Makhluk Penunggu Hutan 

Kenapa bisa seperti ini? Kenapa malah dia yang dihajar? Bagaimana bisa seorang anak perempuan mengalahkan mereka bertiga? Kenapa dia kalah cerdik?

Jazdia… ada yang tidak biasa dari anak perempuan itu. Harusnya dia tahu, harusnya dia tak bertindak bodoh seperti ini, harusnya dia tahu kejahatannya sudah keterlaluan dan seseorang bisa membalasnya dengan lebih mengerikan lagi. Tapi sudah terlambat untuk sadar. Agenda balas dendam terhadap Jazdia malah menjadi petaka buatnya.

Nort merasakan tubuhnya menggil didera ketakutan. Apa yang akan Jazdia lakukan pada dua anak buahnya? Gadis itu mengambil pecahan beling, apakah dia akan menyayat leher mereka berdua dengan keji seperti di cerita-cerita perang yang ayahnya sering kisahkan?

Ia panik, baru kali ini dia merasa begitu ketakutan, dan dengan rasa takut itu, Nort memaksa dirinya untuk berdiri; harus lari, harus… menyelamatkan… diri sesegera mungkin, gadis itu gila!

Terengah engah, dan masih terengah engah… lari, terus berlari. Nort tak tahu sudah berapa jauh dia kabur; pepohonan di kiri, kanan dan depannya terlihat sama, seolah dia sedang berlari di tempat. Apakah Jazdia mengikutnya? Dia tak tahu, dan tak berani berandai andai, langkah dan napasnya terdengar berisik dan untuk menoleh ke belakang barang sejenakpun, dia tak berani.

Bletak!!!

Lalu ia merasa mati rasa, begitu cepat, hanya beberapa detik… dan ketika kesadarannya pulih, ia sudah menatap rerumputan, kakinya seperti tersandung sesuatu dan sebelum ia menyadari apa yang terjadi, tubuhnya sudah terjungkal ke tanah.

Keningnya terasa hangat… basah dengan darah. Ia mengangkat tubuhnya dan berbalik, menatap sosok perempuan yang berjalan kearahnya dengan batu di tangan.

                                                                                            ***

“Bangun kau… bajingan!” Ucap Jazdia dengan nada datar. “Kau ingin berkelahi? Ayo lakukan dengan adil.”

Jazdia menjatuhkan batu yang ia pegang dan memasang sikap siaga; tinju terkepal dan kakinya siap berayun. Meski tangan memar dan kaki lelah, ia tidak perduli, dia begitu ingin memberi anak berandalan ini pelajaran yang tidak akan dia lupakan.

Tapi alaih alih tertantang, Nort hanya berdiri di tempatnya, begitu lunglai, tak bertenaga; matanya pasrah, namun bibirnya masih bisa menyunggingkan senyum menyebalkan.

“Buat apa? Supaya kau bisa mempermalukanku lagi? Supaya aku bisa pulang dengan babak belur kayak orang yang gak ada harga diri?”

Jazdia tak mengatakan apapun ketika tinjunya menghantam bawah dagu anak itu. Ia mendengar bunyi gemeretak, namun Nort tidak jatuh, belum. Anak laki laki itu mendadak meluncurkan tubuhnya ke depan, menangkap Jazdia dan membenturkannya ke sebuah pohon.

Gadis itu menghujamkan sikunya ke punggung si lawan, namun sambil berteriak menahan sakit, Nort bertahan dan mendobrak lagi. Seranggannya lemah seperti orang putus asa.

Tepat ketika ia menabrak pohon di belakangnya, Jazdia menaikkan lututnya dan memberi serangan lain ke wajah anak laki-laki itu.

Nort sudah tidak berdaya lagi ketika Jazdia mendorong kepalanya menjauh. Ia menjaganya tetap berdiri dengan mencengkeram kerah bajunya. Ia berputar, keadaanya berbalik dan dengan amarah yang belum padam Jazdia membenturkan anak laki-laki itu ke batang pohon terdekat.

“Sadar kau, brandalan sial!” teriaknya. “Bukankah lebih baik kalau kita jadi anak baik-baik dan tidak menyusahkan orang lain? Menyusahkan orang tua kita?”

Nort membuka mulutnya yang berdarah darah. Satu giginya copot ketika ia tertawa lemah, dan secara tak terduga ia melontarkan gigi itu ke muka Jazdia, bersama ludah dan darah.

