Menghitung Hari, Menghitung Napas 

Saat waktuku tiba, aku ingin semua urusanku di dunia selesai. Jadi ketika cahaya terakhir itu datang, aku tidak lagi merasa takut. Tidak ada rasa sakit, tidak ada penyesalan dan aku akan menghadapinya dengan senyuman.


Tapi sampai hari itu datang, aku akan terus berjuang! Akan kuhalau kematian itu dengan tanganku sendiri. Aku tidak akan menyerah, Sampai napas terakhir enyah dari dalam dada, sampai jiwa lelah dikandung badan.

Terbangun dari mimpi yang tidak nyaman, Flenaline mengusap peluh dingin yang membutir di keningnya. Tenggorokannya terasa sakit. Efek samping yang harus ia bayar untuk meringankan penyakit di dadanya. Ia kini seperti seonggok mayat hidup yang menolak mati meski tubuhnya telah hancur dari dalam. 

Sang herbalist turun dari tempat tidurnya dan berjalan keluar ruangan. Masih gelap. Begitu sunyi sampai-sampai bunyi kriut dari lantai kayu rumahnya terdengar jelas setiap kali ia melangkah. 

Ketika tangannya menyentuh teralis tangga, ia menatap ke langit-langit, dinding dan lantai bawah rumahnya, mengingat saat-saat ketika rumah ini baru ia beli sembilan tahun lalu; sebuah hunian yang tak terlalu mewah tapi juga tak terlalu sederhana. Berlantai dua, berdinding batu bata dan beratap genting keramik buatan Castediar. Rumah yang nyaman, tidak panas, dan yang terpenting memiliki interior yang lapang untuk mereka berdua. Dia penasaran apakah rumah ini akan tetap nyaman saat dia sudah tidak ada.  

Pada peralatan destilasi di ruang kerjanya, Flenaline mendesah lelah seolah meratapi nasib. Sekali lagi percobaanya gagal. Sudah berapa ratus kali? Ia sudah kehilangan hitungan.

Ia sudah berusaha keras.

Malam ini mungkin adalah tandanya. Sang herbalist mulai merasa tidak ada harapan. Ia tidak akan pernah bisa menemukan penawarnya. Ia sudah lelah dan sering merasa sakit karena memotong jatah serum bulanannya untuk dijadikan sampel percobaan.

Ia tidak akan lagi mengusahakan hal yang sia-sia.

Pintu ruang kerjanya ia tutup.

Apakah Flenaline sudah pasrah? Ya dan tidak. Ia sadar hidupnya tidak akan bisa lebih lama lagi, tapi ia belum menyerah pada satu orang terpenting dalam hidupnya.

Wanita itu berhenti di depan pintu kamar Jazdia dan membukanya dengan cara yang paling lembut yang bisa ia usahakan.

Ada kedamaian ketika ia menatap wajah anak angkatnya tersebut, dan tak terasa air mata Flenaline jatuh menetes di atas selimut. Sudah hampir sembilan tahun Jazdia bersamanya dan sekarang ia tak yakin apa masih bisa bersamanya sembilan tahun lagi.

Dengan hati bergetar, Flenaline menghapus air matanya dan berusaha mengendalikan diri.

Jazdia… masih panjang hidupnya dan siapa yang akan membimbing anak angkatnya itu ketika ia tidak ada?

Entah kenapa, satu nama tiba-tiba muncul di benaknya: Eldarian, Eldarian Crystalspark.

Seseorang yang ia benci. Jazdia tidak akan bahagia pada pria yang bahkan tidak dapat menjaga keluarganya. Rasa muak yang ia simpan bertahun-tahun kini muncul kembali.

Karena Eldarian lah Jazdia menjadi anak piatu!

Karena Eldarian lah adiknya, Calia terbunuh!

Pria itu adalah sumber bahaya dan Flenaline tidak akan bisa memaafkannya, apalagi membiarkan Jazdia diasuh olehnya.

Tapi bagaimana jika ia pergi lebih cepat dari yang ia perkirakan?

Dalam kilasan singkat, ia dapat melihat gambaran masa depan yang menanti anak angkatnya itu; Jazdia akan sebatang kara, tanpa kemampuan untuk bisa menghidupi dirinya sendiri, tanpa perlindungan dan terpuruk dalam kemiskinan. Ia tak sanggup membayangkan apa yang akan terjadi pada gadis muda itu ketika keputusasaan dan kedaan mulai merongrong akal sehatnya.

Sebagian dari dirinya berkata ia terlalu berlebihan. Bukankah ia dan keluarga Alkreath cukup dekat? Dan baik Jazdia dan Faldiar sendiri juga memiliki perasaan satu sama lain?

Tapi kemudian, logika yang ia miliki seketika menghancurkan harapan itu. Pernikahan bukanlah sesuatu yang sederhana. Apakah keluarga Alkreath yang terpandang mau putera mereka dijodohkan dengan gadis miskin, tak punya kemampuan dan status sosialnya jauh lebih rendah dibanding mereka?

Dalam kesunyian, wanita itu duduk dengan bergetar selama beberapa menit. Kedua matanya menerawang, namun benaknya berusaha keras untuk lepas dari delusi.

Tiba-tiba Flenaline seperti dapat mendengar suara hatinya sendiri. Mulai besok, ia akan melatih Jazdia lebih tegas, lebih banyak, dan lebih keras bila perlu. Mungkin akan ada satu atau dua bantahan, namun ia harus tegar.

Jazdia harus bisa menghidupi dirinya sendiri.

Belum ada komentar untuk chapter ini.

Jadi yang pertama?