Étude

Musim dingin berakhir.

Seperti tahun-tahun sebelumnya, awal musim semi selalu menyisakan hawa dingin di beberapa hari pertama. Sebuah masa peralihan dimana bunga-bunga sudah mekar namun salju masih menutupi rerumputan. Beberapa kali angin lembab dari selatan bertiup dan menggoyangkan dahan-dahan dan dedaunan seperti salam perpisahan dan janji bahwa musim dingin akan datang kembali.

Pagi datang menjelang dan Jazdia sudah dalam perjalanan ke danau. Kota begitu sepi, begitu pula dengan jalan-jalannya. Tidak mengherankan; orang-orang masih terbuai, dan hawa dingin masih menggoda siapa saja untuk berlindung di bawah selimut sambil bermalas-malasan. Semoga calon mentornya tidak demikian, karena ia tak akan melewatkan satu hari pun untuk menagih apa yang telah dijanjikan

Tak ada siapapun di lapangan itu kecuali beberapa tupai yang berkejaran di dahan-dahan pepohonan. Jazdia bersandar di pohon tersebut dan mengatur napasnya. Ia begitu antusias untuk pertemuan hari ini sampai-sampai ia menuju kemari dengan setengah berlari, harusnya ia tahu untuk tidak berharap terlalu banyak.

Mencoba berpikir positif, gadis muda itu mengistirahatkan kakinya dan duduk. Mungkin si pria bertopeng itu agak terlambat bangun dan dia datang kepagian.

Maka ia menunggu.

Matahari sudah bersinar cerah dari ufuk timur, namun belum membawa kehangatan, hanya cahaya redup yang sesekali terhalang awan putih yang beriringan di angkasa. 

Setengah jam berlalu. Si mentor masih belum datang sementara rasa dingin mulai membuat Jazdia gelisah. Begitupun, ia masih sabar menunggu. Mungkin sebentar lagi, pikirnya.

Satu jam berlalu, ia masih sendiri. Ia merasa lapar. Ia tidak sempat sarapan tadi pagi karena begitu semangatnya.

Dan kin ia menyerah dan beranjak dari tempat itu dengan semangat yang memudar. “Mungkin besok…”

Jazdia keluar dari setapak yang ia biasa gunakan dan mengambil jalan pintas; melintasi hutan dan barisan pepohonan yang masih belum rimbun karena sisa musim dingin. Keadaan begitu sunyi dan tenang, tidak biasa, namun ia tak perduli. Ia hanya ingin cepat sampai di rumah, ganti baju dan duduk di depan teras ditemani teh hangat.

Mendadak, Jazdia menghentikan langkahnya. Ia seperti mendengar sesuatu, dan merasakan kehadiran orang lain di belakangnya. Apakah ada Leshen lagi di bagian hutan ini? Atau mungkin sesuatu yang lain. Serigala?

Entah bagaimana indera yang ia miliki menjadi lebih tajam sejak pertarungannya dengan Woodland Spirit dulu, dan dengan itu ia bisa memperkirakan sosok yang mengikutinya.

Apapun itu, dia berada agak jauh di belakangnya.

Masih ada jarak diantara mereka.

Masih ada kesempatan untuk meloloskan diri.

Ketika gadis muda itu hampir mengambil ancang-ancang untuk berlari secepatnya. Seseorang memanggil dengan suara terdengar yang tidak asing.

“Hey nak. Ketemu juga! maaf aku terlambat. Tadinya aku berpikir kau tidak akan datang.”

Jazdia merasa darahnya berdesir karena perasaan lega dan gusar. Ia segera berbalik, wajahnya cemberut dan ia mendengus kesal ketika menghadap pria bertopeng itu. “Aku gak pernah ingkar janji…”

“Maka kamu mengharapkan orang lain agar tidak ingkar saat berjanji padamu.” Potong pria itu cepat seperti bisa membaca pikirannya. “Ya… ya… aku minta maaf, sudah berapa lama kamu menunggu?”

“Satu jam!” Jawab Jazdia, hampir berteriak. Ia mungkin saja akan memperpanjang gerutuan dan omelannya. 

....jika saja suara perutnya yang lapar tidak lebih dulu membungkam kekesalannya dengan bunyi keriutan yang memilukan.

“Ah..” Uap napas pria itu kelihatan mengkabut di sekeliling topengnya. Lalu ia berbalik, berjalan ke salah satu pohon terdekat dan menurunkan tas ranselnya.

Ia mengeluarkan sebuah panci kecil, tungku sederhana dari besi yang mudah dilipat dan mengumpulkan ranting dan daun-daun yang banyak tersebar di sekelilingnya. Meski embun dan salju masih membasahi ranting-ranting tersebut, sang mentor tidak terlihat kesulitan untuk menyalakan api dan membuatnya marak hanya dengan beberapa gerakan jari.

