Part 2

THE PHENOMENAL ONE

Part 2

Dua gadis muda tersebut mulai mengitari ring sambil memperhitungkan langkah mereka masing-masing, Vania kembali menyerang terlebih dahulu, namun tidak seperti tadi, serangan-serangannya hanya menemui tempat kosong, saat ia keasyikan menyerang, tiba-tiba satu tendangan sabit yang teramat keras bersarang di punggungnya, ia terdorong maju kedepan dan Bugh! Satu pukulan mengenai pipinya dengan telak, kepalanya langsung terasa pusing, pandangan matanya menjadi biru.

Vania langsung merasakan kakinya lemas dan langkahnya menjadi gontai, padahal ia baru terkena dua serangan saja! Saat itu satu pukulan lengan kanan kembali menyerang Vania, ia berhasil menahannya dengan siku kirinya, tapi satu pukulan tangan kiri Nadia berhasil bersarang di perutnya! Ngeekkkhhh! Vania serasa mau muntah, nafasnya menjadi sesak, dan desshhh! Satu tendangan tepat jatuh di pelipisnya, Vania pun roboh!

Nadia tidak mau memberi hati, ia langsung memukuli sekujur tubuh Vania dengan brutal! Darah pun bermuncratan dari mulut, hidung, dan kulit wajah Vania yang sobek akibat serangan Nadia! Dan tidak sampai disana, setelah Vania tidak berdaya, Nadia langsung mengunci pergelangan tangan Vania dengan jurus Armbar!

Vania pun menjerit kesakitan dan berusaha untuk melepaskan tangannya, namun seperti yang dikatakan oleh ayahnya, ia tidak tahu bagaimana caranya melepaskan diri dari kuncian memaikan tersebut! Tidak ad acara lain, ia pun menepuk-nepuk lantai ring tanda menyerah, Nadia pun melepaskannya.

Bisma langsung berlari masuk kedalam Ocatgaon sambil membawa handuk menghampiri putrinya, ia pun lalu mengelap darah dan memeriksa kondisi Vania “Papah kan sudah bilang, kau tidak tahuapa-apa soal MMA! Baru berlatih satu kali, kamu sudah hancur begini!”.

“Enggak! Ini Enggak seburuk kelihatannya!” jawab Vania yang masih ngeyel sambil memegani tangan kirinya yang ia rasa sangat sakit terkena jurus Armbar tadi.

Bisma lalu mengompres tangan kiri Vania dengan es seteah menyemprotkan semprotan Pereda nyeri “Kamu tahu berapa kali almarhum Ibumu harus membopongku karena aku tidak sanggup berjalan? Berapa kali ia harus menyuapi dan menceboki pantatku karena aku tidak sanggup menggunakan tanganku?! Itukah yang kamu mau?! Kamu mau otakmu rusak dan tulang pundakmu hancur?! Samppai kamu harus menghabiskan sisa hidupmu dengan menderita penyakit Parkinson sepertiku?!”.

Vania terdiam mendengar seua ucapan ayahnya sambil menatap para petugas kebersihan membersihkan darahnya yang tercecer diatas ring “Vania, aku tidak mau untuk melihatmu kebelakang, tetapi aku harus memberi tahumu bahwa dunia MMA tidak seindah yang kamu bayangkan! Orang bisa terbunuh dalam satu pertandingan! Lihat Papah! Papah pernah menjadi juara dengan rekor sempurna, Papah pernah berhasil mengalakan Vince dan mempertahankan gelar Papah dengan skor tipis! Tapi kemudian pada rematch Papah kalah telak! Dan Papah tidak pernah mendapatkan kesempatan untuk rematch karena tulang pundak Papah hancur, dan PPapah terkena penyakit Parkinson akibat kerusakan otak karena pukulan Vince!”.

Bisma lalu membelai kepala putrinya “Vania, kamu anak Papah, dan kamu adalah bagian dari diri papah, tetapi kamu tidak berarti harus menjadi diri Papah! Ingatlah kalau kamu juga adalah anak dari mendiang Ibumu, kamu juga adalah bagian dari Ibumu! Maka jadilah seperti Ibumu nak! Jadilah seorang wanita normal dan hidup bahagia, membangun keluarga kecil Bersama dengan pria yang kamu cintai! Jangan hidup dijalan MMA yang penuh dengan penderitaan dan hanya mengarahkanmu pada kehancuran! Lihatlah apa yang terjadi pada diri Papah Nak! Jangan ulangi kesalahan Papah yang sampai kehilangan Ibumu!”.

