TIGA

WASIAT IBLIS

Bagian 3

Padepokan Sirna Raga adalah suatu padepokan yang didirikan oleh Kyai Pamenang di puncak bukit Tagok Apu yang masih termasuk kedalam wilayah Mega Mendung. Padepokan ini masih terbilang baru namun sudah memiliki nama yang harum dan besar di dunia persilatan tanah Pasundan sebagai perguruan golongan putih yang juga menjungjung tinggi ilmu agama Islam, setiap murid di Padepokan ini selain diajarkan Ilmu Silat Kanuragan dan Ilmu Ajian Pukulan Sakti, juga diajari ilmu Agama Islam. Padepokan ini didirikan pada masa pemerintahan Prabu Wangsareja ayah mertua Prabu Kertapati atau ayah kandung dari Ratu Nawang Kasih, karena Kyai Pamenang dianggap banyak berjasa pada Mega Mendung, maka Prabu Wangsareja mengizinkannya untuk mendirikan padepokan yang bercorak islam, maka saat itu pula agama Islam mulai masuk dan menyebar di wilayah Mega Mendung. Tak heranlah kalau Prabu Kertapati mempercayakan Kyai Pamenang untuk mengasuh sekaligus menjadi guru anak sulungnya.

Empat belas tahun kemudian…. Sebuah kereta kuda berlambang kerajaan Mega Mendung dengan dikawal oleh puluhan pasukan khusus Balamati pengawal raja Nampak memasuki padepokan Sirna Raga, dua orang anak lelaki kecil yang sedang berlatih silat menghentikan latihan mereka menatap kedatangan tamu agung dari Rajamandala tersebut.

“Kakang Dharmadipa, lihatlah, tidak biasanya ada tamu dari kerajaan ke padepokan ini, dari manakah gerangan tamu agung itu?” Tanya seorang anak pada kawan berlatihnya.

Anak laki-laki yang bernama Dharmadipa yang lebih tua satu tahun dari kawannya itu mengamati kereta dan bendera yang tamu itu “Hmm… Jaka kalau dari kereta dan atribut tentaranya aku yakin kalau mereka dari Mega Mendung” jawabnya pada kawannya yang bernama Jaka LEelana itu.

Seorang prajurit segera membukakan pintu kereta kuda itu dengan hati-hati, dari dalam kereta kuda keluarlah seorang pria berkumis melintang bertampang gagah yang tak lain adalah Prabu Kertapati lalu disusul oleh seorang gadis cilik yang cantik berkulit putih bersih mengenakan kebaya serba hijau dan kain batik cokelat sebagai kain sampingnya, rambutnya yang lurus bagus hitam panjang disanggulkan sedikit menyisakan sedikit rambutnya menjuntai menutupi kuduknya yang putih..

Meskipun Jaka Lelana dan Dharmadipa sering melihat santriwati di padepokan ini (yang tempatnya terpisah dari tempat para putera), mereka berdua sangat terpana melihat kecantikan gadis cilik yang baru saja turun dari kereta kuda itu, apalagi ketika mereka melihat kain si gadis itu sedikit tersingkap ketika turun dari kereta kudanya, pahanya yang putih mulus seakan bercahaya itu seperti menyilaukan mata mereka, tumbuhlah suatu perasaan aneh yang hangat di hati mereka masing-masing yang belum pernah mereka rasakan sebelumnya, membuat jantung mereka berdegup kencang!

Si gadis cilik itu nampaknya merasa kalau dia sedang diperhatikan oleh dua orang anak lelaki yang berada tak jauh dari tempat ia berada, ia lalu melirik pada mereka berdua dan melemparkan senyumnya yang manis, setelah itu ia kembali melangkah mengikuti ayahnya masuk kedalam balai riung padepokan.

“Jaka kau lihat gadis itu? Bertapa cantik dirinya!” ucap Dharmadipa yang juga Kakak Seperguruan Jaka pada Jaka yang juga masih terbengong-bengong setelah melihat gadis itu tadi.

“Tentu saja aku melihatnya Kakang Dharma, tentunya dia seorang tuan puteri dari Mega Mendung, ada apakah gerangan maksud kedatangannya kemari?” sahut Jaka.

