Berandalan yang Dihajar 

Dengan satu tubrukan keras, tubuh anak itu terjerembab ke tanah.

“Nort, kau bajingan sial, pengecut! menyedihkan!“ Gadis itu berlutut dan menarik kerah baju anak laki-laki yang menjadi lawan tandingnya. Dan dengan tinju yang masih terkepal, sebuah pukulan melayang telak di wajah bocah itu. 

Anak lelaki itu mengangkat tangan, berusaha melindungi wajahnya dari tinju susulan. Sementara Gadis cilik pemberani itu, masih dengan muka garang melepaskan cengkramannya dengan hempasan. Lantas ia berdiri, memandangi mereka yang tersisa dari anggota geng si Nort yang berandalan itu. “Apa kalian lihat-lihat!? Mau bernasib sama seperti dia? Sini maju!” Bentaknya.

Suara pendek melengking milik gadis itu sontak membuat yang lain mundur beberapa langkah. Tak ada yang mau berakhir seperti pemimpin mereka, atau kaki tangan terdekatnya yang sebelum ini sudah lebih dulu merengek pulang dengan hidung berdarah.

Anak perempuan ini menyeramkan, dan seandainya saja mereka tahu itu dari awal-awal.

“Sudak kapok sekarang? Jadikan ini pelajaran buatmu, bodoh!” Bentaknya lagi sambil menyepak bokong pemimpin mereka. “Aku diam bukan berarti lemah! Aku tak perduli kau ini siapa atau orang tuamu siapa! Mana kalung itu, kembalikan!”

Hampir terisak, anak laki-laki yang kelihatan lebih besar dari sebayanya itu mengambil seutas perhiasan dari sakunya dan memberikannya pada gadis itu. Terkulai lemas, ia meringis sambil memegangi mulutnya yang terluka.

Sebuah gigi seri berlumuran darah tergeletak di dekat anak itu, dan melihatnya sekilas saja sudah membuat Jazdia mual.

Mual sekaligus kasihan. Bukan dia yang memulai perkelahian ini, tapi ialah yang harus mengakhirinya, dan itu berakhir dengan banyak korban.

“Hey, kalian para otak udang! Dengar ya baik baik!" Gadis itu mengancungkan tinjunya sambil menyorot ke arah mereka.  "Sekali lagi aku lihat ada yang menganggu Faldiar, aku rontokkan gigi kalian! Paham?"

Seluruh anggota kelompok itu mengangguk serempak. 

"Dan  jangan diam saja disitu! Bantu teman kalian. Jangan sampai ibunya menjemputnya kemari!”

Jazdia menarik lengan temannya dan beranjak dari tempat itu dengan setengah berlari. Ia tak mengatakan apapun, begitu juga sobatnya, Faldiar yang terpaksa ikut seperti karung yang diseret-seret. Saat ini yang ia pikirkan adalah untuk kabur secepatnya. Cepat atau lambat ayah Nort, Rionin Crest yang sok bangsawan itu akan datang menjemput anaknya dan dia akan berada dalam masalah besar jika terus berada di tempat perkara.

Masih terengah, Jazdia terus berlari menjauh dari wilayah kota, sampai akhirnya mereka berada di area terpencil di tepi hutan, tempat dimana keduanya sering bermain menghabiskan waktu, atau sekedar menjadi tempat pelarian seperti saat ini.

Setelah sejenak mengatur napas, Jazdia melepaskan pegangganya, lantas menjauh beberapa langkah dan menyandarkan tubuhnya di bawah sebuah pohon. Sudah lama ia tidak berlari secepat ini; otot-otot kakinya terasa panas.

Jazdia melirik ke arah Faldiar dan dengan cepat menyadari bahwa anak laki-laki itu menderita lebih banyak dibanding dirinya. Ada luka gores di sikunya, dan dari hidungnya masih terlihat sisa-sisa darah. 

