Prolog

WASIAT IBLIS

Prolog

Kabut pagi mulai memudar, cahaya mentari mulai menampakan sinarnya di ufuk timur, burung-burung berterbangan kesana-kemari sambil berkicau riang meriuhkan suasana, seiring dengan mulai ramainya orang-orang keluar dari rumahnya masing-masing dan berhilir mudik untuk memulai kegiatannya sehari-hari.

Namun nampaknya suasana pagi yang cerah ceria itu tidak begitu mempengaruhi keadaan di perbatasan Kutaraja Pakuan Padjadjaran yang sangat mencekam, dari sebrang sebelah timur dan selatan serta barat, ribuan prajurit gabungan Demak, Cirebon, dan Banten dibawah pimpinan Senopati Demak Bintoro bernama Fatahillah, seorang pria asal Pasai keturunan Arab yang juga menantu Sunan Gunung Jati mengepung ribuan pasukan Padjadjaran yang berkumpul di mulut perbatasan Kutaraja.

Jumlah pasukan Gabungan Demak, Cirebon, dan Banten tersebut Nampak unggul dalam jumlah dibandingkan dengan pasukan Padjadjaran. Pasukan Padjadjaran hanya didukung oleh pasukan dari Mega Mendung yang masih setia mendukung Padjadjaran sementara Negara-negara bawahan Padjadjaran di tanah pasundan termasuk Galuh Pakuan sudah jatuh ketangan Cirebon atau Banten. Beruntung Padjadjaran mendapatkan dukungan dari pasukan Portugis yang mempunyai persenjataan modern hingga mereka unggul dalam hal persenjataan.

Prabu Suriawisesa raja Padjadjaran kala itu yang memimpin langsung pasukan Padjadjaran yang didukung oleh pasukan Mega Mendung dan Portugis tersebut. Raja Padjadjaran yang merupakan putra kedua dari Raja Padjadjaran pertama yakni Sri Baduga Maharaja alias Prabu Siliwangi dari istinya Mayang Sunda yang didampingi Prabu Kertapati dari Mega Mendung dan Laksamana D’Almeida dari Portugis, Nampak nanar menatap gabungan tiga kesultanan Islam besar yang bergabung itu.

“Sungguh tak kukira, Syarif Hidayattullah yang masih keponakanku sendiri, cucu dari Ayahanda Prabu Sri Baduga Maharaja tega untuk menyerbu negri leluhurnya! Malah ia bersekutu dengan orang-orang dari wetan yang masih keturunan Majapahit!” ucap Sang Prabu geram dengan tatapan tajam kearah pasukan lawannya itu sambal mengingat-ngingat sosok keponakannya sendiri yakni Syarif Hidayattullah yang kini bergelar sebagai Sunan Gunung Jati tersebut.

“Benar Kakang Prabu, nampaknya ia tidak mengindahkan larangan dari Eyang Prabu wastu Kencana yang melarang kita untuk berhubungan dengan orang-orang Majapahit! Ia malah lebih mendengarkan mereka, daripada wasiat Ayahanda Prabu Sri Baduga Maharaja yang meminta kita keturunannya untuk hidup damai!” sahut Prabu Kertapati.

Prabu Suriawisesa menoleh pada adik seayah lain ibunya tersebut “Betul Adi Prabu, Padahal ayahanda mengizinkan Islam untuk berkembang di wilayah Padjadjaran ini, kita tidak membeda-bedakan kaum muslim dengan kaum kepercayaan kita! Apakah itu masih kurang untuk Syarif Hidayatullah?!”.

Laksamana D’Almeida, Komandan Pasukan Portugi yang ditugaskan untuk membantu Padjadjaran menangkis serangan gabungan tiga negara Islam itu mendengus “Gusti Prabu, mereka hanya iri dan dengki dengan kemajuan Padjadjaran! Apalagi kini anda bersekutu dengan kami bangsa Portugis, orang-orang Demak memang memusuhi kami, mereka juga tidak senang dengan perkembangan dagang Padjadjaran yang bermitra dengan kerajaan Portugis!”.

