THE PHENOMENAL ONE Part 5

THE PHENOMENAL ONE

Part 5

Hanya sekitar lima menit kemudian, mereka pun sampai di sebuah café yang masih cukup ramai. Setelah duduk dan makanan mereka datang, mereka pun mulai mengobrol “So Vania, apakah penampilanmu selalu sporty seperti ini?” tanya Andre membuk percakapan sambil menatap jaket training Vania.

“Kau sendiri? Apakah penampilanmu selalu seperti eksekutif kutu buku seperti ini?” balas Vania sambil menatap pakaian Andre yang pada jam segini, masih rapih berdasi dan berjas

“Oh maaf….” melas Andre sambil menatap api lilin di meja tersebut.

“Tidak apa-apa… Tapi kamu tidak apa-apa jam dua dini hari masih belum istirahat? Bukannya besok pagi kamu harus bekerja?”

“Emh, tidak apa-apa, hanya mungkin nanti pagi aku harus minum tiga gelas kopi hahaha” jawab Andre setengah bercanda, da entah mengapa bercandaan yang lebih mirip basa-basi seperti itu pun bisa membuat Vania ikut tertawa.

“Oya Van, apakah kamu seorang atlet? aku lihat kamu seperti atlet atau olahragwan gitu”.

“Oh bukan… Aku hanya seseorang yang ingin menjadi petarung MMA”.

“MMA? Lalu darimana asalmu?”

“Aku dari bukit Sentul Bogor, iya aku ingin menjadi petarung MMA, itulah sebabnya aku bekerja di klub malam untuk membiayai biaya pelatihanku di Dojo”

“Kamu tidak kuliah?”

“Tidak! Aku hanya ingin menjadi seorang petarung MMA, titik!” tegas Vania yang merasa kesal apabila membahas soal kuliah, apalagi kalau ia teringat pada nilai-nilai ujian Paket C nya yang hancur.

“Oh maaf… Lalu kenapa tidak mencari pekerjaan lain? Maksudku, kamu kan harus latihan keras untuk menjadi petarung MMA, sementara semalam suntuk kamu harus kerja di klub itu”

“Yah kau tahu sendiri kan bagaimana sulitnya mencari pekerjaan sekarang ini, lagipula aku hanya bisa mengandalkan kekuatan fisik saja, jadi ya terpaksa aku bekerja di klub itu. Semalam suntuk aku bekerja, pagi latihan, siang tidur, dan sore latihan lagi”.

“Wah latihan untuk menjadi seorang MMA berat juga ya… Semoga beruntung ya Van, dan jangan lupa jaga kondisi badanmu”.

“Terimakasih, oya kamu sendiri kerja dimana?”

“Aku bekerja di perusahaan teknologi computer Van”.

“Oh pantes”

“Pantes apanya?”

“Tampangmu seperti computer boy banget hahaha!” canda Vania.

“Yah banyak yang bilang begitu Van hahaha” tawa Andre, ia merasa sangat senang melihat tawa gadis yang duduk dihadapannya itu, sementara bagi Vania, ada suatu perasaan aneh yng mmbuatnya nyaman ketika mengobrol dengan Andre, seumur hidupnya baru kali ini ia bisa merasa nyaman mengobrol dengan seorang pria selain ayahnya dan Vince.

“Bolehkah aku bertanya yang agak pribadi?”

“Hmhm boleh”.

“Ngomong-ngomong apakah kau sudah punya cowok Van?” tanya Andre memberanikan dirinya.

“Tidak… Seperti yang kubilang, aku terlalu sibuk untuk berlatih dan bekerja” jwab Vania.

“Ah ya… Petarung MMA itu…” desah Andre, pria ini tidak dapat membayangkan bagaimana seorang gadis seperti Vania berada didalam octagon lalu saling baku hantam sampai berdarah-darah dengan lawannya yang juga sesama gadis.

“Kamu sendiri bagaimana Ndre? Sudah punya cewek?”

“Belum” geleng Andre.

“Sudah pernah pacaran?”

Andre termenung sebentar, kemudian ia menjawab tanpa melihat ke wajah Vania sambil tersenyum “Pernah… Beberapa kali..”

“Cowok ini berbohong! Ahahaha… Tapi enth kenapa aku suka caranya ia berbohong, wajahnya malah nampak lucu ketika menceritakan kebohongannya sambil nampak berpikir keras, dasar pembohong payah! Ahahaha…” tawa Vania dalam hatinya yang mengetahui Andre sedang berbohong, ya seperti dikatakan Vania, Andre memang pembohong yang payah.