                                                                                     ***

Pukulan demi pukulan masih dilancarkan. Darah masih menetes dari muka anak-laki laki itu. Jatuh dan meresap ke tanah, membasahi akar-akar, mengotori rerumputan, membangunkan suatu kekuatan… dan kekuatan ini marah.

Ia telah melihat banyak pertumpahan darah, dan hari ini, hal itu ditumpahkan lagi, di sini; di tempat sakralnya. Dia tidak akan membiarkan mereka.

Pepohonan bergoyang, angin menderu keras. Dedaunan kering beterbangan dan dari bawah rerumputan Sulur-sulur dan akar panjang tumbuh mencuat, menangkap gadis itu, menumbangkannya dengan ikatan kokoh seperti tambang yang kuat. Anak laki-laki itu bernasib tak jauh berbeda, pohon itu berderak, sulur lain tumbuh dari batangnya, mengikat elf muda tersebut dengan dekapan ketat.

                                                                                  ***

Kemarahan yang ia rasakan bercampur dengan rasa panik. Jazdia mencoba meronta, namun ikatan itu terlalu kuat. Dua kali dibelenggu dalam satu hari itu sudah kelewatan, namun ia dengan cepat menyadari bahwasanya saat ini dia tidak berdaya.

Tidak berdaya

Jazdia tak tahu apa dia bisa mempertahankan kesadarannya lebih lama lagi. Tiba tiba ia merasa terkuras, letih dan mengantuk

….apa yang sebenarnya terjadi?

                                                                            ***

“Hey nak! Tetap jaga kesadaranmu.”

Jazdia membuka matanya dan mendapati dirinya masih terikat di sana. Posisinya terlentang dengan wajah menghadap ke langit. Ia memutar bola matanya dan menoleh ke sudut pandang manapun yang ia bisa. Rasanya tadi ada yang memanggilnya, tapi dia tidak bisa melihat di mana orang itu.

“Ya bagus. Tetap buka matamu.” kata suara itu.

“Ya! Aku sudah sadar sekarang. Siapapun yang ada di situ! Tolong lepaskan benda ini.” Pinta gadis itu.

“Seandainya bisa semudah itu…”

“Apa?”

“Dengar, aku tidak bisa begitu saja memotong sulurnya. Benda itu sama kerasnya seperti kawat baja. Rasanya biang keladinya masih ada di sekitar sini. Kau cukup beruntung Leshen itu tidak langsung membunuhmu.”

“K… kau bicara apa?” ucap gadis itu terbata bata. Ia mencoba memfokuskan pengelihatan dan pendengarannya. Ia menoleh ke kanan; agak jauh dari tempatnya terbaring, ia melihat seseorang, tinggi dengan pakaian berwarna kecoklatan dan wajah tertutup topeng putih. Ia memegang sebuah busur, dan sudah ada sebatang panah terpasang di sana, ujungnya terbakar oleh api.

“Hush… tenangkan dirimu.” jawab pria itu. “Aku tidak bisa maju lebih jauh lagi-“

“Lepaskan aku sekarang juga!” pekik Jazdia tiba-tiba. “Tolong! Tolong aku!”

Jazdia terus berusaha memanggil dan memberontak, namun semakin dia berusaha, semakin ia merasa tak bertenaga.

“Nak… tak ada yang bisa mendengarmu disini. Kau jauh dari kota dan sedang diikat oleh Woodland Spirit. Leshen… kau tahu? Roh hutan yang gemar menangkap anak-anak.”

“Kau pikir ini lelucon?!“

“Tidak. Melihat dari keadaanya, aku serius.” ucap pria itu sambil mengangkat bahu. “ Aku tidak bisa melepaskanmu, aku tidak punya alatnya, dan meskipun aku punya gergaji kayu, mungkin Leshen itu akan muncul dari belakang, membunuhku sebelum satu sulurnya lepas.”

Pria itu membidikkan busurnya dan melepaskan tembakan. Panah berapi itu menancap beberapa meter dari Jazdia, dan mendadak api di panah itu membesar, seolah ada kompor yang menyalakannya dari bawah tanah.

“Kau bisa merasakan hangatnya?” Tanya pria bertopeng itu. “Kau memiliki bakat sihir alami. Sihir api, sama sepertiku. Juga kemampuan untuk menyerapnya dan mengubahnya menjadi Mana. Lihat api itu? kau bisa menciptakannya sendiri. Kumpulkan tenaga di telapak tanganmu dan pikirkan apinya, bagaimana dia terbentuk… itu semua ada dalam kepalamu.”

