Part 3

THE PHENOMENAL ONE

Part 3

Vania pun berjalan kaki pulang ke tempat kostannya yang tidak seberapa jauh dari warung sate milik Vince, sepanjang perjalanan ia terus dirundungi oleh rasa penasaran, dalam benaknya terus berputar pertanyaan “Kenapa Vince sampai menjauhi dunia MMA seperti ini? Dia bahkan pensiun pada saat ia masih berada di puncak, saat masih memegang sabuk juara AFFC!” tanyanya dalam hati.

Saat sampai ke tempat kostannya, dia langsung teringat akan sesuatu “Ah iya, malam ini kan jadwal pertandingan perebutan gelar juara antara Hikaru Shida melawan Marian Salonga!” ucapnya, ia pun langsung menyalakan televisinya, saat itu kebetulan sedang menayangkan profile sang juara bertahan kelas Strawweight asal Jepang, Hikaru Shida.

“Dalam MMA kemampuan untuk bertahan hidup adalah kunci dari segalanya, kita harus bisa menentukan pilihan yang mengubah hidup kita selamanya!” ucap sang juara yang mewarnai rambut panjangnya dengan warna merah.

“The Beast Hikaru Shida adalah putri asal negri sakura dari Osaka dengan dialek Kansai yang kental, tempat dimana orang menemukan harapan dalam kisah hidup mereka, tapi untuk petarung bergaya South Paw yang tak terkalahkan di benua Asia ini, masa depan dipenuhi dengan ketidak pastian, ia harus membesarkan putrinya seorang diri tanpa didampingi oleh suaminya. Berita ini tersebar begitu cepat ketika wartawan lokal Jepang memergokinya sedang menemani putrinya yang berusia lima tahun bermain di taman bermain” ujar reporter.

“Dulu aku pernah melakukan kesalahan besar, dan sialnya aku melakukan kesalahan itu dengan pria yang tidak bertanggung jawab, tetapi aku tidak ingin membiarkan hal ini menggangguku, aku tidak mau melewatkan masa Prime Time ku dengan penyesalan yang tiada berguna! Aku sudah kehilangan keluargaku karena keluargaku tidak mengizinkan aku untuk menjadi petarung MMA! Maka sekarang aku tidak mau mengecewakan putriku satu-satunya! Aku tidak akan menutup-nutupi keberadaan putriku lagi, dan aku akan memenangkan pertandingan ini!” ujar Hikaru lagi.

“Hikaru Shida memang memiliki masa lalu yang kelam, dia pernah terlibat penganiayaan pada teman-teman sekolahnya sehingga ia haru putus sekolah dan berada di balik jeruji besi selama tujuh tahun, setelah itu dia juga harus memutuskan hubungan dengan kedua orang tua serta keluarganya yang lain karena tidak merestuinya menjadi petarung MMA! Sekarang dia juga harus membesarkan putrinya seorang diri! Tetapi semua tempaan hidupnya tersebutlah yang membuat The Beast menjadi petarung yang sangat superior dan menjadi juara Asia kelas Strawweight seperti sekarang ini! Mampukah ia mempertahankan gelarnya melawan petarung asal Philipina Marian Salonga?!” pungkas Sang reporter yang kamera langsung menyorot entrance para petarung di arena.

Pertarungan tiga ronde dengan durasi lima menit itu pun dimulailah, Vania menatap layer televisinya dengan jantung berdebar, matanya lekat-lekat menatap kedua petarung hebat itu bergerak! Setiap gerakannya Vania perhatikan dengan sangat focus!

Pertarungan berjalan sangat seru dan awalnya nampak seimbang, namun sayang, menjelang akhir ronde pertama satu tendangan hight kick dari Hikaru yang menghantam kepala belakang Marian berhasil merobohkan petarung asal Philipina tersebut, sang petarung asal Jepang ini tidak menyia-nyiakan kesempatan ini, ia langsung memukuli setiap bagian tubuh dari Marian yang terlentang terutama ke bagian wajahnya! Pukulan-pukulan dan sikut-sikutan yang teamat brutal yang membuatnya dijuluki sebagai The Beast! Wasit pun menghentikan pertandingan setelah melihat Marian tak berkutik! Pertandingan pun berakhir dalam satu ronde saja dengan kemenangan TKO untuk Hikaru Shida!

“Edan! Gila! Hikaru bisa mengalahkan Marian cuma dalam satu ronde saja! Padahal Marian petarung yang sangat tangguh bisa dikalahkan dengan mudah seperti itu! Gila!” decak Vania.