"Oh... harusnya aku tidak memaksamu ikut lari." ucap Jazdia pelan sambil membuka tas kulit nya dan mengeluarkan beberapa kapas. Ia mendekati tepi telaga, membasahi kapas-kapas itu lantas menghampiri Faldiar, dan duduk di depanya. 

"Sini biar aku bersihkan." 

Dengan telaten, Jazdia menyapukan kapas basah tersebut dan menyingkirkan debu yang mengotori lukanya. Tak ada erangan, ataupun reaksi-reaksi yang lazimnya dilakukan anak seusianya saat siku atau lutunya terluka parut.  Faldiar tak mengatakan apapun, mata hijaunya menatap wajah Jazdia dengan sorot teduh dan itu membuat Jazdia merasa canggung. 

"Kau kenapa? Apa perih? Aku sudah melakukannya selembut mungkin seperti yang pernah bibi Flenaline ajarkan." 

"Ah tidak." anak laki laki itu tersenyum, lalu dengan nada jenaka melanjutkan. "Aku cuma terkesan. Kamu hebat banget tadi! Cuma satu tinjuan dan si Bob langsung nangis memegangi hidungnya yang berdarah. Sempat kasihan juga lihat si Nort tadi, kamu benar benar bikin dia babak belur!" 

Jazdia menekan kapas itu ke lukanya

"Auch! Sakit." 

"Biarin!" sergah Jazdia. Ia gusar, kenapa kekerasan kelihat seperti sebuh lelucon bagi para anak laki-laki? Apa Faldiar tak paham betapa nyeri hatinya menyaksikan Nort memukul kepalanya dan mendorongnya sampai jatuh? Apa  Faldiar tidak sadar bahwa dia ikut perkelahian tadi karena keterpaksaan? 

"Sekarang jangan bergerak." Tambah gadis cilik itu sambil mengambil kapas basah lain. Jemari lentiknya kini mengusap sisa darah di hidung temannya. Wajah mereka dekat, dan Jazdia tak lagi melihat ketenangan di mata anak laki-laki tersebut. 

"Nah sudah selesai."  ia mundur, tepat waktu sebelum wajah Faldiar memerah seperti kepiting rebus. 

"Ma... makasih ya." 

Jazdia tak mengatakan apapun, ia masih agak kesal. 

"Aku salah ya?" 

Jazdia menutup tasnya dan duduk di bawah pohon rindang itu, lantas menatap telaga biru di depannya sambil melamun. Menenangkan pikiran, mengabaikan pertanyaan bodoh karibnya itu.

“Aku minta maaf...” tambah Faldiar.

Jazdia menatap sekilas kearahnya, lalu sambil membuang muka, ia mendengus kesal. “Cobalah tumbuhkan sedikit otot dan keberanian, Fal! Kau ini laki-laki kan? Kau tak malu seorang anak perempuan harus menyelesaikan masalahmu? Dasar pa-“

Jazdia mencoba menahan diri untuk tidak mengucapkan lebih banyak kata yang dia akan sesali. Sejujurnya ini juga masalahnya, kalung yang Nort dan gengnya ambil adalah miliknya. Dipinjam oleh Faldiar yang penasaran kenapa benda itu bisa bercahaya dalam gelap. Sayangnya si anak-laki-laki penyendiri itu tak bisa meredam perasaan ingin pamernya, dan terjadilah semua ini.

“Si Nort bodoh itu tak mungkin membiarkan kita setelah ini.” Ucap Jazdia sambil besandar kembali di batang pohon favoritnya itu. “Tapi mau bagaimana lagi? Sudah terjadi...”

Jazdia melirik ke temannya itu. Sejujurnya ia merasa kasihan, tapi masih ada rasa kesal di hatinya. Kenapa sih dia ini selalu saja ceroboh? Kenapa sih dia selalu jadi penakut?”