“Vania, kamu tidak terlihat seperti seorang petarung MMA bagiku, tubuhmu bagus tapi… Aku tidak tahu kebanyakan petarung seperti…” ucap Andre sambil mengingat wajah petarung MMA yang ia hafal.

“Seperti apa?” tanya Vania.

“Maksudku… Aku tidak mengatakan kalau kau tidak tepat untuk menjadi seorang petarung MMA… Tapi aku penasaran, apa yang membuatmu ingin menjadi petarung MMA?”

“Ayahku seorang petarung MMA”.

“Oke, itu masuk akal… Apakah ia petarung pro? Seperti petarung di AAFC gitu?”

“Iya, dia mantan petarung di tingkat AFFC”.

“Apakah dia yang melatihmu utnuk menjadi petarung MMA?”

“Tidak… Ia tidap pernah setuju aku terjun ke dunia MMA… Jadi aku pergi dari rumah…” jawab Vania dengan suara berat.

“Oh aku minta maaf… Aku seharusnya tidak menanyakan itu” ucap Andre yang menyesali pertanyaannya.

“Tidak, tidak apa-apa kok Ndre”.

“Jadi kenapa kau ingin jadi petarung MMA?” tanya Andre lagi setelah beberapa saat.

Vania berpikir sejenak sebelum menjawabnya “Emh… Itu membuatku merasa lebih hidup… lebih bebas… Aku bisa membebaskan satu naluri buas yang ada jauh didalam dadaku”.

Andre mengangguk-ngangguk “Ya… Ya… Aku paham maksudmu”.

“Lalu kamu sendiri, kenapa bekerja di bidang computer, euh… apa namanya itu?”

“Programer”

“Ah iya, kenapa kamu jadi programmer Ndre?”

“Hmm… Aku juga tidak tahu, aku hanya merasa dapat mengerjakan pekerjaan itu dan menghasilkan uang” jawab Andre.

“Beuh! Jawaban yang pragmatis sekali!” ejek Vania sambil tertawa.

Setelah selesai makan Andre pun membayar makanan mereka “Tidak, biar kita bayar masing-masing saja!” tolak Vania.

“Biar aku saja, aku yang mengajakmu keluar kan?” paksa Andre.

“Tapi katamu ini bukan kencan”

“Memang bukan” jawab Andre, kembli wajah Vania terasa panas dan merona, karena untuk pertama kali dalam hidupnya, dia ditraktir oleh seorang pria kenalannya. Setelah itu Andre pun pun mengantar Vania kembali ke klub malam tempatnya bekerja. Sepanjang perjalanan hati Vania terasa hangat, perasaan nyaman yang juga aneh. Ini pertama kalinya bagi Vania diajak makan malam oleh seorang pria seumur hidupnya, juga pertama kalinya ia merasa sangat penasaran pada seorang pria setelah selama dua puluh satu tahun hidupnya, ia belum pernah merasakan perasaan yang aneh dan serba asing seperti ini dalam dirinya.

***

Pada suatu pagi di sebuah pemakaman umum di daerah perbukitan Bandung Utara, Vince nampak sedang berjalan seorang diri menyusuri makam-makam yang berderet dengan rapi, hingga pada dua buah makam yang berjajar berdampingan, ia menghentikan langkahnya, ia lalu membuka kursi lipat yang sedari tadi ia apit di ketiaknya, kemudian duduk dihadapan kedua makam tersebut.

Vince termenung sejenak, lalu ia tersenyum setelah mengenakan kacamatanya dan memperhatikan kedua makam tersebut dalam keadaan bersih dan rapih. Ia lalu menoleh ke samping kanannya, beberapa meter dari sana, nampak seorang pria tua membawa sapu lidi yang sedang membersihkan beberapa makam disana. Si Pria tua itu menoleh lalu melemparkan senyumnya pada Vince “Aku tahu kau akan kemari hari ini Juara!” serunya, Vince pun mengangguk sambil tersenyum lebar lalu melambaikan tangannya.

Setelah ituia kembali menatap kedua nisan dihadapannya, ia lalu membuka sebuah buku Yasin dan mulai membacakan doa untuk kedua penghuni makam tersebut. Setelah selesai ia mengembangkan senyumnya “Apa kabar sayang? Hari ini ulang tahun jagoan kecil kita bukan? Happy Birthday Kid!” ucapnya.

Vince kemudian terdiam, lama ia menatap nama “Suci Indah Sari” dan “Angga Perdana”, ia lalu tersenyum sendiri “Aku tidak akan melupakanmu nak, aku merindukanmu” ucapnya berbarengan dengan satu tetes air matanya jatuh dari kelopak mata kanannya.