“Apa yang diucapkan oleh Laksamana benar Kakang Prabu, mereka hanya iri pada kemajuan Padjadjaran! Sultan Trenggono dari Demak hanya takut kalah bersaing dalam berdagang dengan kita, hingga memerintahkan Syarif dan menantunya Fatahillah untuk menyerang kita!” Sahut Prabu Kertapati.

“Laknat!” bentak Prabu Suriawisesa yang marahnya bukan main “Orang-orang wetan keturunan Majapahit itu hendak mengadu domba keturunan Prabu Wastukencana! Adi Prabu Kertapati, dan Laksmana D’Almeida! Siapkan pasukan kalian untuk menghadang dan meluluhlantakkan Pasukan Demak, Cirebon, dan Banten itu! Kita gunakan gelaran perang ‘Madibya’ atau gedung tertutup! Hancurkan para penghianat itu!” gelegar perintahnya, Prabu Kertapati dan Laksamana D’Almeida pun berkuda menuju ke prajuritnya masing-masing.

Prabu Kertapati menghampiri Ki Balangnipa, Patihnya “Kakang Patih, ingat! Kita hanya berpura-pura perang! Jangan sampai banyak jatuh korban dari pihak kita, begitu ada kesempatan, kita akan tikam kedua belah pihak!” perintahnya pada Ki Patih.

“Daulat Gusti!” sembah Patihnya, ia pun memberikan instruksi kepada seluruh kepala tantama rencana dari rajanya yang meminta mereka untuk hanya berpura-pura perang dan melihat setiap celah kesempatan untuk membokong Gabungan pasukan Islam dan Padjadjaran.

Sekitar satu jam kemudian, suara terompet sangkakala pun ditiup, suara tambur mendebur dipukul-pukul tanda perang akan dimulai, ribuan pasukan dari kedua belah pihak berlarian bagaikan ombak menerpa karang menuju musuhnya. Pasukan gabungan Demak, Cirebon, dan Banten menyerbu menggunakan gelaran perang ‘Garuda Ngelayang’ yang disambut oleh pasukan Padjadjaran yang bersikap defensive menggunakan gelarang perang ‘Madibya’ atau Gedung Tertutup, baku hantam terjadi, tombak, pedang, perisai berdentingan mengeluarkan percikan api, anak-anak panah bertebangan mencari mangsa, suara senapan dan meriam meletus-letus, asap-asap mesiu berterbangan bercampur debu pasir, tubuh-tubuh mulai berjatuhan bermandikan darah segar!

Lewat tengah hari, mulai Nampak siapa yang unggul, pasukan gabungan tiga kesultanan Islam besar itu walaupun unggul dalam jumlah, namun kalah dalam persenjataan sebab Padjadjaran dibantu oleh persentaan Portugis, mereka mulai terdesak, hingga pada saat matahari tenggelam, mereka terpaksa mundur dari medanlaga karena banyak korban yang berjatuhan, berkat tembakan-tembakan senapan dan meriam-meriam Portugis dari tempat-tempat yang tinggi serta benteng keraton Padjadjaran. Namun korban di Padjadjaran juga tidak sedikit, sehingga mereka tidak bisa melakukan balasan dan melakukan pengejaran pada pasukan gabungan kesultanan Islam tersebut, mereka pun terpaksa kembali kedalam benteng yang mengelilingi Kutaraja Pakuan untuk menyusun kekuatan kembali, jaga-jaga kalau ada serangan lagi dari pasukan ISlam.

Sayang pula bagi Prabu Kertapati yang berniat untuk menghianati Prabu Mungdinglaya Kakaknya sendiri, karena peperangan yang berkecamuk dengan dahsyatnya serta pasukan-pasukan Portugis yang berada di tempat-tempat tinggi dan benteng keraton yang dapat melihat jalannya peperangan, ia dan pasukannya tidak mendapatkan kesempatan untuk membokong pasukan Padjadjaran maupun pasukan Islam.

***

Malam harinya, Laksama D’Almeida menghadap Prabu Suriawisesa yang sedang disertai patihnya di kamar tamu kerajaan secara pribadi, “Laksamana, gerangan apakah yang hendak anda sampaikan pada malam hari begini?” Tanya Prabu Suriawisesa.

