Transisi

Dengan pikiran yang acak-acakan, Jazdia menutup pintu rumah dan berjalan menyusuri jalan kota yang ramai. Ia merasa gundah, bukan hanya karena pertengkaran mereka tadi pagi, tapi juga keputusan yang ia ambil untuk berbohong satu kali lagi.

Sisi lain dirinya berkata kebohongan yang ia lakukan sudah terlalu banyak, menambah satu lagi tidak akan ada bedanya.

“Sudah terlanjur…” gumannya, mengiyakan pemikiran itu.

Bukan salahnya. Flenaline sudah menjadi begitu persisten belakangan ini. Omelannya semakin banyak, dan sering kali menusuk hati. Bahkan dia mulai menggunakan tekanan fisik dalam bentuk sebatang rotan yang siap dilibaskan ke jari anak asuhnya. 

                                                                                       ---

Rasanya sakit sekali. Ketika rotan itu menghantam jemarinya. Panci yang ia pegang jatuh, air rebusannya berceceran di lantai. Flenaline berdiri di depannya, bertolak pinggang.  

"Sudah berapa kali kamu diajari! Hewan saja mengerti untuk tidak jatuh di lubang yang sama, kamu malah jadi lebih bodoh dari mereka!"

Jazdia tidak mengatakan apapun. Ia hanya diam, meredam rasa marah di hatinya. Bagaimanapun Flenaline adalah ibu yang membesarkannya dan untuk saat ini yang bisa ia lakukan adalah menuruti apa maunya. 

Hal itu terjadi bulan lalu, pukulan pertama yang mengawali beragam perubahan. 

‘Jaz harus bisa seperti bibi saat besar nanti.’  

Kalimat itu, untuk kesekian kalinya kembali terngiang di pikirannya. Ada masa di mana  pernyataan itu keluar dari sosok bibi murah tersenyum, penuh kasih sayang dan pengertian. 

‘Jaz harus bisa seperti bibi saat besar nanti.’

Dan sekarang pun kalimat itu masih sering terdengar. Diucapkan dengan intonasi yang penuh tekanan dan paksaan. Alih-alih memotivasi, kalimat itu menjadi sesuatu yang intimidatif sekaligus memuakkan karena seringnya diulang-ulang. 

Ia tahu betul apa yang Flenaline lakukan adalah untuk kebaikannya, tapi Jazdia kenal dirinya sendiri lebih baik dari siapapun. Jiwanya yang cenderung menghendaki kebebasan tidak akan pernah bisa ditundukkan oleh kehendak orang lain, tak perduli apakah kehendak itu datang dari orang yang begitu ia sayangi atau dilandasi dengan alasan apapun.

Mungkin sekarang ia masih bisa bersabar menghadapi perlakuan Flenaline. Tapi sampai berapa lama? Tidak ada yang tahu. 

Jazdia menghentikan langkahnya. Kepekaan yang ia asah selama berbulan bulan dengan sang mentor kini telah berkembang pesat dan sudah seperti indera keenam yang mampu mendeteksi kehadiran seseorang dengan merasakan aura yang dipancarkan tubuh mereka.

Dan di antara keramaian ini, Jazdia merasakan aura yang begitu familiar. Milik sang Auntie, Flenaline.  Wanita itu sedang mengikutinya, perlahan, penuh kecurigaan.

Gadis itu tak perlu melihat ke belakang. Ia hanya perlu bersikap pura-pura tak tahu dan berjalan terus ke arah perpustakaan kota. Dia telah meninggalkan pesan di atas meja berisi pesan bahwa dia akan ke perpustakaan. Harusnya ia tahu tipuan semacam itu sudah mulai tidak mempan lagi. 

Ia membelokkan langkah, hendak mengecoh sang bibi. Perpustakaan di depannya besar dan luas, penuh labirin dan banyak jalan keluar menuju berbagai arah. Ia hanya perlu singgah kesana sebelum ke tempat latihan. 

Pintu itu ia tutup dengan bunyi berdebam. Ia tidak perduli apakah pak tua Edward itu akan mengomelinya. 

"Sial!" rutuk gadis itu dalam hati. Terbuang sudah setengah jam waktu bebasnya untuk pelarian ini. 

 “Kau puas sekarang, Auntie?” ia terdiam dan beringsut ke bawah, duduk di lantai dan bersandar di daun pintu. Menunggu… dan menunggu, sementara aura yang mengikutinya terasa mulai menjauh dan memudar. 

                                                                                     ***

Ketika rasa letih semakin memberatkan pundaknya, Jazdia memutuskan untuk berhenti dan melihat apa yang telah ia perbuat.

Batang-batang kayu di depannya hangus di sana-sini, membara merah namun tidak terbakar sepenuhnya karena sudah dibasahi air danau. Dari kayu-kayu tersebut keluar asap pekat yang memerihkan mata sementara di bawahnya, rerumputan yang gosong semakin bertambah luas dan tanahnya pun menghitam. Akumulasi dari banyaknya api yang Jazdia keluarkan hari ini dan hari-hari sebelumnya.

Sang mentor mendekatinya dari belakang dan sambil menulis-nulis di atas sebuah papan, ia pun berkomentar;

“Ada peningkatan yang besar sekali di sesi latihan ini, entah kamu terlalu semangat atau sedang kesetanan, yang jelas kamu sendiri akan cukup untuk membakar seluruh hutan seandainya kita tidak memasang pagar-pagar sihir.”

“Harusnya tidak perlu dipasang.” Jawab Jazdia ketus. “Biar saja hutan ini terbakar, jadi bibi akan berhenti menyuruhiku memetik tanaman herbal.”