Ia membentangkan sebuah kantung tidur dan mengibas-ngibaskannya. “Duduk di sini nak.”

Tidak butuh waktu lama bagi pria itu untuk menyediakan secangkir the panas, alas untuk duduk dan beberapa potong roti croissant yang masih terbungkus kain-kain tipis. Sebagai penutup, ia mengiris sepotong lemon dan menyendok airnya diatas cangkir teh yang Jazdia pegang.

Kalau sudah begini, bagaimana Jazdia bisa marah berlama-lama pada calon mentornya itu?

“Selamat menikmati.”

Sang ranger tidak berkata apa-apa lagi dan membiarkan Jazdia menyegarkan diri sementara ia menyibukkan diri dengan senar busurnya.

Jazdia menghirup tehnya. Minuman itu terasa enak, manisnya pas, dan aromanya wangi. Namun sesuatu yang harusnya menangkan entah kenapa malah membawa perasaan mengganjal di hatinya. 

“Ini semua masih terasa aneh…” guman gadis itu.

“Kenapa?”

“Aku bukan orang yang mudah akrab dengan siapapun yang baru aku kenal. Dan lihat kita berdua, seolah seperti dua kawan baik. Ini tidak wajar, tidakkah kamu berpikir demikian?”

“Hmm, kamu mencurigaiku?”

“Tidak! Tidak… bukan begitu. Kalau aku curiga padamu, tentu aku tidak akan datang hari ini, tentu aku tidak akan minum teh yang kamu buat dan makan croissant enak yang kamu bawa. Hanya saja... kamu masih orang asing bagiku, tapi aku tidak bisa curiga padamu atau berpikir kamu akan melakukan hal buruk padaku.”

“Kalau begitu ini awal yang bagus untuk memulai kan?”

“Mungkin…” Jazdia menarik napas dalam-dalam. Ada banyak hal yang ingin dia tanyakan, namun ia merasa begitu canggung.

“Katakan, kenapa kamu setuju menjadi mentorku? Aku tidak membayarmu, dan ini semua pasti membuatmu repot. Maksudku, kamu harus menyediakan waktu, tenaga dan pikiran cuma untuk aku seorang, seorang gadis elf yang baru kamu kenal.”

Sulit menerka apa reaksi pria itu, namun Jazdia bisa mendengar tawa ringan dan jenaka mengalun dari balik topengnya yang selalu kelihatan tersenyum.

Pria itu mengeluarkan sebuah gulungan dan memberikannya pada Jazdia. Sebuah perkamen, sertifikat kelulusan atas nama E.C Rautlec dikeluarkan oleh fakultas Arcana dan Magis Universitas Daystar di Helvetia.

“Belum di legalisir, menunggu satu persyaratan lagi. Aku harus mengambil seseorang sebagai apprentice dan melatihnya selama satu tahun sebagai syarat akhir kelulusan. Jadi daripada hanya sebagai murid, kenapa tidak sekalian berteman saja?”

“Jadi namamu adalah Rautlec? Kamu manusia?” tanya Jazdia

“Itu rahasia…”

“Begitu ya…? Apa kamu juga memakai topeng itu saat menghadiri kuliah?”

“Yap.”

“Kau pasti bercanda…”

“Tidak. Daystar sebagaimana pemerintahan Helvetia menghormati kebebasan pribadi dan asas netralitas. Selama aku tetap hadir kuliah dan membayar, mereka tidak akan mengurusi penampilanku.”

“Begitu… teringatnya, kenapa kamu menjadikanku apprentice? Kenapa bukan junior-juniormu di kampus?”

“Ah, mereka semua brandalan kaya yang sombong.” Ranger itu menggeleng. “Dan lagi, tiap bocah yang masuk ke Daystar pasti punya kemampuan sihir yang lumayan. Tidak heran mereka jadi besar kepala jika ditutori seorang yang bukan dari keluarga ningrat. Lagi pula lebih bermakna rasanya mengajari dan memperhatikan perkembangan seorang murid dari nol.”

“Jadi kamu menjadikanku apprentice karena factor sikap dan kerendahan hati?” Jazdia tak dapat menahan dirinya untuk tersipu. “Berarti tidak sepenuhnya dari nol juga dong? Aku kan bisa sihir.”

“Ya, punya banyak potensi tapi masih jauh dari kata lumayan.”

Jazdia merungut.

“Bukan aku merendahkanmu… hey.”

