Hantu Dari Masa Lalu 

Flenaline masih di rumah ketika salah seorang tetangganya mengabarkan bahwa Jazdia dilarikan ke balai pengobatan bersama tiga anak-laki laki lain. Sang Herbalist meninggalkan pekerjaanya, mematikan semua kompor dan lampu, lantas bergegas menyusul anak angkatnya. Si tetangga tidak menyebut Jazdia terluka apa, tidak pula menjelaskan masalah apa yang kini dihadapi gadis itu, namun ia yakin apapun itu, situasi ini sangat genting.

Flenaline mengatur napasnya. Untuk paru-parunya yang cacat, bisa berlari sejauh dan secepat ini adalah sebuah keajaiban.

“Rena!” serunya pada seorang perawat. “Dimana Jazdia?!”

Perawat itu mengantarnya ke sebuah ruangan tak jauh dari pintu depan. Ada sedikit rasa lega di benak Herbalist tersebut, ini bukan bangsal untuk perawatan intensif.

Jazdia duduk diatas tempat tidur. Tangan kanan disangga oleh sebuah armsling, dan kedua telapaknya dibalut perban putih. Ada beberapa memar jelas terlihat di pipi dan lehernya.

“Sebelum bibi marah padaku…” tangkapnya cepat-cepat. “Aku bisa jelaskan semuanya. Ada saksinya juga kok. Lelaki bertopeng, dia baru saja pergi-”

Flenaline menatap anak asuhnya dengan tajam “Lelaki bertopeng?!” ia mendesis. Sifatnya yang lemah lembut ia campakkan jauh-jauh. “Apa dia yang membuatmu jadi begini?! Dimana dia?!”

Jazdia tak menjawab. Flenline melirik tajam ke perawat itu. "Kau membiarkan orang asing memasuki ruangan ini?" 

"Ah... aku tidak bisa mencegah, dia datang dan langsung menggendong Jazdia kemari."

"Apanya yang tak bisa dicegah?" kata Flenaline keras. "Harusnya kalian tahu tidak boleh orang asing masuk keruang perawatan kecuali kerabat pasien. Bagaimana jika dia punya niat jahat?!" 

“Auntie, tenanglah!” pinta gadis itu. “Paman bertopeng itu bukan orang jahat… sepertinya.”

Flenaline mengerutkan kening. Matanya yang awas menatap sengit ke iris biru anak asuhnya seperti sinar fokus yang berusaha mengorek kebenaran dari hati yang bimbang. “Sejak kapan kamu panggil orang asing dengan sebutan paman?”

“Sejak tadi…”

Suasana ruangan itu mendadak menjadi sangat canggung.

Flenaline terkesiap, suara itu terdengar tak asing. Meski topeng yang pria itu kenakan membuat suaranya terdengar cempreng, telinga elf herbalis itu masih sanggup mengenalinya dengan akurat. Ini bukan kali pertama ‘dia’ datang padanya dan penampilan orang itu tidak sama sekali berubah.

“Aku minta maaf atas kesalah pahaman ini.” Ucap pria itu dengan sopan.

“Ayo kita bicara di luar.”

Meski pembawaanya tetap tenang, Flenaline merasakan rasa kecewa yang telah terkubur lama di hatinya bangkit kembali.

“Baiklah ayo jelaskan.”

“Jazdia bermain terlalu jauh ke hutan. Ada leshen yang menyerang mereka. Kau tahu serangan seperti ini tidak mudah ditangani-“

“Aku tidak memintamu menjelaskan soal itu.” potong Flenaline ketus. “Kedatanganmu jelas bukan hal yang kebetulan. Kenapa setelah bertahun-tahun baru sekarang kau berani menampakkan diri?”

“Aku tidak punya alasan tertentu, aku cuma ingin melihat buah hatiku.”

Flenaline merasa ingin tertawa.

“Kau menyedihkan, Eldarian.” Ujar perempuan itu cepat, tapi kemudian nadanya berubah menjadi lebih dalam dan bergetar. “Setelah gagal melindungi kakaku, kau mencampakkan anakmu demi urusan balas dendam lalu kau bilang ingin bertemu dengannya?”

“Aku tidak pernah mencampakkan anakku!” Pria itu meninggikan suaranya, tapi Flenaline lebih sengit lagi.

 “Kau berjanji akan kembali! Tapi apa? Bertahun tahun dia kau tinggalkan, tanpa ada kabar, tanpa ada kejelasan. Akulah yang bertahun tahun harus menenangkannya dengan kebohongan-kebohongan dan harapan palsu, akulah yang harus menanggung kesedihan tiap kali Jazdia bertanya di mana ayahnya? Apakah ayahnya pergi karena membencinya? Apakah ayahnya masih hidup?” 