“Kalau begitu mari lihat apa maksud mereka kemari!” usul Dharmadipa.

“Tapi bukankan ini pertemuan tertutup Kakang? Lihat, Kakak-kakak kita saja tidak diizinkan masuk kedalam oleh guru!” jawab Jaka.

“Ah sudahlah kalau kamu tidak mau ikut, aku akan melihatnya sendiri!” hardik Dharmadipa, Dharmadipa yang merupakan anak angkat dari Kyai Pamenang dan Nyai Mantili memang memiliki sifat yang keras kepala, kalau kemauannya tidak dituruti maka ia akan nekat melakukannya seorang diri.

Dharmadipa melompat keatas pohon, melihat Kakaknya berbuat nekat, maka Jaka juga mengikutinya, dia ikut melompat keatas pohon, setelah itu mereka berdua melompat keatas genting balairiung padepokan dan menguping pembicaraan didalam.

Didalam ruangan, setelah saling mengucapkan salam, Prabu Kertapati pun membuka pembicaraan “Kyai, maksud kedatangan saya kemari adalah untuk menitipkan putri saya satu-satunya Nilamsuri di padepokan ini untuk diajari ilmu agama dan ilmu pengetahuan”.

Kyai Pamenang dan Nyai Mantili terkejut dan terheran-heran mendengar maksud dari Prabu Kertapati sebab menurut adat kebiasaan, seorang putri keturunan raja harus berdiam di kaputren keraton, “Mohon maaf Gusti Prabu, mengapa gusti hendak menitipkan putri Gusti kepada kami?” Tanya Kyai Pamenang.

Prabu Kertapati mafhum dengan maksud pertanyaan Kyai Pamenang, mengusap-usap dagunya sambil tersenyum “Aku ingin putriku ini menjadi seorang yang taat beragama dan mempunyai sedikit bekal ilmu agar ia dapat melindungi dirinya sendiri kelak, apalagi ia putri saya satu-satunya yang kelak akan mewarisi tahta Mega Mendung sebab saya tidak mempunyai anak lagi, apakah Kyai keberatan?”.

Kyai Pamenang termenung sejenak sambil menatap Nilamsuri dengan perasaan tidak enak, dia teringat ketika Nilamsuri masih bayi dulu, waktu itu Kyai Pamenang diundang ke istana untuk mendoakan Nilamsuri yang masih bayi, waktu itu ia melihat ada suatu tanda aneh dibawah pusar diatas kemaluan Nilamsuri, tanda itu berupa tanda pusaran hitam. Menurut kepercayaan, tanda itu adalah tanda bhawa si pemiliknya memiliki perangai yang jahat serta pembawa malapetaka bagi siapa saja yang hidup bersama dengan si pemilik tanda tersebut. Namun karena ini adalah permintaan rajanya, maka ia tidak mempunyai kuasa untuk menolaknya, maka terpaksa ia menyanggupinya “Tentu saja tidak gusti prabu, hamba bersedia untuk mendidik putri paduka”.

Saat itu Prabu Kertapati, Kyai Pamenang, dan Nyai Mantili merasakan ada desiran angina dari atas atap, maka berkatalah Kyai Pamenang dengan lantang “Siapa yang berani kurang ajar menguping pembicaraan orang?!”.

Diatas genting, Dharmadipa dan Jaka terkejut bukan main! “Celaka! Jaka kita ketahuan!” keluh Dharmadipa, mereka berdua pun langsung melompat ke pohon yang berada disebelahnya, lalu melompat lagi ke sebuah pohon yang lebih tinggi dan rimbun, lalu bersembunyi disana.

Kyai Pamenang, Nyai Mantili, Prabu Kertapati, dan Nilamsuri segera keluar dari Balairiun padepokan, Kyai Pamenang lalu menatap keatas pohon tempat Dharmadipa dan Jaka bersembunyi, Kyai Pamenang tersenyum “Dasar anak-anak nakal” ucapnya, lalu dia mendorongkan tangan kananya kearah pohon tersebut, tiba-tiba bertiuplah angin dahsyat yang menggocangkan pohon tersebut, dua sosok tubuh anak kecil pun jatuh dari atas pohon tersebut.

