Ranger Bertopeng 

Rasanya seperti ingin jatuh saja.

Ia merasa lelah, padahal hampir setiap hari ia kemari dengan jalan kaki, kadang kala sampai berlari, tapi kenapa hari ini ia cepat sekali merasa terkuras?

Udara di hari-hari terakhir musim dingin terasa sejuk, namun itu tak banyak membantu; keringatnya terasa dingin, dan ia bernapas dalam tarikan panjang untuk mengkompensasi detak jantungnya yang berdebar-debar.

Apa dia belum pulih? Memang ini adalah ide buruk, menyelinap keluar dan berjalan sejauh ini, bukan hanya tak baik bagi fisiknya, tapi juga nuraninya.

Tapi Jazdia tak sanggup terus berdiam di sana. Terlebih setelah pertengkaran mereka kemarin. Sejak itu dia tidak bicara dengan bibinya dan terus mengurung diri di kamar. Sampai pagi ini.

Untuk pertama kalinya, hari ini dia pergi tanpa sepengetahuan Flenaline. Ada rasa bersalah, tapi rasa kecewanya lebih besar dan Jazdia punya alasan yang bagus untuk merasa demikian.

“Memang lebih bagus begini. Sendirian, jadi auntie tak perlu cemas aku akan menghajar seseorang. Tapi bukankah kemarin juga demikian? Mereka yang datang padaku mencari masalah.”

Tak ada yang menjawab.

Mata gadis itu menyapu pemandangan hutan di sekelilingnya. Sepi, hening, dan begitu terisolasi. Biasanya ada Faldiar yang siap mendengarkan keluh kesahnya dan saat ini ia mulai mempertanyakan kenapa dia tidak pernah berusaha keras untuk mendapatkan teman yang lain.

Ada Nat si anak saudagar, tapi dia terlalu sibuk di rumahnya dengan para pengasuh dan beraneka ragam guru les.

Ada Nina yang sehari hari membantu ibunya berjualan sayur dan tak pernah berpikir untuk bermain dengan anak-anak lain.

Bagaimana dengan anak laki-laki? Ah mereka cuma sekumpulan bocah nakal.

Gadis itu menggeleng, pada akhirnya ia tak punya pilihan kecuali berdamai dengan keadaan dan menikmati kesendirian ini.

 Ah seandainya pohon kesayangan mereka ini bisa bicara.

Entah karena keasikan melamun, Jazdia tanpa sadar tersandung sesuatu. Ada sebuah tas agak besar disandarkan ke pohon, dan di dekatnya sebuah busur dan seikat anak panah tergeletak begitu saja di rerumputan. Ia tidak tahu siapa dari Falion yang tiba-tiba punya hobi berburu dan kenapa pula mereka harus menjadikan tempat bermain kesayangannya sebagai lokasi menyimpan perbekalan.

Pada awalnya ia tak memperdulikan benda-benda itu, tapi kemudian ia merasa penasaran dengan peralatan panahan tak bertuan tersebut.

Maka Jazdia mengambil busur di dekatnya dan sebatang anak panah. Berbekal pengetahuan yang ia dapat dari buku-buku yang pernah ia baca, gadis itu menakik anak panah tersebut dan menarik talinya sekuat yang ia bisa.

“Mulai tertarik dengan panahan, Nona Muda?”

Jazdia tersentak, panah tersebut terlepas dari jarinya dan meluncur ke sebatang pohon dan menancap di sana. Ada bunyi desis terdengar, diikuti oleh kepulan kecil asap.

“Eh… aku tidak bermaksud… apa ini milikmu?”

Jazdia menatap pria misterius itu dan mencoba bersikap wajar. Sejujurnya ia tak berharap akan menemuinya lagi, apalagi di sini. Entah kenapa pertemuan ini terasa seperti bukan sebuah kebetulan.

Dia masih berpakaian sama persis seperti pertama kali ia melihatnya. Hanya saja sekarang Jazdia bisa melihat topeng putih yang dia pakai dengan lebih jelas; benda itu tampak seperti sebuah topeng masquerade yang menutupi seluruh bagian wajah. Dengan mimik yang tidak tampak tersenyum, tidak pula bersedih. Di kedua lubang matanya, ia tak melihat mata sang pemilik, dua celah itu kelihatan kosong, seolah olah di balik topeng itu adalah hantu tak berwujud.

Tapi entah kenapa ia tak merasa takut berdiri di depan orang aneh ini.