“Mohon maaf Gusti Prabu, apakah Gusti Prabu melihat ada keanehan pada Prabu Kertapati dan seluruh pasukan Mega Mendung seperti berperang dengan setengah hati?”. Sahut Laksamana Portugis tersebut.

Prabu Suriawisesa berpikir sejenak “Ya ya… Aku menyadarinya, seluruh pasukan Mega Mendung seperti diulur kedepan lalu ditarik kebelakang”. Dia lalu melirik pada Patihnya “Bagaimana menurutmu Ki Patih?”.

Ki Patih menjura hormat terlebih dahulu sebelum menjawab “Ampun Gusti Prabu, hamba sendiri sudah menaruh curiga sejak lama pada Prabu Kertapati, maka hamba mengambil suatu tidakan tanpa sepengetahuan Gusti prabu, mohon ampun kalau hamba lancang Gusti”.

Prabu Suriawisesa menatap Ki Patih dengan tegang “Katakan saja Ki Patih!”.

“Ampun Gusti Prabu, hamba telah mengutus seorang mata-mata untuk memata-matai Prabu Kertapati, dan memang beliau mempunyai maksud untuk memberontak pada Gusti Prabu, adapun rencananya adalah mencari celah untuk membokong Pasukan Padjadjaran juga pasukan Islam saat perang tadi, namun untunglah mereka tidak berhasil mendapat celah tersebut” jelas Ki Patih.

“Biadab!” maki Prabu Suriawisesa, dia lalu kembali menatap wajah Ki Patih yang telah sepuh itu “Lalu menurut Ki Patih kita harus bagaimana? Saat ini diantara negeri-negeri bawahan kita yang masih mendukung kita hanya Mega Mendung, Kertapati juga adalah adikku sendiri, kami sama-sama putra mendiang Ayahanda Prabu Sri Baduga Maharaja… Dan yang terpenting kita masih membutuhkan dukungan kekuatan Mega Mendung!”.

Tanpa berpikir panjang Ki Patih langsung menjawab “Ampun beribu ampun Gusti Prabu, bagi hamba akan lebih berbahaya apabila pembakangan Mega Mendung kita biarkan dalam situasi sekarang ini, lagipula mereka hanya berpura-pura mendukung kita… Dan yang paling berbahaya adalah mereka dapat membokong kita di setiap saat yang tak terduga! Bukankah begitu Laksmana?” sambung Ki Patih sambil meminta pendapat Laksamana D’Almeida.

“Benar Gusti Prabu, Gusti Prabu tidak perlu khawatir, seluruh kekuatan kerajaan Portugis akan mendukung Padjadjaran! Dan soal Mega Mendung, sebaiknya kita padamkan penghianatan mereka saat ini juga mumpung mereka masih setitik api kecil!”.

Prabu Suriawisesa mengangguk-ngangguk setuju, maka menggelegarlah titahnya “Malam ini juga serbu perkemahan pasukan Mega Mendung! Dan besok, kita ratakan dengan tanah Negeri Mega Mendung di Kaki Gunung Gede itu!”, maka Ki Patih dan Laksamana D’Almeida pun pamit untuk mengatur serangan terhadap Mega Mendung.

***

Lewat tengah malam di area perkemahan Pasukan Mega Mendung yang terletak di batas Kutaraja Padjadjaran, Prabu Kertapati masih saja berdiri mematung di luar kemahnya, matanya menatap kosong ke atas langit malam yang hitam pekat gelap gulita, suara dendang riang serangga-serangga juga hewan-hewan malam yang biasanya terhidang seakan enggan bersuara seakan mengerti betapa gundah gulananya hati sang penguasa Negeri Mega Mendung, suatu negeri kecil yang berada di kaki gunung gede yang beribu kota di Rajamandala, tapi tersohor akan kesuburan dan keelokan alamnya.