Kyai Pamenang segera menghampiri Dharmadipa dan Jaka yang terjatuh “Dasar anak-anak nakal! Tidak tahu sopan satun dan adat budaya! Kalian harus dihukum karena telah melakukan kesalahan! Sekarang mohon ampunlah dulu pada Gusti Prabu!” marah Kyai Pamenang pada Dharmadipa dan Jaka yang masih mengaduh-aduh kesakitan setelah jatuh, sementara Nilamsuri hanya tertawa dengan menutup mulutnya melihat tingkah Dharmadipa dan Jaka.

Akan tetapi lain halnya dengan Prabu Kertapati, dia terkejut ketika melihat Jaka, apalagi ketika ia memperhatikan kain batik yang diikat di kepala Jaka yang ia pakai untuk menutupi lukanya di kening sebelah kanan pas diatas mata kanannya. Sedang ia termenung seperti itu, Dharmadipa dan Jaka bersujud dibawah telapak kakinya “Maafkan hamba Gusti Prabu” ucap mereka berdua berbarengan.

Prabu Kertapati lalu membungkuk membangunkan Jaka, dia lalu memperhatikan wajah Jaka dengan seksama yang membuat Jaka dan semua yang ada disana keheranan, “Siapa namamu Nak?” Tanya Prabu Kertapati.

“Nama hamba Jaka Lelana Gusti” jawab Jaka sambil menundukan wajahnya ketika mendapati tatapan penuh selidik dari Prabu Kertapati.

Jawaban nama tersebut membuat hati Prabu Kertapati tersentak, dia lalu bertanya lagi “Siapakah orang tuamu?”.

“Hamba tidak pernah bertemu dengan orang tua hamba, menurut cerita Guru, ayah hamba meninggal ketika menitipkan hamba kepada Guru, sedangkan hamba tidak pernah tahu tentang Ibu hamba” jawab Jaka perlahan sambil tetap menundukan kepalanya.

Kyai Pamenang yang merasa tidak enak dengan keanehan itu ikut bicara “Mohon ampun Gusti Prabu, ada apakah dengan murid saya yang Bengal ini?”.

Merasa tersadarkan oleh perkataan Kyai Pamenang, Prabu Kertapati segera menindih dan menekan perasaannya, dia lalu menoleh pada Kyai Pamenang “Tidak apa-apa Kyai, aku hanya melihat berdua memiliki bakat yang luar biasa, bila sudah dewasa izinkanlah mereka untuk mengabdi pada Mega Mendung!”.

“Daulat Gusti Prabu, tentu saja apabila bekal mereka telah cukup, hamba akan kirim mereka ke Rajamandala agar mereka bisa mengabdikan jiwa raganya di Mega Mendung” sahut Kyai Pamenang.

Setelah itu, Prabu Kertapati berangkat pulang ke Rajamandala meninggalkan Nilamsuri putri semata wayangnya, alangkah bahagianya Jaka Lelana dan Dharmadipa mengetahui bahwa Nilamsuri akan tinggal menimba ilmu di Padepokan mereka, begitupula NIlamsuri, ia merasa senang dapat melihat dunia luar, apalagi ketika ia mengetahui ada dua orang anak laki-laki yang menaruh perhatian padanya, ada suatu perasaan aneh yang terasa hangat di hatinya yang belum pernah ia rasakan selama ini, maklum ia adalah seorang putri raja yang selama ini harus tinggal di kaputren keraton, sekarang walaupun mereka tinggal di bangunan yang berbeda dan terpisah, tapi masih satu padepokan, diam-diam ia pun senang mencuri pandang pada Jaka Lelana dan Dharmadipa. Gejolak perasaan seorang gadis yang sedang mengalami masa pubernya telah dibangkitkan oleh perhatian kedua anak laki-laki saudara seperguruannya itu.