Vania terdiam tertunduk, teringatlah ia pada mendiang ibunya yang meninggal saat ia masih duduk di bangku SMP karena kanker rahim, begitu lembutnya ibunya yang berlawanan dengan ayahnya. Namun bagaimanapun juga ia telah memantapkan hatinya untuk menjadi petarung MMA professional, maka meluncurlah kata-kata ini dari mulutnya “Aku akan segera pergi… Aku akan menjadi petarung MMA professional!”.

“Vania, kamu lebih daripada ini! Tolong jangan lakukan ini!” cegah ayahnya.

Vania lalu mengerahkan segenap sisa tenaganya untuk berdiri “Aku akan menghubungimu Pah!”.

Akhirnya Bisma menyerah juga pada kekeras kepalaan putri semata wayangnya ini, ia pun bangkit berdiri dan menatap Vania sebentar lalu menghela nafas berat sambil menggeleng-gelengkan kepalanya “Dengar, kalau kau mau mengenakan sport bra berada didalam octagon… Aku tidak pernah berada disisimu lagi… Dan kamu tidak perlu untuk menghubungiku lagi!” pungkasnya sambil melangkah meninggalkan Vania dengan dada disesaki oleh kekecewaan.

“Aku akan ke Bandung!” seru Vania pada ayahnya yang telah keluar dari Octagon.

Bisma menghentikan langkahnya sejenak “Orang itu telah mengalami hal yang lebih buruk daripada aku, ia tidak akan mau menjadi pelatihmu!” ucapnya pelan lalu kembali melangkah.

***

Satu minggu kemudian, Vania yang telah sembuh dari luka-lukanya meskipun masih menimbulkan bekas di sekujur tubuhnya telah sampai di Kota Bandung, dengan sisa tabungan dan uang jajannya ia berhasil menemukan tempat kost yang murah namun cukup layak di tengah Kota Bandung, dengan masih kelelahan, ia pun langsung membereskan dan merapikan semua barang-barangnya serta mulai menata kamar kostnya.

Setelah menyeesaikan semua pekerjaannya tersebut, Vania lalu duduk diatas kasurnya yang tidak empuk, gadis ini lalu mengelap keringatnya sambil menatap layar HPnya , dia lalu membuka aplikasi gugle, tak lama ia tersenyum ketika mendapatkan informasi yang ia cari “Vincent Destrata atau Vince, alias Sting, membuka usaha rumah jagal pemotongan sapi dan kambing, serta membuka warung Sate setelah pension dari dunia MMA…” bacanya.

Keesokan malam harinya di satu warung sate dibilangan Geger Kalong Kota Bandung, seorang pria setengah baya memperhatikan seorang gadis yang mengenakan jaket serta celana training yang sedang asyik menatap layer tabletnya yang duduk di satu sudut warung dari meja kasirnya, “Kamu bilang dia mau bicara padaku?” tanyanya pada seorang gadis pelayannya.

“Iya Pak, bahkan dia tadi bilang mau bertemu dengan Vincent Destrata atau Vince alias Sting, pemilik warung ini yang mantan juara MMA”.

Pria pemilik watung itu yng ternyata adalah Vince terus menatap gadis yang duduk dipojok warung yang sepi itu dengan tatapan penuh selidik, lalu ia menyuruh si pelayan untuk menggantikannya di meja kasir, ia pun menghampiri si Gadis dengan tatapan penuh curiga “Hallo, Nona memanggil saya?”.

Si Gadis yang tak lain adalah Vania tersebut menoleh sebentar melihat sosok pria bertubuh tinggi kekar dan berwajah indo yang menyapanya tersebut, kemudian dengan acuh tak acuh ia memperlihatkan layar tabletnya pada Vince “Tendangan High Kick yang tepat mengenai bagian belakang kepala Bisma pada awal ronde ketiga ini mengubah jalannya pertandingan, berkat tendangan ini kamu unggul tipis point sehingga memenangkan pertandingan ini dan menjadi juara Light Heavyweight AFFC!”