Faldiar Alkreath, anak dari salah satu pengusaha terkaya di kota mereka harusnya punya segala keunggulan yang di mimpikan anak laki-laki seusianya. Dia tampan,  Orang tuanya serba berkecukupan dan menaruh begitu banyak perhatian pada anak semata wayang mereka. Disamping itu, Fal, begitu Jazdia memanggilnya, juga memiliki wajah yang manis dan sepasang mata coklat yang lugu namun lucu. Faldiar memang punya wajah memikat, tapi sayangnya itu malah membuatnya kelihatan  lemah dan tidak tegas.

Faldiar masih diam saja seperti orang bodoh, dan itu membuat Jazdia kian gusar.

“Kamu pulang aja deh Fal! Nanti kamu dicari papamu sampai kemari. Aku pula yang disalahkan.” Jazdia menyandarkan dagunya di lutut dan menatap kosong ke air telaga yang tenang. “Aku ingin sendiri dulu...”

“Umm... baik, Jaz... kita bicara besok... sekali lagi maaf ya, dan makasih.”

Dengan kikuk, Faldiar memohon diri dan pergi seperti orang yang baru membayar keterlambatan hutang yang besar. Setelah anak laki-laki itu beranjak, perasaan kacau di hatinya kembali bergejolak. Bukan amarah, tapi suatu penyesalan, dan tanda tanya.

“Sungguh anak yang beruntung...”

Jazdia mengambil kalung yang tadi ia rebut kembali secara paksa dan memperhatikan sudut-sudutnya dengan teliti. Ah, Nort tak mengotorinya, atau meninggalkan cacat di bongkahan kristal biru tersebut. Tentu saja, menurut buku yang Jazdia baca, Safir adalah jenis batuan yang sangat keras... dan berharga mahal. Untung saja ia cepat mengambil tindakan dan berhasil mengambil apa yang menjadi miliknya sebelum para orang dewasa turut campur.

Pelarian ini membuatnya merasa kelelahan...

Beberapa jam telah berlalu

Jazdia bangkit dari sandarannya yang nyaman dan menatap ke langit. Ia masih sempat memperhatikan bayangan pepohonan sebelum awan mendung semakin pekat menutupi cakrawala. Hampir sore; dia terlambat untuk makan siang, dan itu tidak baik.

Dengan tergesa-gesa, gadis kecil itu beranjak dari sana. Uh, bibi Flenaline akan mengomelinya sepanjang sore ini.

                                                                        ***

Falion adalah sebuah kota di dekat perbatasan antara Western Kingdom dan negeri Erien. Seperti namanya yang terdengar pas di telinga orang-orang barat, kota ini adalah tempat dimana dua budaya bercampur. Selama ratusan tahun, Ia berkembang sebagai pusat perdagangan antara bangsa Elf dan Manusia. Hubungan itu begitu rekat hingga melahirkan suatu fenomena yang Jazdia sama sekali tak mengerti.

Gadis cilik itu hampir sampai ke wilayah kota ketika ia melihat pertani Skaladim tengah berbincang dengan seorang penjaga gerbang. Di belakang petani kolot tersebut, beberapa keranjang penuh apel hijau terlihat berkilau seperti tumpukan emas diatas kereta kudanya.

Sambil menyesali keterlambatannya untuk makan siang, Jazdia diam-diam bersyukur karena telah menemukan alternatif untuk mengganjal perut. Diam-diam ia menyelinap pelan dari balik semak-semak dan merunduk di belakang kereta kuda tersebut. Dengan mata berbinar, ia meraih dua apel dari keranjangnya.

“Jadi Viceroy sendiri akan tiba disini minggu depan?”

Jazdia bisa mendengar pembicaraan mereka dari belakang sini.

“Ya, tapi kabar ini belum di sebarluaskan di antara penduduk.

“Pfft... dan kata orang orang Aldamir,warga Falion dan sekitarnya adalah sekumpulan murtad karena dewan kotanya menuntut otonomi khusus. Pada akhirnya mereka datang juga kemari, mengharapkan jamuan dan keramah tamahan. Dasar munafik!”

“Jangan begitu, pak tua.” Sergah prajurit muda itu dengan nada agak tersinggung. “Falion mendapat perlindungan dari Aldamir.