***

Tiga tahun kemudian… Seiring dengan waktu yang terus melaju, usia manusiapun bertambah, kini Jaka Lelana dan sahabat sekaligus Kakak seperguruannya telah beranjak dewasa, mereka telah menjelma menjadi pemuda yang tampan dan gagah, terutama Jaka, adanya bekas luka di kening Jaka yang selalu ia tutupi dengan kain batik yang ia gunakan untuk ikat kepalanya tidak mengurangi keelokan parasnya, ditambah perangainya yang baik, senang mengalah, tutur katanya yang halus, sangat menghormati guru dan Kakak-kakak seperguruannya, ditambah bagaimana ia menyanyangi adik-adik seperguruannya membuat para murid wanita atau santriwati di padepokan Sirna Raga juga gadis-gadis di desa-desa sekitar padepokan sangat menyukai bahkan tergila-gila pada Jaka.

Sementara Dharmadipa, ia yang lebih tua satu tahun dari Jaka juga telah tumbuh menjadi seorang pemuda yang gagah perkasa serta tampan rupanya, namun sifatnya berbeda dengan Jaka, dia sangat keras kepala, egois, cepat naik darah, serta sedikit angkuh dan congkak, mungkin karena dia merupakan anak angkat dari Kyai Pamenang dan Nyai Mantili serta terlalu dimanja oleh orang tua angkatnya. Sebenarnya dia adalah seorang pangeran dari negeri Parakan Muncang, namun ketika ia berusia lima tahun, negerinya hancur oleh pasukan islam gabungan demak, Cirebon, dan banten sebab menolak untuk menerima Islam masuk ke daerahnya, kedua orang tuanya mati terbunuh didepan matanya sendiri, saat itulah Kyai Pamenang datang menolongnya dan membawanya ke padepokan Sirna Raga, sejak saat itu dendamnya terus bergolak didadanya membuatnya cepat naik pitam, dendam itu pula yang membuatnya labil sering tidak bisa mengambil keputusan atau mengambil tindakan yang salah. Bersama Jaka sahabat sekaligus adik seperguruannya, adalah murid kesayangan Kyai Pamenang, dalam hal gerakan silat dia masih kalah setingkat oleh Jaka, namun dalam ilmu kesaktian serta tenaga dalam dia lebih unggul setingkat dari Jaka.

Adapaun Nilamsuri telah tumbuh menjadi seorang gadis remaja yang sangat cantik, tubuhnya yang ramping, berkulit putih bersih, berambut hitam panjang lurus bagus, dihiasi dengan perangainya yang baik serta senang tersenyum pada siapapun, tutur katanya halus membuat dirinya menjadi idola di padepokan Sirna Raga, termasuk Jaka Lelana dan Dharmadipa yang tergila-gila padanya, hanya saja mengingat bahwa dia adalah seorang putri kerajaan Mega Mendung, putri dari Prabu Kertapati yang termashyur kesaktiannya mereka tidak berani mendekati Nilamsuri, hanya Jaka dan Dharmadipa yang sering nekat menemuinya secara diam-diam karena di Padepokan Sirna Raga, murid laki-laki dilarang untuk berdekatan dengan murid perempuan dengan alasan bukan muhrimnya. Paling sering Jaka dan Dharmadipa menemui Nilamsuri dan menggodanya ketika Nilamsuri mencuci pakaiannya di sungai setiap pagi, karena itulah kesempatan yang paling baik untuk menemui Nilamsuri.

Seusai sholat subuh, Nampak dua orang pemuda sedang bersilat, berlatih tanding satu sama lain, terdengar suara-suara bentakan nyaring yang mengiringi gerakan-gerakan silat mereka, mereka berdua tak lain adalah Jaka dan Dharmadipa yang sedang berlatih tanding. Diam-diam beberapa pasang mata para murid-murid gadis belia yang hendak berangkat untuk mencuci pakaian ke sungai menonton latihan mereka termasuk Nilamsuri.

Latih tanding itu Nampak seimbang, sulit diprediksi siapa yang lebih unggul diantara Jaka dengan Dharmadipa, pukulan demi pukulan serta tendangan demi tendangan saling berbalas satu sama lain, pada suatu kesempatan, DHarmadipa mengirimkan satu tendangan keras, Jaka melompat ke atas menghindari tendangan tersebut, tubuhnya mencelat keatas dengan sangat ringan, Dharmadipa segera menyusulnya melompat keatas, terjadilah jual beli pukulan dan tendangan diatas udara yang mengundang decak kagum dari para penontonnya, hingga pada suatu saat, sebuah pukulan Dharmadipa meluncur secepat kilat, Jaka menggeserkan tubuhnya kesamping, namun ternyata itu adalah suatu tipuan, kaki kiri Dharmadipa menendang pipi Jaka!

