Part 1

THE PHENOMENAL ONE

Part 1

Seorang gadis yang mengenakan jaket dan celana panjang training ketat berwarna abu-abu dan biru donker berjalan menyusuri sebuah lorong ruangan yang Panjang dengan dikawal oleh dua orang pria berbadan tinggi kekar berseragam cokelat. Sambil berjalan gadis itu berkali-kali menatap tajam kesekeliling lorong tersebut yang di kiri-kanannya terdapat ruangan-ruangan yang dibatasi oleh teralis baja yang tebal lagi kokoh, diam-diam ia perhatikan sekilas-sekilas wajah-wajah para gadis-gadis yang berusia sebaya dengannya penghuni kamar-kamar yang berupa sel tersebut, yang juga menatap si gadis dengan tatapan tajam, ada yang nampak bersahabat dengannya, juga ada yang nampak tidak bersahabat dengannya.

Beberapa menit kemudian, sampailah ia pada satu ruangan luas dipenuhi loker-loker yang pencahayaannya lebih terang daripada di lorong tadi. Si gadis menatap seorang petugas wanita yang juga berseragam cokelat di satu meja penjaga loker-loker tersebut , sampai salah seorang pengawal darinya memberinya isyarat untuk melangkah menghampiri si petugas berseragam cokelat di meja tersebut.

“Selamat 1819, kamu sudah bisa pulang hari ini, ini semua barangmu, silakan periksa kembali, apakah ada yang tertinggal?” ucap wanita petugas penjaga loker tersebut dengan senyum kecil yang Nampak dipaksakan.

“Tidak, semua barangku hanya ini” geleng si gadis dengan dingin sambil menggendong tas besar berisi seluruh barangnya ke pundaknya, ia pun meneruskan perjalanannya Bersama kedua pengawalnya keluar dari ruangan loker tersebut.

Di sebuah ruangan yang besar dan cukup nyaman untuk ukuran Lembaga Pemasyarakatan Anak, duduklah seorang pria berbadan kekar dan berwajah sangar namun cukup tampan. Pria ini bangun dari duduknya dan melemparkan senyumnya tatkala seorang gadis berambut panjang, bertubuh tegap dan cukup kekar memasuki ruangan itu dengan dikawal oleh dua orang petugas pria berseragam cokelat.

Si Gadis menatap dingin pada pria itu, kemudian ia melangkah perlahan setelah kedua petugas yang mengawalnya tadi meninggalkannya. Gadis tersebut duduk dengan wajah tanpa ekspresi dihadapan pria yang tersenyum padanya tadi, ria paruh baya itu pun berhenti tersenyum, ia lalu duduk dihadapan si gadis dengan kepala tertunduk.

Hening beberapa saat, si gadis menghela nafas berat, ia menyapukan pandangannya ke seluruh ruangan tempatnya berada, ia lalu bersandar pada sandaran kursinya, matanya menata lurus tajam ke langit-langit seolah menembus langit-langit ruangan tersebut, dimatanya tergambar peristiwa dua tahun yang lalu.

Dua tahun yang lalu di sekolah SMAnya… Ia berjalan menuju ke ruang ganti khusus siswi. Ketika masuk dia mendapati disana sudah penuh dengan para siswi-siswi teman sekelasnya yang sedang mengganti seragamnya dengan pakaian olahraga, mereka semua menatap gadis itu dengan tatapan aneh, ada yang juga menatapnya dengan ketakutan dan cepat-cepat menyelesaikan acara ganti bajunya. Gadis itu menghela nafasnya, lalu dengan cueknya dia masuk ke ruang ganti itu dan mengganti baju seragamnya dengan pakaian olahraganya setelah mengikat rambutnya yang panjang kebelakang.