Ia lalu melirik pada makam istrinya “Hallo Suci, sayangku… Terbaik dari yang terbaik…” Vince lalu menepuk-nepuk kedua lututnya “Suci, akhir-akhir ini aku semakin merasa sulit untuk berjalan menaiki bukit pemakaman ini, huffhhh… Apa artinya? Tapi percayalah hal itu tidak akan membuatku jarang untuk menemui kalian ehehehe…”.

Vince terdiam lagi beberapa saat, ia lalu menengadahkan kepalanya, menatap lagit biru yang cerah di pagi hari itu “Ini hari yang indah Beb… Tidak ada masalah yang membuatku sakit kepala, semua kiriman datang tepat waktu, begitupun semua pesanan dapat aku kirim tepat waktu, warung sate kita semakin ramai… Satu-satunya masalah mungkin aku tidak sempat berolahraga karen terlalu sibuk bekerja dan aku harus tetap meluangkan waktuku untuk mengunjungi kalian bukan? Tapi… ehehehe Aku tidak bermaksud menyalahkan kalian, tapi… Ah sudahlah, aku tidak mau merusak pikiranku dan hari yang indah ini dengan omelanku”.

Saat itu naluri Vince yang tajam dapat mengetahui bahwa ada seseorang yang melangkah mendekatinya, satu langkah yang sangat halus hingga nyaris tak bersuara ketika kakinya menyentuh rumput dan dedaunan, ketika ia melirik ke samping kirinya, nampaklah seorang gadis yang membawa dua bungkus bunga dan sebuah botol berisi air mineral.

“Vania?” sapa Vince, “Mau apa kau kesini?”

“Sudah lama aku tidak kemari… Aku baru sekali kemari, dan seingatku saat aku dan papah kemari, itulah teakhir kali aku dan papah berbicara denganmu” jawab Vania sambil menaburkan bunga ia bawa ke kedua makam tersebut, kemudian ia menyiramkan air mineralnya dari dalam botol minuman.

Setelah selesai Vania menatap wajah Vince, kemudian ia tersenyum “Tenang Vince, tujuanku kemari bukan untuk meminta tips darimu lagi, aku hanya ingin mengunjungi Tante dan Angga”.

Vince mengangguk “Yup, mereka pasti senang mendapati kunjunganmu setelah lama tak bersua”.

Vania menangguk sambil menatap kedua nisan dihdapannya, setelah itu ia menundukan wajahnya, wajahnya berubah menjadi amat muram, desahan nafasnya menjadi berat sehingga terdengar jelas oleh Vince “Vince… Kamu tahu yang sebenarnya tentang ibuku bukan?”

Wajah Vince langsung berubah “Ya aku tahu semuanya”.

“Yah… Kalau kamu tahu yang sebenarnya, mungkin itulah mesin pendorong utama yang membuatku ingin menjadi seorang petarung MMA, karena Ibuku!”

“Tapi itu bukan alasan untuk membenci ibumu bukan? Bagaimanapun ia sangat menyayangimu Vania!”

Vania menggelengkan kepalanya sambil tersenyum getir “Tidak! Aku malah lebih senang berkunjung ke makam Tante Suci dan Angga daripada aku harus mengunjungi makam ibuku dan mengingat semua tentangnya Vince, karena… Karena setiap mengingat ibuku, naluri buas dalam hatiku selalu berontak, selalu mencoba untuk menguasai diriku!”

Vince tediam mendengar ucapan ania tersebut, ia lalu teringat pada sesosok wanita yang menjadi pendamping hidup sahabat sekaligus rivalnya, Bisma Wardhana. Ketika itu Vania membalikan badannya dan hendak melangkah meninggalkannya “Maaf kalau aku merusak nostalgi dan hari ulang tahun Angga Vince, aku permisi!” pamit Vania sambil mulai berlari meninggalkan Vince seorang diri, Vince pun hanya terdiam sambil menatap kepergian Vania dengan berbagai perasaan yang berkecamuk didalam dadanya.

***

Keesokan pagi harinya Vince mengemudikan mobilnya ke Dojo Harimau Terbang. Setelah turun dari mobilnya, Vince menatap lekat-lekat plang papan nama Dojo yang berlambang Harimua sedang melompat menerkam mangsanya tersebut, kemudian ia menghela nafas berat “Hufff… Serasa pulang kembali setelah melakukan perjalanan yang sangat lama tapi tak jauh…”

Vince lalu melangkah masuk, beberapa pasang mata pria paruh baya yang seumuran dengan Vince amat terkejut ketika melihat siapa yang datang, Steve yang paling kaget dengan kedatangan Vince. Steve dan para pelatih disana pun menghentikan latihan para muridnya, dan berhamburan menyapa Vince.

