Siapa yang sebenarnya kau lindungi?

Terbangun dari tidurnya yang tanpa mimpi, Jazdia beberapa kali mengedipkan mata dan merasakan hawa panas di tubuhnya mulai mereda. Dia sendiri bingung bagaimana ia bisa tidur dengan keadaan seperti ini.

Yang ia ingat adalah sejak hari itu, suhu tubuhnya mendadak naik. Awalnya seperti panas demam, namun berkepanjangan dan berlangsung di seluruh bagian tubuhnya. Di hari pertama, ia sama sekali tak bisa tidur. Di hari kedua gejalanya kian parah sampai-sampai bibinya harus memberikan ramuan penenang dan dia harus tidur dengan keadaan gelisah. Yang ia ingat terakhir adalah ia bangun lagi, dan bibinya memberikan air minum dengan rasa manis yang dingin, setelah itu tidurnya pun menjadi lebih nyaman dan pulas.

Gadis itu mengucek matanya dan menguap. Ketika ia memperhatikan rambut panjangnya yang menjuntai di bahunya, ia tertegun agak lama; warnanya kelihatan pucat dan kusam, tidak lagi keemasan tapi seperti jerami kering yang kasar.

Jazdia bergegas turun dari tempat tidurnya dan berjalan ke meja cuci muka. Air keran begitu sejuk dan tak pernah terasa sesegar ini.

“Aku kacau sekali ya?” gumannya sambil menatap cermin. Rambut kusamnya kelihatan kentara sekali dan bibirnya kelihatan pucat. Jazdia mengusap cermin tersebut dan menyadari satu hal lagi telah berubah.

“Auntie! Cermin kita rusak!”

                                                                                    ***

Jazdia masih ingat betul betapa asing penampilannya saat ini; Rambut pirang kusam, kulit yang sedikit kemerahan dan yang paling aneh kedua mata birunya berubah menjadi keunguan. Kalau dipikir-pikir warna mata barunya tidak kelihatan buruk-buruk amat, dan toh bibinya bilang ini hanya sementara. Tapi tetap saja ia merasa cemas.

“Jaz… auntie mau tanya beberapa hal. Sebenarnya apa yang terjadi di hutan itu? Apa betul kalian diserang?”

Hanya masalah waktu sampai kesaksiannya dibutuhkan. Jazdia menceritakan apa yang terjadi hari itu, namun sedikit memotong di bagian awalnya; Bagian di mana dia menghajar habis-habisan trio brandalan itu.

Cerita berlanjut ke episode di mana dia dan orang asing bertopeng itu berusaha menumpas Leshen yang menyerang mereka. Dan sebagaimana anak-anak seusianya saat memaparkan dongeng-dongeng yang mengagumkan, Jazdia menceritakan bagian terbaik itu dengan lebih antusias dan membumbuinya dengan sedikit kesaksian yang dilebih-lebihkan.

Tapi ternyata Flenaline lebih tertarik dengan apa yang tidak dia ceritakan.

“Terus kenapa Jazdia main sampai jauh kesana?”

“Itu…”

“Bibi sudah dengar cerita lengkapnya.”

“Dari keluarga Crest?”

“Bukan hanya dari mereka, tapi juga dari Ibunya Brenan dan Foster.”

“Oh… begitu ya.” Ia menunduk, bibirnya terasa kelu. Di saat seperti ini Jazdia merasa tidak perlu menjelaskan apa-apa. Ia hanya berharap bibinya bisa menilai dengan bijak apa yang terjadi dan menyikapinya dengan pengertian.

Flenaline menatapnya dengan murung.

“Bukannya Jaz sudah berjanji pada bibi?” pertanyaan itu terdengar lembut awalnya, namun kalimat berikutnya mulai mengusik kesabarannya. 

“Apa kata orang nanti jika kamu terus-terusan terlibat perkelahian? Jujur saja bibi malu mendengar obrolan tetangga-tetangga kita; lihat itu anak angkatnya si Herbalist, seorang gadis yang tak bisa menjaga tingkah lakunya, besar nanti mau jadi apa? Apa dia tak pernah diajari bersikap?”

“Jadi, bibi lebih perduli apa kata orang?”

Jazdia memberanikan diri untuk menatap mata bibinya tanpa rasa gentar sama sekali. Ia sudah muak dengan semua ini, kenapa harus dia yang di salahkan? Kenapa bahkan di keadaan seperti ini pun Flenaline tidak memihak padanya? Kenapa Flenaline menjadi begitu egois?

“Bagaimanapun kita hidup bermasyarakat.” Flenaline berkata lirih, dan itu semakin menambah gejolak di hatinya.

“Omong kosong!”

Flenaline kelihatan tersentak, namun Jazdia tak sedikitpun merasa perlu menarik kata-katanya. Kekesalan yang ia rasakan sudah sampai di ubun-ubun dan butuh lebih dari sekedar kalimat-kalimat bijak untuk membuat emosinya reda.

“Bibi selalu percaya semua masalah bisa diselesaikan tanpa kekerasan. Kekerasan hanya akan melahirkan pertikaian lain yang tak berkesudahan.” Herbalist itu menatapnya dengan kecewa. “Apapun alasannya tetap saja yang terluka paling parah yang berhak menuntut. Falion memiliki tata tertib dan begitulah hukumnya bekerja.”

“Cukup!” Jazdia memukul meja itu dengan tangannya yang masih terperban. Sejenak ia berhenti, meringis menahankan sakit sampai air matanya berlinang. Luka bakar yang ia derita belum sembuh dengan sempurna, dan perasaan disalahkan membuat sakit yang ia rasakan terasa berlipat ganda.

“Aku hanya melindungi diriku!” katanya dengan suara bergetar. Sesaat ia mencoba terlihat tegar, tapi bagaimanapun ia tak tahan lagi dan mulai berbicara dengan terisak. “Auntie tak mengerti, auntie tak akan pernah mengerti! Auntie tidak disana dan melihat apa yang terjadi. Tapi kenapa aku selalu yang bersalah? Aku paham.”

Flenaline membuka mulutnya, namun tak ada kata terucap. Kedua tangannya menggapai jari jemari anak asuh yang begitu ia sayangi, namun Jazdia buru-buru berkelit. “Tak usah!” ujarnya dangan air mata yang masih menetes. Ia berdiri dan segera beranjak, kakinya yang lemah ia paksa untuk menaiki tangga dan mendakinya secepat mungkin.

“Jazdia!”

Flenaline menyusul, namun Jazdia buru buru masuk ke kamar dan membanting pintunya. “Tinggalkan aku sendiri!” teriak gadis itu sebelum menjatuhkan tubuhnya ke kasur, menutup diri dengan selimut dan memaksa kedua matanya untuk terpejam dalam tidur yang tak nyaman.   

Belum ada komentar untuk chapter ini.

Jadi yang pertama?