Ranger itu mengelang, tepat saat Jazdia menyadari betapa bodoh kata-katanya tadi.

“Baiklah. Sudah agak sore, jadi cukup dulu hari ini.” Sang mentor menarik kertas dari papan yang ia pegang dan menyelipkannya ke sebuah buku… bersama catatan-catatan lain dari hari-hari sebelumnya.

“Jazdia…”

“Apa?”

“Sesuatu menganggumu nak?”

“Yah, begitulah. Masalah di rumah...”

“Dengan Flenaline? Aku pikir kalian sudah berbaikan.” tanya sang mentor lagi.

Jazdia menahan napas. Dengan hati-hati, ia menyembunyikan kedua tangannya di balik punggung. Ada dua bekas merah di sana. Bukti atas kemarahan bibinya pagi ini karena dia salah takaran saat menambahkan bubuk mandragora.

Dua sabetan yang spontan, pertanda bahwa Flenaline benar-benar tegas, jika tidak ingin disebut berlebihan pada apa yang dia ajarkan.

“Mandragora dalam dosis tinggi itu beracun. Ya aku sadar kesalahanku, tapi masa si Auntie harus sampai begitu?” batin gadis itu dalam hati.

“Kamu ingin menceritakannya?”

“Aku tidak ingin membicarakannya!” sahut Jazdia.

Fine. Aku akan anggap itu sebagai urusan khusus perempuan.”

Ada sedikit rasa bersalah di benaknya. Sang mentor bukan hanya sebagai guru, tapi juga telah menjadi semacam tempat bagi Jazdia untuk berkeluh kesah. Seperti teman yang ia bisa percayai untuk menceritakan masalahnya, teman yang mau mengerti, tapi juga masih mampu untuk berpikir objektif, tidak bias. Tidak semua orang bisa mendapat kepercayaan itu darinya.

Tapi kali ini berbeda.

Masalah dengan Flenaline, rasa kecewanya, sakit hatinya adalah hal yang terlalu pribadi untuk diceritakan pada orang asing. Ya, Jazdia masih menganggapnya demikian. Bagaimanapun masih ada jarak diantara mereka, dan akan terus begitu selama sang mentor masih mengenakan topeng aneh itu dan merahasiakan identitasnya.

“Teringatnya auntie ada urusan di balai penyembuhan.” Ucap Jazdia, mengalihkan pembicaraan. “Bisa kita latihan besok? Tidak harus sihir, mungkin panahan! Sudah sebulan kita tidak latihan itu.”

“Sayangnya tidak bisa.” sahut sang mentor sambil mengambil teko yang mendidih dari perapian dan menuangkan isinya ke dua cangkir di atas meja. “Besok aku ada pekerjaan…”

“Urusan Ranger?”

“Ya, begitulah. Bukan hal yang menarik sebenarnya. Kami cuma ditugaskan untuk mengantarkan surat ke sebuah perusahaan penebangan yang beroprasi enam mil dari Falion.” Ia mengeluarkan biskuit-biskuit dari tasnya dan melanjutkan dengan agak menggerutu. “Karena ini adalah wilayah perbatasan, kami butuh izin dari pihak Castediar dan Aldamir. Masalahnya birokrasi di Castediar ini yang agak lama urusannya!”

“Boleh tidak aku ikut?” ucap Jazdia spontan.

“Hah? Kenapa kamu mau ikut?”

“Penasaran saja. Kita sudah hampir setahun latihan tapi aku gak pernah sekalipun lihat pekerjaan kamu bagaimana.”

Sang mentor mengelang. “Bukan sesuatu yang seharusnya disaksikan oleh sipil. Apalagi anak dibawah umur.”

“Aku bukan anak kec—Ayolah!”

“Tidak bisa.”

“Flenaline tidak akan ada di rumah besok.” Jazdia merendahkan suaranya dan mulai mengeluh. “Meski begitu, sebelum pergi dia pasti akan memintaku meracik belasan botol ramuan dan semua harus selesai sampai dia pulang.”

“Caramu menjelaskannya seolah-olah Flenaline itu ibu tiri yang kejam." 

“Memang! – maksudku bukan begitu. Aku tidak punya teman sebaya, auntie tidak pernah memberiku libur—kami tidak pernah liburan bersama. Aku kesepian dirumah dan tidak ada hal menarik di kota. Hidupku membosankan dan satu satunya cara untuk melepas kebosanan itu adalah dengan latihan denganmu, meski cuma tiga kali dalam seminggu, satu setengah jam satu hari.”

“Ah… kamu berlebihan. Lagipula alasan apa yang akan kamu pakai untuk meyakinkan Flenaline agar kamu bisa pergi?”

“Aku bisa bilang ingin pergi ke danau dan memetik sekeranjang chamomile." 

"Sampai sore? Dan tadinya kamu bilang ingin agar seluruh hutan ini terbakar agar tidak lagi disuruh memetik tanaman herbal."

 "Mister Rautlec... kamu ini... menyebalkan. Aku cuma ingin sedikit bertualang." 

Sang mentor tak segera menjawab. Ia berdiri menghadap gadis itu selama beberapa saat. Dari balik dua celah hitam di topengnya, Jazdia tahu ada dua mata yang menatap kearahnya dengan penuh pertimbangan.

“Kamu melempar rayuan yang sulit sekali ditolak ya.” ucapnya dengan suara datar. “Baiklah nak. Kita ketemu disini besok pukul sembilan tepat."

Belum ada komentar untuk chapter ini.

Jadi yang pertama?