“Tebakan yang bagus! Bagaimana kau mengetahuinya?” tanya pria tengah baya ini sambil menatap Vania dengan enuh selidik, perhatiannya pun tertuju pada lebam di mata kanan Vania yang masih sedikit bengkak dan bekas luka sobek di bibirnya yang belum sembuh benar.

“Aku dengar setelah kau menjadi juara, kau dikalahkan oleh Lee Chong Wei dari Malaysia, kamu mengalami depresi akibat kekalahanmu yang telak dari petarung Malaysia tersebut, lalu Bisma membantumu untuk bangkit dan menjadi pelatihmu dengan kontrak kau harus menang dan menjadi juara kembali dengan tidak membiarkan sabuk juara Light Heavyweight AFFC jatuh ke tangan petarung dari negara lain, kau harus mempertahankan sabuk juara itu untuk tetap berada di tangan petarung Indonesia! Ia tidak meminta bayaran sepeserpun dar melatihmu!”

Vince tercengang mendengar apa yang dikatakan gadis dihadapannya yang seharusnya menjadi hal yang sangat rahasia tersebut “Bagaimana kamu mendengarnya? Itu hal yang sangat rahassia, siapa namamu?”

“Vania” jawab gadis berwajah khas Asia tersebut.

“Kata pembantuku kamu ingin berbicara sesuatu padaku?”

“Yeah, aku ingin berbicara soal… Apakah kau bersedia untuk melatihku”.

“Melatihmu? Hehehe… Aku menduga kau akan mengatakannya ketka kau menonton pertandinganku dan dari bekas luka diwajahmu itu. Tapi aku tidak mau melakukan hal itu lagi, maaf!”

“Kenapa?”

“Karena aku tidak mau terlibat lagi soal apapun dengan MMA… Dengar Nona, sekarang waktunya makan malam, warungku semakin sibuk jadi aku harus bekerja” pungkas Vince sambil bangkit berdiri.

“Seberapa hebat dia?” tanya Vania saat Vince berdiri.

“Siapa? Bisma Wardana? Ya dia petarung yang bukan hanya hebat, tapi sangat hebat! Dia petarung yang sempurna, tidak ada yang lebih baik daripada dia!”.

“Jadi bagaimana kau mengalahkannya?” tanya Vania sambil menyusul Vince.

“Ada dua hal yang tidak bisa dimenangkan oleh petarung manapun Nona. Yang pertama adalah waktu, Dia hanya lebih tua dua tahun dariku , tetapi dia sudah jauh lebih banyak bertarung daripadaku sehingga dia sudah Lelah dan sudah tidak lapar lagi. Yang kedua adalah nasib, kebetulan waktu itu nasib berpihak padaku, Aku sedikit beruntung karena saat bertarung denganku, Bisma telah didiagnosa mulai mengalami kerusakan otak yang menyebabkan ia terkena penyakit Parkinson sehingga refleksnya agak lambat dan aku berhasil mendaratkan tendangan itu di belakang kepalanya. Ingatlah kedua hal itu kalau ingin menjadi petarung!” jelas Vince.

“Terimakasih untuk penjelasannya, tapi bagaimana dengan cerita kalian bertarung secara tertutup di Dojo milik pelatih BIsma di Bukit Sentul?” sela Vania yang lagi-lagi membuat langkah Vince tertahan.

Lagi-lagi Vince tercengang dengan pertanyaan dari Vania tersebut “Bagaimana kau bisa mengetahui semua cerita itu?”.

“Menurutmu?” balik tanya gadis bertubuh tegap ini sambil mengangkat kedua bahunya.

Vince lalu merebut tablet Vania, ia lalu memperhatikan wajah Vania dan wajah Bisma di tablet Vania “Siapa kau? Apa hubunganmu dengan Bisma?”.

“Aku putrinya” jawab Vania mantap.

“Tidak, bukan! Aku tidak percaya! Aku tahu dan kenal betul dengan putrinya, dulu aku sering menggendng putrinya!”