“Kau mau menolong atau apa sih?” hardik Jazdia.

“Aku ingin, tapi tidak bisa aku lakukan sendiri. Kau mengerti? Munculkan api dari tanganmu, aku yakin kau bisa.”

Omong kosong! Umpatnya dalam hati. Apanya yang menolong? Pria itu tak kelihatan maju selangkahpun, ia hanya berdiri diam disana dengan busurnya, dan topeng putih yang memandang awas tanpa ekspresi. Jazdia mulai kehilangan harapan. Kemungkinannya kini ada dua; apakah ini jebakan pria itu atau, dia hanyalah orang gila yang kebetulan lewat?

“Kau harus percaya pada dirimu. Konsentrasi!”

“Diamlah! Kau membuatku makin geram!”

Jazdia mengatupkan gigi-giginya; kesal, panik dan putus asa bercampur jadi satu. Membebaskan diri dengan memunculkan api? Apa aku kelihatan seperti ahli sihir?

Ia tak percaya, namun ada sisi lain dirinya yang membenarkan dugaan itu. Ketika dia meletuskan senjata genggam di rumah Faldiar. Terasa seperti ada yang mengalir di kedua tangannya. Sebuah kekuatan yang tidak di ketahui. Terasa hangat, seperti terpaan sinar matahari… atau panas yang terpancar dari panah api di dekatnya.

Ia menatap kobaran api tersebut, dan tanpa sadar telah menyerap esense dari wujud api itu sendiri. Bagaimana dia melakukannya? Dia tidak tahu. Semua itu terjadi tanpa ia sadari, seperti membaca sebuah buku dan langsung mengerti isinya. Disinilah sepertinya bakat mulai berepran.

“Igni…”

Karena lehernya terikat, Jazdia tak bisa melihat kedua tangannya. Tapi dia merasa sesuatu mengalir di dalam pembuluh darahnya dan berkumpul di daerah telapak tangan. Terasa panas sekali awalnya, lalu kemudian terasa dingin. Apinya padam?

“Bagus! Lakukan lagi. Ambil napas dalam-dalam dan keluarkan perlahan. Konsetrasi adalah kuncinya.”

Ada gerakan, tapi bukan darinya. Sulur sulur itu semakin mengetat, mungkin terganggu karena mangsanya mulai menunjukkan perlawanan. Jazdia, meskpun tercekik kali ini berusaha melakukan instruksi pria itu. Dia tidak punya pilihan.

“Konsentrasi.” gumannya. Konsentrasi? Bagaimana aku bisa konsentrasi dengan semua tekanan ini? Tanaman keparat!

Dengan jemarinya, Jazdia mencengkram salah satu untaian sulur tersebut. Ia tidak lagi membayangkan bagaimana caranya membuat api, tapi berpikir bagaimana dia akan membuat sulur Leshen… atau apalah namanya ini menjadi arang.

Telapak tangannya terasa panas dan sakit sekali, seakan kulit dan dagingnya melepuh. Tapi dia sudah biasa menghadapi rasa sakit, dan lebih sering lagi menggunakan rasa sakit itu untuk memacu tekad. Dia harus lolos! Harus! Bagaimanapun caranya!

Ada bunyi gemeretak, dan sulur-sulur itu mulai memberikan perlawanan. Singkat dan tak berarti, karena Jazdia dengan kekuatan barunya berhasil memutus jerat yang membelenggunya. Seperti ular yang kesakitan, sulur-sulur yang tersisa menarik diri kedalam tanah, lalu muncul kembali di tempat lain dalam jumlah yang lebih banyak, saling menjalin, membentuk suatu makhluk tinggi besar dengan kepala berupa tengkorak rusa dengan tanduk yang bercabang-cabang.

Lalu dengan satu gerakan, makhluk itu menghempaskan cakarnya ke rerumputan. Akar akar tajam kecoklatan mencuat dari dalam tanah sebagai balasan, tumbuh berbaris dengan cepat seperti paku paku panjang yang tajam.

Dengan sigap, pria bertopeng itu menyambar tangannya dan menarik gadis itu ke sisinya. Sebuah perisai sihir telah tercipta di sekeliling mereka, dan akar-akar itu hancur dan luruh menjadi debu ketika berusaha menembusnya.

