Urusan yang belum selesai

Satu Minggu berlalu dengan hambar.

Meski telah menyibukkan diri dengan belajar dan latihan, Jazdia masih tak bisa lepas dari rasa penasaran yang meresahkannya tiap bangun pagi. Minimal untuk bertanya dalam hati; apa yang saat ini Faldiar lakukan disana? Apakah dia punya teman perempuan lain? Apa dia menikmati latihannya? Apakah ketika dia pulang nanti, dia akan menjadi seseorang yang berbeda? Ataukah sama saja; seorang pemuda lemah dengan bahu kurus dan lengan yang gemulai?

“Tuh ‘kan melamun lagi!”

Tang! Tang!

Dibangunkan oleh ketukan sendok ke wajan besi, Jazdia memaksa pikirannya untuk fokus kembali ke apa yang dia kerjakan. Panci berisi rebusan jahe di depannya telah mendidih dan dengan agak buru-buru dia mengambil serbet dan menuangkannya ke wadah lain.

“Matikan apinya. Tambahkan sedikit sirup lemon… atau elderberry dulu? tunggu sebentar! ini sudah takaran yang benar ‘kan?”

Gadis itu melirik ke bibinya, tapi terlalu malu untuk bertanya. “Bodohnya aku, padahal auntie sudah mengajarinya berkali kali?Ah terserahlah!”

Dengan keyakinan yang setengah-setengah, Jazdia hanya bergantung pada tebakannya ketika memasukkan dua bahan lain kedalam ramuan itu. 

Ia tahu itu sebuah keteledoran, tapi dia begitu ingin membuktikan kalau usahanya membuahkan hasil, atau setidaknya ada sedikit kemajuan...

Selagi Jazdia mengaduk ramuan yang ia buat, Flenaline menyambar cairan itu dengan sendok dan mencicipi sirup herbal buatan anak asuhnya seperti seorang koki berpengalaman.

“Agak asam,” komentarnya sambil mengambil botol lain dan menuangkan beberapa sendok madu. “Nah sempurna.”

Ia merasa ingin tertawa lega.“Jaz belajar dengan cepat kan?” 

Herbalis itu tersenyum, meski gadis itu tahu bibinya sedang berusaha untuk tidak melirik ke arah bak cuci piring -tempat di mana banyak sekali ramuan gagal dibuang sejak hari pertama ia belajar.

“Iya, kamu hebat. Karena gurunya juga hebat.” Flenaline menyeringai kemudian berbalik, menuangkan sebagian ramuan obat yang sudah selesai itu kedalam sebuah botol kaca transparan.

“Ini dia nona muda. Sirup obat demam pertamamu.”

Jazdia hanya bisa tersipu.

Ia tidak pernah menyangka pekerjaan bibinya adalah sesuatu yang sangat rumit. Dulunya ia melihat ini semua tak lebih dari sebuah sesi masak memasak yang agak serius; Rebus air dengan tanaman herbal, campurkan bahan ini dan itu. Tuliskan petunjuk pakai dan dosis sebelum diberikan ke pelanggan. Sederhana.

Tapi rupanya dibutuhkan ketelitian, kesabarandan perasaan bertanggung jawab yang besar. Seperti yang bibinya pernah katakana di awal-awal; Ini semua berhubungan dengan kesehatan orang lain, sehat itu mahal.

Jazdia menguap. Belum tengah hari tapi ia sudah merasa lelah.

“Kerja yang bagus hari ini. Untung kamu ada, jadi pekerjaan kita cepat selesai” Puji Flenaline sambil mengusap rambut pirangnya dengan penuh kasih sayang. “Kamu biasanya ke danau kan tiap hari selasa ‘kan? Mumpung belum musim dingin, pergilah main sana.”

“Sekalian antarkan sirupnya ke pemesan ” tambah Flenaline sambil memasukkan botol obat itu ke sebuah tas anyaman. Kita juga sudah kehabisan beberapa bahan. Tolong petikkan chamomile dan sisakan beberapa untuk dibawa kerumah nyonya Ethes. Dia pesan satu paket dengan obat demamnya.”

                                                                                 ***

Jazdia menyeret tubuhnya dari telaga dan mengambil napas dalam-dalam seperti ikan megap. Ini tidak terasa sama, udaranya begitu hampa, suasana disini terasa asing dan air telaga itu terasa seperti minyak di kulitnya.

Jazdia tahu betul keanehan ini hanya ada dalam pikirannya dan tahu betul apa masalahnya; ia merasa kesepian dan bosan, tidak ada siapapun untuk diajak bergembira, tidak ada yang ditunggu untuk datang….

Tidak ada Faldiar

“Huft... jadi ini yang namanya rindu ya?”

Gadis itu berdiri. Pakaiannya, sepasang rok panjang dan kaos bertangan berwarna hijau tua kini basah dan berlumpur, terasa berat namun dia tak perduli. Sama tidak perdulinya ketika ia melemparkan diri ke dalam telaga, berharap bahwa sejuknya air bisa memadamkan rasa tidak nyaman di hatinya.

