Menghitung Hari, Menghitung Napas [Revised Version]

Saat waktuku tiba, aku ingin semua urusanku di dunia selesai. Jadi ketika cahaya terakhir itu datang, aku tidak lagi merasa takut. Tidak ada rasa sakit, tidak ada penyesalan dan aku akan menghadapinya dengan senyuman.


Tapi sampai hari itu datang, aku akan terus berjuang, akan kuhalau kematian itu dengan tanganku sendiri. Aku tidak akan menyerah, Sampai napas terakhir enyah dari dalam dada, sampai jiwa lelah dikandung badan.

Terbangun dari mimpi yang tidak nyaman, Flenaline mengusap peluh dingin yang membutir di keningnya. Tenggorokannya terasa sakit. Efek samping yang harus ia bayar untuk meringankan penyakit di dadanya.

Sang herbalist turun dari tempat tidurnya dan berjalan keluar ruangan. Masih gelap. Begitu sunyi sampai-sampai bunyi kriut dari lantai kayu rumahnya terdengar jelas setiap kali ia melangkah.

Pada peralatan destilasi di ruang kerjanya, Flenaline mendesah lelah seolah meratapi nasib. Sekali lagi percobaanya gagal. Sudah berapa ratus kali? Ia sudah kehilangan hitungan.

Ia sudah berusaha keras.

Flenaline merasakan jantungnya seperti berhenti berdetak saat suara ketukan menggema dari ujung ruangan. Asalnya dari pintu depan. Nadanya teratur, tiga kali ketukan, lalu berhenti sejenak sebelum mengetuk lagi. Pola yang hampir-hampir sopan seperti orang yang ingin bertamu.

Wanita itu mengambil belati pusaka miliknya dan bergegas ke pintu. Ketukan itu berhenti, dan dari jendela depan, ia bisa melihat siluet seorang pria, menunggu dengan sabar seolah tahu pintu itu akan terbuka untuknya.

“Siapa dan mau apa?!” seru Flenaline.

“Ini aku…”

Suara itu tajam dan jelas. Milik Eldarian.

“Kau belum menjawab pertanyaan kedua.”

“Aku ingin bicara. Lena, ini penting.”

Flenaline masih bergeming “Bukankah kau bilang sudah tidak punya urusan lagi denganku?”

“Memang…” pria itu berhenti sebentar sebelum melanjutkan. “Aku akan langsung saja. Ini bukan tentangku. Ini tentangmu, ada sesuatu yang perlu kau ketahui, tentang penyakitmu, tentang obat yang dikirimkan padamu dan apa yang akan terjadi jika kamu berhenti mengonsomsinya.”

Flenaline terkesiap. Bagaimana dia tahu? Tidak mungkin! Ini hanya pancingan, bisa saja si Eldarian sial itu ingin masuk agar bisa bertemu Jazdia.

“Kembalilah saat kau punya alasan yang lebih meyakinkan. Seorang herbalist, pembuat obat dikirimi obat?”

Pria di luar tidak segera menjawab. Dari dalam, Flenaline bisa merasakan berat tubuhnya yang bersandar di pintu. “Kau tidak perlu begitu.” katanya dengan nada prihatin. “Aku tahu semuanya.”

                                                                               ***

“Aku tidak akan menyajikan apapun.”

Sang herbalist kini duduk berhadapan dengan tamunya. Sungguh luar biasa bagaimana persuasifnya Eldarian dengan kata-kata; Flenaline bahkan masih tidak percaya bahwa ia baru saja membukakan pintu pada orang yang ia benci dan mempersilahkannya masuk dan duduk.

“Tidak perlu. Aku tidak datang untuk dijamu.”

Flenaline menghela napas. Ditatapnya sosok bertopeng itu. Eldarian Crystalspark, dulu adik iparnya, sekarang enigma di antara enigma. Apa lagi yang dia inginkan kali ini? Apa rencananya? Bahaya apa lagi yang mungkin mengikutinya saat ini? Hanya dia dan Tuhanlah yang tahu.

“Bagaimana Jazdia?” tanya Eldarian.

“Baik-baik saja.”

“Sedang tidur?”

“Ya.”

“Boleh aku melihatnya?”

Spontan, Flenaline mengacungkan belati yang ia pegang dan menatap tamunya dengan sorot mata nanar. “Jangan bergerak dari situ. Kau tidak datang kemari untuk Jazdia. Langsung saja, katakan yang ingin kau katakan lalu pergi!”

Ranger itu tetap duduk di kursinya. Hanya wajah bertopengnya saja yang terangkat, menatap ke arah Flenaline dengan senyum palsu yang terukir.