“Nah, inilah yang terjadi kalau kita lengah sedikit!” gerutunya.

Jazdia mencoba memulihkan konsentrasinya. Api di telapak tangannya belum padam dan dia masih bernafsu untuk meluluhkan makhluk hutan itu menjadi arang. “Lepaskan tanganku!”

“Jangan begitu,” Jawab pria itu. Satu tangannya terangkat untuk menjaga perisai tersebut tetap menyala. Jazdia melirik ke pergelangan tangannya yang masih di pengang kuat oleh penolong misterius tersebut. Entah bagaimana sepertinya orang ini kebal terhadap api yang ia ciptakan.

“Aku tahu kekuatan baru ini membuat adrenalinmu terpacu. Memang api adalah simbol keberanian, tapi kau harus tetap berpikir jernih. Jangan terlalu nekat meski kau ingin. Leshen itu biar aku yang urus, kau cepatlah selamatkan temanmu, jadi aku bisa membunuhnya dengan aman.”

“Dia bukan temanku.”

“Begitukah?” Tanya pria itu dengan rasa heran yang terdengar dibuat-buat. “Bisa saja aku membunuh Leshen itu, tapi aku harus melakukannya dua kali. Saat kematian pertamanya, spirit itu akan menghisap energi kehidupan bocah itu untuk bangkit kembali. Dan saat aku bilang energi kehidupan, itu termasuk napas, darah dan… semuanya. Tubuh bocah itu akan kering seperti daun yang gugur, tapi setidaknya kematiannya akan terjadi dengan cepat. Jadi… aku akan tanya lagi, Nona Muda. Dia temanmu atau bukan?”

Jazdia menggigit bibirnya dengan frustasi. Siapa Nort baginya kecuali seorang berandal penganggu yang jahat dan menyebalkan? Kenapa dia harus repot menyelamatkan orang yang berusaha membuatnya celaka? Kenapa tidak biarkan saja dia mati? Toh setidaknya satu anak nakal akan berkurang dari dunia ini.

“Nona… aku sarankan kau untuk membuat keputusan secepatnya. Perisai ini ada batasnya!”

“Itu… anu…” bibirnya terasa kelu. Jika dia membiarkan Nort mati, lalu bagaimana dengan ibunya? Ayahnya? Dan Brenda, adik perempuannya yang ceria itu? Mereka akan sangat sedih kan? Bagaimana jika situasinya dibalik? Bagaimana jika dia yang terperangkap disana? Bagaimana jika yang akan mendengar berita kematian hari ini adalah bibi Flenaline, paman Stennis… dan Faldiar?

“Aku akan membebaskannya! Tapi jauhkan makhluk itu dariku.”

“Kenapa? Tiba-tiba saja dia masuk dalam daftar temanmu?”

“Teman atau bukan. Nyawa seseorang itu berharga! Bahkan jika itu adalah nyawa seorang brandalan.” Hampir saja gadis itu menangis ketika bibirnya mengucapkan kalimat itu. Ia teringat sebuah kata kuno dari bahasa Ancient; Mercy yang berarti pengampunan dan belas kasihan. Kata yang indah dan terasa manis di bibirnya, namun terasa menyesakkan dadanya yang masih diliputi amarah.

“Begitu ya… Nak. Waktumu lima menit untuk membebaskan bocah itu. Perhatikan aba-abaku. Kau siap?”

Jazdia mengangguk.

“Dimulai dari… sekarang!”

Maka ia berlari, secepat yang ia bisa. Api menyala di kedua tangan dan dia tidak melihat ke belakang. Ada bunyi keriutan yang mengerikan, hampir seperti sebuah teriakan marah. Sejenak ia berpikir sebuah sulur dengan ujung keras dan tajam akan menikamnya dari belakang seperti boneka dihujam jarum dan benang, namun ia percaya pada pria bertopeng itu, harus! Dia bukan orang jahat… dia akan melindunginya!

Nort terlihat tak sadarkan diri ketika Jazdia berdiri dekat di pohon tempatnya terikat. Gadis itu maju perlahan, namun pasti, mengantisipasi serangan kejutan yang mungkin datang dari dalam tanah, atau dahan-dahan di atas kepalanya.

