruangan berdinding kaca. Seperti kamar penelitian.

Dan di dalamnya ada seorang anak kecil. Ia sedang menangis di tengah ruangan kaca itu. Ia menangis pasrah, suaranya tidak terdengar dari sini. Dan yang membuat hatiku terasa teriris-iris, di dalam kamar kaca itu tidak hanya ada anak kecil itu. Ada beberapa perempuan lain yang mengelilinginya dan mencambukinya terus menerus.

Aku menghampiri Sang Perantara. “Selamatkan anak kecil itu! Selamatkan dia! Apakah kau tega melihatnya disiksa?”

Sang Perantara berjalan mendekati kamar kedap suara itu dan menyentuh dindingnya dengan sedih. “Aku tidak berhak memasukinya bila orang di dalamnya tidak membukakan pintu.”

“Pecahkan kacanya!” kataku, panik karena melihat anak itu tidak berdaya dicambuki empat orang perempuan kejam terus menerus.

“Aku tidak bisa.” Kata Sang Perantara sambil menatapku sedih.

“Kenapa tidak bisa! Bukankah tidak ada yang mustahil bagi Tuhan?”

“Aku bukan Tuhan. Aku hanya perantaraNya.” Jawabnya.

Aku merasa frustasi dan mengalihkan perhatianku pada apa yang terjadi di dalam kamar kaca itu. Setelah kuperhatikan baik-baik, aku tercengang sambil melangkah mundur.

Aku kenal mereka semua. Semua yang ada di dalam ruangan kaca itu … adalah aku.

“Apa maksudnya ini semua?” tanyaku.

“Anak perempuan itu adalah kau yang sejati. Siapa dirimu yang sesungguhnya.” Jawab Sang Perantara. Kemudian ia menunjuk aku lain yang sedang menyiksa anak perempuan itu. “Yang itu adalah kesedihan, yang itu adalah kemarahan, yang itu kebencian, dan yang terakhir itu adalah rasa bersalah.”

Sudah cukup sampai disana, aku mengerti. Selama ini yang kurasakan memang itu semua. Sedih karena aku tertekan oleh didikan ibuku sejak aku kecil, marah atas kekangan tersebut, membuatku benci pada dunia ini, namun karena aku membenci, aku juga merasa bersalah pada apapun yang kubenci.

Dan hal yang paling kubenci di dunia ini…adalah aku sendiri.

Ketika anak kecil itu menatapku sambil menangis, hatiku terasa pedih. Sesuatu menggetarkan hatiku, aku sedang meminta tolong pada diriku sendiri.

“Tolong aku! Tolong!” kataku pada Sang Perantara sambil berlutut dan memegangi tangannya.

“Aisha. Manusia terlahir di dunia ini dengan banyak berkah dari Tuhan. Salah satu di antaranya adalah kebebasan. Aku tidak berhak untuk ikut campur, merubah apapun yang ada di ruangan ini.” Kata Sang Perantara.

“Gadis kecil itu tidak punya banyak waktu lagi.” kataku sambil menangis. Kini kulihat dia sedang berbaring di lantai, sekarat. Matanya masih menatapku, meminta pertolongan. Sekalipun begitu, tanpa ampun, kebencian, kemarahan, kesedihan dan rasa bersalah masih tega mencambukinya. Bahkan mereka tertawa bengis seperti setan.

“Aku ingin mati.” Kemudian lilin berbentuk angka 18 di atas kue itu kutiup habis.

“Aku…” bibirku gemetar. Kini keinginan begitu besar untuk masuk ke dalam berangsur-angsur muncul dari batinku, mendesak keluar, membuatku mengambil sebuah kursi besi yang ada di dekatku.

“Aku cinta diriku sendiri!” jeritku sambil mengayunkan kursi besi itu menghantam kaca.

Hantaman itu membuat sedikit retakan pada dinding kaca yang tebal. Empat orang aku yang lain yang sedang mencambuki aku yang masih kecil pun terdiam, terpaku menatapku. Sekali lagi aku mengambil kursi besi itu dan mengajar dinding kaca itu hingga pecah.

Setelah pecah, sambil membawa kursi besi yang sudah sedikit penyok di tanganku, aku melompat masuk dan menghajar aku-aku yang lain, mengusir mereka menjauh dari aku si bocah.

“Pergi kalian! Pergi! Aku tidak berhak diganggu kalian! Aku …” Aku tercekat akan kemunafikanku sendiri. “Aku ingin hidup!”

Keempat aku yang lain melarikan diri keluar ruangan.

Sang Perantara menaikkan kedua alisnya dengan takjub, seakan tidak percaya aku bisa melakukan itu.