Saat Hikaru merayakan kemenangannya dan menjawab pertanyaan reporter usai kemenangannya, Vania masih terkagum-kagum pada juara MMA Asia tersebut, ia lalu teringat pada profile Hikaru sebelum pertandingan tersebut “Kalau dipikir-pikir ada persamaan diantara aku dan dia, sama-sama putus sekolah gara-gara berkelahi, pernah dipenjara meskipun dia lebih lama dipenjaranya, sama-sama kabur dari rumah karena tidak diizinkan jadi petarung MMA oleh orang tua, bedanya dia udah punya anak hehehe…” pikir Vania.

“Yoshhh!!! Aku harus seperti dia! Tidak! Aku harus bisa lebih hebat dari dia dan mengalahkan dia, terus jadi juara Asia! SeTelah itu akan kukalahkan Dana Brooke dan jadi juara Dunia!” tekad gadis ini. Ia lalu mengikat rambutnya kebelakang dan menyetel music di laptopnya yang disambungkan ke sound system dengan kencang, lalu mulai berlatih mempergakan gerakan-gerakan yang Hikaru lakukan di pertandingan tadi.

“Setiap gerakan yang dibuat The Beast sangat efektif dan penuh perhitungan, meskipun Marian sempat beberapa kali berhasil menangkis serangannya tapi itu memberikan efek yang tidak sedikit bagi tangan dan kaki Marian, terbukti kakinya langsung goyah setelah menahan tendangan dan serangan lutut Hikaru, tangan kirinya pun sampai tak bisa ia ergunakan dengan baik! Setelah itu, semua serangan Hikaru begitu mudah bersarang di tubuh Marian! The Beast memang benar-benar petarung yang efektif selain kekuatan pukulan dan tendangannya yang hebat!” pikir Vania mengingat semua gerakan Hikaru Shida alias si The Beast sembari terus berlatih memukul dan menendang, pakaiannya pun langsung basah oleh peluhnya yang membanjir.

***

Di saat yang sama, seorang pemuda yang sedang mencoba untuk tidur merasa terganggu dengan musik bervolum keras yang datang dari kamar sebelahnya, berkali-kali ia merubah posisi tidur dan berusaha membuat tubuhnya rileks agar bisa tidur gagal, akhirnya ia pun bangun dan melihat layer HPnya “Jam dua belas malam?! Buset! Berisik banget dah!” keluhnya dengan kesal, ia lalu mengacak-acak rambutnya sendiri “Aku hrus pegi pagi banget besok!” keluhnya lagi.

Pemuda bertampang kutu buku ini lslu mengenakan kacamatanya dan keluar dari kamarnya, ia lalu melangkah ke kamar di sebelahnya lalu menggedor-gedor pintu kamarnya “Permisi! Punten! Permisi!” teriaknya sembari terus menggedor pintu kamar tersebut.

Pintu kamar itupun terbuka, keluarlah seorang gadis bertubuh tegap yang sekujur tubuh dan pakaiannya basah oleh keringat, ia lalu menyibakan kunciran rambutnya yang hitam panjang sebelum menatap tamunya itu dengan pandangan selidik “Ya?”

“Aku Andre” ucap si pemuda dengan wajah keheranan ketika melihat penghuni kamar tersebut yang tak lain adalah Vania.

“Ya?”

“Dan aku adalah penghuni kamar sebelah yang sudah cukup lama tinggal disini” ucap Andre sambil menatap gadis muda bermata bulat tajam dihadapannya.

“Ya lalu apa yang kau inginkan Andre? Ini sudah terlalu larut untuk menyapa tetangga baru bukan?” sahut Vania

“Aku bisa mendengar dan merasakan getaran musikmu yang keras!” protes Andre.

“Keras? Aku tidak merasa musik yang aku setel keras! Aku menyalakan musik untuk mengiringi latihanku!” sanggah gadis berwajah dingin ini.

“Berlatih? Berlatih di jam seperti ini? Musikmu keras, oke?! Aku harus bangun pagi dan pergi bekerja!”

“Oh aku mengerti, kau harus bangun pagi dan melakukan kegiatanmu, dan kamu melarangku berlatih atau melakukan kegiatanku!”

“Maaf, aku tidak bermaksud melarangmu berlatih atau melakukan apapun di kamarmu, aku hanya minta sedikit ketenangan di jam seperti ini! Ah iya, kau kan tahu kalau ini sudah larut! Sudah jam dua belas malam lebih!”

“Oh oke! Aku akan mematikan musikku, kau akan mendapatkan ketengangan karena tiak akan mendengar apapun!” pungkas Vania dengan suara agak tinggi dan wajah masam.

“Terima…” Brakkk! Pintu kamar itu ditutup dengan keras oleh Vania sebelum Andre sempat menyelesaikan ucapan terima kasihnya “… Kasih…” lanjutnya sambil menatap pintu yang baru saja dibanting tersebut, dan btul saja, alunan musik keras itupun berhenti.