"Maaf, aku ingin memperbaiki itu-"

"Jangan konyol!" wanita itu menarik napas panjang, berusaha meredakan gejolak di dadanya. “Semua sudah terlambat. Kini dia tak perduli lagi tentang siapa ayahnya, bagaimana nasibnya ataukah dia akan datang kembali. Huh! bahkan mungkin dia sudah lupa pernah punya orang tua.”

Pria bertopeng itu tak berkata apapun.

“Jazdia tak pernah mengerti… aku tak pernah mengerti alasanmu pergi. Apa dia menjadi beban bagimu? Ataukah ada yang lain yang lebih kau sayangi?”

“Kita pernah membicarakan ini.” Jawab pria itu akhirnya. “Ini semua demi keselamatan Jazdia. Aku adalah buronan dan aku tak bisa menjamin keselamatan putriku jika aku terus di sisinya.”

“Demi keselamatan..?” Ia ingin meluapkan amarahnya, namun di titik ini Flenaline merasa muak sampai ia merasa ia tak sanggup berdebat lebih jauh.

“Pergilah. Jangan buang napasmu untuk menjelaskan omong kosong.” Ia memalingkan muka, hendak berbalik dan pergi, namun keinginan untuk membuktikan apa yang ia katakan tiba tiba terlintas di benaknya.

“Aku tanya kau. Hari ini kau datang padanya sebagai apa?”

“Sebagai seorang ayah tentu saja!”

Flenaline menggelang sedih.

“Jangan bohongi dirimu, Eldarian. Hari ini kau adalah orang asing. Kau bahkan tak berani menunjukkan wajahmu di depan putrimu sendiri.”

Flenaline masih menatap pria itu ketika seorang perawat datang padanya dengan tergopoh-gopoh.

“Nona Ainsley, Jazdia pingsan!”

“Apa? Bagaimana bisa?”

“Tadi Jazdia mengeluh haus- sebaiknya kau cepat kesana.”

“Aku ikut denganmu!” timpal pria itu. Flenaline langsung menolak.

“Kau tidak boleh lagi menemuinya.” Ia menatap nanar. Marah, cemas dan bingung bercampur jadi satu. “Ayo suster.”

“Kau tidak bisa melarangku!” bentak Eldarian, tangannya menggapai bahu Herbalist itu.

“Lepas!”

“Tuan dan nyonya! Ada banyak pasien di bangsal ini. Saya harap anda berdua berhenti membuat keributan!” Perawat itu berseru sambil memisahkan mereka berdua. “Tuan, anda bukan kerabat nona Jazdia kan? Maaf, tapi saya harus minta anda pergi.”

“Tapi aku…” pria itu mundur selangkah, Flenaline bisa merasakan matanya yang tajam menatap ke arahnya. Mencari-cari pembenaran, meminta dukungan. Keduanya tak ia dapatkan.

 “Baiklah.” suaranya terdengar pasrah, dia tak lagi menatap ke arahnya, tapi dari cara ia berbicara, Flenaline ragu pria itu mundur tanpa rencana tertentu. Tidak, itu bukan Eldarian yang ia kenal.

“Maaf suster. Baiklah, aku akan pergi, sampaikan salamku untuk Jazdia, dan semoga ia cepat sembuh.”

***

Jam dinding tua di sudut ruangan telah menunjukkan pukul dua belas tengah malam.

Flenaline dengan sabar mengusap kening Jazdia dan menempelkan kompres di atasnya. Dibanding beberapa jam yang lalu, anak itu sudah lebih tenang sekarang, hanya sesekali ia mengiggau dan merintih kepanasan.

Jazdia tidur tanpa selimut. Udara di jam dini hari harusnya terasa dingin, namun ruangan itu panas sekali seperti berada di tengah siang yang terik di musim panas. Anomali ini jelas tak normal dan jelas sekali pancaran energi sihir yang ia rasakan menjadi indikasi kelainan ini. Flenaline tahu Jazdia tak menderita demam biasa, tubuhnya terasa luar biasa panas, bahkan kompres dingin yang beberapa menit lalu ia taruh kini sudah hampir kering.

“Cepatlah sembuh…” ucapnya lirih sambil mengganti kompres lama dengan yang baru.

Sambil menutup pintu dengan perlahan, Flenaline menarik napas panjang. Ia lelah dan mengantuk, namun di saat seperti ini Jazdia butuh perawatan intensif. Lupakan soal kenapa dia tak membiarkan gadis itu dirawat di balai pengobatan; Sejak kejadian 3 hari yang lalu, ia tak pernah percaya para penyembuh amatir itu, lagipula tahu apa mereka soal penyakit langka seperti ini?

