Part 6

THE PHENOMENAL ONE

Part 6

Jantung Vania berdegup kencang ketika mendengar ucapan Vince tersebut, dengan perasaan harap-harap cemas, ia mengikuti langkah kaki Vince dari belakang. Di Gudang tempat penyimpanan peralatan latihan, Vince menghentikan langkahnya, kemudian ia berbalik menatap Vania “Van, aku bahkan tidak tahu apa yang kulakukan disini karena aku punya rencana lain dalam hidupku, dan ini tidak termasuk didalamnya… Ayahmu spesial, mahluk yang sangat istimewa! Tapi sejujurnya aku tidak tahu apakah kau mahluk yang istimewa juga, hanya kau yang akan tahu bila waktunya tepat! Dan itu tidk akan muncul dalam semalam, kau perlu menerima pukulan, tendangan, kuncian, dan segala jenis serangan yang dahsyat, jatuh, bangun, dan kau akan tahu apakah kau mempunyai keistimewaan itu!”

Vania menangguk sembari matanya terus menatap mata Vince yang menatap matanya dengan tajam. Kemudian kedua tangan Vince memegang bahu Vania “Tapi kau harus berusaha keras! kau harus berlatih sangat keras! Jika tidak, aku bersumpah pada Tuhan dan pada naluri buas dalam hatiku, aku akan berhenti! Aku akan berhenti melatih MMA padamu, dan akan ganti melatihmu untuk mengipasi sate! Bagaimana?”

Jantung Vania seolah berhenti bedegup ketika pada akhirnya Vince bersedia untuk melatihnya, ia pun menatap Vince dengan tatapan setajam mata pisau “Setiap tetes keringat, setiap hembusan nafas yang kulepaskan adalah milikku! Dengan setiap tetes keringat dan hembusan nafasku serta setiap tetes darahku, aku siap untuk berusaha dan mengambil semua resiko untuk menjadi petarung MMA!”

“Oke sebelum aku melatihmu, aku ingin tanya sasaranmu sebagai petarung MMA, apa sasaranmu?”

“Menghajar The Beast Hikaru Shida dan menjadi juara AFFC Strawweight lalu menghajar The Terminator Dana Brooke dan menjadi juara UFFC Strawweight Women Division!” tegas Vania.

“Begitu? kalau begitu perlu kuingatkan bahwa untuk dapat masuk ke AFFC kamu harus mengumpulkan point bertarung yang cukup banyak dari federasi nasional ataupun Indie, point akan diakumulasikan dari setiap pertarunganmu, point yang banyak hanya bisa didapat dari kemenangan! Kalau ingin cepat mencapai AFFC kamu membutuhkan sepuluh kemenangan beruntun! Dan kamu bisa masuk ke AFFC di jajaran lower card, untuk menantang juara Asia kamu harus merangkak naik menjadi Upper Card dan menjadi no. 1 contender, barulah kamu bisa menantang sang juara si The Beast itu!”

“Perjalanan yang panjang ya” sahut Vania.

“Tapi kamu bisa mendapatkan pertarungan melawan The Beast lebih cepat jika beruntung!”

“Beruntung?”

“Ya, sang juara berhak atas satu klausul yang bernama Joker, jika ia menggunakannya, ia berhak memilih akan bertarung dengan siapa saja yang ia mau. Nah kalau kamu bisa menarik perhatian si juara, maka mungkin saja si juara akan menggunakan Jokernya untuk brtarung melawanmu dan kamu berkesampatan untuk menjadi juara!”

“Satu-satunya cara untuk menarik perhatiannya adalah aku harus bertarung denga baik dan menjadi satu fenomena di AFFC bukan?”

“Benar! Dan untuk tujuanmu yang selanjutnya, ingin menghajar juara dunia UFFC… Kamu harus memiliki point dari AFFC yang memenuhi ambang batas untuk bertarung di UFFC, dan sama seperti ketika masuk AFFC, ketika kamu masuk UFFC kamu berada di kelas lower card, untuk menantang Sang Juara si Terminator itu kamu harus menjadi Upper card dan menjadi no. 1 contender! Tentu saja kalau kamu menjadi juara AFFC secara otomatis kamu berhak untuk bertarung di jajaran upper card UFFC!”

“Point huh?” angguk Vania.

“Dan kamu tentu tahu cara untuk cepat mendapatkan point yang cepat?”

“Point dari satu pertandingan adalah satu, kalau kalah mndapat dua, kalau seri mendapat empat, dan kalau menang aku dapat sepuluh point! Jadi… Menang! Aku harus terus menang!” jawab Vania.