Kegiatan olahraga kelasnyapun berlangsunglah, pada mulanya olahraga basket antar kelompok di kelasnya itu berlangsung normal-normal saja, si gadis berhasil menyumbangkan banyak point untuk timnya, namun menjelang akhir pertandingan, keributan terjadi ketika ia tidak sengaja menyikut gadis lain dari tim lawannya. Kawan-kawan dari gadis lawannya itu langsung mengerubungi si gadis dan mulai mendorong-dorong tubuhnya, si gadis tidak terima dan akhirnya ia memukuli lawan-lawannya satu persatu.

Keadaan pun menjadi kacau, hampir seluruh siswi di kelasnya mengeroyok si gadis, bahkan kawan satu timnya pun ikut mengeroyok si gadis. Tentu saja gadis pemberang ini tidak tinggal diam, dia melawan pengeroyokan tersebut, satu persatu para siswi jatuh setelah terkena pukulan atau tendangan sang gadis yang luar biasa kerasnya, meskipun ia sendiri juga terkena beberapa serangan dari para pengeroyoknya itu!

Melihat mulai banyak korban yang berjatuhan, dan si gadis yang semakin hebat amukannya tersebut, para siswa mulai ikut mengeroyok gadis ini. Vania Dea Susanti nama gadis ini, tidak gentar dengan adanya pengeroyokan dari para pria tersebut, bagaikan harimau yang terluka, malah semakin ia terluka, semakin hebat amukannya, sudah tak terhitung, pukulan, tendangan, hingga jambakan dan cakaran yang bersarang ke seluruh tubuhnya, beberapa kali ia jatuh terungkur, kaos dan celana pendeknya pun sudah sangat basah oleh keringatnya sendiri, kotor oleh noda darah para korbannya, maupun darahnya sendiri, bercampur dengan tanah dan debu.

Tetapi Vania tetap bangkit dan balas menyerang para pengeroyoknya sambil menjerit hebat, haram baginya untuk dipencundangi oleh para pecundang yang mengeroyoknya, yang selama ini selalu mengejek dan membullynya karena ia anak seorang petarung MMA yang kalah dan kehilangan gelarnya!

Ketika keadaan mulai kacau balau, guru olahraga yang tadi pergi sebentar ke ruang guru pun lagsung berusaha melerai perkelahian tidak seimbang itu, Vania pun berhenti setelah guru pria yang berbadan tegap itu menahan tubuhnya, “Vania hentikan!” hardik sang guru.

Vania pun berhenti dan hanya menundukan kepalanya, “Apa yang kamu lakukan hah?!” tanya gurunya dengan suara membentak.

“Saya hanya membela diri saya” jawab Vania datar.

“Membela diri? Sampai teman-temanmu terluka parah begitu?” tunjuk gurunya pada para pengeroyok Vania yang terluka parah.

“Dari awal mereka memang tidak menyukai saya, mereka hanya mencari gara-gara dengan saya”.

“Mencari gara-gara bagaimana?”.

“Mereka selalu membully dan mengejek saya karena saya anak dari petarung MMA!” jawab Vania tegas.

“”Tapi memang benar kan ayahmu sudah dikalahkan oleh Vince dan sekarang menjadi pecundang?” ejek seorang siswi kawannya dengan nada mencemooh sambil mengelap darah yang menetes dari sela-sela bibirnya.

“Tutup mulutmu B*tch!” bentak Vania marah sekali. Gadis ini langsung berontak dan berhasil memukul siswi tersebut hingga ia terjungkal.

“Vania hentikan! Atau kau bisa dikeluarkan dari sekolah!” bentak gurunya.

“Diam! Aku tidak akan biarkan siapapun menghina ayahku!” bentak Vania.

Saat itulah beberapa orang guru dan beberapa orag satpam sekolahan berlari menghampiri Vania, mereka langsung menangkap Vania, tapi Vania langsung memberontak sekuat tenaganya “Lepaskan aku! Lepaskan aku!” jeritnya.

“Diam! Jangan mentang-mentang kau anak petarung MMA kau bisa berbuat seeenaknya disini! Kau harus ikut ke ruangan BP!” hardik guru olahraganya.