Dengan langkah gontai, sang Herbalist berjalan menuruni tangga, ember es yang ia tenteng sudah harus diisi lagi dan sepertinya ia akan terjaga sampai pagi. Ia berhenti sejenak dan menatap ke bawah. Lantai dasar rumah mereka terasa begitu sepi, gelap dan angker.

Terlalu hening.

Ia berjalan terus berjalan ke dapur, firasatnya mengatakan ada yang mengawasi entah dari mana.

Flenaline bukan seorang penakut, dia juga bukan tipe perempuan yang gampang panik dan tak bisa melawan. Wanita itu mengambil beberapa pisau dapurnya, sesaat dia diam di tempat dan menyiagakan telinga elfnya yang peka. Ada suara keriutan pelan terdengar, bukan dari lantai bawah, tapi dari jendela balkon di lantai dua.

Jazdia!

Dengan jantung berdebar-debar, Flenaline berlari mendaki tangga. Pisau stainless di tangannya ia genggam erat-erat dan ternyata benar, sekelebat sosok gelap masuk lewat pintu atas dan menatapnya dengan kilau mata yang mengancam.

Panik, namun juga marah karena ada yang masuk rumahnya tanpa izin. Flenaline tak memikirkan apa-apa kecuali melemparkan banda tajam di tangannya ke arah si penyusup.

Penyusup itu mengangkat satu tangannya untuk menangkis, dan pisau tersebut terpental kebawah dengan bunyi berdenting.

“Aku tahu kau akan marah, tapi masa harus seperti ini!” Penyusup itu maju, dan berhenti dimana cahaya lampu bisa menerangi sosoknya yang misterius.

Baru tiga hari yang lalu Flenaline melihat topeng tersebut dan mendengar suara parau pemiliknya.

“Apa apaan kau ini!?” bentak Flenaline, tangannya masih menggengam pisau lain.

“Tenanglah.” Pria bertopeng itu meletakkan jari telunjuknya di bibir. Jangan buat keributan, kau tidak ingin Jazdia terbangun dan melihatku datang kan?

“Kalau begitu cepat bicara!”

Pria bertopeng itu mengambil tempat duduknya di sudut koridor dan meletakkan satu tangannya di meja terdekat. Ada darah merembes dari balik sarung tangan kulit yang ia kenakan- luka dari pisau yang ia tangkis.

“Kau begitu bencinya padaku ya?” Eldarian membuka pembicaraan. Flenaline tak menjawabnya.

“Kalau kau ingin jawaban dariku. Aku sudah menjawabnya, kau mau percaya atau tidak, itu urusanmu. Tapi seperti yang kau tahu, semakin lama aku di Falion, keadaan jadi semakin tak aman, dan aku takut kehadiranku akan memberi masalah bagimu dan Jazdia.”

“Kenapa kau tidak pergi saja? Jangan kembali dan jangan usik kami. Itu solusi terbaik kan?” ucap Flenaline ketus.

“Memang rencanaku begitu. Tapi ayah mana yang sanggup hidup lama tanpa bisa melihat wajah putrinya?”

“Dan kau sudah menemuinya malah. Mau apa lagi?”

“Aku mau kau tak cemas.” Jawab pria itu dengan nada pelan. “Jadilah orang tua yang baik baginya dan jangan melihat kebelakang. Kalian sudah punya keluarga bahagia di sini dan aku tak mau itu rusak karena kehadiranku.”

Flenaline tak bisa menduga apakah itu pujian atau sarkasme. “Langsung ke intinya saja!”

“Aku datang untuk berpamitan, meminta maaf dan mengucapkan terima kasih dengan cara yang pantas. Aku tahu ini tidak akan banyak memperbaiki keadaan, tapi yah aku melakukannya dengan tulus. Jadi… maafkan aku karena tidak bisa menjaga kakakmu dan terima kasih karena sudah merawat Jazdia dengan baik.”

Lelaki itu berdiri, sejenak ia diam seperti menunggu Flenaline memberikan tanggapan, namun tak ada kata keluar dari bibir Herbalist tersebut.

“Baiklah itu saja.” Ia mengeluarkan tiga botol kaca berukuran sedang dari tasnya dan meletakkan mereka diatas meja. Isinya yang berwarna biru berpendar dalam keremangan.
“Berikan ramuan ini pada Jazdia besok pagi, saat tengah hari dan petang. Aku membuatnya sendiri dan kau pasti kenal komposisinya cuma dengan mencicipi rasanya.”

Ia mengetuk pipi topeng yang ia kenakan dan berbalik. “Selamat tinggal Nona Ainsley.  Aa’ lasser en lle coia orn n' omenta gurtha.”

“Namarie, Eldarian Gilmariel.” 

Belum ada komentar untuk chapter ini.

Jadi yang pertama?