Ki Patih Balangnipa, sang Mahapatih Mega Mendung datang menghadap dengan perasaan tidak enak kala menatap raut wajah gusti junjungannya itu, dia lalu menjura hormat, namun Prabu Kertapati tetap diam mematung dengan mulut terkunci rapat, diatas kepala mereka bulan yang biasanya lembut bersinar putih tertutup awan hitam, begitu pula bintang gemintang yang biasanya bercahaya berkerlap-kerlip diatas hamparan beludru biru kehitaman yang maha luas tak memancarkan cahayanya sedikitpun, raib ditelan gelapnya awan seolah ikut menggalau bersama sang prabu yang masih muda tersebut. Ki Patih Balangnipa pun ikut terdiam, dengan kepala tertunduk, matanya lekat-lekat memandang bumi yang ia duduki.

Beberapa saat kemudian terdengarlah desahan nafas berat dari Prabu Kertapati, Ki Balangnipa pun mengangkat kepalanya dan sekali lagi ia menghanturkan hormatnya, dengan pandangan lesu, Prabu Kertapati menatap patihnya yang sangat setia itu “Kakang Patih… engakau tentu sudah tahu maksudku memanggilmu kemari”.

“Ampun Gusti Prabu, maafkan kalau hamba salah… Tapi kalau yang dimaksud oleh Gusti tentang rencana kita dalam peperangan tadi siang, hamba nyakseni” jawab Patih dengan suara pelan dan segan.

“Kamu benar Kakang Patih, sungguh aku tidak mengira dengan kelihayan para pasukan Portugis itu, karena mereka ditempatkan di tempat-tempat yang tinggi didekat garis belakang mereka dapat dengan leluasa melihat gerak-gerik kita” ucap Prabu Kertapati yang Nampak jelas kemasygulan hatinya.

“Ampun Gusti Prabu, hamba dapat merasakan kegelisahan Gusti, namun dengan hormat saya meminta agar Gusti tidak terlalu khawatir, menurut hamba sekalipun pihak Padjadjaran mengetahui maksud kita yang berperang dengan setengah hati, dalam waktu dekat ini mereka tidak akan mengambil tindakan apa-apa sebab saat ini hanya Mega Mendunglah negeri bawahan mereka di tanah Pasundan ini yang masih mendukung mereka setelah Galuh, Talaga, dan Parakan Muncang habis disapu oleh para Prajurit Islam, sedangkan Sumedanglarang dan Sancang telah menerima Islam dan memilih untuk bersikap netral” jelas Patih.

Prabu Kertapati berpikir sejenak, ia sangat setuju dengan pendapat Patihnya itu, namun hatinya masih saja gundah gulana, apalagi kalau diingatnya bahwa orang-orang Portugis yang kini berada disekitar keluarga keraton Padjadjaran sangat pandai, ia pun kembali menghela nafas berat “Kamu benar Kakang Patih, namunhati saya masih tetap tidak tenang….”.

Prabu Kertapati menghentikan ucapannya sejenak, ia menatap ke perkemahan para pasukannya, Ki Patih terdiam menunggu Sang Prabu melanjutkan “Kakang Patih, hati saya benar-benar tidak enak! Sangat gelisah hingga membuatku ingin terus berjaga dan pulang saat ini juga ke Rajamandala, biasanya perasaan-perasaan seperti ini adalah suatu firasat buruk! Maka dari itu, Kakang Patih, aku perintahkan untuk memperketat penjagaan, dan persiapkan seluruh pasukan, kita akan langsung pulang begitu matahari terbit!”.

Sang Patih pun yang paham akan kegelisahan rajanya segera menjura hormat “Daulat Gusti!”, dia beringsut meninggalkan Prabu Kertapati yang masih terdiam menatap lurus kearah Keraton Padjadjaran.

Sementara itu, di hutan dekat perbatasan Kutaraja Pakuan, Pasukan Padjadjaran dan Portugis bergerak dengan cepat namun sangat hati-hati nyaris tanpa menimbulkan suara menuju kea rah perkemahan pasukan Mega Mendung, dengan cerdiknya mereka bergerak memutar tidak melewati jalan Kutaraja yang langsung menuju ke bumi perkemahan Mega Mendung, melainkan keluar dari Kutaraja sebelah barat terlebih dahulu kemudian masuk hutan dan bergerak menuju ke selatan tempat pasukan Mega Mendung berkemah.

