Surat Untuk Faldiar 

Meski cuaca begitu dingin, Faldiar Alkreath merasakan keringat terus membulir di dahinya dan menetes seperti handuk basah yang di peras. 

“Master, ini sudah putaran ke enam, aku… harus istirahat.”

Dengan napas yang terengah-engah, remaja itu mencoba tetap berdiri di atas kakinya dan berusaha-- namun gagal menunjukkan sikap siap. Pelatihnya, seorang pria manusia dengan tubuh tingi besar dan janggut panjang kemerahan kini menatap anak itu dari ujung rambut sampai ujung kaki, dan menggeleleng pelan seperti orang yang tidak punya pilihan.

“Baiklah, bisa repot nanti kalau kau pingsan.”

Faldiar mengatakan terima kasih seperti orang yang sekarat, lantas menjatuhkan tubuhnya di tempat ia berdiri. Salju di penghujung musim dingin terasa begitu enak, dan itu mengingatkannya akan permainan-permainan yang biasa dia lakukan bersama Jazdia ketika salju turun. Ah masa-masa itu seperti sudah berlalu lama sekali.

“Tiga menit, nak. Lalu keliling 4 kali lagi, bersiaplah!”

“Apa? Tapi hari ini sudah 7 kali!”

“Makanya, kalau kamu capek istirahat yang benar! Minum air dan atur napasmu.” Si pelatih menarik tangan Faldiar dan memaksanya duduk. “Luruskan kakimu, hirup udara dari hidung dan keluarkan lewat mulut. Ya begitu… Faldiar Alkreath, calon kesatria yang bahkan bernapas pun masih harus diajari!”

Faldiar hanya bisa meringis.

Sarge Dunant, begitu ia biasa dipanggil adalah seorang veteran yang pernah tergabung di pasukan tempur Westernant. Seorang pria yang tak lagi muda dengan banyak pengalaman perang sebanyak bekas-bekas luka di sekujur tubuhnya. Meski penampilannya keras dan intimidatif, Faldiar merasa cocok dan yakin dia akan berkembang pesat dibawah bimbingannya.

Perhatian Faldiar teralihkan ketika seorang utusan datang kepada mereka dengan agak tergopoh-gopoh.

“Surat dari Falion untuk tuan muda Faldiar.”

Ah! Ini pasti dari Jazdia! Pikirnya. Dengan suka cita, Faldiar bangkit berdiri dan menghampiri kurir tersebut, namun sebelum dia bisa menerima suratnya, tangan kekar Sarge Dunant sudah lebih dulu merebut amplop putih tersebut.

“Dari Jazdia, untuk sahabatku Fadiar Alkreath.” Si pelatih membaca catatan di amplop tersebut sebelum akhirnya tertawa terbahak-bahak. “Puahahaha! Dari seorang gadis rupanya!” Ia menggelang, amplop itu ia angkat tinggi-tinggi dan dengan sia-sia Faldiar mencoba merebutnya kembali.

“Berhenti bercanda, Master! Itu surat untukku, mencuri surat orang lain adalah kejahatan!”

“Valid sebagai kejahatan kalau aku membacanya.” Pria itu terkekeh. Didorongnya Faldiar, pelan namun tegas. “Nanti dulu nak! Kalau kau ingin surat ini sebelum aku membacanya, kau harus mengalahkan aku dulu.”

Faldiar terbengong. Mengalahkan Sarge Dunant? Latihan macam apa ini? Tapi kemudian ditatapnya lagi amplop itu, ada rasa jengkel di danya ketika melihat jari kasar berdaki pelatihnya mengotori kertas putih tersebut.

Sebelum ia sempat mengiyakan, pria kekar itu melemparkan sebuah tongkat kayu. “Pedangmu!”

“Tapi ini bukan pedang!”

“Tak ada waktu ke benteng untuk mengambil pedang kayumu, jadi anggap sajalah itu pedang!”

Faldiar manut saja.