Jazdia semakin menambah kerutan di keningnya. Entah kenapa suara ranger itu terderdengar seolah ia menikmati pertengkaran ini.

“Perlu banyak belajar mungkin adalah kata yang tepat.” Katanya lagi dengan nada yang sedikit lebih serius. “Di beberapa sisi, kamu sudah melampaui level para siswa yang sudah senior, namun ada hal-hal lain yang harus kamu kuasai. Itu sebabnya kamu datang hari ini, dan di sinilah aku sebagai mentormu.”

Jazdia menghela napas. Dua hal itu memang tidak bisa ia bantah.

“Jadi, sudah selesai sarapannya?”

Gadis itu mengangguk antusias. “Ya, kita bisa mulai belajar sekarang!”

Ranger itu meletakkan busur itu dan merogoh ransel di sisinya. Dua batu hitam dengan bentuk tak beraturan ia keluarkan. Satu ia berikan pada Jazdia, dan satunya lagi ia letakkan diatas tungku yang apinya sudah padam.

“Antrasit. Umumnya dikenal sebagai batu bara kualitas terbaik.” Ranger itu mengambil botol air minumnya dan mengguyur batu tersebut. “Pelajaran hari ini adalah pengendalian api bertipe conjuring. Idenya adalah memunculkan api dengan memanggilnya untuk membakar benda yang kita kehendaki. Menurut Skellen dan South dalam buku mereka berjudul Sihir dan Kekuatan Pikiran, seorang pengguna sihir mampu mematerialisasi sihirnya dalam radius maksimal lima meter.”

“Keren!” seru Jazdia dengan mata berbinar. “Artinya kalau aku menguasai ini, aku bisa membakar orang dengan satu gerakan tangan?”

Ranger itu menatapnya sambil sedikit memiringkan kepala. "Kamu sadis juga ya... Sayangnya tidak. Setiap makhluk hidup umumnya memiliki resistensi terhadap sihir, terutama yang memiliki akal pikiran. Kamu bisa saja melempar bola api untuk melukai seseorang, tapi memunculkan api di tubuhnya? Nah, sihir juga ada batasannya.”

Jazdia masih kelihatan sibuk menulis-nulis apa yang baru ia dengar di sebuah buku saku. Dia memang pengingat yang baik, tapi akan lebih mudah memahami apa yang baru ia dengar jika hal itu dituliskan.

“Sudah selesai?” Tanya ranger itu. “Atau kamu mau membaca bukunya dulu? Kebetulan ada di ranselku.”

“Tidak!”

“Ah dasar anak-anak muda cepat bosan. Ok, kita langsung ke praktek. Perhatikan.”

Sang mentor mengangkat tangannya, jemari terkepal dan Jazdia memperhatikan dengan penuh antusias. Ketika ia membuka telapak tangannya, percikan api kecil menyambar di sana lalu padam.

Hampir bersamaan, sebentuk api menyala di batu tersebut.

“Giliranmu. Harusnya lebih mudah karena batumu kering.”

“Apa gerakan tangannya sama?”

“Tidak harus. Ingat pelajaran pertama. Yang harus kamu lakukan adalah fokus, bayangkan seolah-olah kamu mengalirkan energi sihirmu lewat udara dan perintahkan batu itu untuk terbakar. Sihir adalah seni berpikir.”

Mencoba sebisa mungkin memahami apa yang sang mentor instruksikan, Jazdia mengumpulkan energi di kedua telapak tangannya dan menunjuk pada batu tersebut. Alih-alih berhasil menembakkan sihir, atau mengalirkannya, api berkobar di kedua tangannya. Sihir api memang, tapi bukan yang ia dan mentornya inginkan.

“Ulang.”

Sang Ranger mengambil jarak. Punggung bersadar di batang pohon dan tangan dilipatkan di pinggang. Ia tidak mengatakan apapun, hanya diam dan memperhatikan. Instruksi sudah diberikan dan buku teori sudah ditawarkan. Keheningan diantara mereka mulai terasa seperti sebuah sentilan tajam, dimana si mentor berkata; “Nah, tadi katanya katanya bisa. Masa harus diajari dari nol lagi!”

Jazdia juga tidak ingin mulai dari nol lagi, maka ia kembali berkonsentrasi, tangannya terbuka seperti hendak menggapai batu tersebut, atau menyemburkan api dari jari-jemarinya. Cukup lama ia berusaha, lagi dan lagi, konsentrasi, fokus, berpikir dan bayangkan. Api hanya muncul di tangannya, seperti obor yang menyala stabil, tidak lebih. Batu itu tak terpengaruh sedikitpun.

“Hey… sudahlah. Istirahat dulu sebelum telingamu menyemburkan api.”