***

Pagi harinya, Vania ia pergi menuju ke Dojo Harimau Terbang dibilangan jalan Setiabudhi atas sambil berlari pagi. Setelah melalui perjalanan yang cukup melelahkan, ia menghentikan larinya didepan sebuah bangunan tua, ia mengelap keringatnya yang mengucur deras sambil menatap papan nama yang terpampang diatas bangunan tersebut “Dojo Harimau Terbang, disinilah Vince memulai segalanya!” gumamnya.

Ia lalu melangkah memasuki Dojo tersebut, didalamnya nampak cukup ramai dengan banyaknya orang yang berlatih maupun melatih meskipun tidak seramai Dojo milik ayahnya di Bukit Sentul Bogor. Ia lalu memperhatikan semua yang berlatih disana, dari latihan yang mereka lakukan, Vania bisa mengetahui mana yang memang berlatih untuk menjadi petarung maupun yang berlatih hanya untuk kebugaran tubuh.

Setelah itu ia melangkah lebih kedalam lagi, matanya langsung tertuju pada apa yang sedang terjadi didalam lingkarang octagon yang ada di balai Dojo tersebut, ia memperhatikan seorang gadis bertubuh tinggi kekar dengan tubuh yang dipenuhi tato sedang berlatih dengan tim pelatih inti dari Dojo ini “Natalya Sihombing, petarung andalan Dojo Harimau Terbang, point bertarungnya sudah cukup untuk masuk ke jajaran Lower Card AFFC dengan skor sembilan kali menang dan satu kali kalah dari pertandingan kelas nasional” gumamnya.

Ternyata gumaman Vania yang hampirtak terdengar itu didengar oleh pelatih kepala Natalya yang juga pelatih kepala dari Dojo ini yang sedang memperhatikan latihan Natalya, ia lalu melirik dan menatap Vania dengan selidik “Nona sepertinya kau tahu banyak tentang Natalya dan Dojo ini, ada yang bisa aku bantu?”.

Vania agak terkejut karena pria paruh baya pelatih Natalya itu bisa mendengarnya, tapi ia tetap berusaha tenang dan berjalan menghampiri pelatih tersebut “Akum au mendaftar di Dojo ini”.

“Untuk melatih kebugaran tubuh atau…”

“Untuk menjadi petarung MMA!” tegas Vania memotong Pelatih tersebut.

Si pelatih tersenyum ketika mendengar ucapan Vania, ia lalu memperhatikan sekujur tubuh Vania, dari proporsi tubuhnya yang tegap dan agak berotot, ia dapat mengetahui kalau Vania adalah seorang yang sangat rajin berolahraga, tubuhnya memang sudah cocok untuk seorang petarung wanita kelas Strawweight. “Darimana asalmu?”.

“Bogor”.

“Ah Bogor, disana ada Dojo yang sangat terkenal yaitu Dojo Naga Besi di bukit Sentul. Kamu dari Dojo mana? Aku kenal semua pelatih disana”.

“Tidak ada, aku berlatih sendiri” jawab Vania dingin.

Si Pelatih mengernyitkan keningnya sembari matanya tak lepas dari sosok gadis muda dihadapannya tersebut “Berlatih sendiri huh?”.

Vania tahu kalau si Pelatih memiliki kesan meremehkannya, tapi ia cuek saja, ia malah mengalihkan pembicaraannya sambil menunjuk poster Vince “Kamu kenal Vincent Detrata?”.

Si Pelatih mengangguk “Ya kami tumbuh bersama dan sama-sama berlatih di Dojo ini… Nona, kebanyakan par anggota berlatih sendiri, tetapi dengan tambahan lima ratus ribu per bulan, aku bisa melatihmu”.

“Oke deal!” jawab Vania.

“Omong-omong apakah kau seorang mahasiswi atau sudah bekerja?”.

“Tidak keduanya, aku hanya pengangguran, tetapi percayalah bahwa aku bisa menjamin untuk bisa membayar biaya latihan disini tiap bulannya tanpa menunggak!” jawab Vania sambil mengingat jumlah tabungannya yang masih cukup untuk menghidupinya sekaligus membayar biaya latihan di Dojo selama beberapa bulan meskipun mungkin nanti ia harus mencari pekerjaan tambahan untuk dapat terus menyambung hidupnya.

“Oke kalau begitu, namaku Stephen, panggil saja Steve! Silakan urus dulu permasalahan administrasinya dan kamu bisa lansung berlatih hari ini juga!”

Setelah mengurus semua urusan administrasi, Vania pun mulai berlatih di dojo itu. Sembari berlatih, matanya tak lepas dari sosok Natalya yang sedang dilatih dengan sangat serius oleh Steve “Ia memiliki kekuatan pukulan dan tendangan yang sangat keras, tapi gerakannya tidak terlalu cepat!” pikir Vania, kemudian ia pun berkonsentrasi dengan latihannya sendiri.