“Kalau kau ingin memanah, hal pertama yang perlu di pelajar adalah sikap berdiri," Pria itu menjatuhkan tumpukan kayu ranting yang ia bawa dan mendekati gadis itu. Ketika ia mendemonstrasikan cara berdiri dan memegang busur yang benar, Jazdia mencoba mengikuti, tak ada panah tertakik, tapi ia ikuti saja seolah itu dipandu oleh insting bawah sadarnya.

Pria itu memintanya untuk menahan posisi, namun setelah beberapa lama Jazdia sudah tak kuat lagi, tangan kirinya bergetar, dan jemari yang menahan senar mulai terasa sakit.

“Lepaskan, tapi jangan disentak.” Pria itu memegangi jarinya dan memberikan panduan untuk melonggarkan tarikan dengan perlahan. “Maaf, aku tidak sadar kau sudah kelelahan.”

Pria itu mundur selangkah, dan Jazdia bisa melihat bahwa ia tengah diperhatikan. “Nak, kamu kelihatan pucat, sudah sarapan?”

Jazdia menjawabnya dengan gelengan pelan.

“Kamu suka croissant? Ada beberapa roti di tasku dan sedikit buah kering.” Ia menuntun gadis itu ke tas yang dimaksud dan langsung membuka kancingnya. Beberapa roti terbungkus kain tipis ia keluarkan, bersama dengan sebuah kantung kulit berisi air.

“Sebelum makan, boleh aku ganti perbanmu?” pria itu menunjuk ke tangan kanannya yang terbungkus lilitan kain kusam, bebercak kotor karena darah dan debu.

“Tidak usah, tuan.” gadis itu menggelang. Hal terakhir yang ia inginkan adalah membiarkan orang asing mengurusi dirinya. “Bisa diganti nanti saat pulang.”

“Nak, tidak baik membiarkan perban kotor berlama-lama disana.” Pria bertopeng itu menggelang. “Bukan cuma kelihatan kotor dan bau, tapi juga bisa infeksi. Apalagi ini tangan kanan yang kamu gunakan untuk makan. Well… jika kamu ragu, aku ini seorang Ranger dan mengerti lumayan banyak soal perawatan luka.”

Suara pria itu, entah kenapa terdengar seperti orang yang cemas. Orang ini kelihatan terlalu baik untuk penampilannya yang eksentrik, dan entah kenapa Jazdia tak bisa menaruh rasa curiga pada sikap baik yang ia tunjukkan. 

“Baiklah.” ia mengalah "Tapi sebelumnya, tuan. Apa kita pernah bertemu? Apakah kamu relasi bibiku?"

"Hmm... sepertinya dua-duanya. Entahlah, aku sendiri ragu."

"Lalu kenapa kau... baik begini padaku? Aku jadi curiga loh."

Pria itu tidak menjawab. 

Ketika ranger itu itu membuka untaian perban yang menutup tangannya, ia seperti berguman sendiri. Tidak, lebih tepatnya bersenandung pelan. Nadanya sedih dan lambat, dan sepertinya Jazdia pernah dengar, tapi kapan dan di mana, dia tak ingat.

“Hal yang tak aku sadari adalah, kamu belum mampu mengendalikan kekuatanmu bahkan di tingkat paling dasar.” Ucap pria itu akhirnya.

“Aku juga melakukannya karena terpaksa.”

“Memang. Tapi bagi mereka yang punya bakat seperti ini, instingnya biasanya langsung berperan. Saat api dimunculkan, tubuhmu akan menggunakan sebagain kecil energinya untuk membuat lapisan pelindung, jadi kamu tak terbakar oleh kekuatanmu sendiri.”

“Oh ayolah tuan, apa kau akan menguliahiku soal kekuatan yang aku sendiri tak paham?” tukas gadis itu sambil memasang muka cemberut.

Dan lagi, si pria bertopeng tidak menjawab, jemarinya sibuk melilitkan perban baru di tangannya dan kelihatan begitu fokus dan berhati-hati dengan apa yang ia kerjakan. Keheningan ini membuat gadis muda itu merasa tak nyaman.

“Kamu bertengkar dengan bibimu?” tanya Ranger itu.

“Oh… tidak kok.”

Pria itu mengikatkan simpul terakhir dan memegangi telapak tangan gadis itu dengan kedua tangannya. Terasa hangat.

Ia berguman. “Hmm… perubahan irama detak jantung, pupil mata yang mengecil dan aura yang meredup. Kamu tidak siap mengatakan yang sebenarnya, tidak apa-apa. Aku bisa mengerti.”

Jazdia menarik tangannya dengan reflek dan merasakan darahnya berdesir karena malu. “A-Apa yang kau bicarakan?”

