THE PHENOMENAL ONE Part 4

THE PHENOMENAL ONE

Part 4

Sekitar jam sepuluh malam, motor vespa antik yang dikendarai oleh Andre nampak melintasi jalanan kota Bandung untuk menuju ke tempat kostannya. Wajah pria berkacamata dan berbadan kurus ini sangat kusut, dalam hatinya tak henti-hentinya menggerutu “Mimpi apa aku semalam?! Sudah dimarahi klien, dimarahi Bos pula! Disuruh lembur lagi! Hufff… Mungkin hari yang sial ini karena aku telat masuk gara-gara tetangga baru yang berisik dan buat aku susah tidur!” gerutunya.

Saat sedang berkendara sambil menggurutu seperti itu, tiba-tiba ia teringat pada tetangga barunya yang menganggunya dengan menyetel musik bising semalam “Tetangga baru? Hmm… Semalam aku tidak sempat menanyakan namanya”, pikirannya jadi melayang terus mengingat sosok gadis yang sempat bertengkar dengannya semalam “Tapi ngomong-ngomong… Dia seksi dan cukup manis juga pa blepotan keingat kemarin”, tapi seolah baru tersadar kalau dia sedang mengemudia, ia buru-buru mengenyahkan lamunannya tersebut “Sadar Ndre! Lu lagi nyetir! Lagipula kelihatannya dia gadis yang pemberang!”

Andre pun terus mengendarai vespa jadulnya menyusuri jalanan malam kota Bandung, sampai pada suatu perempatan jalan ia menghentikan motornya karena lampu merah. Saat sedang menunggu lampu merah, tiba-tiba matanya tertuju pada seorang gadis berambut panjang berpakaian hitam-hitam ala security yang menjaga pintu masuk sebuah klub malam Bersama dengan seorang pria rekannya “Lho bukankah itu si tetangga baru?”

Andre lalu terdiam sejenak sambil terus memperhtikan wajah si gadis security yang kelam membesi menjaga pintu masuk klub malam tersebut sampai suara klakson kendaraan-kendaraan dibelakanya menyadarkannya, kemudian seolah tanpa sadar, Andre pun membelokan motornya dan memarkirnnya didepan klub malam tersebut, tanpa pikir panjang ia memasuki klub tersebut.

Vania yang sedang bertugas menjaga pintu masuk klub tersebut, agak kaget ketika melihat tetangga barunya yang semalam sempat bertengkar kecil dengannya, melangkah masuk ke klub yang sedang dijaganya tersebut. Andre melangkah menghampiri Vania, kemudian dengan canggung ia mengangguk tersenyum pada Vania “Hei!” sapanya singkat dengan grogi.

Vania balas mengangguk dengan canggung tapi tidak tersenyum, ia lalu mengerjakan tugasnya “Boleh lihat KTP anda?” tanyanya.

“Tentu” jawab Andre sambil menyodorkan KTPnya.

Vania lalu mengecek KTP tersebut “Andre Yudanegara, usia dua puluh tiga tahun, pekerjaan swasta… Hmm… Jadi si tetangga baru ini namanya Andre?”, ia lalu mengembalikan KTP Andre dan karena tamunya ini memenuhi persyaratan untuk masuk kedalam klub malam, ia pun mempersilahkannya masuk.

“Vania Dea Susanti… Oh jadi namanya Vania, nama yang bagus” gumam Andre dalam hatinya sembari melangkah masuk, ia mengetahui nama Vania dari nametag yang dipakai di seragam Vania.

Saat Andre melangkah masuk meninggalkannya, sepasang mata bulat tajam Vania terus memperhatikan pria dengan tinggi sedang dan berperawakan kurus tersebut “Cih! Jadi dia pria mata keranjang juga, datang ke tempat seperti ini!” makinya dalam hati, tetapi disaat yang bersamaan ia juga tiak tahu mengapa otaknya mulai terus memikirkan pria tersebut.

Sementara didalam klub, sang bartender menanyakan pesanan Andre “Mau pesan apa Bung?”

Andre tampak kebingungan melihat daftar menu minuman yang semuanya minuman keras mengandung alcohol tersebut, hingga akhirnya ia bertanya balik “Kalau soft drink ada?”

Si bartender menaikan alisnya mendengar pertanyaan Andre tersebut “Soft drink? Kau kira ini kios pinggir jalan pesan soft drink? Kami hanya menyediakan minuman berakohol!”

Pria berkacamata ini menelan ludahnya karena ia tidak pernah sekalipun meminum minuman berakohol “Maaf Pak, tapi saya tidak bisa minum alcohol” aku Andre jujur.