Penyerangan itu dipimpin langsung oleh Prabu Suriawisesa, Sang Prabu memerintahkan prajurit-prajuritnya secara berkelompok bergerak diam-diam pada malam hari melalui sungai dan hutan yang tidak dijaga dan tidak Nampak oleh pasukan Mega Mendung, mereka akan menggempur setelah panah api dilepaskan ke langit oleh Sang Prabu sendiri. Serangan akan dilakukan mendadak yang dimulai oleh gempuran Prabu Suriawisesa bersama sepasukan prajurit pilihan Padjadjaran yang ditunjuk untuk mengiringi.

Tak lama kemudian, pasukan Padjadjaran dan Portugis yang sudah sampai di bagian belakang areal perkemahan Mega Mendung segera menyebar, seketika waktu yang direncanakan tiba, satu anak panah api segera melesat keangkasa yang Nampak sangat jelas di tengah kegelapan penghujung malam itu, kelompok prajurit yang dimpimpin langsung oleh Prabu Suriawisesa segera menggebrak pasukan Mega Mendung yang sedang berpatroli disana tanpa suara sedikitpun, belasan tubuh prajurit Mega Mendung segera roboh tak bernyawa dengan bersimbah darah!

Waktu itu juga, suara ratusan bedil locok atau yang biasa disebut tombak api oleh orang-orang pribumi meletus, asap mesiu mulai berterbangan dan aromanya segera tercium bersamaan dengan rubuhnya puluhan tubuh prajurit Mega Mendung, suara erangan dan jerit kesakitan maupun segera terdengar, namun segera hilang tertelan suara dentuman ledakan meriam-meraim Portugis yang menyasar tenda-tenda Mega Mendung, para prajurit Mega Mendung pun kalang kabut! Yang sudah terjaga segera membangunkan yang masih tertidur, namun setelah tembakan kedua dari bedil-bedil locok dan meriam-meraim Portugis, pasukan berkuda dan pejalan kaki Padjadjaran segera bergerak secepat kilat, melibas prajurit-prajurit Mega Mendung dengan pedang dan tombak mereka! Dalam sekejap, area perkemahan Mega Mendung seakan berubah menjadi Neraka! Darah membanjir menganak sungai, api berkobar memerah, menerangi daerah perkemahan tersebut!

Prabu Kertapati yang baru saja memasuki tendanya terkejut bukan mendengar suara dahsyat serangan mendadak tersebut, dia segera keluar dari tendanya dan menatap kearah selatan yang dikobari api seakan langit memerah dibuatnya, dia segera memanggil Ki Patih Balangnipa, dengan tergopoh-gopoh Ki Patih segera menghampirinya “Kakang patih kita terlambat! Seandainya sedari tadi aku tidak ragu untuk mengambil sikap untuk segera pulang ke Mega Mendung mungkin hal ini tidak akan terjadi!”.

Ki Patih segera menjura hormat “Ampun Gusti Prabu, sekarang kita harus bagaimana? Saya beserta seluruh pasukan Mega Mendung siap melaksanakan titah Gusti”.

Prabu Kertapati yang ternama pandai bersiasat itu berpikir sejenak, lalu “Kakang Patih, bawalah seluruh sisa kekuatan kita untuk pulang ke Rajamandala, sisakan seratus orang pasukan balamati untuk bersamaku, aku akan mundur dan melarikan diri menuju ke Gunung Patuha, aku dengar disana ada seorang pertapa hebat, aku akan meminta perlindungannya disana!”.

Ki Patih Nampak terkejut mendengar perintah gustinya yang diluar dugaannya itu “Apa?! Tapi… Mohon ampun Gusti, mengapa gusti tidak ikut mundur bersama saya ke Rajamandala? Kita masih menerobos serangan mereka di sebelah timur lalu membelok ke selatan untuk ke Rajamandala?”.

“Tidak Kakang Patih, kalau saya ikut mundur ke Rajamandala, mereka akan ikut menyerang kita ke Rajamandala, saya tidak ingin Negeri kita hancur oleh mereka! Sekarang kita satukan seluruh sisa kekuatan kita, lalu kita jebol serangan mereka di sebelah timur, lalu kita berpisah disana, aku kea rah tenggara dan Kakang kea rah selatan langsung ke Rajamandala!” jawab Prabu Kertapati.