“Hei Vince apa kabar?”

“Hei Sting lama tak jumpa!”

“Hei Champ! Kemana saja?” sapa para pelatih disana.

“Aku baik, kabarku baik, aku hanya kelelahan memotong daging dan mengipasi sate-sateku!” jawab Vince sambil berguyon yang disambut oleh gelak tawa para pelatih disana.

“Tapi Sting, aku tidak mengira kau akan kembali kemari” sapa Steve yang menyebut nama Vince dengan nama julukannya yakni Sting.

“Aku juga tidak tahu, hanya pas kebetulan lewat sini, hatiku tergerak tanpa sadar untuk masuk kesini… Dan aku terkejut melihat keadaan Dojo yang semakin maju dibawah kepemimpinanmu!”

“Ahahaha hentikan basa-basimu itu Sting!”

“Dan satu lagi kejutan terbesar adalah, aku sangat terkejut ketika melihat begitu banyak wanita yang belatih MMA disini, sesuatu yang amat langka pada jaman kita!”

“Yah jaman berubah Sting, sekarang jumlah wanita yang berlatih disini lebih dari setengah jumlah pria, banyak yang berbabakat, diantaranya…”

Steve lalu menunjuk pada seorang gadis yang sedang berlatih didalam octagon “Kau masih ingat Natalya? Ia sudah lebih besar sejak terakhir kali kau melihatnya”.

Vince melirik menatap Natalya yang sedang berlatih “Ya sangat besar, dan… Aku sampai bisa mendengar suara angin pukulan dan tendangannya!”.

“Sting, rekornya Sembilan-satu! Ia memang satu kali kalah pada debutnya, tapi ia kalah point tipis! Ia sudah berhasil masuk ke Lower Card AFFC, ia harapan Dojo kita untuk membawa sabuk juara Women Strawweight AFFC!” Steve lalu menoleh pada Natalya “Natalya!” panggilnya.

Si Gadis yang tubuhnya dipenuhi oleh tato itu menghentikan latihannya dan menoleh pada ayah sekaligus pelatihnya “Natalya kemarilah! Temui paman Vince!” Natalya mengangguk dan menghampiri mereka.

“Sting dengar, permintaanku masih sama seperti dulu. Sedikit latihan, tips, dan sediki motivasi”.

“Biar kupikirkan Steve”

“Tentu, tentu!”

Saat itu Natalya datang dan menyalami tangan Vince “Hai apa kabar Natie? Lama tak jumpa”.

“Suatu kehormatan bisa bertemu lagi dengan sang legenda dan sang juara terhebat!” sahut Natalya.

“Rekor Sembilan satu dan bisa masuk ke AFFC hanya dalam waktu satu tahun, sungguh rekor yang sempurna!” puji Vince.

“Ya, targetku sekarang adalah The Beast! Aku akan focus untuk mengejar buruanku itu!” tekad Natalya.

Saat itu Vania yang baru keluar dari toilet terkejut melihat kedatangan Vince ke Dojo tersebut, ia pun langsung menghampirinya “Hei Vince!” panggilnya.

Steve dan Natalya terkejut dan heran karena Vania memanggil nama Vince begitu saja dengan nada yang sangat akrab “Dia berbicara padamu?” tanya Steve.

“Yah aku pikir begitu” angguk Vince.

“Kau datang!” ucap Vania.

“Yah aku hanya mampir, dan disinilah aku” jawab Vince.

“Jadi kau mengenal gadis ini?” tanya Steve sambil tersenyum.

“Ya kami bertemu di warung sate miliknya” jawab Vania tanpa menjawab yang sebenarnya.

Naluri Steve langsung bekerja, ia menatap Vania lalu menatap Vince, ia tahu pasti ada sesuatu diantara mereka, kemungkinan Vince merasa tertarik pada Vania, tapi kemudian ia memutuskan untuk tidak ikut campur, makai a pun berkata “Kalau butuh sesuatu… Kalau kau butuh sesuatu katakan saja Sting!”.

“Yup, tentu! Dan good luck Natie!” pungkas Vince, setelah itu Natalya dan Steve pun meninggalkan Vince dan Vania bedua.

“Dia punya masa depan, Sembilan-satu…” tunjuk Vince pada Natalya, ia lalu menoleh pada Vania “Hey bisa kita bicara sebentar?”

Belum ada komentar untuk chapter ini.

Jadi yang pertama?