“Ok, begini kesepakatannya, kalau kau bisa mendaratkan tiga pukulan telak dibagian tubuhku yang mana saja, surat ini milikmu! Tidak ada batasan waktu, tidak ada batasan jumlah serangan, pertarungan dihentikan sampai salah satu dari kita menyerah. ”

Sarge Dunant mengangkat perisai bundar miliknya dan memasang sikap siaga. “Ayo nak, tunjukkan padaku apa yang sudah kau pelajari!”

Faldiar memegang tongkat kayu itu dengan mantap. Benaknya mulai memutar wejangan andalanya; Fokus, pandangan kedepan dan pelajari pergerakan lawan, posisi kaki siaga untuk ancang-ancang.

Faldiar melangkah cepat ke depan; pedang kayunya ia ayunkan, namun terhalau oleh perisai pelatihnya.

 Gerakan yang gesit namun mudah terbaca, pikir anak laki-laki itu. 


Maka ia berputar, begitu cepat sebagaimana mana mestinya seorang elf. Dalam sekejap mata dia sudah berada di sisi samping Sarge Dunant dan bersiap memanfaatkan momentum putarannya untuk memukul pria kekar itu.

Ia yakin pukulan keduanya mendarat telak di punggung si pelatih, namun belum sempat ia menyadari apa yang terjadi, perisai bundar Sarge Dunant sudah menempeli tubuhnya dan mendorongnya dengan keras. 

Faldiar merasa seperti di seruduk banteng. Ia terdorong ke belakang dan terjungkal ke salju. Pergelangan tangannya terasa nyeri. 

"Bangun nak. Kalau kau kalah, surat ini akan kembalikan dalam keadaan kusut!"

Anak muda itu mendengus dan bangkit. Tongkat itu ia pegang dengan satu tangan, sementara tangannya yang lain sekonyong-konyongnya melemparkan gumpalan salju ke wajah si pelatih. 

Sarge Dunant tersentak oleh serangan jahil itu dan tak dapat menangkis ketika Faldiar maju dan menghujamkan tongkatnya ke gambeson si pelatih. 

Ia mundur kembali, mengambil jarak untuk mengantisipasi serangan balasan. Tanpa sadar sebuah seringai muncul di wajahnya dan kelihatannya itu membuat si pelatih menjadi agak kesal. 

“Satu pukulan, aku akui itu meskipun didapat dengan cara licik. Bah, tapi berikutnya tidak akan aku biarkan!”

“Tenang saja Sarge Dunant, berikutnya akan lebih keras!”

Faldiar menyerbu kembali dan melancarkan satu sabetan cepat ke perisai pelatihnya, lalu ia melangkahkan kakinya kesamping, bertumpu pada satu titik dan berputar lagi, senjatanya ia turunkan dan secara tak terduga mengayunkan serangan lanjutan ke arah atas.

Pelatihnya mengambil langkah cepat untuk mundur, menghindari sabetan muridnya sebelum tongkat itu sempat menghantam selangkangannya.

Faldiar berdiri siaga, senjata terangkat dan bersandar di bahunya. Lalu ia menyerang lagi; satu sabetan horizontal ia lancarkan dan perisai Sarge Dunant memakan umpan itu. Si pelatih bereaksi dengan mendorong perisainya kedepan, kuat dan cepat, namun Faldiar sudah menduganya, ia membungkuk sedikit dan  dengan gesit melangkahkan kakinya ke depan, menyusup dari bawah lengan si pelatih. 

Kembali berada di belakang  musuh, Faldiar dengan mudah memukulkan senjatanya ke belakang lutut pria itu. Sarge Dunant kehilangan kesembangannya dan Faldiar mengambil kesempatan ini dengan menerjang pelatihnya dengan penuh semangat.

Pria kekar itu tumbang, tengkurap di atas salju dengan anak didiknya menindih di atas punggungnya. Ia meringis, tertawa dan akhirnya mengucapkan satu kalimat yang Faldiar tak pernah menyangka akan ia dengar.

“Baiklah nak! Aku menyerah, aku menyerah! Kau bisa turun sekarang.”