“Ampun beribu ampun Gusti Prabu kalau hamba berani mempertanyakan titah Gusti, tapi menurut hamba walaupun gusti tidak ikut ke Rajamandala, pasukan Padjadjaran dan Portugis pasti akan tetap menyerang ke Rajamandala… Dan ingatlah bahwa gusti Ratu Nawangkasih sedang hamil tua putra sulung gusti!”.

Prabu Kertapati tersenyum pilu sambil menepuk bahu Ki Patih “Kakang… Aku yakin mereka hanya akan mengejarku untuk menghukumku, kalau aku tertangkap diluar Mega Mendung, maka Mega Mendung akan aman, kalaupun mereka menyerang ke Rajamandala dalam keadaan Padjadjaran seperti yang sekarang ini mereka tidak akan menduduki Rajamandala, melainkan untuk mendamaikan suasana di Mega Mendung dan memastikan sikap Mega Mendung karena bagaimanapun mereka tetap membutuhkan dukungan dari seluruh rakyat Mega Mendung, lain halnya jika aku ikut mundur ke Rajamandala, perang besar akan berkobar disana, dan mereka pasti akan lebih memilih untuk membumihanguskan Mega Mendung sebagai jaminan tidak akan ada pemberontakan!”.

“Namun, walaupun Gusti tidak ikut mundur ke Rajamandala, masih ada kemungkinan besar tetap meletus di Rajamandala” sahut Ki Patih yang masih meragukan titah rajanya.

“Maka aku akan perintahkan kau dan seluruh rakyat Mega Mendung untuk menyerah jika pasukan Padjadjaran menyerbu ke Mega Mendung! Kecuali, kalian boleh berperang apabila pasukan Padjadjaran berniat untuk menduduki Mega Mendung dan menjarah harta serta kehormatan seluruh rakyat Mega Mendung! Akan tetapi kalau maksud mereka hanya untuk untuk mendamaikan suasana di Mega Mendung dan memastikan sikap Mega Mendung, kalian harus menyerah tanpa syarat untuk menghindari pertumpahan darah! Ingat, kalian harus mundur dan menyerah di Rajamandala, bukan disini atau di perjalanan menuju kesana!” tegas Prabu Kertapati.

Akhirnya dengan lemas Ki Patih segera menjura “Daulat Gusti, titah Gusti akan hamba laksanakan!”.

Prabu Kertapati mengangguk-ngangguk “Baiklah, sekarang lakukan apa yang telah aku perintahkan! Jangan buang waktu lagi!”.

Ki Patih Balangnipa segera melakukan apa yang diperintahkan oleh rajanya, karena tindakan yang diambilnya terlambat, dari 1000 orang prajurit Mega Mendung yang ada disana, hanya tersisa 600 orang, 100 orang pasukan Balamati segera menjemput Prabu Kertapati dan mundur pontang-panting kea rah tenggara, sedangkan 500 lainnya dipimpin oleh Ki Patih, mundur dengan cara memusatkan serangan kea rah timur lalu mundur kesana dan membalik kea rah selatan langsung menuju ke Rajamandala, sedangkan 400 orang lainnya banyak yang meninggal dan yang luka-luka menjadi tawanan Padjadjaran.

2 komentar untuk chapter ini

Juno Kaha
Huruf kapitalnya masih banyak yg keliru tuh~ Kata "namun" dikapital, tapi "Gunung Gede" malah nggak dikapital. Tapi overall udah lumayan rapi.

Dan sbnrnya meskipun karakter2 yg ada di sini adalah tokoh2 yg ada beneran di pelajaran sejarah, IMHO, harus diceritakan seolah2 menceritakan pada orang yg sama sekali nggak tahu tentang mereka. Orang akan jauh lebih penasaran dan nyari sendiri detailnya utk dibandingkan kalau mereka enjoy baca ceritanya.
FPS
Terimakasih untuk sarannya, iya masih banyak yg harus diperbaiki dalam hal pengetikan, dan untuk pengenalan tokoh2nya, kedepannya akan lebih diperhatikan :)