“Faldiar! Kenapa sih kamu!” Teriaknya sekencangnya. “Aku jadi terbawa perasaan ‘kan!”

Tapi tak ada yang menjawab, hanya ada suara angin yang mengeluh di pertengahan siang yang mendung. 

Bagaimanapun, ia merasa beban di hatinya terasa berkurang.

Jazdia mengambil tasnya dan bersiap untuk pergi. Semua yang dipesankan bibinya sudah lengkap, termasuk paket obat dan tanaman chamomile yang dipesan keluarga Ethes. Dia ingin segera pulang, makan dan tidur. Keinginan yang sederhana… harusnya tak ada masalah kan?
                                                                                            ***

Ketika Nort dan kaki tangannya, si Brenen menghadangnya, Jazdia tahu hal buruk akan terjadi.

Dua orang berandal dengan pentolan utama yang sepertinya belum juga jera. Kenekatan mereka untuk datang kemari cukup mengejutkan gadis itu. Pas sekali ketika moodnya sedang jelek.

“Kalian mau apa?” tanya Jazdia sinis. Ia tak ada keinginan untuk bermanis-manis di depan mereka, tapi juga ia tak berminant untuk perkelahian. Dia sudah janji ke bibi Flenaline.

“Bagiamana Jaz?” ucap Nort dengan seringainya yang memuakkan. “Temanmu sudah pergi, tinggal kau sendiri.”

“Enggak usah mencemaskan orang.” sambar Jazdia sengit sambil menatap muka berandalan itu. "Aku tanya lagi, kamu punya urusan apa denganku?"

Anak laki laki itu kelihatan kesal, tatapannya menjadi lebih tajam dan penuh kebencian. 

Norton Crest adalah contoh terbaik dari pribahasa buah tak jatuh jauh dari pohonnya. Meski keluarganya murni dari bangsa elf, tak ada kelembutan tampak dari penampilan mereka. Wajah yang keras, posture tinggi dengan rambut hitam dan mata tajam. Kesan gahar itu diperkuat oleh kepribadian mereka yang kasar dan sewenang-wenang.

“Urusan hah? Soal urusan... Kamu itu keterlaluan Jaz! Yang dulu itu bukan urusanmu, tapi kamu mau kelihatan sok jagoan. Kamu udah bikin aku dan ayahku malu.”

“Terus kamu mau apa?”

Anak laki laki itu meringis seperti seekor serigala yang licik. “Oh… Balas dendam dong.”

Gadis itu tertegun sejenak. “Bibiku bilang untuk menghindari kekerasan-”

“Takut?“

“Bukan karena aku takut!" potongnya spontan. "Tapi demi menyelamatkan mukamu supaya tidak semakin jelek kena tinjuku. Jadi aku peringkatkan sekali lagi, Norton Crest, Brenan Niandir; menyingkir dari sana dan jangan mengusikku. Aku ingin pulang dengan damai, dan aku rasa kalian juga menginginkan hal yang sama!”

“Jangan sok hebat, anak pungut!”

"Oh begitu ya..." 

Jazdia menjatuhkan tas yang ia bawa dan menyingkir agak jauh dari sana. Kesabarannya habis dengan cepat. Perduli setan dengan apa yang bibinya katakan.

Mengangkat dan mengepalkan tinjunya, gadis itu menatap dua anak laki-laki di depannya dengan sengit. “Majulah kalian.”

Dia pernah mengalahkan empat dari mereka sekaligus. Bermodalkan pengetahuan bela diri yang ia banyak baca dan latihan fisiknya, gadis itu tahu harus bagaimana; Nort dan Brenen mungkin bertenaga lebih kuat, tapi gerakan dan serangan mereka kasar dan tak beraturan. Sementara ia cepat dan efisien, dua orang ini bukan tandingannya.

Nort membuka serangan dengan berlari maju kearahnya dengan tinju terkepal. Gerakan yang mudah terduga. Jazdia hanya perlu mengarahkan tinjunya ke hidung anak laki-laki itu dan hanya dengan sedikit tenaga ia bisa merasakan gemeretak kecil yang teredam di balik kulit dan daging.

Nort tersentak. Satu tangannya di wajah, memegangi bagian hidungnya yang kelihatan mulai berdarah. Rekannya, si Brenan yang maju hampir bersamaan dengan bosnya menyerang dengan cara yang sama cerobohnya. Jazdia mengangkat kakinya dan memberikan tendangan cepat ke perut anak laki-laki tersebut.

“Sudah puas? Pulanglah sebelum aku membuatmu tambah malu.”

Nort hanya berdiri di depannya, tangan masih di hidung namun bibirnya masih menyeringai.

Lalu mendadak, sepasang lengan kuat menangkap gadis cilik itu dari belakang; seperti seekor beruang yang membekap dengan kuncian yang kokoh. 