“Tidak bisa minum alcohol tapi datang ke klub malam?! Oh saya tahu, mungkin Bung hanya ingin mencari teman penghibur? Silakan pilih, mereka yang duduk di sofa pojok sana yang belum menerima job malam ini, tarif dan jenis pelayanan mereka pun berbeda-beda, jadi silakan langsung nego saja dengan mereka!” tunjuk si bartender pada tiga orang gadis cantic yang berpakaian sangat seksi menggoda.

Andre melirik kea rah yang ditunjukan si bartender, ia sempat teroda dengan kemolekan gadis-gadis itu, tapi ia langsung menggeleng-gelengkan kepalanya “Bukan! Bukan itu tujuan saya datang kemari!” ujarnya.

“Lalu Bung mau apa datang kemari? Ini klub malam, tempat hiburan malam dan minuman alcohol berada!” tanya si bartender yang mulai kesal dengan tamunya ini.

Andre jadi semakin bingung dengan apa yang harus ia lakukan, maka akhirnya ia pun memutuskan untuk memesan minuman berakohol yang paling ringan “Kalau begitu saya pesan yang paling ringan saja kaena nanti saya harus mengemudi untuk pulang”.

“Nah begitu! Tunggu sebentar!” si bartender pun menyajikan salah satu jenis muniman yang paling ringan dengan perasaan kesal pada tamunya ini.

***

Keesokan pagi harinya, Vania berlari pagi ke rumah pemotongan daging milik Vince. Ia lalu masuk dan menghampiri Vince yang sedang sibuk memotong daging-daging iga sapi beserta tulangnya menggunakan gargaji mesin “Hei Vince!” sapa Vania.

“Hey apa kabar?” sahut Vince.

Vania langsung merebut gergaji mesin dari tangan Vince dan langsung memotong iga sapi dihadapannya “Hei aku bisa melakukannya sendiri!” ucap Vince.

“Tidak apa-apa, aku ingin bantu!” tolak Vania.

“Jadi ada apa kau datang kesini? Apakau butuh daging sapi segar?”

Vania menggelengkan kepalanya “Tidak, aku baru mau ke Dojo… Heiboleh aku bertanya padamu?”

“Tentu, aku suka mngobrol sambil bekerja agar tidak terlalu jenuh”.

“Vince latihan apa yang bisa kulakukan untuk melatih kecepatan refleksku dan kecepatan gerakku?”.

“Kupikir beberapa pelatih disana bisa membantumu, ada seorang pria yang bernama Steve, dia pelatih yang sangat baik dan mumpuni”.

“Ya tapi dia kebanyakan melatih anak emasnya yang bernama Natalya, jadi aku melatih diriku sendiri”.

“Apa mereka tahu kamu putri dari Sang Legenda Bisma Wardhana The Iron Dragon?”

“Aku tidak mau menyebutkan nama itu, aku coba memakai namaku sendiri!”

“Kenapa?”

“Karena aku ingin menjadi diriku sendiri, menjadi Vania Dea Susanti! Plus itu akan membuat hidupku lebih mudah” Tegas Vania, Vince pun mengangguk-ngangguk.

“Ditambah… Jika kau bersedia melatihku, tidak akan siapapun disini yang akan mengenaliku, kita bisa berlatih dengan tenang tanpa gangguan pers ataupun mulut-mulut usil, mereka tidak akan pernah tahu!”

“Ah pembicaraanmu kembali kesana lagi… Van, sudah kukatakan sebelumnya, aku tidak ingin melakukannya, aku hanya tidak mau dan ingin menjauhi dunia MMA sebisaku!” tolak Vince.

Vania berpikir sejenak, ia beranggapan mungkin sekarang memang belum bisa untuk terus membujuk Vince. Ia pun mengangguk-ngangguk “Tak apa, tapi mungkin kau bisa memberiku petunjuk”.

“Petunjuk?”

“Ya sesuatu yang bisa kulakukan sendiri!”.

Vince menghela nafas berat sambil menatap wajah gadis yang sedang memotong iga sapi disebelahnya itu “Astaga, kau tidak bisa berhenti ya? Kau seperti burung gagak yang terus berisik meskipun sudah diusir”.

Vania brhenti memetong iga dan menoleh pada Vince sambil tersenyum, Vince berpikir sejenak lalu “Baik, aku punya beberapa tips, tapi hanya itu oke?!”.

“Oke, tentu saja!” Angguk Vaniasambil tersenyum senang.