Vince tersenyum simpul mendengar tekad gadis keras kepala dihadapannya itu “Baik kalau begitu ikutlah denganku, kita akan bermain tenis”.

Vania menaikan alisnya “Tenis?”

“Ya tenis, tpi kau akan bermain solo didalam ruangan!”

Sampailah mereka di sebuah ruangan kosong, Vince memberikan sebuah raket dan sebuah bola pada Vania “Kau harus memukul bolanya ke tembok dalam jarak 3 meter, ketika bolanya memantul, kau harus langsung memukulnya, makin banyak kau pukul bolanya akan memantul semakin keras. Nah kau harus melakukan tiga ratus pukulan tanpa terputus, tanpa bolanya jatuh, dan kita akan lihat bagaimana kekuatan dan kecepatan refleksmu dari permainan ini!”

“Kau serius?”

“Yang jelas aku sudah menyalakan stopwatchku!” jawab Vince, maka Vania pun langsung melakukan latihan itu.

Mulai hari itu Vincent Destrata mulai menjadi pelatih resmi Vania, dan Vania pun mulai mengikuti metode latihan ala Vince yang dianggapnya aneh dan serba tidak konvensional tersebut. Selain beberapa metode tidak konvensional, pada pagi hari Vince pun menerapakan latihan fisik yang sangat berat untuk menggenjot fisik Vania, seperti latihan lari di kawasan Kawah Putih Gunung Patuha untuk melatih V02Max Vania, kombinasi lari cepat untuk jarak pendek, lari kecepatan sedang untuk jarak sedang, dan jogging untuk jarak jauh. Yang paling menarik adalah latihan menembak sasaran yang bergerak, Vince melakukannya agar Vania bisa tahu kapan waktu yang tepat untuk menyerang musuh dan kapan harus bersabar menahan diri agar tidak menyerang secara serampangan.

Pada sore harinya barulah mereka berlatih bertarung MMA, dan disitulah Vania baru mengetahui fungsi latihan bola tenis di pagi harinya, fungsi latihan itu bukan hanya untuk melatih reflex saja, tapi juga melatih untuk menentukan tempo dan irama serangan, kapan harus menyerang dengan cepat, dan kapan harus menyerang dengan kecepatan pelan.

“Vania, semua petarung MMA memiliki basic beladiri, dan yang paling banyak ditemui adalah Muay Thai atau Kick Boxing, kamu akan sering melihat petarung MMA yang memiliki dasar bela diri tersebut!” ucap Vince.

“Iya, karena Kick Boxing adalah bela diri yang menekankan pada kecepatan dan keseimbangan dalam menyerang maupun bertahan, dengan menggunakan tangan dan kaki kita” angguk Vania yang sedang mengatur nafasnya setelah melakukan latihan berat.

“Tapi ada juga beberapa petarung yang tentu saja memiliki dasar bela diri yang lain, seperti petarung upper card AFFC Wang Xi Shian dari RRC yang memiliki dasar Wushu dan Wingchun, kemudian sasaranmu The Beast yang memiliki dasar Karate, dan juara dunia yang memiliki dasar Gulat serta Judo” terang Vince.

“Wow! Kamu bisa tahu mereka semua, berarti kamu tetap menyimak MMA?”

“Tidak, kemarin aku seharian menonton hampir semua pertarungan para petarung wanita di kelas Strawweight untuk memutuskan menu latihan yang akan aku berikan padamu”.

“Oh begitu?”

“Ya… Semua dasar beladiri itu memiliki keunggulan masing-masing yang unik, tetapi mereka semua selalu menggunakan Jiu Jit Su untuk mengunci lawan mereka, maka Jiu Jit Su menjadi penting bagi seorang petarung MMA”

“Ya, aku paham”.

“Maka aku sudah putuskan, satu ilmu beladiri dasar yang cocok dikombinasikan dengan Jiu Jit Su… Aku mengajarimu Kick Boxing yang mengandalkan keseimbangan antara menyerang menggunakan tangan dan kaki serta keseimbangan dalam bertahan, sama seperti dasar ilmu bela diriku! Kick Boxing adalah beladiri yang menekankan pada serangan-serangan yang efektif pada waktu yang tepat, seperti tendangan high kickku ke belekang kepala ayahmu yang menurutmu menjadi penentu kemenanganku!”

“Kick Boxing… Baik! Aku akan mempelejarinya!” angguk Vania.

“Tetapi sebelum itu ada satu yang ingin aku tunjukan padamu”.

“Apa itu?”

“Ikut saja!” Setelah itu Vince membawa Vania ke satu ruangan yang terdapat satu cermin besar di satu sudut ruangan, “Menghadap lurus ke cermin dan acungkan tinjumu pada bayanganmu!”.