“Ya ya! Aku mengerti. Mereka menggajimu cukup untuk bicara baik-baik tentang pihak monarki.”

Aku serius. Pasukan dari Aldamir juga yang menjaga jalan-jalan ke barat supaya aman bagi para pedagang. Pedagang yang membeli apel-apelmu. Pedagang yang menjaga bisnis terus mengalir ke kota tercinta kita...”

Eh, apa mereka mengajarimu bicara bijak di akademi militer? Tapi kau ada benarnya juga. Baiklah! karena kau bilang begitu, kita langsung ke bisnis saja. Aku mau 2 keping emas per apel, dan aku akan memberikan hasil petikan yang terbaik untuk tamu-tamu kerajaan. Sampaikan pada si Mayor bahwa harganya sudah tetap! Tawar menawar membuatku sakit kepala!”

Jazdia mengantongi dua apel lagi dan menyelinap pergi. Tersenyum jahil mengetahui bahwa di sakunya ada dua makanan seharga empat keping emas. Ini bukan kali pertama ia ‘mencuri’ dari si tua pelit itu, dan mendengar betapa serakahnya ia tadi dalam menentukan harga, gadis kecil itu tak merasa bersalah sedikitpun.

Tapi ada satu hal yang menarik perhatiannya dari pembicaraan mereka. Viceroy dari Aldamir akan datang kemari? Dalam rangka apa? Jazdia belum terlalu mengerti tentang urusan-urusan kerajaan, tapi yang jelas pasti akan ada festival untuk menyambutan. Akan ada banyak manis-manisan dan kue untuk anak-anak sepertinya. Dan oh... kembang api! Pesta kembang api dengan warna-warna indah di angkasa. Jazdia tak ingat kapan ia melihat pertunjukan spektakuler semacam itu, tapi pastinya itu sudah sangat lama sekali.

Sambil menggigit apel di tangannya, gadis itu berjalan ke pusat kota dengan riang. 

                                                                                  ***

Sudah sore, namun distrik pasar masih ramai seperti biasa. Karena tempat perkelahian mereka berada dekat dengan area itu, Jazdia mengambil jalan memutar yang agak lebih jauh, melewati gang-gang yang biasanya di jaga oleh Nort dan komplotannya.

Gadis itu melewati wilayah itu dengan percaya diri. Ah tak mungkin mereka berani menghalaunya setelah apa yang telah dia lakukan.

Sedikit lagi sampai ke rumah, telinga elfnya bisa mendengar seorang pria berbicara keras dengan suara yang tak asing.

Dari jarak yang cukup jauh, gadis itu mengintip apa yang sebenarnya terjadi, dan darahnya terasa berdesir ketika melihat ayah Nort, Rionin menunjuk-nunjuk wajah bibi pengasuhnya, Flenaline sambil marah-marah.

“Itu hanya perkeliahian anak-anak, tuan Crest.” Ujar wanita itu membela diri. “Kenapa hal sepele semacam ini harus di besar-besarkan?”

“Sepele katamu?” hardik pria itu. “Anakku pulang dengan mulut berdarah dan gigi yang tanggal dan kau bilang ini hal sepele? Bagamana jika dia terkena gegar otak?”

Wanita itu kelihatan diam sejenak.

“Aku tak tahu harus bilang apa, Tuan Crest kecuali meminta maaf, tapi sungguh aku tak tahu lagi harus melakukan apa.”

“Kau bisa mulai dengan mengajari anak angkatmu itu berprilaku baik! Jika kau tidak bisa mengajarnya, aku akan minta dewan kota untuk mengirimnya ke panti asuhan. Kau dengar aku?”

Jazdia merasa geram. Berani sekali pria itu menghardik bibinya! Ia ingin sekali melompat ke depan ayah si Nort itu dan memberinya beberapa pukulan persis seperti yang ia lakukan pada anaknya. 