Vince lalu mengenakan kacamatanya dan mengambil secarik kertas serta sebatang pulpen, ia mulai menuliskan beberapa tips sesuai dengan permintaan Vania “Oke yang pertama kau harus pemanasan yang benar selama sepuluh menit, setelah itu lompat tali selama lima belas menit, tiga puluh menit memukul dan menendang karung, dan ingat, jangan pukul atau tendang terus dengan kekuatan penuh karena itu bisa melukai tanganmu, kau harus berhenti sesekali dan mengatur kekuatan pukulan atau tendanganmu, paham?!”

“Ya aku paham”.

“Oke, lalu kau harus berlatih melompati rintangan ban selama kurang lebih dua puluh menit, lalu sisanya berlatih dengan bayangan”.

“Bayangan? melatih kuda-kudaku begitu?”

“Iya begitu, dan tambahanya kau harus sering berenang, minimal empat kali dalam seminggu”.

“Itu saja? Bagaimana dengan latihan jiu jitsunya?”.

“Berlatih jiu jitsu harus dengan pelatih dan lawan tanding, kau tidak bisa melakukanya sendiri! Kalau kau tidak punya lawan tanding, paling kau hanya bisa berlatih dengan angkat beban dan latihan-latihan untuk kelenturan tubuh!”

Vania mengangguk “Begitu? Ya okelah kalau begitu”.

“Oke itu saja, dan selesai… Ini catatannya”.

“Baik… Wow ini benar-benar menu latihan yang sempurna!”.

“Vania, ingat jangan erlatih terlalu keras, berlatih terlalu keras bisa membuatmu cidera atau bahkan menghancurkan dirimu, paham?!”

“Paham Vince!”

“Semoga beruntung!” pungkas Vince yang mengambil gergaji mesin yang tadi dipakai oleh Vania dan melanjutkan pekerjaannya.

“Oke, aku pamit dulu, akum au langsung ke Dojo dan mempraktekkannya!” pamit Vania dengan antusias sambil berlari keluar.

“Hei hati-hati! Jangan terlalu memaksakan dirimu!” teriak Vince.

“Siap Vince!” jawab Vania tanpa menoleh sambil terus berlari.

“Jezzz… Anak itu mengingatkanku pada masa mudaku dulu” gumam Vince sambil menatap kepergian Vania, kemudian ia pun melanjutkan pekerjaannya.

***

Dini harinya di klub malam tempat Vania bekerja, Vania yang sedang mendapatkan jatah istirahat nampak termenung seorang diri ruang ganti petugas keamanan. Berkali-kali ia menghembuskan nafas berat sambil menatap layar HPnya “Apakah sebaiknya aku yang mulai meneleponnya?” tanyanya dalam hati sambil menatap ulisan nama Bisma Wardhana di kontak HPnya.

“Sudah satu bulan aku pergi dari rumah, tapi dia tak juga menghubungiku… Apakah ia benar-benar marah padaku?” pikir Vania sambil mengingat sosok ayahnya. “Aku merindukanmu Pah… Tapi maaf, seperti yang pernah aku katakan, aku baru akan pulang setelah aku menjadi juara!”

Saat itu ada yang mengetuk pintu ruangan itu, Vania pun membuka pintunya “Van, ada yang nyariin kamu tuh!” ucap seorang gadis berpakaian sangat minim yang mengetuk pintu.

“Siapa?”

“Nggak tahu, tapi dia pria, orangnya berkacamata dan kelihatannya masih muda”.

“Dia mau apa? Bos dan semua pegawai disini kan tahu kalau aku cuma petugas keamanan disini, aku tidak menerima tamu seperti kamu atau yang lainnya!”

“Wow woles Sis! Dia bilang dia enggak bermaksud untuk dihibur, dia hanya datang berkunjung untuk menemuimu, laigian kamu sedang istirahat kan?”

Vania jadi penasaran juga denga orang yang mengunjunginya tersebut “Oke, aku akan menemuinya, dimana dia?”

Gadis penghibur itupun menemani Vania menuju ke tempat pria yang ingin menemui Vania tersebut, pria itu menunggu di dekat pintu Gudang minuman “Ande?!” seru Vania yang kaget dengan orang yang sedang menunggunya disana.

“Yup! Ha… Hallo Vania…” angguk Andre sambil tersenyum grogi.

Vania terdiam sebentar, ia agak terkejut karena Andre mengetahui namanya, tapi kemudian ia teringat kalau ia memakai nametag di seragamnya “Hmm… Ia pasti tahu namaku dari nametagku”. Vania lalu menatap Andre dengan tatapan penuh curiga “Mau apa kamu? Disini bukan tempat untuk mencari ketenagan seperti di kostan kita bukan?”