Deshh! Jaka jatuh ke tanah, kepalanya terasa berkunang-kunang, semua yang menonton tertawa melihat Jaka yang jatuh dengan cara yang lucu, termasuk Dharmadipa yang nampaknya puas telah mengalahkan Jaka, hanya Nilamsuri saja yang Nampak khawatir pada keadaan JAka sebab ia telah menyimpan hati pada pemuda itu.

Dhramadipa lalu menolong Jaka berdiri, “Jaka kau tidak apa-apa?” tanyanya.

“Tidak apa-apa Kakang” jawab Jaka sambil memegangi pipinya yang kena tendang Dharmadipa tadi.

Setelah Jaka berdiri, para murid gadis yang tadi menonton mereka segera pergi menuju ke sungai, Jaka sambil memegangi pipinya dan Dharmadipa menatap kepergian Nilamsuri menuju ke sungai “Jaka apa kau mau ikut ke sungai?” Tanya Dharmadipa yang tersenyum menatap punggung Nilamsuri.

Jaka menangguk “Tentu saja aku mau Kakang”, lalu dengan sembunyi-sembunyi mereka berdua pun mengikuti Nilamsuri ke sungai.

Sesampainya di sungai, mereka berdua tidak langsung menghampiri Nilamsuri yang sedang mencuci pakaian bersama kawan-kawannya, mereka bersembunyi di sebuah semak-semak. Dharmadipa memperhatikan cara Jaka menatap Nilamsuri, dia pun menepuk pundak Jaka “Jaka, apakah kau menaruh hati pada NIlamsuri?”.

Jaka terkejut dengan dengan pertanyaan Kakaknya, dia jadi salah tingkah sebab ia juga mengetahui kalau DHarmadipa juga menyukai Nilamsuri tapi ia jadi salah tingkah sebab Kakaknya egois dan suka menang sendiri, melihat adiknya salah tingkah DHarmadipa tertawa “Hahaha… Jaka kau tidak usah menutupinya, aku juga tahu kalau kau menyukai Nilamsuri”.

Jaka mengangguk “Benar Kakang… Aku memang menyukai Nilamsuri… Lalu Bagaimana dengan Kakang?” Tanya balik Jaka yang sebenarnya pertanyaan yang tak penting sebab jawabannya sudah ia ketahui.

Dharmadipa lalu tersenyum sambil menatap Nilamsuri “Ya aku menyukainya Jaka… Pria mana yang tidak akan menyukai Nilamsuri”.

Jaka terdiam tidak menyahut, dia hanya menatap Nilamsuri yang sedang asyik mencuci pakaiannya dan mengobrol bersama kawan-kawannya, Dharmadipa melirik sebentar pada Jaka lalu menatap Nilamsuri lagi “Jaka bagaimana kalau berloma?”.

“Berlomba bagaimana Kakang?”. Tanya Jaka.

“Ya berlomba untuk mendapatkan cintanya Nilamsuri!” jawab Dharmadia.

Jaka menggelengkan kepalanya, tentu saja ia tidak setuju dengan ide Kakaknya, apalagi kalau diingat bahwa Nilamsuri adalah putri seorang raja, tentu saja dirinya yang hanya orang biasa tidak berhak untuk bersanding dengan Nilamsuri, maka ia berkata “Maaf Kakang, aku tidak setuju sebab itu sangat tidak adil bagi Nilamsuri, lagipula mengejar cinta Nilamsuri bagaikan Punguk Merindukan Bulan bagiku, Nilamsuri adalah putri Prabu Mega Mendung yang agung, aku yang hanya rakyat jelata yang tidak jelas asal-usulnya ini tidak pantas untuk mengharapkan cintanya!”.