Jazdia segera mundur dan beringsut di bawah pepohonan. Napasnya terasa berat dan ia merasa terkuras. Lebih dari itu, dia merasa malu sudah berkata sesumbar tadi.

Setelah minum dan sedikit pengarahan tambahan, Jazdia ingin mencoba lagi. Pikirannya mengulang arahan yang telah sang mentor sampaikan; Kumpulkan energy di tanganmu, tarik napas, biarkan energinya keluar, arahkan dan perintahkan ia untuk terbakar.

Tidak terjadi apa apa.

Jazdia mulai merasa geram. Kenapa hal yang kelihatan sederhana bisa jadi begitu sulit? Ia sudah merasa lelah, namun pelajaran hari ini masih berjalan di tempat.

Satu kali lagi. Yang terakhir untuk hari ini.

Gadis itu mengangkat tangannya. Konsentrasi! Tapi sulit rasanya berkonsentrasi dengan pikiran yang kacau seperti ini. Maka Jazdia menutup kedua matanya, emosinya harus ditenangkan dulu bagaimanapun caranya.

Tiba-tiba ia merasakan sentuhan di pergelangan tangannya, dan sebuah rangkulan.

“Tidak perlu sampai memaksa dirimu seperti ini.” Suara sang mentor seperti bergema di telinganya.

“Perhatikan. Bumi yang kita pijak. Api yang terkandung di dalamnya. Air, asal semua kehidupan terlahir. Udara yang kita hirup. Semua memiliki elemen sihir dan itu ada di sekitar kita, menunggu untuk dikuasai.

Sihir itu seperti musik orkestra dan kamu adalah konduktornya, dan untuk mengendalikan orkestramu, kamu harus tahu perintah apa yang dibutuhkan untuk mengatur tempo, menginstruksi dan mengatur melodi musiknya. Sihir memerlukan hal yang sama untuk dikuasai, kamu haru tahu apa yang kamu inginkan, apa tujuanmu, dan bagaimana menerjemahkan semuanya dalam bentuk yang kasat.

Konsentrasi, rasakan alirannya dan fokuskan di kedua tanganmu. Jangan lepaskan sampai kamu tahu apa yang kamu ingin lakukan dengan energi yang kamu miliki. Tatap batu itu. Kalau kamu ingin ia terbakar, maka ia akan terbakar. Igni!”

Jazdia melafalkan kata itu dalam hati, dan bongkahan antrasit di depannya mendesis. Ada asap, lalu api muncul di atasnya, menyebar dan dengan cepat merubah batu tersebut menjadi bara api yang menyala-nyala.

“Belajarlah seperti kamu adalah sebuah gelas kosong.” Ucap ranger itu “Karena kalau gelasnya separuh, atau penuh, kamu tidak akan bisa menerima ilmu yang kamu pelajari secara maksimal.”

Jazdia menatap ranger itu dengan mata birunya. “Aku tidak mengerti. Aww…”

Satu sentilan mendarat di kening gadis itu. 

“Artinya jangan angkuh, nona.”

“Iya! Iya!” gadis itu mengerang. Sang mentor mengangkat tangannya dan Jazdia bisa merasakan sentuhan lembut di antara rambutnya.

Antara terpana dan bingung. Gadis itu merasakan sekelebat kenangan asing melintas di benaknya. Sebuah ingatan menunjukkan kehangatan, kasih sayang dan perhatian, tapi di saat yang bersamaan terasa asing, jauh dan kabur. Ditatapnya sosok sang mentor, lama sekali seperti hendak melihat kedalam jiwanya.

Jazdia hanya menemukan kekosongan. Seperti sebuah enigma yang tak terpecahkan tapi tiap-tiap petunjuknya mengarah pada sesuatu yang ia kenal. Sesuatu yang berharga baginya, namun juga memberi luka yang teramat dalam.

“Siapa kau sebenarnya?” Jazdia membisik. Kelopak matanya mulai sembab. Ia merasa begitu sedih, tapi ia tak tahu kenapa.

“Nak! Kamu kenapa?”

Suara tumpul pria itu menyadarkan Jazdia dari lamunanya dan kenangan itupun luruh seperti asap terbawa angin.

“Tidak… tidak. Aku terlalu banyak membuka mata tadi dan sesuatu masuk.” Jazdia menarik napas dalam-dalam. Cepat-cepat ia menyeka air mata yang membulir di kelopak matanya. Dan dalam sekejap, Jazdia sudah kembali menjadi gadis yang periang, energik dan keras kepala.

“Aku harus latihan kembali kan? Mohon panduannya ya.” 

Belum ada komentar untuk chapter ini.

Jadi yang pertama?