Andre merasa sedikit tidak enak dengan sindirian Vania tersebut, ia menggelengkan kepalanya lalu memberanikan diri menatap wajah Vania “Tidak… Begini… Kemarin aku kebetulan lewat sini dan kulihat kamu bekerja disini”.

Mata Vania menyipit menatap Andre dengan penuh selidik, perasaannya sudah tidak enak, diam-diam tangannya sudah mengepal bersiap-siap untuk memukul rahang Andre bila pemuda dihadapannya ini berani berbicara yang macam-macam padanya “Lalu mau apa kamu?” tanyanya dengan suara dalam.

Andre mafhum dengan sikap curiga Vania padanya, sedikitpun ia tidak bermaksud untuk berbuat macam-macam pada gadis dihadapannya itu. Ia sendiri juga tidak tahu kenapa bisa sampai kembali ke klub malam ini dan berbuat nekat meminta pada seorang gadis penghibur untuk memanggilkan Vania, tetapi tidak ada sedikitpun niat buruk pada Vania, ia hanya ingin menemui dan mengajaknya mengobrol, itu saja. Maka ia pun berkata “Vania… Aku tahu kamu bekerja disini hanya sebagai petugas keamanan, tidak lebih! Gadis yang tadi sudah menceritakan semuanya padaku”.

“Lalu? Kau belum menjawab pertanyaanku!”

“Aku… Aku… Eh kudengar kamu sedang mendapatkan jam istirahat… Jadi… Bagaimana kalau kita keluar sebentar dan makan?” ajak Andre.

Vania jadi agak geli juga mendengar ajakan Andre yang dengan diiringi ekspresi wajah grogi pemuda itu. Seumur-umur belum pernah ada seorang pria pun yang berani mengajaknya untuk makan “Darimana asalmu Andre?”

“Kedua orang tuaku berasal dari Tasikmalaya, tapi aku lahir dan besar di Jakarta, lalu aku kuliah dan kerja di Bandung”.

“Wow penjelesan yang jelas sekali… Jadi kamu besar di Jakarta huh? Andre, beginikah cara kalian mengajak keluar seorang gadis di Jakarta?” tanya Vania sambil tersenyum.

Jantung Andre berdegup amat kencang ketika melihat senyum Vania, senyum dari seorang gadis yang ia sangka tidak pernah tersenyum. Dengan berusaha menahan detakan jantungya yang semakin mengencang, ia berusaha untuk tenang, ia pun menyengir “Hanya ingin tahu jika kau lapar, bukan untuk kencan”.

Vania menangguk pelan “Benar…”

Andre jadi salah tingkah, ia jadi celingukan ketika menyadari bahwa ia mengajak Vania untuk makan malam didalam klub malam yang hingar binger dengan kehidupan malam “Kau tahu? Ah tidak apa…” ucap Andre tanpa mengetahui apa yang ia katakan sembari melangkah meninggalkan Vania.

“Hei tunggu!” panggil Vania.

Andre pun berbalik dan kembali menghampiri Vania. Vania pun tak mengerti mengapa ia bisa memanggil Andre, apakah karena ia benar-benar tertarik dengan ajakan Andre tersebut? Ia sendiri tidak tahu, hanya yang jelas wajahnya memerah. Gadis ini pun menundukan kepalanya, berpura-pura menatap layar HPnya untuk menyembunyikan ekspresi wajahnya “Aku hanya punya waktu satu jam lagi… Jadi kita tidak bisa berlama-lama, kamu mau mengajaku kemana?”

“Bagaimana kalau kamu saja yang menentukan?” jawab Andre kebingungan setelah menyadari kalau sekarang sudah lewat tengah malam.

“Hahaha lucu! Kau mengajakku keluar dan makan tapi tidak tahu mau kemana?”

“Emm… Ehh maksudku kamu kan bekerja disini, jadi mungkin kamu tahu tempat makan yang buka pada dini hari begini”

“Tapi kamu kan yang lebih dulu tinggal di Bandung! Sudah, kalau kamu tiak tahu mau kemana, kita tidak jadi saja!”

“Tunggu! Aku tahu satu tempat yang enak untuk makan malam pada jam segini!” ucap Andre pada akhirnya.

“Nah kalau begitu ayo cepat kesana, aku hanya punya waktu satu jam kurang!”

“Oh oke, tempatnya tidak terlalu jauh dari sini, tapi kita kesana dengan naik vespaku, jadi… Apakah kamu punya jaket?”

“Punya, tunggu sebentar, aku ambil dulu jaketku di ruang ganti!” setelah Vania mengambil jaket trainingnya, mereka pun pergi untuk makan di sebuah café yang tidak jauh dari klub malam tersebut.

Belum ada komentar untuk chapter ini.

Jadi yang pertama?