“Oke” jawab Vania sembari melakukan apa yang diperintahkan oleh Vince.

“Meskipun kau sudah mengatakan bahwa sasaranmu adalah Hikaru Shida dan Dana Brooke, tapiaku ingin memberi tahumu kalau musuh terbesarmu bukan mereka berdua!”

“Lalu siapa?”

“Kau lihat orang di cermin itu?” tunjuk Vince pada bayangan Vania di cermin.

“Yup!”

“Dialah musuh terbesarmu! Dialah musuh yang sulit kau kalahkan! Dibanding dengan dia, The Beast ataupun Terminator tidak ada apa-apanya! Setiap kali kamu memasuki Octagon, dialah yang kamu hadapi, aku percaya itu dalam MMA dan aku percaya itu dalam hidupku! Oke?!” tegas Vince.

“Iya, aku paham!” angguk Vania.

“Oke, sekarang pukul rahangnya!” perintah Vince, Vania pun melakukannya.

“Baik sekarang berikan pukulan hook ke rusuknya, lalu tending kakinya dengan lututmu dan tending bagian kepalanya!” perintah Vince lagi, Vania pun melakukan semua perintah Vince tersebut.

“Oke, setiap kali kamu menyerangnya, apa yang dia lakukan?”

“Dia membalasku!”

“Benar, jadi kau harus menangkisnya, menghindarinya, atau serang dia terlebih dahulu!”

Vania pun mulai melakukan kombinasi serangan, tangkisan, dan menghindar ketika membayangkan banyangan di cermin tersebut adalah musuhnya, Vince pun mengangguk-ngangguk “Oke, lakukan terus kombinasi itu selama beberapa saat sampai aku suruh berhenti, dan… Aku akan tinggalkan kalian berdua untuk sementara!”

***

Senja menjelang malam, Vania yang baru saja selesai latiham pulang ke kostannya, saat ia melewati pintu kamar Andre, ia mendengar suara musik yang tidak trlalu keras namun cukup jelas terdengar oleh Vania yang berdiri didepan daun pintu kamar Andre. GAdis inipun menghentikan langkahnya, ia lalu menatap pintu kamar Andre untuk beberapa saat “Jadi dia sudah pulang ya? Hmm… Aku jadi penasaran pada kamar pria ini” gumamnya.

Ia lalu mengetuk pintu kamar tersebut, tak berapa lama Andre pun membuka pintu kamarnya “Hei Van, apa kabar?” sapa Andre dengan canggung.

“Ya baik, gimana denganmu?”

“Baik juga” jawab Andre, baru saja Andre menjawab Vania mendorong pintu kamarnya “Boleh aku masuk dan lihat—lihat kamarmu?”

“Eh tapi…”

“Wah baunya enak buat kamar cowok!” potong Vania sambil melangkah masuk ke kamar Andre, “Rapih lagi!” sambungnya.

“Eh tapi…” Andre buru-buru berlari menyusul Vania, tetapi vania terus melangkah masuk dan melihat-melihat kamar Andre yang dipenuhi dengan poster-poster serta pernak-pernik tokoh-tokoh wanita dalam Anime Jepang.

“Wah ternyata kamu seorang otaku ya Ndre?” tanya Vania sambil melangkah mendekati laptop Andre yang sedang menyala menyetel Mp3 lagu Scandal, grup band rock Jepang yang personilnya wanita semua.

“Eh Vania! Aduh…” keluh Andre sambil berusaha mencegah Vania untuk melihat laptopnya, tapi dengan mudah, Vania dapat menyingkirkan Andre dan menatap layar laptop tetangganya itu.

“Weleh gambar cewek dua dimensi semua” sebut Vania sambil melihat-lihat isi laptop Andre.

“Vania hentikan! Jangan lihat barang orang sembarangan tanpa seizinnya!” protes Andre sambil berusaha menutup laptopnya.

“Cewekmu dua dimensi semua ya Ndre?” ledek vania.

“Sembarangan!” marah Andre.

“Ngaku aja deh hihihi… Atau ada cewek yang lagi kamu sukai sekarang?”

Karuan saja ‘tembakan’ Vania tersebut sangat menohok hati Andre, wajahnya menjadi merah seperti kepiting rebus “Eh itu… Itu…”

“Itu apa?” tanya Vania sambil menatap tajam dan mendekatkan wajahnya pada wajah Andre.

“Itu… Anu… Eh kamu mau minum apa? Aku tidak tahu minuman yang disukai petarung MMA” ucap Andre sambil melangkah mundur yang menghindari ‘tembakan’ dari Vania tersebut.