Ketika Jazdia menggapai sulur tersebut. Ia berusaha menjaga konsentrasinya. Ada dua hal yang ia benci saat ini. Pertama bahwa ia harus menyelamatkan Norton Crest, brandalan yang mencoba membuatnya babak belur, dan yang kedua; spirit hutan yang sudah membuatnya terjerat berjam-jam dan mencoba mengambil nyawanya. Ia lebih benci yang kedua.

Jangan senang dulu, Nort bodoh! Aku tidak melakukan ini karena cemas padamu!

Sulur-sulur tersebut mengetat, namun semakin lama Jazdia menempelkan tangannya dan membiarkan mereka terbakar, ikatan itu dengan cepat terurai seperti tanaman layu. Bahkan benda yang sekuat kawat baja sekalipun putus dan binasa menjadi arang dilahap api yang ia ciptakan.

Jazdia membiarkan Nort beringsut jatuh di rerumputan dan hanya mendekati berandalan itu untuk mengecek tanda-tanda kehidupan. Lalu ia berbalik, ingat bahwa musuh utama masih belum dikalahkan. Leshen itu melihat kearah mereka, namun antara Jazdia dan makhluk itu, ada pagar api yang memisahkan dan di baliknya, pertarungan masih berlanjut.

Si pria bertopeng menembakkan sebuah panah api ke sisi kanan lawannya, dan dengan cepat menyulut kulit berkayu Leshen itu. Bertambah marah, sang roh hutan menumbuhkan akar akar tajam ke depan, hanya untuk dihindari sepenuhnya oleh pria itu dengan berguling menjauh.

Pria misterius itu menarik busurnya lagi. Jika tadi Jazdia melihat panah nya diselimuti api, kali ini api tersebut padam, seperti terserap kedalam dan berkumpul di ujungnya, merubah mata baja anak panah tersebut menjadi semacam Kristal yang berpendar dalam cahaya putih yang dingin.

Lalu, tembakan dilepaskan. Panah tersebut berputar cepat di udara, mengumpulkan angin dan membentuk semacam pusaran berapi. Leshen tersebut tidak menghindar-mungkin sudah terlambat untuk itu. Jazdia menyaksikan sendiri bagaimana panah dan putaran api yang dibawanya mencabik cabik tubuh makhluk itu dan menghancurkan sosoknya menjadi serpihan serpihan kecil.

Gadis itu termangu seperti patung, antara terkejut dan takjub. Bahkan ia masih diam di tempatnya ketika pria misterius itu mendekat dan menanyakan apakah mereka baik-baik saja.

“Hey! Hey!” Pria itu menjentikkan jarinya “Kau tidak terluka kan?”

Jazdia berusaha mengumpulkan napasnya. “Tidak… maksudku, aku... baik-baik saja.” ia melihat ke sekeliling. Tadi ada banyak sekali api, namun sekarang sudah padam.

Pria bertopeng itu membungkuk di depannya dan berkata dengan nada ramah. “Kerja yang bagus! Sekarang aku rasa aku harus mengantar kalian pulang.”

Ia berbalik, lalu bersiul seperti memanggil sesuatu, tidak ada yang datang menjawab panggilan itu, namun pria tersebut nampak tak terganggu.

“Oh well… tunggu saja sebentar. Si tua Ulfric itu kadang terlalu santai.”

Tak lama kemudian, seekor Stallion berjalan keluar dari balik pepohonan. Pria itu mengambil seutas tali dari saddlebag dan mendekati tengkorak rusa tersebut. Hanya itu yang tersisa dari Leshen yang tadi ia bunuh.

Dengan sedikit usaha, ia mengikatkan tengkorak itu di sadel. Lalu ia membawa Nort yang masih tak sadarkan diri dan mendudukkannya di atas tunggangannya. Ia naik duluan, lalu mengulurkan tangan ke Jazdia. Kau masih kuat untuk berpegangan kan?”

Gadis itu mengangguk, lalu dengan hati-hati ia menaiki binatang tersebut dan duduk di belakang pria itu. Ia tak pernah terbiasa berkuda, dan tempat duduknya tak nyaman. Tapi ia sudah terlalu lelah dan Falion terasa jauh sekali.

Ia melirik ke kepala Leshen yang tergantung di dekatnya.

“Kira kira bibi akan bilang apa ya melihatku berkuda dengan orang asing bertopeng yang membawa kepala monster?” 

Belum ada komentar untuk chapter ini.

Jadi yang pertama?