Dengan sekuat tenaganya Vania berhasil berontak dan melepaskan semua tangan laki-laki yang menahannya, ketika guru olahragnya berusaha untuk menangkapnya lagi, Vania melayangkan satu pukulan sekuat tenaganya! Deshhh! Guru olahraga yang bertubuh tinggi kekar itu jatuh terjengkang, dari hidungnya mengucur darah yang deras, tulang hidungnya patah! Setelah itu Vania pun dikeluarkan dari sekolahnya, dan bukan hanya itu, ia juga dituntut ke pengadilan oleh para orang tua siswa-siswi kawannya yang terluka akibat perbuatannya, beruntung ayah Vania berhasil memohon keringanan hukuman sehingga Vania hanya dijatuhi hukuman dua tahun penjara dengan denda sebesar seratus juta rupiah.

Semua bayangan dari kejadian dua tahun yang itu pun tergambar jelas di pelupuk mata gadis yang bernama Vania Dea Susanti tersebut, sampai satu suara bariton membangunkan lamunannya “Vania?”.

Vania terbangun dari lamunannya lalu menatap pria dihadapannya “Vania, kamu tidak apa-apa? Bagaimana kabarmu?” tanya pria dihadapannya.

“Lumayan Pah!” jawab Vania singkat padapria yang ternyata adalah ayahnya tersebut.

“Oke… Apakah kamu mau langsung pulang atau…”.

“Langsung pulang saja!” tegas Vania memotong pembicaraan ayahnya.

“Oh oke Kalau begitu, ayo…” ayah Vania pun hendak membawakan tas besar Vania, tapi gadis berambut hitam panjang lurus ini menolaknya, dan mereka pun langsung berjaln menuju ke mobil ayahnya.

***

Tiga tahun kemudian, Vania menghela nafasnya ketika ia melihat kertas pengumuman yang menempel pada madding di sebuah gedung, dengan raut wajah kecewa ia menatap sinis pada kertas pengumuman yang diatasnya tertera “Hasil Ujian Paket C”, dideretan nama-nama peserta, tertera nama Vania Dea Susanti dengan nilai rata-rata dibawah lima puluh dengan status tidak lulus.

Gadis berkulit sawo matang manis ini lalu membalikan badannya dan mengangkat bahunya “Yah mau bagaimana lagi? Aku memang sudah tidak bersekolah sejak dua tahun yang lalu dan memang bodoh dalam pelajaran! Cih! Masa bodohlah, aku memang tidak berniat untuk kuliah!” gerutu gadis itu, ia lalu berjalan meninggalkan gedung itu setelah menaikan kerudung jaket trainingnya untuk menutupi kepalanya.

Sesampainya di rumahnya yang cukup megah, Vania lansung berjalan menuju ke kamarnya, ia lalu menyalakan laptopnya dan menonton pertandingan-pertandingan pertarungan MMA ayahnya, matanya menatap serius memperhatikan semua gerakan ayahnya “Hook, Kimura Lock, Rolling Kick, Armbar, Uppercut, Sleeper Hold, Superman Puch!” gumam dirinya menyebutkan semua gerakan yang dilakukan oleh ayahnya.

Terakhir, Vania menonton pertandingan antara ayahnya, Bisma Wardana melawan Vincent Destrata dalam pertandngan perebutan gelar juara Light Heavyweight Asia Force Fighting Federation Champion atau AFFC, saat itu ayahnya yang memiliki latar belakang Judo dan Jiu Jitsu, berhasil memberikan kuncian Armbar pada Vince yang memiliki latar Muay Thai atau Kick Boxer dan Jiu Jitsu, tetapi pada saat-saat kritis Vince berhasil melepaskan dirinya dan malah balas mengunci Bisma dengan gerakan Sleeper Hold.