“Kopi aja Ndre” jawab Vania.

“Kopi? Kukira seorang petarung akan memilih Jus atau minuman isotonic” tanya Andre.

“Karena bau kopi yang sedang kamu masak itu wangi banget! Aku jadi kepengen!” tunjuk Vania pada satu termos listrik yang memang sedang dipakai Andre untuk memasak kopi arabica yang dicampur teh.

“Tapi kopi ini aku campur dengan teh dan susu murni, gimana?”

“Oh gitu? Pantesan wangi banget! Aku mau, tapi jangan pahit ya!”

“Oke, aku kasih gula ekstra buatmu bia manis ya!” Andre lalu memberikan secangkir kopi arabica yang sudah dicampur teh dan susu pada Vania setelah memberinya beberapa sendok teh gula pasir rendah kalori.

“Gimana? Manisnya cukup?” tanya Andre setelah mempersilahkan Vania duduk.

“Kurang manis Ndre!”

“Masa sih? Padahal aku udah kasih gula lumayan banyak, mau kutambah lagi gulanya?”

“Ga usah, soalnya mau ditambah berapa banyak pun bakal kurang manis!”

“Kenapa emangnya?”

“Karena jauh lebih manis aku!” canda Vania sambil tersenyu lebar didepan wajah Andre.

“Huh! Dasar cewek narsis!” ledek Andre.

“Eh Ndre, Vince sudah resmi menjadi pelatihku”

“Vince pemilik warung sate dan rumah pemotongan daging yang mantan juara AFFC itu? Sejak kapan?”

“Sejak satu minggu yang lalu, wah menu latihannya benar-benar berat!”

“Begitu? Lalu apakah kau masih kerja di klub malam itu?”

“Ya masihlah Ndre! Kalo enggak darimana aku bisa nyari penghasilan buat kehidupan sehari-hariku?”

“Bukannya gitu Van, tapi kamu sedang berlatih dengan keras untuk menjadi petarung MMA kan? Kamu harus menjaga kondisi tubuhmu, sementara jam kerjamu malam sampai pagi kan? Dan bagaimanapun kerja di klub malam itu kan…”

“Ya aku tahu maksudmu Ndre, tapi untuk saat ini pekerjaan itulah yang terbaik yang bisa aku lakukan untuk mencari penghasilan, aku tidak bisa bekerja seperti yang lainnya dari pagi sampai sore karena itu jadwalku berlatih! Jadi aku akan terus bekerja disana sampai aku bisa bertarung didalam octagon! Setelah menjadi petarung aku bisa mendapatkan penghasilan dari setiap pertarunganku!” jawab Vania dengan nada tinggi, sifat keras kepalanya lembali keluar karena tidak suka dengan saran Andre barusan.

Andre agak tercengang dengan kemarahan Vania, ia pun menundukan kepalanya “Maaf Van kalau aku nyinggung kamu…”

“Nggak akan kumaafin!” semprot Vania.

“Lalu aku harus gimana Van?”

“Kamu akan aku maafin kalau kamu mau menemaniku besok!”

“Menemanimu? Kemana?”

“Vince memberiku dua tiket bioskop buat besok malam, dia nyuruh aku nonton biar aku jenuh kebanyakan berlatih, tapi berhubung dia ngasih tiketnya dua, ya aku ngajak kamu” jelas Vania.

“Tapi bukannya besok malam kamu harus kerja Van?”

“Besok aku libur! Gimana? Mau apa enggak?”

“Tapi kenapa harus sama aku?”

“Kalau nggak mau ya udah! Aku ajak kucing yang aku jumpai dijalanan aja!”

“Tunggu aku mau!” jawab Andre akhirnya, tentu saja pemuda ini suka dengan ajakan Vania karena ia sendiri sudah sangat tertarik pada gadis berbadan atletis ini.

“Nah jawab aja gitu apa susahnya sih?!” semprot Vania dengan wajah jutek, padahal didalam hatinya ia amat senang karena Andre mau menerima ajakannya.

“Maaf…”

“Ah kebanyakan minta maaf! Sudah, aku harus siap-siap buat pergi kerja, aku tunggu kamu besok! Awas kalau telat!”

“Iya iya iya Vania!”

“Iyanya sekali saja!”

“Yes my princess!” seloroh Andre, setelah itu Vania pun pamit keluar dari kamar Andre setelah menyimpan cangkir Andre diatas mejanya, gadis itu melangkah keluar dari kamar Andre dengan senyum yang teramat manis karena senang Andre telah menerima ajakannya.

Belum ada komentar untuk chapter ini.

Jadi yang pertama?