Aku berlutut menolong aku yang masih kecil. Tubuhnya dipenuhi oleh bilur-bilur baik yang sudah lama maupun yang baru ia terima.

“Maafkan aku…” ucapku pada diriku sendiri.

Gadis itu terdiam saja sambil memandangiku. Ya, tentu saja. Aku tidak tahu cara memaafkan diriku sendiri. Aku terlalu terbiasa membenci dan menyalahkan diriku sendiri. Aku tidak tahu cara berlaku lembut pada diriku sendiri.

Kebahagiaan yang baru saja kusaksikan sebelum aku menuruni gedung kampus, itulah yang kini ingin kurasakan. Hidup, bahagia, … cinta.

Aku merentangkan kedua tanganku dan memeluk diriku dengan erat, lalu berbisik padanya berulang-ulang. “Maafkan aku…maafkan aku.”

Dan kurasakan tangan-tangan kecilnya memelukku balik.

Setelah puas menangis, aku mengamati bilur-bilur yang ada di sekujur tubuhnya. Aku sudah berdamai dengan diriku sendiri, tapi kenapa luka-lukanya masih ada? Dan di ambang pintu, kulihat keempat diriku yang lain, kebencian, kesedihan, kemarahan dan rasa bersalah masih berdiri di sana, mengawasi aku, inti diriku dan Sang Perantara.

“Apakah belum selesai?” tanyaku pada Sang Perantara.

“Aisha, berubah itu tidak secepat bicara.” katanya. “Luka yang ada di tubuhnya sangat nyata. Beberapa telah membekas tak tersembuhkan lagi, sekalipun beberapa masih bisa menghilang tanpa bekas. Waktu adalah rumah sakit yang akan menyembuhkanmu. Cinta, kesabaran, kebahagiaan dan maaf … adalah dokter yang akan menyembuhkan dia.”

“Lalu bagaimana? Bila keempat setan itu masih ada di sekitarku, aku khawatir mereka akan mendatangiku lagi dan menggangguku.”

“Jangan biarkan dirimu mendekati mereka. Atau mereka mendekatimu.” lanjut Sang Perantara.

“Lalu dimana aku bisa mencari cinta, kesabaran, kebahagiaan dan maaf?” tanyaku.

“Kau bisa mencarinya di luar sana. Tergantung bagaimana pikiranmu mendeskripsikan apa yang kau lihat. Tapi cinta, kesabaran, kebahagiaan dan maaf yang sejati … hanya ada bila kau sendiri yang menciptakan mereka.” kata Sang Perantara.

Ketika tersadar, aku sudah melihat empat diriku yang lain di belakangku. Gadis-gadis kecil itu tersenyum dan bercahaya seperti malaikat.

“Mereka tidak pernah pergi, mereka selalu ada. Kadang kau hanya tidak bisa melihatnya saja karena kau tidak ingin melihatnya.” Kata Sang Perantara sambil mengajakku pergi dari ruangan ini.

Sambil melangkah pergi, aku menoleh ke belakang. Secara ajaib, ruangan laboratorium rusak itu berubah menjadi kamar yang berseri. Masih kosong, butuh beberapa perabotan untuk menghiasinya. Sesuatu yang membuatku tenang sekarang adalah, melihat inti diriku berkenalan dengan keempat teman barunya. Namun sesuatu yang cukup meresahkan, empat aku yang lain, kesedihan, kemarahan, kebencian dan rasa bersalah masih mengawasi mereka, menanti waktu yang tepat untuk masuk kembali dan memporak porandakan isi kamar itu.

Aku dan Sang Perantara masuk ke dalam elevator dan kami kembali ke atas. Saat pintu elevator terbuka, aku sudah kembali berada di pelataran parkir basement kampus.

Yang paling melegakan adalah, ada aktivitas mahasiswa, penuh mobil dan motor yang lalu lalang. Aku sudah kembali ke dunia nyata.

“Jangan biarkan pikiranmu membohongimu.” Pesan Sang Perantara sebelum ia menutup pintu elevator sambil tersenyum penuh kasih padaku.

Itulah terakhir kalinya aku melihat Sang Perantara.

Kini langkahku ringan, bebanku terlepas. Aku tersenyum saat melihat mahasiswa lain bergurau, aku bisa tertawa melihat adegan lucu di televisi. Kulihat langit biru, kurasakan angin berdesir sejuk, senyum yang terpajang di wajah setiap orang yang kulalui. Aku tahu bahwa dunia masih berputar dan cinta ada dimana-mana.

Belum ada komentar untuk chapter ini.

Jadi yang pertama?