Bodoh! Jazdia mengumpat dalam hati, anak dan ayah sama saja menyebalkannya. Tapi ia lebih menyesali dirinya yang tak bisa banyak berbuat apa-apa. Ia hanya anak kecil... dan dia tahu satu tindakan kurang ajar di tempat umum terhadap orang sepenting Rionin Crest akan langsung membawanya ke tempat anak-anak yang tak di inginkan.

Ia harus menahan diri dan dia benci itu. 

Keributan itu mereda setelah Rionin puas mengutarakan tuntutannya dan pergi. Jazdia menunggu sejenak, membiarkan para tetangga bubar ke rumah mereka masing masing.  Setelah memastikan jalan itu aman, buru-buru ia beranjak dari persembunyiannya dan mengetuk pintu rumah, bersiap untuk apapun yang mungkin menanti dibaliknya. 

4 komentar untuk chapter ini

magma maiden
hai, saya hanyalah pembaca lewat :'D

premis ceritanya seru, dan worldbuilding cukup menggoda buat terus mantengin. karakter-karakter utama sudah mulai terpasang fondasinya di chapter perdana ini. karakterisasinya udah menonjol juga.

tapi, masih ada beberapa hal yang mengganjal. seringnya dari teknis penulisan; entah itu kapitalisasi atau kurang spasi setelah tanda baca/kata depan. penggambaran fisik karakter utamanya juga kurang; aku nggak dapet gambaran seperti apa rupa jaz atau faldiar, walau karakter/sifat mereka tergambar jelas. dan aku bingung kenapa di pembicaraan yang dicuri dengar miring semua ya? menurutku pribadi ini agak mengganggu :'D

itu aja dari aku. lanjutkan yaaa <3
Bagus Surya
Hai, memang ane gak mau overdeskriptif untuk chapter chapter awal, wah ternyata jadi kurang ya? Malah ane lebih deskriptif ke bibinya Jazdia (Flenaline)

Thanks komentarnya kak (mbak) ane menunggu memen tepat sih buat dekripsi penuh, mungkin yang ini bakal ane
edit atau... di chapter depannya. Stay tune.
Funky Boy
Terjerembab? Terjerembap.

Perduli? Peduli.

Dulu > Dahulu.

Tapi > Tetapi.

Aku merasa pemakaian kata dimana kurang tepat pada beberapa paragraf dan seharusnya dipisah menjadi di mana. Penggunaan kata di mana hanya untuk penanya tempat, selain itu tidak tepat. Terus ada tanda baca yang hilang pada paragraf-paragraf tertentu.

Pegangganya? Pegangannya.

Nangis > Menangis.

Kan > 'Kan.

Di mimpikan > Dimimpikan.

Penggunaan kata namun yang tidak semestinya. Antarkalimat tidak bisa dipakai sebagai intrakalimat, begitu pula sebaliknya. Kuberikan tautan untuk rujukan pemakaian kata penghubung antarkalimat dan intrakalimat: www.indonesia.co.jp/bataone/ruangbahasa01.html

Diatas > Di atas.

Di jaga > Dijaga.

Di besar-besarkan > Dibesar-besarkan.

Berprilaku? Berperilaku.

Di inginkan > Diinginkan.

Untuk bab pertama, sepertinya cukup menarik disimak, konflik awal yang dibawa dieksekusi cukup ok dan tidak terburu-buru. Namun, penggambaran tokoh-tokohnya mungkin masih samar-samar dan kurang detail, tetapi bisa kumaklumi kalau memang direncanakan untuk bab-bab selanjutnya. Terlepas dari berbagai masalah teknisnya, setidaknya menurutku ini cerita fantasi yang cukup layak untuk diikuti.

Baik, sisa 4 bab lagi, nantikan masukanku selanjutnya, ya.
Bagus Surya
Hai, thanks komentarnya

Kami gak punya cukup resource buat merekrut seorang editor, juga gak punya banyak waktu untuk ngescan tulisannya lagi dan lagi, jadi koreksi teknis seperti ini tentu sangat membantu.