“Kau harus tahu. Aku datang juga untuk menggantikan kurir yang biasa.” Eldarian merogoh tas sandang yang ia bawa dan mengeluarkan sebuah kotak, serta sebuah gulungan dengan pita merah bersegel.“Ini kirimanmu.”

Dalam keremangan, butuh beberapa saat bagi Flenaline untuk mengenali bawaan tamunya. Dan ketika menjadi jelas dan meyakinkan bahwa kotak itu adalah obat penyambung hidupnya, ia tidak dapat menyembunyikan rasa frustrasinya.

Flenaline terjingkat, reaksinya, suaranya, semua seperti neraka ada di dalam dadanya. “Apa maksudmu!? Kau ingin menghinaku, hah? Dari mana kau dapatkan ini?!”

Belati itu ia ancungkan semakin dekat, seolah ingin membunuh ranger di depannya dengan satu tikaman maut. Tapi Eldarian, entah sejak kapan kini memegangi bilah belati yang teracung ke arahnya.

“Reaksimu… aku tidak mengerti apa maksud, tujuan dan nilainya. Duduklah, kita bicarakan ini.”

Gemetar, malu dan merasa terhina. Di tengah guncangan yang mendera jiwanya, Flenaline dipaksa untuk kembali fokus saat bilah belati yang dipegang tamunya, berderak dan pecah seperti kaca.

“Ya, kamilah yang mengirim obat ini. Tidak perlu merasa tidak enak, tidak perlu juga repot repot untuk berterima kasih.”

“Jika… jika aku tahu..” Flenaline merasakan suaranya seperti tersangkut di kerongkongannya. “Aku tidak akan mau hidup satu haripun lebih lama!”

“Aku tahu.” Balas pria itu dengan nada prihatin. “itu sebabnya kami tidak memberitahumu sebelumnya. Tapi bagaimanapun kebenaran harus terungkap. Cepat atau lambat.”

Flenaline membiarkan tubuh rapuhnya jatuh dan terduduk di kursi. Tangannya memegangi kening, suaranya terdengar serak. “Aku mengerti sekarang. Kau ingin memerasku, iya kan? Kau ingin mengambil Jazdia dan jika aku menolak, ramuan ini akan berhenti dikirimkan dan kau akan membiarkanku mati. Cih! Seperti yang biasa diharapkan dari seorang yang bekerja dengan muslihat dan penipuan.”

“Kau akan mati lebih cepat lagi jika terlalu banyak membebani pikiranmu prasangka jelek.” Ujar ranger itu, tegas. Lalu kemudian nada suaranya berubah, seolah diliputi kebimbangan. “Aku masih menyadari bahwa Jazdia tidak akan bahagia bersamaku. Tapi…”

Hening kembali. Flenaline memandangi tamunya dan sekarang tidak tahu bagaimana harus bersikap.

“Kadang sesuatu terjadi tanpa bisa dihindari. Katakan, Lena sayang, bagaimana jika hidupmu berakhir lebih cepat dari yang kau bayangkan?”

Flenaline merasakan darahnya berdesir. 

“Tidak usah berandai-andai. Kau datang kemari untuk memberi penjelasan, bukan untuk mengajukan pertanyaan.”

Sang ranger mengangguk. Dengan suara yang tanpa emosi sama sekali, ia berbicara. “Umurmu tidak akan lama. Bahkan dengan serum itu.”

“Dari seorang mata-mata kini kau berperan sebagai malaikat maut?” Flenaline berujar dengan datar, sebisa mungkin menyembunyikan rasa gamang di hatinya sebagai pertahanan terakhir.

Ranger itu berdiri dari tempat duduknya. Flenaline bisa mendengar tarikan napasnya dan itu terdengar berat, penuh sesal dan kegundahan. Ia pun menggelang.

“Aku bukan penyembuh. Tapi aku tahu bagaimana kau menggunakan serum itu. Awalnya kau hanya butuh satu vial untuk sebulan, kemudian bertambah menjadi tiga setelah pemakaian dua tahun, sekarang empat, dua tahun kedepan akan jadi satu vial untuk tiga hari, terus begitu sampai serum itu tidak mampu menangkis penyakitmu dan tubuhmu akan mati pelan-pelan.”

Flenaline tahu pria itu benar tapi dalam hatinya mulai timbul perasaan denial, membesar dan kian membesar karena rasa frustrasi. “Kau tahu apa tentang umur orang?!”