“Ah maafkan aku. Aku sebenarnya tidak ingin ikut campur masalah pribadimu. Tapi melihat perbanmu yang tak diganti dan kebetulan bibimu adalah seorang penyembuh handal membuatku bertanya-tanya apa yang tengah terjadi diantara kalian.”

Ranger itu kemudian bangkit, mengisi kesunyian dengan menyusun kayu bakar yang tadi ia bawa dan memercikkan api kedalamnya dengan satu gerakan tangan. Kemudian ia duduk kembali ke tempatnya.

“Memang kami bertengkar.” Ucap Jazdia dengan suara datar. “Masalah di hutan itu berbuntut panjang.”

Sejenak ia berhenti, menimbang-nimbang apakah ia perlu menceritakan lebih banyak lagi. Jazdia tak pernah berpikir akan begitu terbuka kepada orang asing, tapi dia sudah terlanjur bicara terlalu banyak, dan jujur saja yang saat ini paling ia butuhkan adalah seseorang yang mau mendengar curahan hatinya. “Bagaimana perasaanmu ketika kau banyak melakukan hal baik tapi orang terdekatmu hanya mengingat satu atau dua hal buruk yang kau lakukan?”

“Hal buruk seperti membela diri dari sekumpulan berandalan? Hmm, jika ada yang memarahiku karena aku membela diri, tentu aku tidak akan terima dan merasa kecewa.”

Jazdia tertegun. “Kau tahu dari mana?”

“Aku sedikit berbincang dengan si Nort ini dan ayahnya. Rupanya nasib malang bisa membongkar kejujuran yang tersembunyi.”

Entah kenapa Jazdia merasa ingin tersenyum. Sepertinya kali ini dia menemukan orang yang bisa mengerti dirinya. “Sayang sekali bibiku tidak tahu itu. Kau tahu yang dia lakukan setelah aku bangun? Menegurku dengan ucapan-ucapan yang memojokkan seolah olah aku yang salah. Dia bilang perkelahian itu harusnya bisa diselesaikan dengan damai. Tidak masuk akal bukan?”

“Memang tidak masuk akal.” Pria itu berhenti sebentar dan menawarkan lagi croissant yang masih terbungkus. Jazdia dengan senang hati menerima roti tersebut dan mulai mengunyah sarapan paginya yang terlambat. “Tapi aku mengerti jalan pikiran bibimu. Banyak hal bisa diselesaikan dengan damai jika kedua belah pihak menginginkannya, tapi jika salah satu pihak lebih menginginkan kekerasan dan agresi fisik, bukankah pilihan yang kita punya adalah melawan balik atau lari? Kenapa harus lari jika kita punya kemampuan untuk membela diri?”

Jazdia mengangguk. Ia senang ada yang memihak padanya. “Tapi aku masih merasa tak enak. Aku tidak suka begini; pura-pura acuh tak acuh pada auntie dan menjauhkan diri darinya.”

“Ya berbaikanlah.”

“Aku ingin. Tapi aku juga ingin auntie mengerti perasaanku… dan pendirianku.”

“Pendirian?”

“Bahwa aku tidak akan lari dari ancaman dan aku punya hak untuk membela harga diriku.” Jazdia mengatakan hal itu dengan spontan saja. Dan tiba tiba ia sadar kalau di depan orang misterius ini, dia sudah mengutarakan isi hatinya lebih banyak dibanding yang pernah ia ungkapkan ke orang-orang terdekatnya.

“Kamu tahu nak?” pria itu mengusap lembut kepalanya. “Aku kagum padamu, kamu berani dan tampak begitu bersemengat. Aku tidak melihat ada yang salah dari perkataanmu, dan yang bisa aku berikan hanya saran untuk mengutarakannya empat mata dengan bibimu.”

Hening kembali. Api unggun di depan mereka menyala terang dan berderak-derak.

“Aku tidak pernah berdebat dengan bibiku.”

“Kamu tidak perlu berdebat dengannya. Katakan saja yang ingin kamu katakan dan jika ia merespon nya dengan sengit, cukup iyakan saja dan jangan membantah, dengarkan dia namun tetaplah pada pendirian bahwa keputusan tetap ada di tanganmu. Itu adalah jalan tengah yang baik bagi kalian berdua.”

“Iyakan saja? Berarti aku berbohong dong.”

“Tidak begitu. Aku yakin bibimu marah karena cemas dan peduli padamu, jadi katakan ke dia bahwa kamu akan berusaha mendengarkan kata-katanya. Dan jika kamu di kemudian hari melakukan hal yang menurutnya tak sesuai, maka kamu tak akan terbebani karena kamu sudah berusaha.”

“Aku tidak yakin aku bisa.”

“Kamu pasti bisa.”