Dengan susah payah Bisma berhasil melepaskan diri dari kuncian mematikan yang menyesakan nafasnya tersebut, namun Vince tiba-tiba berlari dan melompat ke pagar pembatas octagon, dan Duessshhh!!! Satu pukulan yang secepat kilat menghantam rahang Bisma! Superman Punch yang merupakan jurus pamungkas Vince dengan dorongan ekstra daripantulan lompatannya ke pagar octagon! Bisma pun jatuh KO!

“Gila! Hebat banget!” decak Vania mengagumi pertandingan ayahnya engan rivalnya yang berlangsung beberapa tahun yang silam tersebut.

Vania lalu menarik nafasnya dalam-dalam, ia menutup matanya focus untuk mengingat semua gerakan ayahnya dan Vince dalam pertandingan yang baru saja ia saksikan tadi. Gadis ini lalu mulai menirukan gerakan-gerakan dalam MMA yang ia saksikan barusan sampai sekujur tubuhnya basah bermandikan keringat, “Aku harus menjadi petarung MMA! Harus! Harus!” tekadnya dalam hati.

Keesokan pagi harinya, Vania berdiri dihadapan sebuah bangunan yang menyerupai gym atau dojo. Ia menatap tajam seolah menembus tembok beton bangunan tersebut, “Oke, apapun yang terjadi, aku harus mengutarakan niatku untuk menjadi seorang petarung MMA pada Papah!” tekadnya, lalu dengan langkah yang mantap ia berjalan memasuki bangunan tersebut.

Didalam bangunan tersebut, nampak para petarung baik pria maupun wanita yang sedang giat berlatih, ada yang sedang pemanasan, ada yang sedang angkat beban, juga ada yang sedang sparing atau berlatih tanding dengan kawan satu dojonya. Vania lalu menghampiri Bisma yang sedang menyaksikan sambil memberikan instruksi pada dua orang muridnya yang sedang berlatih tanding.

“Hei Pah” sapa Vania menghampiri ayahnya.

“Oh hei Van, gimana dengan hasil ujian Paket C mu? Kemarin kamu tidak sempat memberi tahu ayah hasilnya” jawab ayahnya sambil matanya tetap memperhatikan kedalam octagon tempat kedua muridnya bertanding.

“Cukup buruk Pah…”

“Cukup buruk bagaimana?”

“Cukup buruk untuk tidak lulus” jawab Vania datar.

“Apa?!” sentak ayahnya yang kini menoleh pada anak gadis semata wayangnya tersebut.

“Tapi itu tidak penting karena aku memang tidak pernah menyukai pelajaran sekolah selain olahraga, yang penting sekarang aku akan konsen untuk menjadi petarung MMA!”

“Petarung MMA?! Apa maksudmu?! Dan kenapa kamu bisa sebegiu acuh dengan hasil ujian Paket C mu itu?!”.

“Ya aku ingin menjadi seperti mereka, seperti Hikaru Shida juara Asia dari divisi Strawweight AFFC, seperti Dana Brooke juara dunia WFFC, dan tentu saja seperti dirimu!” jawab Vania mantap sambil menunjuk kedua murid ayahnya yang sedang bertanding, lalu menunjuk poster-poster para juara MMA yang terpampang disana, dan ayahnya. (WFFC = World Fighting Federation Champion).

Bisma menggeleng-gelengkan kepala mendengar ucapan putrinya tersebut, desahan nafasnya terdengar beitu berat “Tidak… Aku tidak akan pernah mengizinkanmu untuk menjadi petarung MMA!”.

“Kenapa?!” tanya Vania sambil memelototkan matanya yang bulat tajam.

“Vania dengar! Mereka bertarug untuk hidup! Membunuh atau dibunuh! Orang bisa tewas didalam octagon sana! Ini bukan lelucon!” tegas Bisma sambil menunjuk kedua muridnya yang sedang bertarung didalam octagon.

“Oh oke! Aku paham mengapa Papah meremehkanku! Tapi aku sudah kuat Pah! Aku sudah menjadi orang yang kuat sejak menerima ejekan dan bullyan sewaktu SMA dulu! Dan diam-diam aku sudah belajar MMA, aku sudah tahu beberapa gerakan MMA!”