“Aku tahu sedikit…” sang ranger berjalan ke pintu dan berhenti di ambangnya. “Tapi aku tidak ingin berdebat dengan apa yang aku ketahui. Aku hanya memberi informasi; terserah kau mau percaya atau tidak, tapi menurut peneliti kami, waktumu tiga tahun sebelum penyakitmu kebal sepenuhnya dari serum itu.”

"Kau... kau... pembohong!" 

"Kau bisa membaca isi gulungan itu jika masih ragu. Isinya adalah diagnosa penyakitmu dan laporan tentang perkembangannya. Ingat kenapa kurir itu selalu meminta bayaran beberapa tetes sampel darahmu? Kami menelitinya secara berkala dan..."

Ranger itu tak melanjutkan. Flenaline menyambar gulungan itu dan membukanya. Membaca isinya, awalnya dia berharap bahwa apa yang di paparkan di dalamnya adalah semacam lelucon keji yang dibuat oleh orang-orang pintar, namun semakin jauh ia membaca, semakin ia tak sanggup meneruskan. 

Flenaline merasa gemetar. Ia ingin berkata tidak, tidak dan tidak, tapi tak ada satupun kata terucap dari bibirnya kecuali suara isakan yang terbata-bata.

 "Lena... apapun yang telah dan akan terjadi di antara kita, aku minta maaf..." 

 Maka wanita itu pun tak sanggup membendung air matanya. Pikirannya kini adalah pusaran beliung rasa takut dan sesal.

“Serum itu akan tetap kami kirimkan. Jangan buang waktumu untuk berusaha meniru atau mengembangkan formulanya. Bahkan organisasi dengan fasilitas medis dan laboratorium paling maju sekalipun tidak mampu menemukan penyembuhnya. Manfaatkan sisa tiga tahun ini dengan baik. Banyaklah berdoa… karena mungkin hanya keajaiban yang mampu menyelamatkanmu.”

Tamunya telah pegi

Dalam kesunyian, Flenaline sendirian sekarang. Menangis, membayangkan kematian dan rasa sakit. Ia tidak siap, dan kenyataan itu seperti telah meremukkan tulang-tulangnya.

Gemetar, Flenaline merengkuh kakinya. Rasa takut itu masih mencengkeram kuat di jiwanya. Ia bingung... kesal, marah dan malu. Jadi selama beberapa tahun ini dia hidup karena belas kasihan dari orang yang ia benci? Dan usaha itu pun gagal dan hidupnya akan berakhir tiga tahun lagi?

Rasa sakit di dadanya datang kembali seperti pukulan bertubi-tubi. Sebuah pukulan pamungkas yang menghancurkan seluruh optimisme yang ia miliki. Sambil menahankan nyeri, dari bibirnya terucap kata; Tidak ada harapan untukku.

Kesedihan yang ia rasakan kini bermuara pada anak angkatnya, Jazdia. Oh, ia masih begitu muda, rapuh dan belum siap menghadapi dunia. Membayangkan apa yang terjadi pada Jazdia saat ia mati nanti membuat Flenaline semakin mual.

Apakah Jazdia juga tak memiliki harapan?

Apakah dia akan pasrah saja? 

Sang herbalist tahu jawabannya. Pertanyaan berikutnya adalah, apakah dengan meratapi nasib, menghitung sisa waktu hidup dan terjebak dalam depresi seperti ini akan memperbaiki keadaan?

Secercah tekad mulai tumbuh di hatinya. 

Tiga tahun. Sang Herbalist tidak berharap bisa hidup lebih lama dari itu, tapi dalam waktu itu dia harus mempersiapkan Jazdia agar dapat menghidupi dirinya sendiri. Bagaimanapun caranya, apapun resikonya.

Dengan tabah, Flenaline menghapus air matanya dan bangkit dari tempat duduknya. Menghimpun segala daya dan kekuatan mental yang masih ia miliki. Kotak yang terletak diatas meja itu ia buka, dan sambil membuang rasa malunya, ia membuka salah satu vial tersebut dan meminum isinya.

Dia tahu, tugas yang mendesak ini akan membutuhkan setiap detik dari sisa hidupnya. 

___________________________________________________________________________

Author's Note: 
Jika ada yang bertanya-tanya, ini adalah edisi revisi yang ane kerjakan secara solo. Kalau ada yang nanya yang mana yang canon, maka ane bakal bilang itu tergantung mana yang disukai pembaca. Jadi... silahkan sampaikan komentar dan pendapat kamu. Mana yang lebih baik, versi biasa atau versi revisi ini? 

Belum ada komentar untuk chapter ini.

Jadi yang pertama?