***

Malam harinya di suatu ruangan kantor sebuah klub malam, Vania tampak sedang berdiri tegak, dihadapannya duduk seorang pria paruh baya berpakaian rapih perlente dengan diapit dua pria pengawalnya yang bertubuh tinggi besar dan berwajah sangar.

“Nona, apakah anda yakin kemari hanya hendak melamar untuk menjadi petugas keamanan?” tanya pria itu sambil nyengir.

Vania merasa amat jijik melihat senyuman pria paruh baya pemilik klub malam itu padanya, ia pun menyodorkan secarik kertas padanya “Benar, aku hanya berminat melamar sesuai dengan selebaran yang kau sebarkan ini, tidak kurang, tidak lebih! Jadi jangan berpikir yang macam-macam!” tegasnya.

“Apakah anda yakin? Padahal untuk gadis berusia muda dengan body sepertimu kan… Wuaduh…” puji si pemilik sambil menatap tubuh Vania yang sangat proporsional yang tertutupi oleh jaket dan celana training panjang ketat berwarna abu-abu dan biru donker tersebut, apalagi riselting bagian atas dadanya terbuka sehingga memperlihatkan sport branya yang berwarna hitam.

“Jangan main-main denganku! Aku datang hanya untuk melamar pekerjaan yang kau tawarkan disini! Kau tidak menulis harus pria atau wanita dalam kriteria menjadi petgas keamanan disini bukan?!” bentak Vania.

Si pemilik Bar agak terkejut karena gadis berkulit sawo matang manis dihadapannya ini berani membentaknya, ekspresi wajahnya pun langsung berubah menjadi tatapan meremehkan “Baik, kalau anda bersikeras ingin melamar menjadi petugas keamanan di tempat ini! Tetapi anda harus melewati satu ujian dulu, anda harus dapat mellumpuhkan kedua pengawal saya ini dalam waktu kurang dari lima menit, kalau anda gagal, anda harus menerima pekerjaan dari saya! Menjadi penerima dan penghibur tamu!”

Vania menatap kedua pengawal yang akan menjadi lawannya tersebut, meskipun tubuhnya jauh lebih kecil dan pendek dari kedua pengawal itu, gadis pemberang ini tidak takut, dia mengangguk sambil menyunggingkan senyumnya “Baik! Silakan coba aku sekarang juga!”

Kedua pengawal itu segera mengepung Vania dari depan dan belakangnya. Tiba-tiba yang dibelakang langsung menerjang mengirimkan satu pukulan hook, dan terjadilah satu pemandangan yang sukar dipercayai oleh mata si pemilik klub. Vania menghindar kesamping lalu menangkap tangan si pengawal, dan secepat kilat men-Take Down si pengawal langsung gerakan kuncian Armbar! Si pengawal pun langsung mengeluh kesakitan!

Si pengawal dua tidak tinggal diam, ia menerjang hendak menginjak perut Vania, yang diserang langsung berguling kesamping sehingga si pengawal satu pun terpaksa ikut berguling dan poisisinya menjadi telungkup, dengan cekatan Vania mengubah kuncian Armbarnya menjadi kuncian Kimura Lock dengan melipat tangan si pengawal satu kebelakang sembari menendang lutut si pengawal dua! Ketika lawannya jatuh berlutut, Vania menendang pelipis di pengawal dengan kaki kirinya, dan kaki kanannya menyusul, dengan gerakan seperti menggunting, kedua kaki Vania mengunci erat leher si pengawal dua! Itu semua ia lakukan sambil terus mengunci lengan si pengawal satu dengan gerakan Kimura Lock! Vania pun berhasil melumpuhkan kedua pengawal itu hanya dalam waktu satu menit!

Si pemilik klub sampai menjulurkan lidahnya saking kagumnya ia dengan cara Vania melumpuhkan kedua pengawal andalannya hanya dalam waktu kurang dari satu menit! “Jiu jitsu! Apakah gadis ini ahli bela diri? Atau petarung MMA?” pikirnya.

“Hai Pak! Bagaimana?! Aku sudah melumpuhkan kedua pengawalmu bahkan hanya dalam waktu satu menit!” tanya Vania sambil terus mengunci kedua pengawal yang wajahnya ngap-ngapan menahan sakit.

“Baiklah, aku tidak meragukan kemampuanmu lagi! Kau boleh langsung bekerja malam ini juga, lepaskan para pengawalku itu, mereka akan memberikanmu seragam untuk petugas keamanan di tempat ini!” jawab si pemilik klub.

“Yes! Aku berhasil mendapatkan pekerjaan! Lumayanlah, karena pagi dan sore aku harus latihan, bekerja di malam hari cocok buatku, dan itu artinya aku harus tidur di siang hari!” ucap Vania dalam hatinya sambil melepaskan kunciannya pada keda pengawal itu.

Belum ada komentar untuk chapter ini.

Jadi yang pertama?