“Oke, anggaplah aku bisa. Tapi kenapa aku harus? Jujur saja aku mulai ragu dengan perasaan bersalahku. Aku tak tahan lagi dengan sikap auntie yang selalu menyalahkanku saat ada masalah seperti ini. Itu seperti dia hanya perduli pada satu sikap buruk dan melupakan yang baik. Aku selalu membantunya, menedengarkan kata-katanya dan berusaha bersikap baik pada siapapun. Jadi kenapa harus aku lagi yang mengalah?”

Pria itu tak langsung menjawab, dan itu membuat Jazdia semakin menyadari betapa mengejutkan apa yang ia barusan katakan.

“Kamu harus merubah cara pandangnmu dulu.”

"Apa maksudmu?" 

"Yah, kamu juga dalam hal ini juga hanya melihat keburukan dari hubungan kalian dan melupakan yang baiknya. Aku yakin bibimu lebih banyak menunjukkan kasih sayangnya dibanding kekecewaan, tapi kenapa hanya kekecewaanya saja yang kamu pikirkan? Kenapa tidak pikirkan betapa dia menyayangimu dan betapa menyedihkan jika kebahagiaan kalian sebagai keluarga retak karena satu pertengkaran."

Pria itu berhenti sebentar dan menoleh ke arah wajahnya, tidak ada ekspresi yang bisa Jazdia lihat, tapi ia menerka-nerka jika topeng itu tak ada, maka pria misterius ini mungkin akan menunjukkan wajah murung dan sedih.

“Dia adalah kebahagiaan bagimu dan kamu adalah kebahagiaan baginya, jangan sia-siakan itu. Karena kita tak tahu kemana waktu dan nasib akan menuntun dan biasanya orang akan sadar bahwa ia pernah memiliki kebahagiaan saat kebahagiaan itu direnggut darinya.”

Jazdia merenung, menghayati apa yang baru saja ia dengar. Kenapa tiba-tiba ada perasaan gundah muncul di hatinya? Perasaan bahwa waktunya dengan bibinya mungkin tak akan lama lagi dan betapa menyedihkannya jika mereka berpisah dalam keadaan tak akur seperti ini.

“Aku mengerti.” tukas gadis itu, ia menghela napas panjang, mencoba mengumpulkan sebanyak mungkin rasa percaya diri yang ia punya. “Aku akan berbaikan dengan auntie segera.”

“Aku tahu kamu bisa mengambil pilihan yang paling bijak.” Ujar pria bertopeng itu. “Kalau ini berhasil, kamu boleh minta apa saja dariku.”

“Eh? Apa saja...? Kamu serius?! Kita kan baru kenal.”

“Tapi kita sudah melewati banyak hal. Salah satunya bertarung dengan monster, menyelamatkan anak-anak cowok, dan kamu sudah menceritakan keluh kesahmu dengan jujur pada orang asing bertopeng ini.” Jawab Ranger itu dengan nada jenaka.

Jazdia mengusap kedua tangannya dan tersenyum culas. “Baiklah. Kalau begitu aku minta diajari sihir api olehmu!”

“Wah, apa tidak ada yang lain?” tanya Ranger itu sambil mengetuk-ngetuk bagian dahi topengnya.

“Bagaimana kalau kamu ke rumahku dan berkenalan dengan Auntie?” cecar Jazdia lagi dengan semangat yang tak surut.

“Huh… baiklah! Baiklah! kamu mau belajar berapa kali seminggu?”

“Sesering mungkin.” Ucap gadis itu mantap.

“Oke… anggap saja aku setuju.” Pria itu memandang sebentar ke angkasa. Langit kelihatan begitu kelam dan butiran salju mulai turun dengan perlahan. Keheningan di antara mereka dipecahkan oleh suara angin musim dingin yang mengeluh. Musim gugur sudah berakhir.

“Aku tidak akan ada di Falion selama musim dingin, jadi kita mulai latihannya di musim semi.”

Jazdia hanya mengangguk. “Tapi kamu Janji, kan?”

Pria itu mengulurkan tangannya tapi kemudian ia urungkan. Sebagai gantinya, ia menunjukkan kelingkingnya dan meminta Jazdia melakukan hal yang sama.

“Pinky promise. Itu yang kalian anak-anak sering lakukan, bukan?”

“Baiklah tuan bertopeng!” tandas gadis itu sambil mengaitkan kelingkingnya. “Aku harus pulang kalau begitu, sudah banyak salju dan… bibiku pasti cemas. Terima kasih untuk semuanya!”

