Days 6

Jim bukanlah perwira dengan pangkat tinggi - pangkatnya saat ini adalah Sersan Mayor, dan nyaris tak ada harapan dia bisa naik lebih jauh. Suatu hal yang wajar, mengingat asal-usul serta latar belakang pendidikannya yang tidak mendukung. Namun, itu tak menjadikannya disegani banyak orang, termasuk mereka yang berpangkat lebih tinggi. Penyebabnya? Apalagi kalau bukan teknik interogasinya.

“Gosip itu terlalu berlebihan,” begitu balas Jim selalu. Kali ini pun tak terkecuali.

“Kata pengunjung kemarin, ‘lebih baik punya satu Jim Salvatore alih-alih mendatangkan juru interogasi dari pusat’. Jim ternyata hebat sekali ya untuk memaksa orang bicara.” Lady tiba-tiba mengatakan itu sambil menghidangkan masakan.

“Mereka berlebihan,” gumam Jim tanpa menunjukkan minat sedikitpun. Dia lebih memikirkan, kenapa Leena tampak begitu...gemuk, padahal hanya ditinggal tiga-empat hari.

Leena bukan anak yang susah makan, dan pihak yang selama ini dipercaya Jim untuk menitipkan anaknya juga bukan orang brengsek yang mengorupsi uang jasa dengan memberikan makanan seenaknya. Singkatnya, Jim sangat penasaran apa yang diberikan Lady pada putri semata wayangnya ini.

“Jangan percaya, Lady. Orang ini sama sekali nggak paham apa itu ‘bakat’” Misty yang duduk meja ujung bersama rekan-rekannya menyela.

“Betul. Tak ada orang yang bisa memotong seakurat Komandan!”

“Pukulannya juga. Aku tak pernah lupa dagu hancur yang kuperbaiki itu…” Farran terpekur mengenang salah satu tugas pertamanya di luar ruang interogasi. Kalau tidak salah, waktu itu Jim menggunakan taktik ‘ancaman mental’, dengan cara menunjukkan dia tak segan-segan pada sandera, dan sanggup untuk itu.

“Oh! Kemarin ada yang bercerita hal serupa!” dua gadis yang duduk di samping Grise dan Farran berkata penuh semangat. Jim memang tidak ‘membeli’ mereka, tapi tampaknya, selama hanya makan-makan seperti ini dan tidak melakukan lebih, tak ada tagihan tambahan. Besar kemungkinan Lady tipe yang menerapkan aturan sederhana berbunyi ‘pegang bayar’.

“Katanya, dia pernah menyaksikan Jim Salvatore menghantam sebuah kereta kuda. Kuda, kusir, kereta dan mafia di dalam keretanya, semua hancur dengan satu pukulan!”

“Tunggu tunggu tunggu!! Sejak kapan aku bisa memukul seperti itu!?” Jim yang tadinya tidak terlalu menyimak sontak menyela. Pukulannya kuat, Jim tahu benar hal itu. Tapi sampai bisa menghantam hancur kereta kuda? Mereka tidak sedang membicarakan ‘Jim’ yang lain, kan?

“Mereka sudah agak mabuk waktu menceritakan itu sepertinya,” Lady tersenyum geli. “Seingatku, mereka memesan minuman yang cukup kuat… Untung tidak sampai keracunan.”

“Bicara soal minuman… boleh tanya?” tanya Jim sambil menggelitik perut Leena. Anak itu tertawa riang dan berusaha menangkap jari ibunya.

“Tentu. Aku kosong, kok, malam ini,” Lady mengedipkan mata dengan gaya menggoda.

“Siapa yang mau tanya itu!!” tukas Jim keki (tapi, kalau ditanya apakah pernyataan barusan itu sempat membuatnya tergoda untuk takluk pada rayuan Lady atau tidak, maka jawabannya ‘ya’).

“Anda beri makan apa anak ini? Kenapa dia jadi.... Bulat begini?”

“Cuma kuberi susu, kok?” Lady menelengkan kepalanya seolah tak paham ‘bulat’ yang dimaksud Jim.

Susu?

Jim menatap Lady, lalu Leena, dan rak penuh botol minuman di belakang meja layan. Ada banyak botol beraneka bentuk, dengan cairan beraneka warna disimpan di sana. Tapi, bahkan tanpa memeriksa cermat pun Jim sudah tahu, ‘susu’ yang dimaksud pasti bukanlah susu ternak. Tak ada aroma khas cairan itu di ruangan ini, maupun dari mulut Leena.

Jadi, ‘susu’ yang dimaksud itu…

Tatapan Jim beralih kembali pada Lady — tepatnya dada orang itu. Dia terdiam agak lama, lalu akhirnya mengangguk singkat.

“Oh begitu,”

Seorang prajurit yang baik tahu kapan harus berhenti mempertanyakan sesuatu — apalagi jika itu sesuatu yang… memang tidak sebaiknya ditanyakan. Toh, Leena tampak sehat, normal dan bahagia. Jim tak punya keluhan sama sekali.

Tapi tidak demikian dengan Misty yang duduk di ujung ruangan, yang sejak tadi pasang kuping bersama rekan-rekannya.

“SUSU APAAAAAAAAAAAAA!!” teriaknya sambil menggebrak meja dengan keki.

“Pokoknya susu,” balas Jim kalem. 

Belum ada komentar untuk chapter ini.

Jadi yang pertama?