Si penangkap, kulit tangannya gelap dan berkeringat. Jazdia bisa merasakan hembusan napas menerpa tengkuknya dengan bau yang membuat merinding. 

Layaknya seorang maniak, Nort tertawa kencang. Darah masih mengalir dari hidungnya tapi ia kelihatan tidak perduli. Dengan sorot mata puas, Ia mendekati Jazdia, -tangan terangkat dan…

Plak!

Gadis itu terguncang, namun sebelum ia bisa memperkirakan apa yang datang berikutnya, tinju dari berandalan itu mendera perutnya.

Tersesak, kesakitan dan marah. Belum pernah ada yang pernah menganiaya fisiknya sampai sejauh ini. Jazdia mencoba memasang wajah tegar. Ia meronta, pakaian basah yang ia kenakan malah seperti mempererat dekapan lelaki itu.

“Hey Brenen! Kau tidak mau membalasnya juga? Foster, kau bisa tahan dia lebih lama lagi kan?”

Sebuah suara berat menjawab “Jangan cemas.”

Jazdia mengerang, berteriak, dan memaki. namun jepitan itu semakin ketat. Ketika dia berusa lebih keras untuk berontak, pengikut si Nort mengambil sebuah dahan kayu lalu memukulkannya ke betis gadis itu. 

"Ka... kalian berengsek!" ringis Jazdia.

“Diam!” Nort menamparnya lagi, lalu berbalik untuk memungut tas anyam yang tergeletak tak jauh dari sana.

Ia merogoh isinya dan memamerkan botol transparan tersebut.

“Jaz... Jaz... kenapa sih kamu enggak diam saja di rumah dan bantu bibimu bikin obat? Eh... ini obat kan? Baunya mengerikan!”

Nort melempar botol itu dengan sekuat tenaga. Dan diikuti bunyi krompyang yang menyakitkan, botol berisi ramuan obat yang sudah susah payah ia buat kini hancur berantakan; isinya terciprat ke rerumputan dan merembes ke tanah.

Jazdia merasa bergetar; Ia belum pernah merasa semarah ini sebelumnya, dan belum pernah pula ia menyadari bagaimana amarah bisa memberi kekuatan baru yang begitu kuat.

Mendadak, gadis itu mengangkat kedua kakinya. Gerakan  pertama berupa tendangan keras yang ia yakin mendarat di suatu tempat di dagu bajingan itu. Sementara hentakan kedua ia fokuskan untuk melongarkan jepitan dengan menganggu keseimbangan si penangkap. Pria yang mendekapnya berusaha mempertahankan cengkramannya; namun Jazdia tak kehabisan akal. Memanfaatkan momentum dari gerakan awal, ia menginjak kaki dan menghantamkan belakang kepalanya ke dagu si penangkap.

Jepitan pria itu mulai longgar. Dan gadis itu pun berhasil melepaskan satu tangannya dan menggeser lengan yang membelitnya lebih ke atas lagi. 

Ke rahangnya. 

Jazdia bisa merasakan kedua taringnya terbenam kedalam kulit dan daging si penangkap, diiringi dengan sensasi asin ketika darah mulai merembes ke indra pengecapnya.

Ia bebas.

Sebelum pria- bukan! Pemuda tinggi besar itu bisa bertindak untuk membalas, Jazdia mengayunkan kakinya dan memberi tendangan langsung ke leher lawanya.

Nort yang baru pulih dari  serangan yang tak terduga tadi mulai menyerang lagi dengan sebatang kayu. Dengan tangannya, Jazdia menangkis, harusnya terasa sakit, tapi ia tak perduli; rasa marahnya begitu membius, ia terlalu kalap sampai sampai ia tak bisa mengenali apa itu rasa nyeri.

Tongkat itu ia cengkram, dan dengan tangan satunya lagi,  Jazdia menghantamkan tinjunya ke pipi si Nort. Pukulan telak itu menjatuhkannya. 

“Ayo sini. Akan aku patahkan kaki kalian! Akan aku buat seluruh gigi kalian rontok!”

Jazdia tak berniat menunggu. Si Brenen yang sejak tadi termangu di tempatnya tak punya kesempatan lolos dari amukan gadis itu. Dengan tongkat yang ia rebut, Jazdia mengayunkan pukulan telak sisi badan anak itu. 

"Dari dulu kau memang pengecut!" 

Tongkat itu ia jatuhkan, persis ketika kaki tangan kepercayaan si Nort itu berlutut dan meringis seperti ingin sujud. 

Jazdia mengatus napasnya. Ia berhenti sejenak, namun matanya yang kalap kini menatap ke tumpukan beling yang berserakan. 

Dua brandalan itu meringsut di rerumputan, saling menjauhi satu sama lain. Mata mereka menunjukkan ketakutan ketika Jazdia membungkuk untuk memungut pecahan botol tersebut. 

2 komentar untuk chapter ini

Bagus Surya
Hehehe... sekarang ane kena dilema apakah Jazdia bakal melukai mreka lebih parah lagi, atau...

Jawabannya minggu depan :p