Jazdia tersenyum pada pria itu, senyum lega yang lama sekali tidak ia tunjukkan pada siapapun. Baru sebentar ia bertemu orang lain yang sepertinya ia bisa percayai namun mereka harus berpisah. Ah, delapan puluh sembilan hari berikutnya akan terasa begitu panjang.

                                                                                            ***

Seperti tahun-tahun sebelumnya, Jazdia masih berharap bahwa musim dingin bukanlah musim yang muram, meski tanpa Faldiar dan orang baru itu.

Namun sepertinya ia terlalu banyak berharap.

Rionin Crest mengunjungi rumah mereka, tapi tidak ada keributan terdengar. Dia dan bibinya duduk santai di teras rumah mereka, berbincang-bincang tentang sesuatu. Menariknya, si ayah didampingi sang anak. Apa yang berandalan itu lakukan di sana? Apa dunia sudah terbalik saat dia pergi?

Sementara Jazdia tetap di sini, di balik peti-peti kayu, mengintip dan menguping pendengaran mereka. Ini seperti melihat kilasan balik, tapi dari waktu dan kesempatan yang berbeda.

“Jadi seperti itu, nona Ainsley. Kami sekali lagi meminta maaf atas apa yang terjadi. Saya bisa yakinkan bahwa anak saya menyesali perbuatannya dan tidak akan menganggu Jazdia lagi.”

Flenaline kelihatan tersenyum. Senyum palsu, Jazdia tahu itu. Pasti sulit sekali mendengar apa yang sebenarnya terjadi; bagaimana dan apa yang dilakukan oleh Norton Crest terhadapnya,terlebih-lebih memberi maaf.

Ketika Nort bertanya di mana Jazdia dan berharap bisa meminta maaf secara langsung, Jazdia sekuat tenaga menahan batinnya untuk tidak tertawa, begitu keras ia mencoba sampai akhirnya dia sudah tidak perduli lagi apa yang mereka bicarakan. Ia merasa begitu lelah dan semua terlalu kabur untuk didengar, maka ia pun menunggu, duduk di atas lantai yang mulai bersalju, rasa dingin seperti bius yang membuai dan ia pun terlelap…

Jazdia bangun dan mendapati dirinya terbaring di atas matras empuk di ruang tengah. Terasa lebih hangat sekarang, bukan hanya karena selimut tebal yang melapisi tubuhnya tapi juga pancaran panas dari perapian yang entah kenapa sekarang ini terasa begitu nyaman.

“Sudah bangun, Nona Muda?”

Jazdia menoleh ke asal suara dan melihat Flenaline yang duduk bersimpuh di sampingnya. 

“Ada-ada saja kamu ini.” wanita menyodorkan secangkir teh yang masih beruap.

Jazdia meletakkan teh itu di lantai.

Dipeluknya Flenaline, cepat dan erat seolah-olah dihantui rasa takut akan kehilangan. “Pasti memalukan sekali ya, menemukanku ketiduran di luar.” ujarnya dengan terbata-bata. Tanpa sadar, air matanya jatuh, tidak… ia tidak merasa sedih sama sekali. Ia hanya ingin memeluk bibinya, merasakan kedekatan itu kembali, dan rasa hangat… kasih sayang.

“Jaz…”

“Auntie… anak angkatmu ini, dia memang keras kepala, kasar, ceroboh dan seenaknya. Tapi dia selalu berusaha jadi anak yang baik. Maaf jika dia tidak bisa jadi seperti yang auntie harapkan.”

Jazdia masih berusaha menahan tangis … kenapa dia harus menangis? Dia tidak melakukan kesalahan kan? Dan tidak ada hal sedih yang terjadi di sini. Tapi tetes demi tetes air mata terus merembes dari kelopak matanya, dan rasa sesak mulai memenuhi dadanya.

“Sudah… sudah… kamu anak yang baik dan auntie sayang padamu.” Flenaline menyentuh pipinya dan mengusap air mata yang masih membutir di sana. “Jangan menangis lagi ya. Auntie tidak tahan melihatanya. Sekarang… kalau kamu anak yang baik, istirahatlah. Kamu masih sakit dan jangan banyak berpikir.”

Flenaline mengusap rambut emasnya. Tiap sentuhan yang ia rasakan terasa begitu menenangkan. Ketika Jazdia melihat senyum di bibir wanita itu, dia merasa lega. Sepertinya dia memang tak perlu mengatakan apapun lagi, yang benar tetaplah benar dan yang salah tetaplah salah. Dan m engetahui bahwa bibinya sudah mendengar apa yang sebenarnya terjadi hari itu, itu sudah lebih dari cukup untuk memperbaiki hubungan ini.

Semoga. 

Belum ada komentar untuk chapter ini.

Jadi yang pertama?