Bisma menaikan alisnya dan menatap sinis Vania “Oh jadi kau sudah kuat? Lalu memangnya kenapa Kalau kamu sudah mengetahui beberapa gerakan MMA? Memangnya kau sudah bisa mempraktekannya dalam pertarungan MMA yang sebenarnya?”

“Itulah mengapa Papah harus melatih aku! Papah sudah tahu kan bagaimana kuatnya aku ketika aku serig bertarung dulu?!” paksa Vania.

“Pertarungan MMA bukan pertarungan jalanan seperti yang pernah kamu lakukan selama ini sampai harus masuk Lapas Anak Nakal! Tidak! Aku tidak akan pernah mau untuk melatihmu! Tidak aka nada yang pernah mau melatihmu! Akan aku pastikan bahwa tidak aka nada pelatih yang mau melatihmu!”.

Nafas Vania memburu menahan gelora emosi didalam hatinya, gadis yang sangat keras hatinya ini paling tidak suka apabila kehendaknya ditentang oleh siapapun termasuk oleh ayahnya sendiri, ia menatap tajam dengan tatapan menantang pada ayahnya. Gadis berambut panjang lurus ini lalu melirik pada seorang gadis yang sedang berlatih memukul sasaran “Nadia!” panggil Vania pada gadis itu.

Gadis yang bernama Nadia itu menghentikan latihannya dan menoleh pada Vania, “Nadia, kau harapan untuk menjadi juara dari dojo ini! Kau petarung wanita terbaik untuk kelas Strawweight dari dojo ini! Maka dari itu aku menantangmu untuk bertarung didalam octagon ini!” tantang Vania sambil menunjuk ke octagon.

“Tidak Vania! Dia akan menjatuhkanmu bahkan kurang dari satu menit!” cegah Bisma.

Tetapi Vania tidak mengacuhkannya, ia mengikat rambutnya yang panjang kebelakang, lalu memasukan Mouth Guard kedalam mulutnya, Nadia menyeringai sambil menatap tajam pada Vania, “Oke, buka pakainmu dan kenakan sarung tinjumu!”.

Vania lalu membuka kemeja dan celana panjang jeansnya, ternyata ia sudah siap dengan sport bra dan shorts sport berwarna putih-putih dibalik pakaiannya, Vania pun langsung mengenakan sarung tinjunya dan masuk kedalam octagon, Nadia setelah mengelap keringatnya dan memakai mouth guard pun menyusulnya masuk kedalam octagon, sementara Bisma hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya.

Vania dan Nadia lalu mengitari octagon sambil saling pandang, dan sekonyong-konyong Vania menerjang, menyerang lawannya terlebih dahulu dengan beberapa pukulan, Desh! Satu pukulan Jab Vania berhasil mendarat di wajah Nadia disusul satu tendangan lutut di perutnya, dan Duesh! Satu pukulan hook mendarat di pelipis Nadia hingga Nadia terjatuh.

Vania tidak langsung menyerang Nadia yang sudah terjatuh dia malah menatap ayahnya “Dia pembunuh! Dia pembunuh bukan Pah?!”.

“Vania, ini bukan tinju! Ini MMA, pertandingan terus berlangsung meskipun kau berhasil memukul jatuh lawanmu!” peringat Bisma.

Vania pun kembali menoleh pada Nadia, saat itu Nadia bangun sambil mengusap darah disudut bibirnya sambil menyeringai buas pada Vania “Jeezzz… Apakah aku harus serius pelatih?”

“Seriuslah Nad, beri pelajaran padanya tentang MMA yang sesungguhnya!” jawab Bisma.

“Kau tidak akan menyesal? Bagus! Sudah lama aku ingin menghajar putrimu yang songong ini!” Ucap Nadia sambil menatap tajam pada Vania.

Belum ada komentar untuk chapter ini.

Jadi yang pertama?