Dharmadipa terkejut mendengar jawaban Jaka tersebut, dia seolah baru ingat kalau Nilamsuri adalah putri raja Mega Mendung, tapi sifat keras kepalanya dan rasa egoisnya membuatnya tidak bisa menerima fakta tersebut, apalagi kalau diingat bahwa ia juga merupakan seorang pangeran dari Parakan Muncang walaupun negeri tersebut sudah hancur belasan tahun yang lalu, “Itu sangat tidak adil Jaka! Cinta seharusnya tidak memandang status dan kedudukan! Dan ingatlah bahwa aku sendiri juga adalah seorang Pangeran, darah biru trah Sanghyang Prabu Niskala Wastu Kencana mengalir dalam tubuhku! Walaupun negeriku sudah hancur belasan tahun yang silam!”.

Jaka menoleh dengan lemas pada Dharmadipa “Kalau begitu Kakang lebih berhak untuk mendekati Nilamsuri daripada aku”.

DHarmadipa menyeringai kegirangan, “Kamu benar adikku” sahutnya dengan gembira seolah ia tidak mempedulikan perasaan Jaka yang terluka dengan kenyataan pahit bahwa ia tidak akan bisa menggapai cintanya Nilamsuri.

Pembicaraan mereka terputus ketika tiba-tiba gadis yang sedang mereka bicarakan sudah berdiri dihadapan mereka berdua “Hayo! Sedang apa kalian?! Kalian mengintip kami mandi ya?!” semprot Nilamsuri.

Dharmadipa dan Jaka Lelana terkejut karena mereka tidak menyadari kehadiran Nilamsuri dihadapan mereka, tentulah ini karena NIlamsuri juga memiliki ilmu kanuragan dan ilmu meringankan tubuh yang sudah cukup tinggi hingga gerakan dan langkah kakinya sangat ringan dan tak bersuara membuat kehadirannya tak disadari oleh dua kakak seperguruannya itu, “Eh tidak, tadi kami hanya mau mandi, eh tak tahunya ada para gadis di sungai, jadi kami menunggu disini” jawab Dharmadipa, sedangkan Jaka terdiam salah tingkah.

“Huh alasan saja!” dengus Nilamsuri sambil tersenyum, gadis belkulit putih mulus itu sengaja mengibaskan rambut indahnya dihadapan mereka berdua, lalu gadis itu melangkah berlenggang-lenggok meninggalkan mereka.

Dharmadipa dan Jaka segera mengejarnya “Nilamsuri tunggu!” panggil Dharmadipa, lalu sambil tersenyum dia berjalan disebelah Nilamsuri sementara Jaka berjalan dibelakang mereka dengan kepala tertunduk. “Mau apa?” Tanya Nilamsuri.

“Emh…” Dharmadipa berpikir sejenak, dia lalu mengambil keranjang berisi baju yang tadi dicuci oleh Nilamsuri “Bagaimana kalau aku bawakan ini?”.

Nilamsuri tidak langsung menjawab, dia menoleh kebelakang pada Jaka, sebenarnya ia berharap Jaka yang mengambilkan keranjang cuciannya, tapi Jaka malah terrdiam sambil tertunduk lesu, maka sambil tersenyum ia membolehkan Dharmadipa mengambil keranjang cuciannya “Baiklah Kakang, tapi hanya sampai dekat padepokan saja ya, kalau sampai dilihat guru kita bisa dihukum”.

Mereka berjalan dengan pelan menuju ke padepokan, di sepanjang perjalanan Dharmadipa terus mengajak ngobrol Nilamsuri, Nilamsuri menanggapinya sambil tersenyum, ia memang suka pada Dharmadipa namun sejujurnya ia lebih menyukai Jaka Lelana, maka sebenarnya ia lebih senang kalau Jaka yang mengajaknya ngobrol, ia heran dengan sikap Jaka kali ini, biasanya kalau Dharmadipa mengajak dirinya mengobrol, Jaka tidak mau kalah dan ikut mengajaknya mengobrol, namun kali ini Jaka hanya diam saja, bahkan Jaka hanya berjalan dibelakang mereka.

Belum ada komentar untuk chapter ini.

Jadi yang pertama?