Faldiar mundur dan menjatuhkan tongkatnya. Dengan muka merah, Sarge Dunant bangkit dan menatap anak muridnya sambil bersungut-sungut. “Bah, bahkan menghadapi samsak tak bersenjatapun kamu kepayahan.”

“Nah~ Aku tidak mau tahu itu. Aku menang! Jadi, Master, bisa tolong berikan suratku?”

“Ya… ya…” Sarge Dunant menyerahkan amplop itu dan mengusap rambut cokelat anak didiknya. "Kau sudah berkembang pesat, anak muda. Memang masih belum kuat, tapi kau cepat, dan tahu cara memanfaatkan kelebihan itu.”

“Apa itu artinya kau semakin tua dan payah? –Ow!!”

“Nah, kau berhak diberi jitakan panas! Tapi serius, lad, ada hal lain berperan selain latihan dan kadar kekuatan. Aku harap kau mengerti dengan baik pelajaran hati ini; seseorang bertambah kuat jika bertarung untuk memperjuangakan sesuatu yang berharga baginya. Jangan remehkan tekad dan semangat, itu bisa memberimu kelebihan yang tak terduga.”

Faldiar belum terlalu mengerti, apa berjuang demi sepucuk surat dari teman baikmu bisa memberimu kekuatan lebih? Tapi ia diam saja, dan mengangguk, sebagaimana biasa ia lakukan setelah diceramahi pelatihnya.

“Baiklah nak, cukup dulu untuk hari ini, selamat bersurat ria dengan pacarmu, hahahaha!”

“Dia bukan—maksudku, belum jadi pacarku!”

                                                                                  ***

Dengan hati-hati Faldiar membuka surat itu dan mendekatkan duduknya ke sebuah lilin yang menyala terang.

Surat itu ditulis dengan rapi, huruf-hurufnya terbaca dengan mudah dan tanda bacanya jelas. Sejak saat dia masih di Falion, Jazdia memang selalu membanggakan dirinya sebagi orang yang terpelajar dan sepertinya sampai saat ini pun dia masih berniat menunjukkan itu pada semua orang.

Seolah semakin mempertegas kepribadian si penuis yang formal dan terdidik, isi surat itu diawali dengan keterangan tempat dan waktu:

_______________________________________________________________________________________

FALION, WESTERN KINGDOM. Bulan Terakhir Musim Dingin, 27 Maret 1432

Faldiar yang baik,

Aku tidak sabar menceritakan ini, sesuatu yang buruk terjadi padaku, tapi jangan cemas, aku sudah melewatinya. Ini masih tentang si Nort dan kelompoknya, tampaknya setelah kau tidak ada, mereka kehabisan target untuk di ganggu dan aku jadi sasarannya. Tentu saja mereka membayar kenakalan mereka dengan beberapa lebam dan gigi ompong.

Tapi itu belum semua. Aku ingin menceritakan tentang sesuatu yang berdiam jauh di bagian hutan paling dalam, dan tak sengaja aku berhadapan dengan makhluk itu dalam pertemuan yang tak menyenangkan. Leshen, kau percaya makhluk yang kita dengar dari dongeng ternyata benar-benar ada? Dan seperti di cerita, makhluk ini memang tidak ramah. Aku beruntung bisa mengatasi leshen ini, dengan bantuan seorang teman yang tak terduga.

Nah… nah, aku tahu kau penasaran ingin mendengar cerita lengkapnya, tapi itu bisa menuggu di lain waktu. Cepatlah pulang, jadi aku bisa menceritakan banyak hal menarik lebih dari sekedar meledakkan panci bibi Flenaline saat aku latihan membuat ramuan.

Aku senang mendengar kabar bahwa kamu sehat dan menikmati pelatihanmu, aku harap semuanya terus berjalan lancar sampai hari kelulusan.

Sahabatmu, Jazdia

PS. Nort dan ayahnya datang ke rumah menyampaikan permintaan maaf. Menurutmu apa yang sedang merasuki mereka? 

_______________________________________________________________________________________


Belum ada komentar untuk chapter ini.

Jadi yang pertama?