“Errrr… Aku tidak mau menyuruhmu menelepon Papahku, tapi aku sering digendong sang juara dan sering meminjam sabuk juaranya, dan kau bilang bahwa suatu hari aku akan menjadi juara seperti kau dan Papahku! Oya… Kau juga sering membelikan Sandwich Tuna yang sangat aku sukai”.

“Tidak… Tidak mungkin!” geleng Vince yang mengakui bahwa semua ucapan Gadis dihadapannya adalah benar adanya.

“Kalian putus hubungan, kau tidak berbicara lagi dengan ayahku sejak kematian istrimu, kau menyalahkan dirimu sendiri dan mengundurkan diri dari dunia MMA saat kau masih memegang sabuk juara Light Heavyweight AFFC!”.

“Vania… Vania Dea Susanti… Seharusnya aku langsung ingat ketika kau menyebut namamu” desah Vince sambil kembali duduk.

“Aku perlu kau untuk melatihku! Aku butuh seseorang yang bukan hanya hebat tapi sangat paham dengan dunia MMA, jadi siapa lagi yang lebih baik darimu yang harus aku datangi?”

“Kau ingin jadi petarung MMA?”

“Ya, dan seperti yang pernah kau katakan, aku ingin menjadi juara MMA!”

“Itu hanya candaan pada seorang gadis kecil, lagipula knapa kau tidak meminta ayahmu sendiri untuk melatihmu?”

“Papah melarangku untuk menjadi seorang petering MMA, ia ingin aku menjadi gadis yang baik seperti ibuku!”

“Ayahmu benar, kenapa kau tidak menjadi seoang gadis yang baik seperti ibumu? Ayahmu saja melarangmu untuk erjun ke dunia MMA, mau bagaimana aku melatihmu? Vania dengar, kau pasti bersekolah bukan? Jadi kau pasti punya otak, Mengapa kau memilih hidup untuk menjadi petarung dan mengarungi dunia MMA ketika kau tidak perlu melakukannya?”

“Karena aku telah bertarung selama hidupku, dan aku ingin terus bertarung selama hidupku untuk memuaskan naluri iblis yang selalu bersemayam dihatiku! Sudah tga tahun semenjak aku bebas dari LP aku berusaha menahan naluri Iblis ini! Tapi aku tidak bisa! Aku hanya senang dan ingin bertarung! Ini pilihan hidupku Vince!”

Vince menggeleng-gelengkan kepalanya mendengar itu semua “Oh astaga, aku tidak menyangka kau akan seperti itu sewaktu melihatmu masih menjadi gadis kecil yang periang, bahkan nilai ujian matematikamu dua puluh lima! Dan kau mengatakan bahwa semua ini adalah pilihan…”

“Ya ini pilihanku! Pilihan untuk menjalani hidupku!” tegas Vania.

Vince berdiri lalu menatap mata Vania dengan tajam “Kalau kau paham soal pilihan, maka kau juga pasti paham soal pilihanku..”

“Tapi Vince! Aku mohon!” pinta Vania.

“Vania, aku senang bisa bertemu kembali dengamu… Dengar, dari pagi sampai siang hari aku ada di rumah pejagalan setengah kilo dari sini, dan dari sore sampai malam aku ada disini, begitu setiap hari, jadi kalau kau lapar atau butuh daging segar, atau butuh sesuatu silakan datang”.

“Aku akan berkunjung ke Dojo Harimau Terbang besok!”

“Aku sudah lama tidak pergi kesana, aku sudah tidak pernah pergi kesana lagi… Pokoknya aku ingin menghindari semua yang berbau MMA dan sekarang aku hanya berurusan dengan daging segar, sate, gule, tongseng, dan nasi goreng kambing!”.

Vania mengangguk-ngangguk, dia belum mau menyerah tetapi dia juga tidak mau memaksa Vince mala mini, apalagi saat itu warungnya sedang sangat ramai “Vince aku akan tinggal di Bandung, Aku tidak akan pulang ke Bogor”.

“Kenapa kau tidak mau pulang ke Bogor?”

“Aku kost tidak jauh dari sini, selamat malam” pamit Vania yang tidak menjawab pertanyaan Vince.

Belum ada komentar untuk chapter ini.

Jadi yang pertama?